
Thien Yu bangkit berdiri dan melangkah kearah tempat pembakaran yang masih menyisakan bara. "Aku yakin Mey'er yang telah merawat ku pada saat aku tak sadarkan diri, pil penyembuh luka dalam yang di berikannya begitu sangat mujarab, tapi mengapa dia pergi setelah aku sadarkan diri?" batin Thien Yu.
Tiba tiba angin kencang berhembus masuk kedalam goa, dan memperlihatkan sesosok wanita disana.
Thien Yu membalikkan badan kearah sosok wanita yang masuk kedalam goa, dan dengan senyum yang mengembang di bibirnya Thien Yu berkata "Meyling terimakasih kau telah merawat ku," ucapnya.
Seketika senyum Thien Yu menghilang dari wajahnya setelah melihat sosok wanita itu yang semakin mendekat kearahnya.
"Tetua Cinsyin!!" ucap Thien Yu terkejut.
Dengan cepat Thien Yu memasang kewaspadaan tingkat tinggi, mengantisipasi adanya pertarungan dengan petinggi menara keabadian yang pernah menyerangnya.
"Thien Yu aku tak ingin bertarung dengan mu, aku sengaja menemuimu untuk berbicara.
Putriku begitu sangat mencintaimu, dia tak pernah berkeinginan untuk menolak mu waktu itu, semua yang dia lakukannya karena hasutan dariku yang menginginkan putriku bersanding dengan Jiohio putra ketua menara abadi.
Dengan segala kerendahan hati aku meminta maaf karena telah menghancurkan kebahagian kalian berdua," ucap tetua Cinsyin sambil menggenggam tinju dan sedikit membungkukkan badan memberi hormat.
Thien Yu membalikkan badannya, dan berkata "Aku tak bisa menerima penghormatan darimu tetua karena kau lebih tua dariku, selepas itu semua, aku tak bisa menelan kembali ludah yang telah ku buang, jika memang di masa depan kami ditakdirkan kembali bersama maka aku akan menerima takdir itu, dan jika di masa depan kami ditakdirkan berjalan sendiri sendiri maka hubunganku dengan putrimu harus berakhir," jawab Thien Yu.
Terlihat tetua Cinsyin memejamkan matanya, niatnya untuk menyatukan putrinya dengan Thien Yu tak semudah seperti apa yang ada di dalam pikirannya. Dengan tubuh lesu tetua Cinsyin membalikan badan dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu tanpa adanya sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Setelah kepergian tetua Cinsyin, Thien Yu segera melakukan kultivasi untuk penyembuhannya dengan menyerap energi alam yang banyak terdapat di tempat itu. Dan setelah pulih, Thien Yu melesat pergi meninggalkan goa menuju ketempat pertarungan antara Yeiyi dan sang cahaya.
Dalam pertarungan itu, Thien Yu melihat arena tempat terjadinya pertarungan telah hancur tak berbentuk lagi, begitupun area disekitarnya juga ikut porak poranda yang menyisakan kubangan kubangan besar akibat efek dari pertarungan yang terjadi.
Pertarungan telah memperlihatkan jika sang cahaya telah mulai terdesak oleh kekuatan 4 hukum alam yang di lancarkan yeiyi.
Kekuatan dari 6 menara pun sudah tak maksimal lagi, akibat lamanya pertarungan yang membuat para ketua menara kehabisan energi murni.
Hal itu membuat pergerakan dari sang cahaya mulai melambat, yang mempermudah bagi Yeiyi dalam melakukan serangan ke arahnya.
Kekuatan illahi 4 hukum alam masih begitu kuat bagi sang cahaya, hingga pada satu kesempatan sebuah telapak tangan kanan Yeiyi yang mengandung hukum udara telak bersarang di dadanya, hingga membuat sang cahaya terpental kebelakang dan tak bisa bangkit lagi.
Sang cahaya tewas di tempat dengan kondisi organ di dalam tubuhnya yang hancur berantakan.
Awan hitam pekat yang sedari tadi menyelimuti langit di tempat terjadinya pertarungan, kini mulai menghilang. Melihat kematian sang cahaya membuat para ketua 5 menara bersama sama memberi hormat kepada Yeiyi.
__ADS_1
"Aku tak bisa menerima hormat dari kalian semua, karena Thien Yu lah yang akan menentukan mati dan hidupnya kalian.
Thien Yu merupakan orang terpilih yang ditakdirkan mendapatkan kekuatan illahi, dan sebagai satu satunya orang yang akan menjadi penguasa di dalam alam cahaya rembulan," ucap Yeiyi.
Mendengar perkataan wanita yang telah membunuh sang cahaya, membuat kepanikan bagi ketua 5 menara. Mereka sangat takut jika Thien Yu memberikan hukuman mati kepada mereka semua, karena sebelumnya mereka tak mengakui dan meremehkannya sebagai seorang penguasa alam cahaya rembulan.
Thien Yu melesat ke arah Yeiyi dan berdiri di sampingnya.
"Aku tak akan membunuh kalian semua jika kalian membantu mendirikan kembali menara hijau, dan mengakui menara hijau sebagai menara baru di alam cahaya rembulan ini," ucap Thien Yu.
