
Pangeran Abhiseka mengajak Wisanggeni bergabung dengan rombongannya, mereka sedang melakukan perjalanan pulang dari berburu binatang magic. Merasa tujuan Pangeran Abhiseka dengan Gayatri dan Niluh sama, Wisanggenu bermaksud untuk menitipkan kedua saudara satu Trah itu untuk bersama Pangeran menuju kota Laksa.
"Pangeran.., kebetulan dua saudari saya ini yaitu Nimas Gayatri dan Nimas Niluh.., mereka satu arah tujuan dengan Pangeran. Mereka akan ke kota Laksa, untuk pulang ke Trah Bhirawa." Wisanggeni membuka pembicaraan. Gayatri dan Niluh berpandangan, mereka tidak tahu kemana arah pembicaraan Wisanggeni.
"Begitu ya.., jika begitu kenapa kita tidak menuju kota Laksa bersamaan saja? Kebutulan untuk menuju kerajaan, kami akan melewati kota Laksa. Jadi siapa tahu.., kami bisa berkunjung sebentar ke Trah kalian disana." dengan ramah, Pangeran Abhiseka menawarkan agar Gayatri dan Niluh bersama dengannya menuju kota Laksa.
"Syukurlah.., Pangeran ternyata bisa membaca apa yang ada di pikiran saya. Kami hanya kasihan pada Nimas Gayatri dan Nimas Niluh.., karena sebelum ke kota Laksa, kami akan beristirahat sebentar di perbukitan Gunung Jambu. Ada beberapa hal yang harus kami bereskan disana Pangeran. Akan menjadi kurang bijak, jika kami harus memaksa Gayatri dan Niluh untuk pergi mengikuti langkah kami." Wisanggeni terlihat senang, karena Pangeran Abhiseka seperti bisa membaca apa yang dia maksud. Tetapi saat laki-laki muda itu melihat pada Gayatri dan Niluh, tidak terbersit kesenangan di wajah mereka. Isyarat kebingungan jelas terlihat dalam ekspresi mereka berdua.
"Wisang..., pangeran.., mohon dimaafkan atas kelancangan kami berdua. Jujur.., kami berdua tidak memiliki keberanian sedikitpun untuk menganggu langkah Pangeran Abhiseka. Kami tidak masalah jika harus terlebih dulu.., harus mampir di tempat padhepokan Guru Wisang." Gayatri menyampaikan pendapatnya dengan Niluh. Pangeran Abhiseka melihat pada dua gadis muda itu, kemudian pangeran itu tersenyum.
"Wisanggeni.., aku bisa memahami bagaimana perasaan mereka berdua. Jika begitu.., sepertinya akan menjadi hal yang menarik, jika aku dan rombonganku yang akan mengikuti kalian untuk datang ke perbukitan Gunung Jambu. Ayahndaku juga tidak akan keberatan, jika beberapa hari aku mundur untuk kembali pulang ke kerajaan." tidak diduga sama sekali, ternyata Pangeran Abhiseka malah ingin mengikuti Wisanggeni dan rombongan ke perbukitan Gunung Jambu.
"Jika itu yang menjadi keinginan dari Pangeran, tentu saja saya tidak memiliki keberanian untuk menolaknya Pangeran. Silakan Pangeran.., kami sangat terbuka menerima kedatanga Pangeran di padhepokan guru kami." dengan ramah dan terbuka, Wisanggeni menyambut baik keinginan Pangeran Abhiseka.
Mendengar jawaban Wisanggeni, Gayatri dan Niluh mendadak terlihat senang. Sebagai seorang gadis muda, wajar jika kedua gadis itu menolak harus bepergian bersama dengan orang asing meskipun laki-laki itu adalah seorang Pangeran. Selain mereka, Pangeran Abhiseka juga terlihat bahagia.., dilahirkan sebagai seorang Pangeran, sangat membatasi dirinya untuk dapat bergaul dengan orang lain terutama yang berasal dari masyarakat kebanyakan.
__ADS_1
"Akang.., ada baiknya kita segera beristirahat., karena besok pagi kita sudah harus melanjutkan perjalanan." Rengganis meminta suaminya untuk segera beristirahat.
"Pangeran.., karena sudah malam, kita harus segera beristirahat. Karena kami berencana besok pagi sudah akan melanjutkan perjalanan kembali. Apakah Pangeran Abhiseka tidak keberatan?" dengan tersenyum, Wisanggeni meminta ijin pada Pangeran, agar mereka segera beristirahat.
