Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Pedang bayangan hitam


__ADS_3

An Yue datang kearah Nien Chu dengan wajah yang cemberut menahan amarah, dan diapun langsung melabrak Nien Chu.


"Apakah kau sengaja ingin mengintip ku mandi!?" tanya An Yue.


"Ti...ti...dak..., aku tak sengaja melihatmu di sana," ucap Nien Chu dengan mengangkat kedua tangannya.


Mendengar perkataan Nien Chu, An Yue segera pergi meninggalkannya dengan masih menahan rasa kesal di dadanya.


"Awas kau Tency..., kau sengaja menunjukkan arah ketempat ini, agar aku melihat An Yue mandi hingga membuat An Yu marah padaku," batin Nien Chu kemudian menyusul An Yue pergi.


Pada akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung Wongku, dan di dalam perjalanan itu Nien Chu meminta maaf akan kesalahannya, dan An Yue pun memaafkannya.


Nien Chu menyuruh Tency untuk berhenti, karena Nien Chu merasa jika jalan yang mereka lalui selalu berputar putar arah hingga kembali ke tempat semula.


"Pohon itu telah kita lalui dan saat ini pohon itu kembali terlihat, berarti kita telah berputar putar arah hingga kembali ketempat semula," ucap Nien Chu.


"Sepertinya memang seperti itu, sedari tadi aku juga memiliki firasat jika tempat yang kita lalui telah terselubung ilusi, hingga kita selalu berputar-putar dan kembali ke tempat ini," ucap An Yue.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya An Yue.


"Tak ada jalan lain jika kita ingin melanjutkan perjalanan selain menghancurkan ilusi ini," jawab Nien Chu.


Nien Chu kemudian meloncat dari punggung Tency, kemudian diapun mengeluarkan sebuah gulungan yang merupakan tehnik penghancur ilusi.

__ADS_1


Dengan menggunakan tehnik di dalam gulungan itu, Nien Chu berhasil menghancurkan ilusi yang selama ini mengurungnya.


Setelah ilusi yang mengurungnya hancur, tiba tiba saja Nien Chu di kejutkan dengan serangan sebuah bayangan pedang hitam yang melesat cepat ke arahnya.


Dengan bersalto di udara, Nien Chu dapat menghindari serangan pedang itu, akan tetapi kembali serangan susulan berupa bayangan pedang hitam kembali memburunya.


Melihat Nien Chu di serang dengan sembunyi sembunyi, membuat An Yue langsung melompat dari atas punggung Tency kemudian menebaskan pedangnya kearah bayangan pedang yang mengarah kepada Nien Chu.


Selarik sinar berbentuk bulan sabit, seketika itu menyongsong pedang bayangan hitam yang terus menuju kearah Nien Chu.


Di luar dugaan An Yue, serangan pedangnya hanya dapat mengenai ruang yang kosong, sehingga pedang bayangan hitam kembali menuju kearah Nien Chu.


"Bagaiman bisa pedang bayangan hitam itu tak dapat tersentuh oleh tebasan pedangku? ini baru pertama kali ku alami kejadian seperti ini," batin An Yue.


Naga hitam yang keluar dari tangan kanan Nien Chu hanya menghantam ruang yang kosong, tanpa sedikitpun mampu untuk menghentikan pedang hitam yang mengarah padanya.


Melihat serangannya gagal untuk menahan bayangan pedang hitam, Nien Chu lantas menjatuhkan tubuhnya ketanah hingga bergulingan sesaat di sana untuk menghindari serangan bayangan pedang hitam.


Alhasil bayangan pedang hitam itu pun langsung menghantam tanah di dekat Nien Chu, hingga menimbulkan ledakan yang menyebabkan lobang dalam selebar satu meter tercipta di sana.


Nien Chu memutar tubuhnya keatas dan mendarat dengan kedua kakinya menginjak tanah dengan tanpa suara.


"Maafkan kami jika telah mengusik senior..., kami datang ketempat ini hanya untuk memastikan keadaan pangeran Zeng Wu yang berada di puncak gunung Wongku ini," ucap Nien Chu sambil menggenggam tinju memberi hormat.

__ADS_1


An Yue yang melihat hal itu menjadi sangat heran kepada Nien Chu, karena di tempat itu tak ada satu orang pun yang terlihat di sana.


"Apa yang di lakukan Nien Chu, mengapa dia memberi hormat pada sesuatu yang tak terlihat?" batin An Yue.


Rasa heran An Yue tiba tiba berubah saat melihat seorang wanita paruh baya tiba tiba muncul di hadapan Nien Chu.


"Kembalilah pulang karena aku takkan membiarkan kalian untuk bisa sampai ke puncak gunung Wongku, biarkan pangeran Zeng Wu kami yang urus," ucap wanita paruh baya itu.


"Tetua, aku merupakan saudara angkat pangeran Zeng Wu, dan mohon maaf tetua..., tak menghilangkan rasa hormatku pada tetua, aku ingin tetap bertemu dengan pangeran Zeng Wu dan jika tetua mencoba untuk menahanku maka aku akan melawan," jawab Nien Chu.


"Jika kau memaksa untuk terus melanjutkan perjalanan mu ke puncak gunung Wongku, maka jangan salahkan aku jika kau hanya tinggal nama," ucap wanita paruh baya itu.


Nien Chu hanya tersenyum mendengar perkataan sang wanita paruh baya, diapun lalu mengeluarkan pedang penguasa malam dari dalam tubuhnya.


Melihat pemuda yang berada di hadapannya telah siap bertarung dengannya, maka wanita paru baya itu langsung mengibaskan tangannya kedepan, sehingga 3 buah bayangan pedang hitam melesat cepat menuju ke arah Nien Chu.


Nien Chu tak tinggal diam, diapun lantas memejamkan matanya dan menyalurkan aura teratai nirwan ke dalam pedang penguasa malam, hingga pedang penguasa malam yang berada di dalam genggaman tangannya mengeluarkan cahaya emas menyilaukan.


Dengan sekali sabetan pedang penguasa malam, pedang bayangan hitam yang menuju kearah Nien Chu, seketika itu terpental menabrak pepohonan besar yang berada di sekitar tempat pertarungan, hingga membuat pohon besar itu tumbang ketanah.


Wanita paruh baya begitu sangat terkejut melihat hal itu, dia tak menyangka jika ada seorang kultivator muda yang mampu menghempaskan pedang bayangan yang di lepaskan nya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2