
Syin Yin sangat kagum dengan pemuda yang menjadi kekasihnya itu, berbagai macam kejutan yang selau di tunjukkannya termasuk sayap emas yang sekarang ini berada di punggung Thien Yu.
Thien Yu melesat dengan cepat ke udara sambil memeluk tubuh Syin Yin. Sementara itu Syin Yin begitu sangat menikmati kehangatan pelukan Thien Yu padanya.
"Syin Yin, aku sudah sangat lelah lebih baik kita beristirahat sejenak untuk memulihkan diri," ucap Thien Yu.
"Aku terserah kak Thien Yu saja," jawab Syin Yin singkat.
Akhirnya Thien Yu memutuskan untuk beristirahat sejenak, diapun memunculkan batu bara giok dan segera mendarat di atasnya.
Thien Yu segera merebahkan tubuhnya disana karena energi tubuhnya begitu sangat terkuras akibat bertarung dan terbang di udara.
Saat merebahkan tubuhnya diatas batu bara giok, energi yang berada di dalam batu seketika itu merasuk kedalam tubuh Thien Yu, hingga energi di tubuhnya perlahan lahan mulai terisi kembali, dan batu bara giok melesat pergi dengan perlahan menuju ke istana pheonix.
"Kak Thien Yu, bagaimana kau bisa mempunyai batu energi yang bisa melayang di udara seperti ini?" tanya syin sambil ikut merebahkan dirinya di samping Thien Yu.
Batu energi ini merupakan hadiah dari tetua Yun Leng padaku," jawab Thien Yu.
"Kak Thien Yu, sekarang ini klan ku sudah tak mempunyai nama lagi di ke kaisaran Glory, aku pun sudah tak mungkin lagi berada di sana, aku hanya bisa berkata trimakasih karena kau sudah mau menampung kami," ucap Syin Yin.
"Kau bicara apa Yin'er, kau adalah kekasihku dan di masa depan akan menjadi ibu dari anak anak ku, sudah sepantasnya aku harus membantu semua yang berhubungan dengan mu," jawab Thien Yu.
Syin Yin menyampingkan tubuhnya menghadap ke arah Thien Yu. "Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku kak Thien Yu?" tanya Syin Yin.
"Mengapa kau ragukan lagi cintaku padamu?" tanya Thien Yu sambil menyampingkan tubuhnya hingga mereka berdua saling berhadapan.
Syin Yin tersenyum sangat manis dan mengelus lembut wajah kekasihnya itu, tak lama kemudian Syin Yin memejamkan kedua matanya dan merekahkan sedikit bibir merahnya.
__ADS_1
Darah muda Thien Yu bergejolak melihat bibir merah Syin Yin yang memang sengaja menantangnya untuk di kecup. Thien Yu tak kuasa menahan darah mudanya, diapun mulai mengecup lembut bibir Syin yin. Lama kelamaan ciuman itu semakin dalam dan hangat yang membuat sepasang muda mudi itu begitu menikmatinya.
Thien Yu sudah tak bisa menahan gairah mudanya, ciumannya pun mulai menelusuri leher jenjang dan mulus Syin Yin.
Entah siapa yang memulai duluan satu persatu pakaian mereka mulai terlepas dan berserakan diatas batu bara giok, hingga tak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuh mereka berdua. Thien Yu terus melakukan aksinya, sasarannya kini adalah perbukitan kembar yang ada di tubuh Syin Yin. Thien Yu memendam wajahnya disana dan sedikit bermain main dengan memberikan beberapa tanda merah sebagai tanda kepemilikan.
Apa yang di lakukan Thien Yu begitu sangat di nikmati oleh Syin Yin, dia meremas rambut Thien Yu dan merintih kecil saat dia merasakan sensasi yang belum pernah di dapatkan dari seorang pemuda yang benar benar di cintainya.
Setelah puas bermain main di sekitar perbukitan kembar itu, kembali Thien Yu mengarahkan ciumannya ke bibir Syin Yin, hingga keduanya kembali berciuman dengan hangat.
Syin Yin tak ragu lagi merangkul pundak Thien Yu agar ciuman mereka berdua bisa semakin dalam, hingga Thien Yu menghentikan ciumannya itu saat terlihat Syin Yin begitu kesulitan untuk bernapas.
"Maaf kan aku Syin Yin," ucap Thien Yu.
Mengapa kau harus meminta maaf padaku kak Thien, sementara aku pun sangat menginginkannya," jawab Syin Yin dengan senyum manisnya dan kembali mendekap erat Thien Yu.
Kali ini tangan Thien Yu tak tinggal diam, tangan itu bermain main di perbukitan kembar milik Syin Yin, hingga membuat ******* yang melepaskan ciuman mereka.
Mendengar suara rintihan Syin Yin membuat Thien Yu semakin liar menelusuri leher jenjang Syin Yin, dan berhenti di kedua bukit kembar yang puncak perbukitannya berwarna merah jambu.
