Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 101 Aku ingin Anak


__ADS_3

Seorang penjaga tapal perbatasan, tergesa-gesa ingin bertemu dengan Ki Cokro Negoro untuk menyampaikan berita yang berhasil dia himpun. Oleh pengawas dalam, penjaga tersebut diminta menunggu di pendhopo kecil yang ada di depan kamar Guru Wisanggeni itu. Tidak berapa lama menunggu, Ki Cokro Negoro segera keluar dan menemui penjaga tapal yang sudah duduk di kursi.


"Ada apa Sutrisno.., apa yang sudah kamu temukan?" tanya Cokro Negoro dengan suara pelan.


"Ampun Guru.., beberapa anggota penjaga tapal sudah membaca adanya gerakan besar dari Gerombolan Alap-alap Guru, Sepertinya mereka sudah menyadari jika kita sudah membuat persiapan untuk menyerang mereka. Tapi mungkin juga, sebenarnya mereka sudah memiliki rencana untuk menghancurkan pasanggrahan kita atau akan meminta kita untuk menyatukan kekuatan dengan mereka." penjaga tapal batas yang bernama Sutrisno melaporkan hari pengamatannya.


Cokro Negoro diam sebentar.., kemudian laki-laki tua itu mengambil nafas panjang dan menghembuskannya kembali secara perlahan.


"Tenangkan dirimu Sutrisno.., aku akan segera mengatur strategi untuk menghalau mereka. Kembalilah dulu ke tempat kamu dan teman-temanmu berjaga, Gunakan merpati untuk secepatnya saling berkirim pesan! Semua bisa selesaikan dengan baik jika kita berpikir dengan tenang, serta bertindak dengan arif." Cokro Negoro menenangkan Sutrisno. Pengalamannya yang sudah lama hidup, menghadapi berbagai kejadian membentuk laki-laki tua dengan kewaspadaan dan selalu menyikapi setiap kejadian dengan berpikir tenang.


"Baiklah Guru..., saya akan kembali ke tempat saya dan teman-teman berjaga." Sutrisno berpamitan pada Cokro Negoro.


"Jangan tergesa-gesa Trisno.., istirahatlah dulu barang satu atau dua hari. Aku akan mengirimkan orang untuk sementara menggantikan tugasmu di tapal batas." Cokro Negoro dengan bijak segera membuat pengaturan. Laki-laki tua itu juga memahami batasan seseorang mengeluarkan tenaga dan kekuatan.


"Terima kasih Guru.., saya sangat tersanjung dengan kebijakan Guru. Tapi saya akan secepatnya menyusul orang yang menggantikan saya sementara, dan bergabung dengan anggota tim saya yang lain." Sutrisno kemudian berpamitan untuk beristirahat.


Setelah melihat Cokro Negoro melambaikan tangan sebagai tanda sudah memberinya ijin, Sutrisno segera bergegas keluar untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain. Laki-laki tua itu tampak berpikir berat, Cokro Negoro menghembuskan nafas panjang.


**************


"Wisang.., kumpulkan para sesepuh di pendhopo utama selepas senja! Ada hal penting yang akan aku sampaikan pada semuanya." Cokro Negoro segera memanggil Wisanggeni, dan meminta muridnya untuk mengumpulkan para sesepuh.

__ADS_1


"Baik Guru.., kira-kira ada hal penting apa Guru? Apakah murid ini bisa mengetahuinya terlebih dahulu?" Wisanggeni memberanikan diri untuk menanyakan alasan dan kepentingannya untuk mengumpulkan para sesepuh. Tidak biasanya, di tengah keramaian orang-orang yang mulai berkumpul dan berdatangan di Pesanggrahan, Guru mengundangnya sendiri.


Cokro Negoro menghela nafas.


"Gerombolan Alap-alap sudah terlihat mempersiapkan dirinya untuk melakukan serangan. Tapi tujuan mereka apa belum didapatkan informasi lanjutan. Kita harus segera menyiapkan diri, meskipun aku yakin dan tahu jika semua orang yang ada disini sudah membentuk dan menyiapkan diri mereka untuk menghadapi orang-orang jahat." ucap Cokro Negoro yang terdengar jelas.


"Baik guru.., murid ini akan segera menyampaikan undangan pada semua sesepuh. Juga akan mengkoordinir para generasi muda untuk segera bersiap diri." Wisanggeni langsung menyanggupi perintah dari Gurunya.


