
Malam itu juga Nien Chu melesat pergi untuk mengejar kedua sahabatnya yang telah pergi duluan ke pulau ujung tak bertepi, dengan menaiki rubah putihnya Nien Chu menembus lebatnya hutan, menuju ke tempat di mana keberadaan kedua sahabatnya berada.
Sementara itu Zhurui dan Anchen begitu sangat heran kepada Zaiya, setelah siang dan malam mereka berlari tapi belum juga keberadaan Nien Chu mereka temukan, dan sepertinya Zaiya sengaja memperlambat laju lari mereka dengan sengaja berpura-pura lelah, ataupun berpura-pura lapar sehingga mereka berhenti untuk beristirahat ataupun memakan.
"Saudara Zaiya, apa masih jauh keberadaan Nien Chu sehingga kita belum bisa untuk mengejarnya?" tanya Zhurui.
"Sudah dekat..., bersabarlah kita pasti dapat menyusulnya," jawab Zaiya dengan terus berlari.
"Saudara Zaiya, kau terus berkata jika Nien Chu sudah dekat, tapi kenyataannya kita belum juga dapat menyusulnya dan sepertinya kau sengaja mulut-ulur waktu agar kita tak dapat menyusulnya," timpal Anchen yang terlihat kesal.
"Kalian berdua bersabarlah, di balik lembah perbukitan itu kita pasti dapat menyusul Nien Chu," jawab pangeran Zaiya.
Pangeran Zaiya memang sengaja mundur-ulur waktu dengan berbagai macam tingkahnya, dan memutar arah mengelilingi tempat tujuan untuk memperlambat mereka bertiga sampai ke titik tujuan, semua itu di lakukannya agar Nien Chu terlebih dahulu dapat berada di tempat itu dan kebohongannya selama ini tak sampai ketahuan oleh kedua sahabat Nien Chu yang bersamanya.
Benar saja, Nien Chu telah sampai ke titik tujuan sebelum ketiganya datang, Zhurui dan Anchen begitu sangat senang melihat keberadaan Nien Chu di tempat itu, dan merasa malu kepada Zaiya karena telah berprasangka buruk padanya.
"Kita sudah berkumpul kembali, saatnya kita pergi ke pulau ujung tak bertepi," ucap Zaiya.
"Kau benar saudara Zaiya, kita harus segera sampai ke sana karena waktu kita sangat terbatas," jawab Nien Chu.
"Nien Chu..., Aku elf dari hutan dan pegunungan yang mempunyai kekuatan untuk berteleportasi dengan cepat menggunakan teknik binatang buas, aku ingin kalian naik ke punggungku agar kita segera sampai ke pulau ujung tak bertepi dengan," ucap pangeran Zaiya.
__ADS_1
Ketiganya merasa heran dengan perkataan dari Zaiya, dan pada akhirnya keraguan pada diri mereka terhadap Zaiya terjawabkan, setelah Zaiya merubah dirinya menjadi burung merak tujuh warna raksasa, yang siap membawa mereka bertiga terbang menuju ke pulau ujung tak bertepi.
"Apa yang kalian lihat..., cepat naik lah ke punggungku," perintah Zaiya.
Ketiganya yang tadinya begitu sangat tertegun melihat burung merak yang ada di hadapannya, pada akhirnya tersadar dan mereka pun langsung meloncat ke atas punggung burung merak raksasa yang ada di hadapannya.
Mengetahui ketiganya telah berada di atas punggungnya, burung merak raksasa mulai mengepakkan sayapnya dan mengudara.
Nien Chu, Zhurui dan Anchen begitu sangat terkejut melihat di depan mereka kini telah terbuka sebuah tirai dimensi, yang mampu membawa mereka ke sebuah tempat yang dituju.
Belum sempat mereka bertiga memperbincangkan tentang tirai dimensi itu, dengan cepat merak raksasa langsung menembus tirai tersebut hingga pada akhirnya mereka semua kini berada di atas sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh lautan.
"Itu adalah pulau ujung tak bertepi yang seluruh pulau itu diselimuti oleh sihir, Aku ingin kalian bertiga tetap saling bersama untuk menjaga satu dengan yang lainnya," ucap Zaiya.
Pada akhirnya Zaiya menukik dengan cepat dan menembus penghalang sihir yang menyelimuti pulau tersebut, hingga mereka berempat tiba permukaan tanah.