Tanpa ampun Thien Yu melahap perbukitan itu satu persatu hingga teriakan kecil dan panjang keluar dari mulut Syin Yin. Kali ini tangan kanan Thien Yu mulai berani meraba apapun yang berada di bawah tubuh Syin Yin, hingga tangan itu berhenti pada rumput ilalang lebat dengan sumur tua keramat yang basah dan lembab.
Thien Yu bermain main sesaat disana dengan memasukkan jari tengahnya di dalam sumur tua itu, yang membuat jeritan kecil kembali terdengar dari mulut Syin Yin berkali kali.
Syin Yin mendorong tubuh Thien Yu hingga Thien Yu pun terlentang, melihat hal itu Syin Yin langsung menindih tubuh Thien Yu. "Kak Thien Yu kini giliran ku untuk membuatmu menjerit," ucap Syin Yin
Syin Yin pun turun kebawah dan...
__ADS_1
"Ackh...!!"
Jeritan keras keluar dari mulut Syin Yin saat melihat rudal balistik milik Thien Yu yang sangat besar, padat dan berotot. Sesaat Syin Yin hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan karena rudal balistik itu baru pertama kali di lihatnya. Syin Yin perlahan menggigit bibir bawahnya untuk menenangkan rasa takut yang menghinggapinya.
Setelah beberapa saat lamanya, Syin Yin mulai terbiasa diapun menciumi dan mulai menikmatinya. Layaknya seorang penikmat es krim handal, Syin Yin terus melakukan aksinya yang membuat Thien Yu meracau tak karuan di buatnya, rambut di kepalanya pun seakan ingin terlepas dari kepalanya saat Syin Yin melakukan aksinya lebih jauh lagi.
Thien Yu yang sudah tak tahan ingin menuntaskan semua, dengan segera menarik tubuh Syin Yin dan mulai menindihnya. Rudal balistik yang berada di tubuh Thien Yu mulai di persiapkan untuk menjebol sumur tua dan keramat milik Syin Yin, hingga pekikan keras dan panjang terdengar dari mulut Syin Yin yang menandakan jika rudal balistik milik Thien Yu telah berhasil bersarang telak di sasarannya.
Syin Yin merasakan sakit saat Thien Yu mulai memacu kudanya dengan lembut dan berirama, lama kelamaan rasa sakit itu berubah menjadi rasa nyaman yang membuat Syin Yin mulai mengimbangi pergerakan dari Thien Yu yang semakin lama semakin bertambah cepat.
Dibawah sinar bulan yang bertaburan bintang-bintang di langit, kedua anak manusia berlainan jenis itu terus melakukan pendakian kepuncak yang tertinggi, keringat terus membanjiri tubuh mereka berdua walaupun udara dingin malam itu sampai menusuk tulang.
Dan pada akhirnya Thien Yu melakukan pergerakan yang sangat cepat sekali, lebih cepat dari pergerakan yang di lakukan oleh Thien Yu sebelumnya, hingga pada akhirnya lenguhan panjang terdengar dari mulut mereka berdua.Pendakian yang susah susah mereka lakukan akhirnya tercapai dengan sangat sempurna.
Thien Yu tergeletak tak berdaya di atas tubuh Syin Yin, tenaganya sangat terkuras habis seperti telah bertarung menghadapi seorang kultivator yang sangat kuat.
Terlihat Syin Yin meneteskan air mata tanpa sedikitpun sura yang keluar dari mulutnya, air mata itu adalah air mata kebahagian karena dia telah memberikan sesuatu yang paling berharga, yang selama ini di jaganya kepada Thien Yu pemuda yang sangat di cintainya.
Stelah beberapa saat lamanya, Thien Yu akhirnya turun dari tubuh Syin Yin dan terlentang menatap langit yang bertaburan bintang, Syin Yin pun merebahkan kepalanya di dada bidang Thien Yu.
"Sayang seharusnya kita tak melakukan hal ini sebelum pernikahan terjadi," ucap Thien Yu tiba tiba.
Mendengar hal itu Syin Yin kemudian duduk dan menatap tajam kearah Thien Yu. "Apakah kau menyesali telah melakukannya dengan ku kak Thien?" tanya Syin Yin.
"Sayang, mengapa kau sekarang begitu sensitif, aku tak menyesali apa yang telah kita lakukan, aku bahkan merasa bangga karena mendapatkan sesuatu paling berharga dari dirimu malam ini," jawab Thien Yu.
"Tapi mengapa kau berkata seperti itu?" tanya Syin Yin kembali.
__ADS_1
"Sayang ini adalah hari bahagia kita, aku tak ingin adanya perdebatan dan aku meminta maaf jika telah membuatmu marah," ucap Thien Yu sambil menarik Syin Yin kedalam pelukannya.