
Ke esokan paginya Nien Chu menuju ke tengah kota, di sana telah padat oleh orang orang yang akan menyaksikan pertarungan hari itu.
Nien Chu memasuki podium tempat para petarung yang akan melakukan laga pertarungan di arena kompetisi.
Begitu banyak petarung yang ada di atas podium tempatnya berada, semua terlihat tak terbatas usia ada yang muda, tua, maupun ada para wanita yang juga akan melakukan pertarungan hidup dan mati di atas arena kompetisi.
Satu persatu para petarung dipanggil untuk memasuki arena pertarungan, dan benar saya pertarungan itu merupakan pertarungan hidup dan mati.
Dalam sekejap arena pertarungan telah dipenuhi dengan darah para petarung yang kalah, dan banyak juga pemenang pertarungan yang tak dapat melanjutkan kompetisi itu, karena mereka telah terluka parah sehingga harus melakukan perawatan.
Nien Chu akhirnya dipanggil untuk memasuki arena pertarungan, dan yang akan dihadapinya merupakan seorang wanita muda dengan tubuh setengah ular dan setengah manusia.
Nien Chu tak ada keinginan untuk membunuh wanita yang menjadi lawan tarungnya, karena memang tujuannya mengikuti kompetisi itu bukan untuk membunuh melainkan agar dirinya dapat memenangkan pertarungan agar dapat berada di kekaisaran kota, guna mencari tahu tempat keberadaan paman lu Ying berada.
Sang wanita kemudian menyerang ke arah Nien Chu menggunakan pedang dan kibasan ekornya, yang membuat Nien Chu segera bergerak cepat ke arahnya dan menghantamkan telapak tangan yang sedikit diberi tenaga dalam, sehingga sang wanita terhempas jatuh ke atas arena pertarungan dan tak bisa bangkit lagi.
Dalam serangan cepat yang dilakukan Nien Chu, selain menghantamkan telapak tangannya ketubuh sang wanita, Nien Chu juga masukkan sebuah pil ke dalam mulut sang wanita agar dalam satu jam ke depan sang wanita dinyatakan mati.
Juri memeriksa denyut nadi sang wanita, setelah itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi yang menyatakan jika wanita itu telah mati dan Nien Chu Lah yang menjadi pemenangnya.
Seluruh penonton yang menyaksikan hal itu begitu sangat terkejut melihat kecepatan gerak Nien Chu dalam mengalahkan sang wanita, karena kecepatan yang dilakukan Nien Chu begitu sulit diikuti oleh mata biasa.
Nien Chu beberapa kali melakukan pertarungan, dan semua pertarungan dapat dimenangkan dengan sekali serangan.
Pertarungan terus berlanjut yang menyisakan 8 besar yang akan bertarung keesokan harinya.
Saat Nien Chu ingin melanjutkan perjalanannya menuju ke penginapan tiba-tiba saja seorang wanita menahan langkahnya.
"Aku berterima kasih kepadamu karena kau tak membunuh adikku," ucap sang wanita.
Nien Chu hanya menganggukkan kepalanya karena dia tak ingin berlama-lama di tempat itu.
__ADS_1
"Namaku Jeni, aku termasuk salah satu delapan besar kontestan yang akan bertarung esok hari," ucap sang wanita
Nien Chu menghentikan langkahnya kemudian membalikkan tubuhnya ke arah jeni karena merasakan adanya pergerakan di diagram yang ada padanya, dan Nien Chu telah mengetahui jika pemilik simbol Dewa yang dicari nya berada pada wanita yang bernama jeni.
"Namaku Nien Chu, aku akan mengalahkanmu esok hari," ucapnya.
"Aku sudah tak sabar ingin bertarung dengan mu, dan aku harap kau besok tak mengecewakanku," ucap jeni kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Nien Chu merebahkan tubuhnya di atas pembaringan dan menatap ke langit-langit kamarnya.
"Ternyata tak mudah menemukan paman Lu Ying di sini, entah berapa lama waktu yang akan kubutuhkan untuk menemukannya," batin Nien Chu.
Keesokan paginya kembali pertarungan digelar, dan saat ini walikota ikut menonton pertarungan yang terjadi.
Nien Chu di panggil duluan untuk melakukan pertarungan dengan seorang pemuda bertubuh kekar, dengan golok besar di tangannya.
Saat lonceng berbunyi, maka tubuh laki-laki kekar itu terpisah menjadi 5 replika yang sama, dan secara bersama-sama menyerang ke arah Nien Chu.