Zaiya merubah dirinya kembali menjadi wujudnya semula, dan merasakan jika aura sihir di tempat keberadaan mereka sekarang begitu sangat pekat, sehingga diam-diam Zaiya mengeluarkan kekuatannya untuk melindungi rombongannya dari bahaya yang setiap saat akan datang mengancam rombongannya.
Nien Chu pun merasakan seperti apa yang di rasakan oleh Zaiya, jika ada sesuatu yang terus memantau keberadaan rombongannya, akan tetapi Nien Chu tak bisa untuk memastikannya dengan pasti, sehingga Nien Chu pun berkata.
"Bersiaplah kalian semua, karena ada sesuatu dengan berkekuatan besar yang tengah memperhatikan kita, dan aku ingin kelompok ini jangan sampai terpisah," ucap Nien Chu.
__ADS_1
Dan benar saja apa yang di rasakan oleh Nien Chu, tiba tiba saja seekor kera raksasa berwarna putih telah berdiri menghadang jalan mereka berempat, dengan aura yang sangat kuat di tubuhnya.
Pangeran Zaiya begitu sangat terkejut melihat penampakan kera besar di hadapannya, dia merasakan adanya darah dewa binatang buas di dalam tubuh kerah raksasa itu.
"Bagai mana mungkin darah dewa bintang buas bisa berada di dalam tubuh kera raksasa itu? karena binatang yang memiliki darah binatang buas telah lama punah dari Nirwana?"
"Ini tak akan baik bagi mereka bertiga jika harus menghadapi karena raksasa itu, dan aku takkan bisa mengeluarkan seluruh kemampuanku untuk menghadapinya, karena jika aku menggunakan kekuatan terkuat yang memiliki maka para dewa terkuat di Nirwana akan mengetahuinya, dan tentunya aku akan mendapatkan hukum karena memakai kekuatan Dewa di dalam alam dunia."
Seandainya aku bisa memakai seluruh kekuatanku untuk menghancurkan kera tersebut, maka akan sangat mudah bagiku untuk mengalahkannya, akan tetapi resiko yang harus kuterima pun akan sangat fatal, dan tentunya akan membuat masalah baru di nirwana."
"Ibu Dewi pasti akan terbawa-bawa dalam masalah ini, dan tentunya hal itu akan meresahkan Ayah sebagai pemimpin nirwana karena keterlibatan ibu Dewi yang telah menyuruhku datang ke alam dunia, Ayah pasti akan mencari informasi untuk mengetahui mengapa Ibu Dewi menyuruhku datang ke alam dunia."
"Dan jika saja Ayah tahu keberadaan Nien Chu sebagai putra Ibu Dewi yang ada di alam dunia, maka Ayah pasti akan murka karena selama ini Ayah tak pernah mengetahui jika Ibu dewi pernah mengandung anaknya, dan pastinya ayah akan mengira jika Ibu Dewi telah melakukan hal buruk di belakangnya, hingga melahirkan anak laki laki yang bukanlah anak kandungnya sendiri, dan tentunya hal itu akan membahayakan nyawa adikku Nien Chu jika ayah tahu keberadaan Nien Chu sebelum waktunya," batin pangeran Zaiya.
Dengan semua pertimbangan yang ada pangeran Zaiya lantas berteriak untuk segera meninggalkan tempat itu, karena kekuatan yang dimiliki oleh kera putih atau yang biasa disebut kera salju masih berada di atas mereka semua.
"Kita harus harus segera menyingkir dan menjauh dari kera itu, kita harus memikirkan rencana untuk dapat menaklukkannya tanpa harus bertarung langsung dengannya," ucap Pangeran Zaiya.
Perkataan pangeran Zaiya tak digubris oleh Nien Chu, karena Nien Chu yang menginginkan segera mendapatkan teratai nirwana demi menyelamatkan An Yue, langsung menyerang ke arah kera putih yang ada di hadapannya, hingga pertarungan pun terjadi di antara mereka.
Tak ingin Nien Chu bertarung sendirian menghadapi kera raksasa itu, pada akhirnya Zhurui dan Anchen ikut membantu Nien Chu dalam pertarungan menghadapi kera salju.
__ADS_1
Bersambung