
Setelah kejadian malam itu pangeran Xiangjiang menemui walikota, untuk membicarakan hal penting di sana.
"Paman..., kau telah menjadi walikota di kota Danau hitam ini sudah cukup lama, apakah Paman masih ingin tetap menjadi walikota di kota yang makmur ini?" tanya Pangeran Xiangjiang.
"Mengapa Pangeran menanyakan hal itu kepadaku, yang tentunya pertanyaan itu pangeran sudah mengetahui jawabannya," jawab sang walikota.
"Paman Lingsan, jika Paman masih ingin menjadi walikota di kota Danau hitam ini maka aku ingin paman membunuh Nien Chu untukku, karena aku tak menyukainya..., dia telah merusak hubunganku dengan Lin Ar," ucap pangeran Xiangjiang yang tentu saja membuat sang walikota sangat terkejut.
"Pangeran ..., Nien Chu merupakan pemenang kompetisi yang diadakan di kota danau hitam ini, dan kekuatannya begitu sangat hebat sehingga sangat beresiko jika kita menyinggung apalagi sampai ingin membunuhnya, aku rasa Pangeran harus mengurungkan niat itu agar tak terjadi masalah di kemudian hari," jawab walikota.
"Ha..ha..ha.., Kau terlalu bodoh paman..., Mengapa kita harus takut kepadanya sementara orang yang ada di belakangmu merupakan seorang putra mahkota, yang nantinya akan memegang pucak pemerintahan di kekaisaran ini".
"Ingat paman..,Jika kau tak ingin melakukan apa yang kuperintahkan padamu, maka jangan salahkan aku jika kelak aku akan berbuat buruk pada keluargamu".
"Paman..., kekuasaan ku tak terbatas aku bisa melakukan apapun di wilayah kekaisaran ini, aku menunggu berita kematian Nien Chu dua hari dari sekarang, dan jika kau gagal maka jangan salahkan aku jika kau merupakan satu dari sekian orang yang akan menjadi duri yang harus kusingkirkan," ucap pangeran Xiangjiang kemudian pergi meninggalkan ruangan pribadi sang walikota.
Walikota Lingsan terdiam di kursi nya, dia tak menyangka jika kejadian di hari ulang tahun putrinya akan berbuntut panjang seperti ini.
"Mengapa hanya masalah cinta kau bisa berbuat sekeji ini pangeran, bagaimana kau akan memimpin kekaisaran ini jika hatimu selalu diisi keburukan," batin sang walikota.
Walikota tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti sang pangeran, semua itu untuk melindungi keluarganya dari masalah yang akan ditimbulkan Pangeran jika sang walikota tak mengikuti keinginannya.
Sebenarnya apa yang di inginkan Pangeran sangat bertentangan dengan hati nurani sang walikota, namun untuk melindungi semua orang-orang yang dicintainya membuat sang walikota terpaksa melakukan perintah Pangeran untuk membunuh Nien Chu.
Walikota berjalan ke arah lemari yang ada di ruang pribadinya, dan mengambil sebuah wadah khusus yang di dalamnya terdapat sebuah pil racun, pil itu merupakan racun mematikan tanpa rasa, tanpa bau dan tanpa warna yang membuat pil itu begitu sangat mematikan dan ditakuti seluruh kultivator yang ada di kekaisaran cahaya mentari.
"Putriku..., bawakan sup ginseng ini kepada Nien Chu yang tengah berlatih di ruang bawah tanah, agar tubuhnya dapat segar kembali setelah melakukan latihan keras di sana, dan ingat kau jangan sekali kali ikut memakan sup ginseng ini, karena sub gingseng ini tak bisa diminum oleh seorang wanita," ucap sang walikota di suatu sore.
Ling Ling yang menaruh hati kepada Nien Chu karena kebaikan dan ketampanannya, begitu sangat senang menerima perintah dari sang ayah untuk membawakan sup ginseng kepada Nien Chu.
__ADS_1
"Baik ayah, aku akan membawakan sup ginseng ini ke sana," jawab nona muda Ling Ling dengan senyum sumringah di wajahnya.
Nona muda Ling Ling pada akhirnya membawa sup ginseng yang telah bercampur dengan racun, ke ruang latihan bawah tanah tempat keberadaan Nien Chu.
"Kak Nien Chu.., aku membawakan sup ginseng untukmu, makanlah mumpung selagi hangat," ucap nona muda Ling Ling.
Tiba tiba saja jeni datang keruang latihan bawah tanah, melihat adanya sup ginseng yang merupakan makan favoritnya, jeni akhirnya tergiur untuk memakannya.
"Kak jeni, sup ginseng ini tak diperuntukkan untukmu, Aku sengaja membawakannya untuk kak Nien Chu," ucap nona muda Ling Ling dengan memasang wajah cemberut yang tak senang dengan ke hadiran jeni di tempat itu.