Tubuh pemuda bertubuh kekar itu terhempas jauh ke belakang dan keluar dari Arena pertarungan saat serangan tinju naga giok mendarat di tubuhnya, yang membuat keempat bayangannya pun sirna seketika itu juga.
Wali kota yang menyaksikan pertarungan itu begitu sangat terkejut melihat kecepatan Serangan yang di lakukan Nien Chu, yang hanya sekali serangan dapat membuat lawan tarungnya tumbang.
"Pemuda ini masih hidup, dan kau harus membunuhnya agar dapat memenangkan pertarungan ini," ucap juri pertarungan itu.
"Aku tak suka membunuh lawan tarungku yang sudah tak berdaya, karena hal itu menghabis-habiskan waktuku saja," jawab Nien Chu.
"Jika kau tak membunuhnya maka kemenangan akan berada di pihak pemuda ini!!" ucap juri pertarungan.
"Jika memang itu merupakan keputusan yang terbaik dalam pertarungan ini, maka aku tetap pada pendirianku untuk tak membunuhnya," jawab Nien Chu Sambil meninggalkan arena pertarungan menuju ke podium para petarung.
Suara penonton begitu Riuh terdengar, mereka semua tak habis pikir mengapa pemuda yang memenangkan pertarungan tak ingin membunuh lawan tarungnya, sementara aturan yang berlaku jika lawan tarung yang belum mati harus segera dibunuh karena hal itu merupakan tradisi yang ada di kota danau hitam.
__ADS_1
Tapi di satu sisi para penonton juga mengagumi Nien Chu yang memiliki kemampuan hebat, yang selama ini dapat mengalahkan lawan tarungnya dengan sekali serangan.
Tiba tiba juri menyatakan jika pemuda kekar yang memenangkan pertarungan itu, akan tetapi sang pemuda bangkit kembali dan berdiri di atas arena pertarungan.
"Aku telah dinyatakan kalah dalam pertarungan ini dan tak layak menjadi pemenang, demi menjaga kehormatanku maka aku akan memberikan kemenangan itu kembali ke padanya," ucap pemuda kekar dengan menyayat kan goloknya ke lehernya sendiri, hingga sang pemuda pun ambruk ke arena pertarungan dengan bersimbah darah.
Nien Chu sangat terkejut dengan apa yang dilakukan pemuda kekar yang menjadi lawan tarungnya, dia tak menyangka jika kehormatan di kota Danau hitam begitu dijunjung tinggi.
Setelah kematian pemuda kekar dengan melakukan bunuh diri di hadapan seluruh penonton, maka dengan sendirinya Nien Chu berhak melaju ke babak selanjutnya.
Saat ini jeni yang akan melakukan pertarungan melawan seorang laki laki tua, dan saat ini mereka berdua saling berhadapan satu dengan yang lainnya.
Pertarungan di antara mereka berdua pun terjadi, Nien Chu dapat merasakan kekuatan yang dimiliki laki laki tua itu berada jauh di atas Jeni, yang tentunya akan berakibat fatal akan keselamatan jeni yang menjadi lawan tarungnya.
Benar saja, laki laki tua itu dapat menghempaskan jeni ke atas arena pertarungan saat kedua kekuatan saling berbenturan di udara.
Akan tetapi keadaan berubah saat jeni mengeluarkan sepasang berarti kembar dari dalam cincin ruangnya, kecepatannya pun meningkat drastis sehingga laki laki tua itu kesulitan untuk menggapainya.
Jeni menyerang laki-laki tua itu dengan gerakan membentuk pola, yang membuat Nien Chu sangat penasaran dibuatnya.
Nien Chu pada akhirnya mengeluarkan mata langit hingga dapat melihat pola yang terbentuk di atas arena pertarungan.
Pola itu membentuk jari laba-laba di atas permukaan Arena, sehingga membuat pergerakan laki-laki tua itu melambat dan pada akhirnya jeni dapat melakukan serangan serangan yang melukainya," batin Nien Chu.
Nien Chu kemudian menghilangkan kembali mata langit yang telah diaktifkannya, dan kembali menatap jalannya pertarungan di atas Arena.
Saat ini laki-laki tua itu benar-benar kesulitan untuk bergerak, akibat adanya jaring laba-laba yang tak terlihat terbentuk di atas arena pertarungan.
Melihat lawannya terpuruk sedemikian rupa, jeni kemudian melesat cepat dan menghujamkan dua belati kembarnya ke leher laki-laki tua yang menjadi lawan tarungnya, hingga laki-laki tua itu pun ambruk bersimbah darah di atas arena pertarungan.
Jeni memenangkan pertarungannya dan masuk ke babak selanjutnya.
__ADS_1
Bersambung.