"Baiklah.., ayo kita semua bubar. Kita harus segera beristirahat malam ini, karena seperti yang disampaikan oleh Wisanggeni, jika besok pagi harus segera melanjutkan perjalanan." pangeran Abhiseka segera berdiri, dan memasuki kamar yang sudah disiapkan oleh pelayan penginapan. Semua orang yang tadi ikut berbincang, akhirnya mengikuti istirahat.
*************
Setelah menempuh tiga hari perjalanan, akhirnya Wisanggeni dan rombongan sudah sampai di perbatasan untuk masuk di perbukitan Gunung Jambu. Melihat kedatangan Rengganis, Asoka dan Ki Narendra segera bergegas mendatanginya. Senyum kebahagiaan muncul di wajah tua Ki Narendra, saat melihat gadis muda yang diasuhnya sejak masih kecil, sudah menggendong putranya sendiri.
"Iya Nimas.., pesan yang disampaikan Nimas pada kami, merupakan amanah yang harus kita junjung tinggi Nimas. Bolehkan paman yang tua ini menggendong Wisang kecil..?" Ki Narendra meminta ijin untuk menggendong Chakra Ashanka, dan Rengganis langsung menyerahkan putranya untuk digendong pengasuhnya itu.
"Paman.., Asoka.. ikut kami ke padhepokan ya. Ada yang ingin Nimas sampaikan pada kalian berdua." sambil berjalan mengikuti Wisanggeni, Rengganis mengajak Ki Narendra dan Asoka untuk menyertainya. Kedua pengawal itu segera mengikuti langkah Rengganis beserta rombongannya.
Pangeran Abhiseka dan tiga pengawalnya terkesima melihat keindahan perbukitan Gunung Jambu. Cara menjaga keamanan perbukitan tersebut, membuatnya belajar banyak dari orang-orang sakti yang ada disitu. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Gunung Jambu, tanpa ada pengenalan dari penjaga yang bertugas di depan.
__ADS_1
"Mari Pangeran.., selamat datang di Gunung Jambu. Mohon untuk menggunakan tenaga dalam dan energi, untuk dapat sampai di padepokan kami." Wisanggeni memandu rombongan untuk dapat melewati halangan masuk.
"Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari tempat ini Wisang. Mungkin aku akan merepotkanmu untuk mempelajari tata letak pertahanan disini." Pangeran Abhiseka memuji tata letak pertahanan keamanan di sini.
"Dengan senang hatI Pangeran.., mari keluarkan tenaga dalamnya. Kita akan segera melewati onak dan duri di hutan ini." selesai berbicara, Wisanggeni segera menarik Rengganis dan Maharani untuk segera memasuki Gunung Jambu. Orang-orang yang berada di belakangnya, segera mengikuti langkah Wisanggeni.
Menggunakan energi dan kekuatan tenaga dalam, Wisanggeni dengan cepat melompat dari dahan ke dahan, pohon yang satu menuju pohon lainnya. Orang yang belum terbiasa melewati medan itu, akan terkoyak oleh duri yang banyak tumbuh melingkar di dahan-dahan yang mereka gunakan sebagai tempat untuk pijakan kaki mereka. Tidak berapa lama, sampailah mereka di depan padhepokan dengan bangunan joglo dan pendhopo. Beberapa anak muda terlihat sedang berlatih di halaman depan, dan beberapa di halaman belakang.
"Mari Pangeran.., selamat datang di padhepokan kami yang sederhana. Semoga pangeran Abhiseka berkenan dengan suasana sederhana di padhepokan ini." Wisanggeni mengucapkan selamat datang pada Pangeran, yang tampak mengagumi suasana yang ada di bukit ini. Segera, Wisanggeni mengajak orang-orang yang datang bersamanya untuk segera memasuki ruangan di pendhopo. Beberapa orang segera menyambut kedatangan Wisanggeni dan rombongannya.
"Kenapa terlihat sepi di ruang pendhopo ini Karso..?" Wisanggeni sedikit heran, harusnya ruangan ramai karena masih banyak orang yang tinggal disitu, tetapi kali ini pendhopo sedikit sepi.
"Orang-orang sudah kembali sekitar lima hari yang lalu Kang. Termasuk Ki Mahesa, Kang Janar dan istrinya. Niken dan ayahnda serta saudar-saudaranya sudah lebih dulu kembali ke Klan Suralaya." Karso menceritakan kondisi saat ini di padhepokan.
"Yah..., memang terlalu lama kami meninggalkan padhepokan ini." Wisanggeni terlihat sedikit kecewa karena tidak menemui saudara-saudara dan ayahndanya. Tetapi dengan cepat, laki-laki itu segera menepis perasaan itu.
__ADS_1
************