
Dengan adanya binatang roh rubah ekor 3, membuat para kultivator kuat suruhan dari keluarga besar Nien tak mampu untuk membinasakan Nien Chu, malahan mereka semua kini menjadi bulan-bulanan tembakan bola api yang keluar dari mulut rubah ekor 3, sehingga ada beberapa kultivator penyerang yang mati dengan tubuh hancur menjadi debu.
"Saudaraku semua, kita takkan mungkin sanggup menghadapi binatang roh level 10 itu, lebih baik kita pergi meninggalkan tempat ini," ucap salah seorang kultivator penyerang di tingkat ranah suci, kemudian melarikan diri dari tempat pertarungan.
Tanpa pikir panjang, para kultivator penyerang yang tersisa, segera melesat pergi meninggalkan tempat itu, menyusul kultivator ranah suci yang telah duluan melarikan diri.
Setelah semua penyerang pergi, rubah ekor 3 merubah diri menjadi rubah kecil yang imut dan lucu, rubah itu dengan sangat manja melompat ke pelukan Nien Chu.
"Ayo kita pergi dari sini, karena aku merasa jika banyak kultivator yang tengah mencari kita ke tempat ini," ucap Nien Chu.
"Baik kak" jawab Nien Ci.
Mereka berdua akhirnya kembali ke kota, dan menyewa sebuah penginapan untuk sekedar beristirahat.
Nien Chu menatap kearah wanita muda yang tengah bersamanya, yang kini tengah tertidur lelap di atas pembaringan.
Nien Chu merasa kasihan terhadap teman kecilnya itu, karena dirinyalah membuat Nien Ci terlibat dengan masalah yang terjadi.
"Jika keluarga Nien tak menerimamu kembali, maka aku akan membawamu pergi bersamaku, biar bagaimanapun masalah yang menimpa mu merupakan imbas dari kau bersamaku," batin Nien Chu.
Nien Chu kemudian duduk bersila dan melakukan kultivasi di tempat itu.
Sementara itu tepatnya di dalam hutan, adanya bunyi ledakan dari sebuah pertarungan membuat ke 3 kelompok kembali bersatu di bekas terjadinya pertarungan.
Pangeran ke 3 dan kedua putri memeriksa keadaan tempat itu.
"Sepertinya ada yang telah menyerang Nien Chu, sehingga dia pergi meninggalkan tempat ini," ucap pangeran ke 3.
"Kak Zeng Wu bagaimana keadaan Nien Chu?" tanya putri Zeng Yi penuh kekhwatiran.
"Aku rasa Nien Chu masih selamat, dan semoga saja dia tak terluka," jawab pangeran Zeng Wu.
"Apakah kita dapat menemukannya?" tanya putri Yuan Hua.
"Aku akan mencoba mencari keberadaannya melalui jejak yang dia tinggalkan ini," ucap pangeran ke 3.
Pangeran ke 3 lantas duduk bersila dan mulai melakukan kultivasi di tempat itu.
Tak lama kemudian rohnya pun keluar meninggalkan raga kasarnya, menuju ke tempat di mana keberadaan Nien Chu berada melalui jejak yang di tinggalkannya.
__ADS_1
Setelah mengetahui tempat keberadaan Nien Chu, roh pangeran ke 3 kembali ke raga kasarnya dan perlahan diapun membuka matanya.
Setelah membuka matanya kembali, Pangeran 3 di brondong pertanyaan oleh kedua Putri sehingga membuat pangeran ke 3 risih dan berkata.
"Jika kalian terus bertanya seperti itu, bagaimana aku bisa menjawabnya?, aku telah mengetahui keberadaan Nien Chu dan jika kalian ingin bertemu dengannya maka ikutlah denganku," ucap pangeran ke 3.
Pangeran ke 3 kemudian bangkit berdiri dan melesat pergi meninggalkan tempat itu. Kedua putri dan seluruh kultivator yang bersamanya tak tinggal diam, mereka semua langsung melesat pergi mengejar pangeran ke 3.
Pangeran ke 3 berhenti di sebuah penginapan, dan tak lama kemudian diapun melangkahkan kaki kedalam penginapan yang di ikuti ke dua putri, hingga mereka berdua sampai di depan sebuah pintu.
"Tok..tok..tok..!!" terdengar ketukan pintu, yang membuat Nien Ci tersadar dari tidurnya.
"Siapa yang mengetuk pintu di malam-malam begini," batin Nien Ci yang merasa ragu untuk membuka pintu tersebut.
"Bukalah pintunya," jawab Nien Chu yang masih melakukan kultivasi.
Pintu pun dibuka, dan tampak oleh Nien Ci Pangeran ketiga dari kekaisaran cahaya naga tengah berdiri di depan pintu, sehingga Nien Ci segera menggenggam tinju memberi hormat padanya.