"Segera lakukan..., aku berpikir saat ini bukan masalah yang sepele. Karena kekalahan kita, akan berdampak pada psikologis orang-orang kita akan turun. Jadi, kita harus tunjukkan pada musuh .. siapa kita sebenarnya." Cokro Negoro kembali menegaskan.


"Murid akan segera bertindak guru. Murid pamit dulu.." dengan sopan, Wisanggeni segera berpamitan dengan gurunya. Laki-laki itu langsung menuju kamar dan meminta bantuan pada Rengganis untuk membantunya.


*******


"Duduklah dulu disampingku Nimas..! Akang juga sudah selesai menyampaikan pada para sesepuh. Istirahatlah dulu di sampingku, ada yang ingin Akang bicarakan padamu." Wisanggeni meraih pergelangan tangan Rengganis, kemudian membawa gadis itu duduk di sampingnya.


Gadis muda itu menuruti keinginan suaminya, dia segera duduk disamping Wisanggeni.


"Hal apa Akang yang ingin dibicarakan pada Nimas?" tanya Rengganis lembut.


"Akang hanya rindu padamu istriku.. Sudah sekian lama, kita jarang duduk berdua seperti ini. Kedatangan keluarga kita kesini, sangat menyita waktu kita untuk bersama." ucap Wisanggeni sambil tersenyum. Tangan merapikan rambut di kening istrinya.

__ADS_1


Muka Rengganis memerah, dia mengarahkan pandangan matanya ke mata laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. Mereka berdua bertatapan, kemudian Wisanggeni mencium kening Rengganis, turun ke mata gadis itu. Rengganis langsung memejamkan matanya, dan mempermudah Wisanggeni mengeksplorasi wajahnya.


"Nimas..., aku ingin segera memiliki seorang anak darimu.." bisik Wisanggeni pelan di telinga Rengganis. Gadis itu kaget mendengar ucapan itu, dia merasa aneh kenapa tiba-tiba suaminya menyinggung tentang anak. Dia bahkan belum pernah memikirkan sedikitpun.


"Kenapa..? Apakah Akang keliru bicara seperti ini?" seperti merasa ada kebingungan pada istrinya, Wisanggeni kembali bertanya.


Rengganis menggelengkan kepala, tetapi dia hanya merasa ada keanehan dari nada bicara suaminya. Wisanggeni tersenyum melihat respon istrinya.


"Nimas..., jangan tersinggung dengan perkataan Akang. Kita sudah beberapa waktu menjalin ikatan, dan anak sebagai sebuah bukti ikatan kita tampak lebih nyata. Maukan Nimas memiliki seorang putra denganku..., dan akang tidak akan peduli laki-laki atau perempuan sama saja bagiku. Jika perempuan, aku yakin akan cantik sepertimu. Dan jika itu laki-laki pasti akan segagah ayahndanya." ucap Wisanggeni tanpa mengenal malu.


"Akh.. Akang terlalu genit.." ucap Rengganis sambil mencubit pinggang suaminya.


Melihat pipi ranum dan merah istrinya, Wisanggeni memegang dagu gadis itu, kemudian menariknya sedikit ke depan. Tidak lama.. kedua bibir pasangan manusia itu sudah menyatu. Kegai**rahan tampak melanda keduanya.., mereka saling memagut.., Melu**mat yang menunjukkan kerinduan keduanya akan sentuhan intim antara mereka.


"Aaahhh.., uuhhh..., Akang jangan lakukan disini!" Rengganis mencoba menahan wajah Wisanggeni, saat tanpa lihat tempat, bibir laki-laki itu sudah mulai merambat turun ke lehernya.


"Tidak akan ada yang melihat kita istriku.." ucap Wisanggeni dengan suara serak dan tatapan redup.


"Tapi Kang..., uhh.." Rengganis tidak mampu menolak lagi perlakuan suaminya.


"Kita akan melakukan saat ini Nimas..., mulai nanti malam Akang harus menyiapkan persiapan keberangkatan menjebak Gerombolan Alap-alap. Akang ingin meninggalkan benih untukmu..., jagalah dia di Pesanggrahan ini." ucap Wisanggeni dengan suara lirih, dan tatapan itu membuat mabuk gadis yang sudah tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya.

__ADS_1


Dengan sekali hentak, tubuh Rengganis sudah berada di kedua tangan Wisanggeni. Perlahan sambil bertatapan, Wisanggeni berjalan memasuki kamar mereka.


********


__ADS_2