Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Kesal


__ADS_3

Perintah ketua Saigo langsung di ikuti oleh seluruh ras murni yang telah berubah menjadi laba laba raksasa, dengan mengayunkan kaki kaki tajam mereka kearah anggota rombongan dataran langit.


Akan tetapi belum sempat kaki kaki tajam mereka melukai tubuh anggota daratan awan, tiba tiba saja sesuatu benda berwarna merah darah berkelebat cepat dan memotong kaki kaki tersebut.


Jerit kesakitan seketika keluar dari mulut sang laba laba yang merasakan kaki kaki mereka kini telah terpotong. Apa yang terjadi membuat ketua saigo murka, saat melihat seorang anak muda tengah berdiri di hadapannya dengan memegang sebuah belati.


"Kurang ajar, berani sekali kau melakukan hal ini!!, aku akan segera menghabisimu anak muda!!" teriak ketua Saigo.


"Cobalah jika kau mampu, aku Thien Yu takkan pernah membiarkanmu untuk menyakiti anggota rombonganku, dan aku sendiri yang akan menghabisi kalian semua," jawab Thien Yu yang tiba tiba saja menghilang dari tempat itu.


"Cras..., Crash..,Cras..!!"


Ketua Saigo sangat terkejut saat melihat seluruh ras murni di bantai di depan matanya, tanpa terlihat orang yang melakukan pembantaian itu.


Ketua Saigo baru menyadari jika pemuda yang tadi berbicara dengannya, merupakan orang yang telah memenangkan pertarungan di luar reruntuhan.


"Aku salah telah menyinggungnya, tingkat kekuatanku saat ini tak dapat menandingi tingkat kekuatannya, lebih baik aku pergi dan melaporkan hal ini kepada pemimpin kastil iblis darah," batin ketua Saigo.


Dengan menggunakan tehnik pengalihan diri, ketua Saigo berhasil meninggalkan reruntuhan dan kembali menuju ke daratan awan.


Sementara itu Thien Yu dengan pedang penguasa malam di tangannya, telah berhasil membunuh semua anggota ras murni dari daratan awan tanpa tersisa.


Setelah semuanya terbunuh, Thien Yu segera mengibaskan tangannya maka batu inti ras murni dan cincin penyimpanan yang tergeletak di tanah, semuanya telah masuk kedalam cincin ruangnya.


Thien Yu melangkah kearah putri Langyun yang masih terperangkap oleh jaring laba laba, dengan gerakan ringan pedang penguasa malam yang berada di genggaman tangannya, Thien Yu berhasil membebaskan sang putri dari jaring laba laba yang membelenggunya.


Dengan perasaan bahagia sang putri bangkit berdiri dan langsung memeluk Thien Yu, hal itu di saksikan oleh tetua Sanghao dan ke empat anggota rombongan dari daratan langit yang masih hidup.


Mereka kini menyadari jika sang putri dan Thien Yu memang terlibat kisah asmara, yang membuat kecurigaan mereka selam ini kini telah terbukti.


"Yun'er apa yang kau lakukan, mereka semua tengah memandangi kita," ucap Thien Yu.


Sang putri tersentak, karena perasaan senang membuat nya tak memperdulikan sekitar, hingga dirinya memeluk pemuda tampan yang telah menyelamatkannya.


Putri Langyun segera melepaskan pelukannya dan berkata lirih. "Maafkan aku Thien Yu," ucapnya lalu pergi menjauh untuk menyelamatkan para para anggota rombongan daratan awan.


Thien Yu hanya terdiam sesaat, kemudian melangkahkan kakinya kearah tetua Sanghao dan memberikan beberapa pil untuk meringankan luka dalam yang di deritanya.

__ADS_1


"Bermeditasi lah tetua, aku akan membantumu menyerap pil obat yang telah ku berikan," ucap Thien Yu.


Terlihat tetua Sanghao menganggukkan kepalanya, kemudian diapun segera melakukan meditasi penyerapan pil. Dengan bantuan dari Thien Yu pada akhirnya tetua Sanghao berhasil pulih dengan cepat.


"Trimakasih Thien Yu atas bantuanmu dalam menyembuhkanku," ucap tetua Sanghao.


"Tak usah sungkan begitu tetua, di dalam rombongan ini kita semua saling menjaga agar dapat kembali dengan selamat.


Sekarang ini lebih baik kita bergerak dengan cepat untuk mengambil mata air Dewi Zhao Quin, jangan sampai para ras murni dari daratan awan kembali lagi ke tempat ini," jawab Thien Yu.


"Baik tetua, kita memang harus segera mendapatkan mata air itu secepatnya," jawab tetua Sanghao.


Setelah terjadinya kesepakatan, maka berangkatlah rombongan itu ke tempat di mana terdapat mata air Dewi Zhao Quin berada, dengan Thien Yu sebagai penunjuk arah agar terhindar dari jebakan segel yang terdapat di reruntuhan itu.


Dengan menggunakan mata langit yang ada padanya, Thien Yu berhasil sampai di sebuah danau berair jernih, dengan air terjun yang berada di sisi danau.


Thien Yu berjalan kearah danau, dan merasakan adanya energi murni di dalam air yang jernih itu. "Aku rasa mata air Dewi Zhao Quin berada di kedalaman air danau, dan tak mungkin bagi mereka semua ikut masuk kedalam air danau ini mengingat di dalam danau terdapat banyak mahluk air yang sangat buas didalamnya.


Aku tak ingin mengikut sertakan mereka semua kedalam danau, hal itu akan membahayakan nyawa mereka semua, lebih baik aku sendiri yang akan pergi kedalam danau untuk mengambil mata air itu," batin Thien Yu.