"Apa kah Nien Chu berada di dalam?" tanya sang pangeran.
"Ada pangeran" Jawab Nien Ci dengan perasaan yang sulit di artikan.
Nien Chu menyudahi kultivasinya, kemudian berdiri dan menyambut sang pangeran.
"Hormatku pangeran, putri," ucap Nien Chu dengan menggenggam tinju memberi hormat.
"Kak Nien Chu...!!" ucap putri Zeng Yi dengan berlari memeluk Nien Chu.
Nien Chu sangat kebingungan menghadapi putri Zeng Yi dengan berani memeluknya, apalagi memeluknya di hadapan pangeran ke tiga.
"Mengapa kau pergi dari istana akademi bulan suci tanpa mengabari ku terlebih dahulu, aku begitu sangat mengkhwatirkan mu kak Nien Chu," ucap putri Zeng Yi.
"Maafkan aku putri, ada hal penting yang harus ku selesaikan," jawab Nien Chu.
"Ehm...ehm...!!" suara mendehem pangeran ke 3 yang membuat putri Zeng Yi seketika itu melepaskan pelukannya pada Nien Chu.
Putri Yuan Hua dan Nien Ci begitu sangat terkejut melihat putri Zeng Yi, yang ternyata selama ini telah mempunyai hubungan dekat dengan Nien Chu.
Rasa cemburu seketika itu menjelma di hati mereka berdua, akan tetapi kedua wanita itu dapat meredam rasa cemburu yang membakar hati, yang membuat kedua wanita itu memilih diam.
__ADS_1
"Nien Chu saudaraku, apakah kau telah menghancurkan Dantian ketua Nien Ma dan putranya?" tanya pangeran ke 3.
"Benar!" jawab Nien Chu singkat.
"Mengapa kau lakukan itu?, saat ini proses hukum menjadikanmu buronan paling di cari oleh kekaisaran," ucap pangeran ke 3.
"Pangeran, mereka telah mencoret namaku dari anggota keluarga besar Nien, dan mereka sengaja mencari masalah dengan ku dengan mengatakan aku sebagai sampah keluarga besar Nien dan wajib untuk dilenyapkan.
Jika aku tak membela diri pada saat itu, bisa saja hari ini aku hanya tinggal nama," jawab Nien Chu.
"Apakah benar yang kau katakan itu?" tanya pangeran ke 3 menyelidik
"Pangeran apakah kau masih kurang percaya dengan perkataanku," jawab Nien Chu dingin.
"Aku percaya padamu," ucap pangeran ke 3. Pangeran ke 3 sangat percaya jika dalam hal ini Nien Chu tak bersalah, walaupun para pembesar istana menyatakan jika Nien Chu bersalah.
"Yang mulia pangeran, jika pangeran kurang percaya dengan jawaban dari kak Nien Chu, maka aku akan menjadi saksi baginya, karena saat pertarungan itu aku berada di sana," ucap Nien Ci membela Nien Chu.
"Siapa kau?" tanya pangeran ke 3.
"Namaku Nien Ci pangeran, aku merupakan putri wakil ketua keluarga besar Nien, dan saat ini aku tengah mengikuti kompetisi dan berhasil masuk ke semi final di dalam kompetisi bela diri yang tengah diadakan oleh kaisar Zeng Gong," jawab Nien Ci.
"Oh.. aku tau sekarang, kau merupakan perwakilan keluarga besar Nien yang menembus 4 besar dalam kompetisi tersebut," ucap pangeran ke 3.
"Nien Chu masalah yang kau hadapi ini sedikit rumit, karena tuduhan para petinggi keluarga Nien yang menyudutkan mu, aku ingin secepatnya kau pergi dari kota kekaisaran, semua itu demi keselamatanmu," ucap pangeran ke 3.
"Aku akan pergi dari kota kekaisaran setelah menyaksikan pertarungan Nien Ci esok hari, dan aku ingin pangeran dan kedua putri membantuku, agar aku dapat menonton pertarungan yang terjadi," jawab Nien Chu.
"Kak Nien Chu tak usah pergi dari kota kekaisaran ini, karena aku akan menemui ayahku dan meminta pengampunan bagimu," ucap putri Zeng Yi kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
"Nien Chu, jika kau menonton pertarungan Nien Ci esok hari pakailah penyamaran, aku akan membantumu dengan menyebar prajuritku di luar arena untuk menyamarkan keberadaanmu, Istirahatlah karena esok hari merupakan hari tersulit bagimu.
Aku akan menaruh beberapa prajuritku di depan penginapan, agar prajurit istana tak menuju ketempat ini," ucap pangeran ke 3.
"Terimakasih pangeran," jawab Nien Chu.
Pangeran ke 3 menganggukkan kepalanya, kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan kamar itu.
Bersambung
__ADS_1