
Nien Chu dan Putri Zeng Yi berhasil mendapatkan seekor rusa jantan besar, ternyata di dalam hutan itu selain banyak terdapat binatang roh berbagi tingkatan, hutan itu juga dipenuhi dengan berbagai macam binatang buruan yang dapat dikonsumsi.
Nang na dan Guqin pergi membersihkan binatang buruan tersebut, sementara Jing ci membuat api untuk memanggang rusa tersebut.
"Putri Zeng Yi makanlah daging rusa panggang ini, aku sengaja membuatkannya untukmu," ucap senior Zong Li sambil memberikan rusa panggang yang ada di dalam genggaman tangannya.
"Aku tak bisa menerima daging panggang itu karena aku juga telah memanggangnya sendiri, dan sebentar lagi daging yang ku panggang ini akan matang," tolak putri Zeng Yi.
Karena selalu tak mendapatkan tanggapan dari Sang Putri, senior Zong Li akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Di tempat lain Nien Chu tengah bersandar di sebuah batang pohon, dan menatap kosong ke depan.
"Bagai mana keadaanmu sekarang Hyun Zi, maafkan aku karena telah membuatmu dihukum dan diasingkan ke sebuah tempat antah berantah, dan aku berjanji padamu akan pergi mencarimu dan membawamu kembali dari pengasingan mu setelah perburuan harta Karun ini berakhir," batin Nien Chu.
Nien Chu masih sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Hyun Zi, karena dirinya lah Hyun Zi sampai dihukum oleh sektenya sendiri.
Lamunan Nien Chu terhenti saat tiba tiba dia dikejutkan dengan sapaan seorang wanita dari belakang nya. "Kak Nien Chu, aku membawakanmu daging panggang, makanlah," ucap putri Zeng Yi.
"Trimakasih," jawab Nien Chu gelagapan.
"Kak Nien Chu, sepertinya kau memikirkan sesuatu yang berat, apakah yang ada di dalam pikiranku saat ini merupakan wanita yang bernama Hyun Zi?" tanya putri Zeng Yi penuh selidik.
Nien Chu berusaha menenangkan dirinya dengan tebakan putri Zeng Yi yang tepat sasaran.
"Aku tak memikirkan wanita yang kau maksud itu, aku hanya berpikir bagaimana kelompok ini bisa bertahan jika bertemu dengan binatang roh level 9," jawab Nien Chu mencoba berbohong, ini dilakukannya agar tak terjadi salah paham antara dirinya dan putri Zeng Yi.
__ADS_1
"Maafkan aku kak, karena telah berprasangka buruk padamu," ucap putri Zeng Yi yang begitu malu dengan rasa cemburu yang berlebihan kepada Nien Chu.
"Melihat putri Zeng Yi merasa bersalah dengan perkataannya, Nien Chu lantas berkata.
"Apakah kau akan terus memegangi daging panggang di tanganmu itu, dan membiarkannya menjadi dingin?" tanya nien Chu.
"Oh...iya kak.., ini!" jawab putri Zeng Yi sambil memberikan daging panggang itu kepada Nien Chu.
"Daging panggang ini terlalu banyak, dan kurasa seharian ini kau pun belum ada makan bukan?, lebih baik kita makan bersama," ucap Nien Chu.
Putri Zeng Yi menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Nien Chu, dan pada akhirnya mereka pun makan daging panggang itu.
Nien Chu begitu kagum atas sifat baik dan rendah hati putri Zeng Yi selama mengenalnya dengan dekat, karena Nien Chu tau jika di istana seorang putri akan selalu ketergantungan kepada pelayan pelayan yang melayaninya, tapi hal itu tak terbukti pada diri putri Zeng Yi yang mampu mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, dan harus diakui oleh Nien Chu jika putri Zeng Yi bisa mandiri tanpa adanya para pelayan di sisinya.
Di tempat lain, tatapan penuh amarah terlihat di wajah senior Zong Li, saat melihat Nien Chu begitu mesra dengan makan daging panggang berdua dengan Nien Chu.