Kelima ketua menara yang masih hidup, kini kembali tersenyum.
"Kami semua akan membangun kembali menara hijau seperti sedia kala tuan muda, dan kami semua akan tunduk di bawah perintahmu," jawab ketua besar menara jingga yang mewakili semua ketua menara yang ada.
"Baik aku pegang janji kalian semua," ucap Thien Yu.
"Tunggu!!, apa yang kalian ucapkan belum tentu berasal dari hati kalian, dan bisa saja kalian semua nantinya akan mencoba melakukan pemberontakan kepada Thien Yu, sedari itu aku ingin kalian melakukan satu hal yaitu mendapatkan segel illahi 4 unsur alam dariku, semua itu agar aku bisa percaya pada kalian," timpal Yeiyi sambil mengeluarkan 5 segel yang kini melayang di udara.
Ketua menara jingga langsung berjalan menuju kearah segel yang di ciptakan Yeiyi , dan segel itupun langsung masuk kedalam tubuhnya.
"Segel pada kalian akan aktif jika ada keinginan dari kalian untuk melakukan hal buruk pada Thien Yu, segel itu akan membunuh kalian di saat itu juga," ucap Yeiyi.
"Kami semua akan setia pada tuan muda Thien Yu, dan tak akan menyia nyiakan kesempatan yang telah anda berikan," ucap ketua menara jingga mewakili ketua menara yang lainnya.
Tanpa sepengetahuan dari mereka semua, diantara para anggota menara yang berkumpul tampak tetua Huokang tengah menatap tajam kearah Thien Yu.
"Kau harus mati di tanganku Thien Yu karena kau aku harus cacat seumur hidupku," ucap tetua Huokang sambil memandang ke arah tangan kananya yang telah hilang.
Tetua Huokang lantas mengeluarkan sebuah benda seperti anak panah yang berselimutkan asap hitam tebal.
Benda itu merupakan senjata pusaka yang sangat mematikan yang di miliki tetua Huokang.
Dengan mengerahkan seluruh ke kuantan emperor yang di milikinya, tetua Huokang menyerang Thien Yu dengan sembunyi sembunyi mengunakan senjata tersebut.
Senjata itu meluncur deras kearah Thien Yu dan
Sleb...!!
__ADS_1
Senjata yang menyerupai anak panah menembus sasarannya dengan telak.
Tampak tetua Cinsyin ambruk ketanah karena tertembus senjata yang di lepaskan tetua Huokang.
Melihat dirinya telah di selamatkan oleh tetua Cinsyin dari maut, Thien Yu segera menghampiri sang tetua.
"Mengapa anda melakukan ini tetua?" tanya Thien Yu.
"Thien Yu, setelah kematian ku aku ingin kau menggantikan posisiku untuk menjaga Meyling putriku," ucap tetua Cinsyin.
"Dosa yang kulakukan kepadamu sudah sangat besar, yang menyebabkan Meyling membenciku. Thien Yu aku ingin di masa depan putriku bisa tersenyum lagi," jawab tetua Cinsyin dengan menghembuskan napas terakhirnya.
Thien Yu hanya bisa memejamkan matanya, menyikapi semua permintaan tetua Cinsyin sebelum kematiannya.
Lamunan Thien Yu di kejutkan oleh 5 orang tetua menara yang telah dapat meringkus tetua Huokang yang ingin membunuh Thien Yu.
"Tuan muda, apa yang harus kita lakukan terhadap tetua Huokang yang berencana ingin membunuh anda?" tanya salah seorang ketua menara.
"Aku tak akan mengampuni orang yang ingin melukaiku," jawab Thien Yu sambil melesakkan sebuah jarum emas kearah tetua huokang.
Jarum itu melesat dengan cepat dan menembus tubuh tetua Huokang. Tak lama kemudian tubuh tetua Huokang tiba tiba saja meledak ledak kecil akibat pembuluh darahnya yang pecah.
Jerit kematian tetua Huokang menggema kemana mana, yang membuat orang bergidik ngeri mendengarnya.
Tak lama kemudian tubuh tetua Huokang ambruk ketanah dan tewas seketika.
"Kuburkan mereka semua dengan layak, dan sekarang aku ingin mengetahui keberadaan guruku tetua Yi Ning," ucap Thien Yu.
"Tuan muda, tetua Yi Ning telah disekap oleh tetua Huokang, dan sekarang ini dia lagi mendapatkan perawatan akibat penyiksaan yang di lakukan oleh tetua Huokang," jawab ketua menara jingga.
"Dengarkan semua perintahku, hari ini aku ingin kalian semua mulai membangun kembali menara hijau," ucap Thien Yu.
"Baik tuan muda kami semua akan mulai membangun menara hijau," ucap 5 ketua menara serempak.
Tak lama kemudian mereka semua pun membubarkan diri, untuk mulai melakukan persiapan dalam membangun menara hijau.
Thien Yu melangkah ke arah Yeiyi dan berkata "Masih banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu, termasuk kekuatan illahi yang telah kau gunakan. Tapi sebelumnya aku ingin kau mencari tau keberadaan Putri Meyling," ucap Thien Yu.
__ADS_1