Mereka semua menyetujui jika Thien Yu yang masuk ke dalam air danau untuk mengambil mata air Dewi Zhao Quin disana, akan tetapi Putri Langyun bersikeras ingin ikut mengambil mata air itu bersama Thien Yu.


Hal itu membuat Thien Yu tak mampu untuk menolaknya, karena sang putri berkata. "Jika ingin mengambil mata air itu maka ada satu orang yang harus ikut bersama mu kesana yaitu aku, karena aku merupakan adik pimpinan dari daratan langit.


Kau bukanlah orang dari daratan langit, tak menutup kemungkinan jika kau akan membawa pergi mata air Dewi Zhao Quin itu setelah kau mendapatkannya, maka agar tak terjadi salah paham lebih baik aku ikut bersamamu kedalam dasar danau," ucap putri langyun.


Sebenarnya Thien Yu sangat kesal dengan perkataan putri Langyun yang menganggapnya seperti orang yang harus di curigai, yang akan membawa pergi mata air Dewi Zhao setelah di dapatkan.


Dengan menarik napas dalam dalam dan membuangnya secara perlahan, Thien Yu mencoba tenang dalam menyikapi semua itu.


"Andai pangeran Langtian tak menganggapku sebagai saudara, maka aku tak akan bersusah payah melanjutkan pencarian mata air Dewi Zhao Quin ini," batin Thien Yu.


Walaupun dengan rasa kesal, Thien Yu akhirnya menyetujui jika putri Langyun ikut bersamanya dalam mengambil mata air Dewi Zhao Quin kedasar danau.


Thien Yu membuat sebuah gelembung dengan segel pelindung di sekitarnya, diapun masuk kedalam gelembung itu bersama putri Langyun tanpa sedikitpun berbicara kepada sang putri. Tak lama kemudian gelembung itupun masuk kedalam danau.


Saat berada di dalam danau putri Langyun mendekati Thien Yu dan berkata. "Maafkan aku guru bukan maksudku untuk membuatmu kesal, semua ini kulakukan karena aku tak ingin kau berjuang sendiri menempuh bahaya demi untuk menyelamatkan semua penghuni daratan langit.

__ADS_1


Guru paling tidak aku akan berjuang bersamamu dalam mengambil mata air itu, dan jika aku harus mati di tempat ini dalam mendapatkan mata air itu, maka hidupku akan bahagia karena bisa mati di dekatmu pemuda yang menjadi guruku dan pemuda yang saat ini kucintai," ucap putri Langyun yang tak kuasa lagi membendung perasaannya pada pemuda yang telah memberi warna dihatinya itu.


"Deg ..!!" jantung Thien Yu berdetak dengan kencang mendengar perkataan yang keluar dari mulut putri Langyun, selama ini dia tak mengira akan terjebak dalam situasi sulit dengan perkataan putri Langyun.


"Apa yang harus kulakukan, aku tak bisa memutuskannya sekarang, lebih baik aku alihkan pembicaraan ini," batin Thien Yu.


"Sudahlah Yun'er, aku memang tak ingin mengikut sertakanmu dalam pencarian ini karena banyak bahaya yang akan kita temui di dasar danau, dan itu sangat mengkhawatirkanku.


Sekarang ini kita lebih baik fokus mendapatkan mata air Dewi Zhao Quin, dan aku tak ingin kau berandai andai lagi," ucap Thien Yu.


"Tapi semua yang ku katakan ...." ucap putri Langyun yang tak melanjutkan perkataannya, karena jari telunjuk Thien Yu telah berada di bibirnya.


"Yun'er bersiaplah, kita sekarang kedatangan tamu yang merupakan penghuni danau ini," ucap Thien Yu memotong perkataan putri Langyun.


Mendengar perkataan Thien Yu, putri Langyun segera mengedarkan pandangannya sekeliling, dan dia dapat melihat dengan jelas di dalam danau berair jernih itu, beberapa mahluk seperti gurita dengan kepala manusia yang mempunyai tangan seperti manusia, serta gigi tajam dengan taring yang menghiasi wajahnya. Semua mahluk itu tengah mengurung keberadaan putri Langyun dan Thien Yu.


"Guru mahluk apakah itu?" tanya sang putri.


"Aku juga tak tau, yang jelas semua mahluk ini berasal dari alam bawah," jawab Thien Yu.


Sang putri mengedarkan pandangannya ke semua mahluk itu, dan mendapatkan mahluk lain yang berbeda dengan mahluk mahluk yang di lihat oleh sang putri sebelum ini.


"Siapa pemuda itu, dia sangat berbeda dengan mahluk yang lain, dia mempunyai tangan dan kaki layaknya seorang manusia pada umumnya, hanya saja wajahnya begitu sangat menyeramkan," batin sang putri.


"Guru siapa pemuda itu, mengapa dia terus memandangiku tanpa berkedip?" tanya sang putri.


"Aku rasa pemuda itu menyukaimu, aku bisa melihat dari tatapan matanya kepadamu," jawab Thien Yu.


Tanpa berbicara sedikitpun, putri Langyun langsung mendekap erat tangan kanan Thien Yu, dia begitu takut dengan wajah dan tatapan mengerikan dari pemuda yang merupakan penghuni dasar danau itu.


Bersambung.


Menurut sahabat semua, apakah putri Langyun pantas bersanding dengan Thien Yu.


Jika pantas saya akan menulis kisah asmara mereka berdua, jika tak pantas maka cinta putri Langyun yang seorang peri akan bertepuk sebelah tangan.


Bantu dukungannya sahabat semua🙏

__ADS_1


__ADS_2