Senior Zong Li tak peduli lagi dengan kelompok nya, rasa cemburu telah membutakan hati dan akal sehatnya, hingga dia melakukan sesuatu yang dapat merugikan kelompoknya sendiri.
Senior Zong Li menjejakkan kakinya ketanah sekali, dan gelombang kejut yang sangat halus seketika itu terpancar dari pijakannya.
Tak berapa lama suara lolongan serigala terus bersahut sahutan di tempat itu, sehingga membuat suasana terasa sangat mencekam di tempat kelompoknya berada.
"Putri kau jangan jauh dariku karena saat ini kita telah di kepung oleh kawanan serigala roh," ucap Nien Chu.
"Iya kak.." jawab putri Zeng Yi kemudian mengeluarkan pedangnya dari dalam cincin ruang yang digunakannya.
__ADS_1
Nien Chu pun tak tinggal diam, diapun mengeluarkan sebuah tombak dari dalam cincin ruangnya, untuk berjaga-jaga dari serangan mendadak sang serigala roh.
Semua orang yang ada di dalam kelompoknya pun kini telah bersiap siaga, dari serangan mendadak sang serigala roh.
Sementara itu senior Zong Li segera menghampiri putri Zeng Yi dan berkata. "Putri..., ada baiknya kau ikut denganku, karena aku mampu untuk melindungimu dari serangan para serigala roh itu, daripada mengikuti Nien Chu yang belum tentu dia dapat melindungi dirinya sendiri," ucap nya.
"Aku akan tetap bersama dengan kak Nien Chu, karena aku yakin seyakin yakinnya dia mampu untuk melindungi ku!" jawab putri Zeng Yi dengan datar.
"Senior Zong Li, lebih baik anda mengurus anggota kelompok yang lainnya, biar putri Zeng Yi aku yang mengurusnya," timpal Nien Chu.
"Ayo putri, kita bergabung dengan yang lainnya," ucap Nien Chu sambil meraih tangan putri Zeng Yi dan mengandeng nya pergi meninggalkan senior Zong Li ditempat itu.
Senior Zong Li benar benar muak melihat tingkah Nien chu, dengan amarahnya dia kembali menjejakkan kakinya ke tanah dengan kuat, sehingga getarannya mampu dirasakan oleh Nien Chu.
"Apa yang kau lakukan..!!, apakah kau ingin membunuh kelompok ini dengan perbuatanmu itu!!?" bentak Nien Chu.
"Terserah apa katamu Nien Chu, yang jelas aku tak akan mungkin mati di sini," jawab senior Zong Li kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Nien Chu begitu geram, dia tak menyangka jika senior Zong Li lah yang menjadi dalang dari datangnya para binatang roh ke arah kelompok mereka, sehingga membuatnya langsung melemparkan tombaknya ke arah senior Zong Li.
Senior Zong Li langsung tersenyum kemudian menangkap tombak yang di lemparkan Nien Chu, akan tetapi apa yang ada di dalam pikirannya tak seperti kenyataan yang ada, tombak yang ingin ditangkapnya sama sekali tak bisa untuk di genggamnya, sehingga tombak itu terus meluncur deras hingga menghantam sebuah pohon besar.
"Bagai mana mungkin Nien Chu yang hanya berada di tingkat Alam, mempunyai kekuatan sebesar ini karena jika hanya di tingkat ranah Alam tombak itu pasti akan dapat kuraih," batin senior Zong Li sambil menatap kearah Nien Chu.
Kali ini Nien Chu telah habis kesabarannya, sehingga membuat pedang penguasa malam seketika itu berada di dalam genggaman tangannya.
__ADS_1
Suasana malam yang mencekam oleh lolongan serigala yang sahut sahutan di sekitar kelompok, semakin mencekam dengan pacaran aura yang keluar dalam pedang penguasa malam, yang penuh dengan aura kematian.
Bersambung