"Sudah lah nona muda, tak ada salahnya jeni ikut menikmati sup buatanmu itu, aku bisa berbagi dengannya," ucap Nien Chu kemudian membagi sup gingseng itu menjadi dua bagian dan memberikannya kepada jeni.
Mereka berdua akhirnya menikmati sup gingseng yang diberikan nona muda Ling Ling, dan apa yang terjadi setelah itu membuat suasana di dalam ruang latihan menjadi riuh dengan suara teriakan menyayat hati dari jeni.
Nien Chu yang tak terpengaruh dengan racun itu karena adanya bunga teratai Nirwana di dalam tubuhnya, begitu sangat terkejut mengetahui jika makanan yang telah dimakannya bersama Jeni telah ditaburi racun.
Dengan cepat Nien Chu mengalirkan energi murni teratai Nirwana ke tubuh Jeni, dan tak berapa lama kemudian wanita muda itu pun memuntahkan semua makanan yang telah dimakannya.
"Jeni pulihkan dirimu dengan berkultivasi di tempat ini, aku akan melindungi tempat ini dengan menggunakan segel pelindung, agar tak ada yang dapat masuk ke tempat ini selain diriku," ucap Nien Chu.
Jeni menganggukkan kepalanya pelan, mengiyakan perkataan Nien Chu.
Sementara itu nona muda Ling Ling yang menangis di sudut ruangan sangat ketakutan melihat Nien Chu datang ke arahnya, dia pun langsung berkata.
"Aku tak mengetahui jika di dalam sup itu telah bercampur racun, Ayah yang menyuruhku membawakan sup itu kepadamu," ucap nona muda Ling Ling dengan tubuh bergetar merasakan ketakutan yang teramat sangat.
"Aku tau kau tak mungkin melakukan hal itu padaku, ayahmu yang akan mempertanggungjawabkan ini semua kepadaku," jawab Nien Chu.
Nien Chu kemudian mengajak nona muda Ling Ling untuk menemui walikota, dan dengan menganggukkan kepalanya noda-noda Ling Ling membawa Nien Chu menuju ke ruangan pribadi sang walikota.
__ADS_1
Ketukan pintu membuat sang walikota yang tengah duduk termenung, akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan berkata.
"Siapa..?" tanya sang walikota.
"Ling Ling Ayah..." ucap suara di balik pintu.
Walikota lantas membuka pintu ruang pribadinya, dan betapa terkejutnya sang walikota saat melihat wajah Nien Chu berada di sana.
Walikota segera mundur dan mengeluarkan aura kuat di tubuhnya, karena dia tahu akan ada sebuah pertarungan dengan anak muda yang ada di hadapannya itu.
"Kau kira kau dapat membunuhku semudah itu walikota, jika hanya racun seperti itu yang kau berikan padaku maka kau jangan bermimpi untuk dapat membunuhku," ucap Nien Chu dengan tatapan dingin ke arah sang walikota.
"Kau memang hebat Nien Chu, tapi kau belum tentu dapat mengalahkanku dalam sebuah pertarungan, jika kau bisa selamat dari racun itu maka kau tak akan selamat dari tanganku," ucap sang walikota kemudian menyerang ke arah Nien Chu dengan menggunakan pedang yang berada di tangannya.
Belum sempat sang walikota mendaratkan pedangnya ke arah Nien Chu, tiba-tiba saja Nien Chu sudah berada di dekat sang walikota dan menghantamkan telapak tangannya ke tubuh Sang walikota, sehingga membuat walikota tersungkur dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Nona muda Ling Ling yang melihat ayahnya tergeletak ditanah, lalu berlari memeluk sang ayah untuk melindunginya dari serangan susulan Nien Chu.
"Aku mohon jangan bunuh ayahku.., dia tak mungkin melakukan hal ini Jika tak ada ancaman dari orang lain yang lebih berkuasa darinya," ucap nona muda Ling Ling.
Nien Chu kemudian mengibaskan tangannya, sehingga membuat nona muda Ling Ling terjerembab kesamping.
Kini Nien Chu berada di dekat sang walikota yang masih tergeletak di lantai ruangan pribadinya.
"Katakan padaku siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini, jika orang itu mempunyai kekuasaan melebihi mu hingga kau takut padanya, maka aku pun bisa memberikan rasa ketakutan itu melebihi dirinya, cepat katakan padaku siapa yang menyuruhmu!!," bentak Nien Chu.
Walikota tetap diam membisu tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Apa yang dilakukan sang walikota membuat Nien Chu menjadi geram ke padanya.
__ADS_1
"Walikota..., Kau mempunyai putri yang cantik dan memikat hati, bagaimana jika aku menodainya di hadapanmu dan setelah aku puas menikmati tubuhnya maka aku akan membunuh putri kesayangan mu itu, walikota bukankah hal itu lebih menyakitkan daripada perintah dari orang yang menyuruhmu membunuhku!?," ucap Nien Chu dengan keseriusan di wajahnya.
Bersambung.