
Thien Yu dan putri Emilia Die pergi menonton turnamen antar klan yang berada di kota, putri Emilia Die begitu menikmati pertandingan yang tersaji, akan tetapi tidak bagi Thien Yu Thien Yu.
Thien Yu tak kerasan berada di tempat itu, dia selalu memikirkan bagaimana secepatnya menghancurkan belenggu segel yang berada di dalam dantiannya, agar seluruh kekuatannya dapat kembali seperti sedia kala.
Thien Yu menatap pertarungan yang terjadi di arena, dengan tatapan kosong. Terlintas wajah jendral Ling Feng di dalam lamunan nya.
"Jika aku bertemu denganmu kembali maka aku tak akan membiarkanmu untuk hidup, tunggulah jendral Ling Feng di saat kekuatanku telah kembali maka hari itu adalah hari dimana kematian mu," batin Thien Yu.
Melihat Thien Yu yang tak bersemangat menonton jalannya pertarungan, putri Emilia Die langsung mengajak Thien Yu pergi.
"Kita mau kemana putri?" tanya Thien Yu.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, di sana kita bisa menenangkan pikiran," jawab putri Emilia Die.
Thien Yu tak banyak bicara, diapun mengikuti langkah kaki putri Emilia Die dari belakang, hingga sampai pada sebuah danau yang sangat jernih airnya.
Di tengah tengah danau terdapat sebuah rumah yang mengambang di air, rumah itu terbuat dari kayu dan memiliki karismatik sebuah bangunan antik.
"Aku biasa menghabiskan hari di rumah itu, untuk menghilangkan kesedihanku setelah ibu tiada," ucap Putri Emilia Die.
"Maksudmu?" tanya Thien Yu.
"Aku dan putri Estia Die merupakan saudara seayah dan lain ibu, di kerajaan walaupun ayahku selalu memberikan kasih sayang seperti halnya kakakku, tapi tidak dengan ibu ratu.
Ibu ratu selalu mengatur hidupku dengan menjodohkanku pada seorang putra bangsawan kerajaan ini yang bernama tuan muda Ji fu.
Sementara tuan muda Ji Fu sendiri mempunyai sifat angkuh, senang berjudi dan main perempuan, mengetahui sifat dari pemuda yang akan di jodohkan denganku, ibu ratu hanya berkata "Semua itu hanya kenakalan di masa remaja, jika dia menikah denganmu maka dia pasti akan merubah semua sifat dan prilakunya," ucap ibu ratu saat itu padaku.
Perkataan ibu ratu adalah mutlak dan tak bisa ku bantah, dan cincin di jari tanganku ini merupakan tanda ikatan pertunangan yang tak pernah aku inginkan," jawab putri Emilia Die.
__ADS_1
"Mengapa kau selalu memakai cincin itu sementara kau tak menginginkan pertunangan itu?" tanya Thien Yu kembali.
"Ha..ha..ha.., kau tak mengetahui sifat ibu ratu karena kau tak pernah tinggal di sini, jika kau tinggal lebih lama lagi maka kau akan tau sifat asli dari ratu kerajaan gerbang naga," jawab putri Emilia Die kembali.
Thien Yu terdiam, dia tau jika sang putri tertawa dengan terpaksa karena hatinya dalam tekanan dan penderitaan walaupun dia berada di istana yang megah, sedari itu Thien Yu hanya diam dan berpikir mencari cara untuk dapat melindungi Sang Putri.
"Mengapa raja kota gerbang naga tidak membela Sang Putri, apakah dia sengaja berpura-pura atau tak tahu dengan tekanan batin putrinya?" batin Thien Yu.
Lamunan Thien Yu pun pudar saat tiba tiba putri Emilia Die memegang tangannya dan membawa Thien Yu melompat menuju rumah di atas air.
"Pangeran silahkan duduk, anggap saja rumah sendiri," ucap putri Emilia Die dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Tak lama kemudian Sang Putri datang membawa makanan ringan dan minuman.
"Pangeran aku selalu berada di rumah ini, karena saat terjadi pertunangan, aku meminta satu syarat kepada ibu ratu yaitu sebelum menikah aku boleh bermain ke rumah di atas air ini kapanpun aku mau, dan Ibu Ratu pun mengizinkannya," ucap putri Emilia Die.
Mendengar hal itu Thien Yu hanya tersenyum, dan ikut merasakan apa yang tengah dirasakan oleh wanita muda yang ada di hadapannya itu.
Alunan kecapi yang dimainkan oleh Thien Yu, benar benar membuat putri Emilia Die terhanyut dan dapat melupakan sesaat semua masalah yang terjadi, termasuk masalah pertunangannya dengan tuan muda Ji fu yang sama sekali tak di inginkannya.
Melihat hal itu, Thien Yu kembali tersenyum, karena tujuannya bermain kecapi adalah untuk menghibur putri Emilia Die.
Bangunan rumah yang mengambang di atas air tiba-tiba saja bergoyang, air yang tadinya diam kini bergejolak.
Thien Yu menyadari jika ada kultivator kuat yang telah melakukan hal itu, hingga diapun berhenti memainkan kecapinya.
"Putri sepertinya kita tengah kedatangan tamu," ucap Thien Yu.
"Siapa pangeran?" tanya sang putri.
__ADS_1
"Aku juga tak tau," jawab Thien Yu.
Tiba tiba saja teriakan keras menggema dari pinggir danau.
"Cepat kalian berdua kesini, atau akan ku hancurkan rumah mu itu!!" teriak seorang pemuda.
"Celaka, itu suara Ji fu," ucap putri Emilia Die.
Tenanglah putri, lebih baik kita ke tepian, jika tidak bisa saja pemuda itu benar-benar menghancurkan rumahmu ini," ucap Thien Yu.
"Aku tak ingin rumah peninggalan ibuku ini hancur," jawab putri Emilia, kemudian menggenggam tangan Thien Yu dan membawanya pergi ke pinggir danau.
Terlihat Ji fu dan beberapa anak bangsawan lainnya tengah bertolak pinggang di hadapan putri Emilia Die dan Thien Yu.
"Aku tak menyangka kau tega menghianatiku dengan pergi bersama pemuda lain," ucap Ji Fu.
"Aku tak pernah menghianatimu, aku hanya mengajak pangeran Thien Yu pergi jalan-jalan agar dia tak jenuh di istana, lagian pangeran Thien Yu merupakan pemuda yang dijodohkan oleh ayahku Raja kota dengan kakak ku," jawab putri Emilia Die.
Sontak ke lima pemuda putra bangsawan dari kerajaan gerbang naga, tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Putri Emilia Die.
"Kau sangat polos putri, tampang seperti dia kau anggap seperti pangeran?, coba kau lihat cara berpakaiannya, tak selayaknya pakaian yang dikenakannya itu merupakan pakaian seorang pangeran.
Aku tahu dari ibu ratu jika pemuda ini bukan lah siapa apa, dan aku bebas melakukan apapun padanya dan jika perlu aku akan membunuhnya!!" bentak Ji fu.
"Jika kau berani menyentuhnya, maka hadapi aku!!" ucap putri Emilia Die dengan menghunus pedangnya.
Bersambung.
Maaf sahabat semua, di karena kesibukan author hanya bisa nulis 1 episode hari ini.
__ADS_1
Sebagai panitia kurban dan sholat id, waktu untuk menulis jadi tak ada karena banyaknya rapat yang ada. Bagi sahabat yang menanyakan kejelasan novel ini, maka author menjawab jika novel yang ku tulis ini pasti tamat.