Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Menuju menara bulan


__ADS_3

Alam cahaya rembulan terbentang luas, keramaian kota besarnya sungguh sangat menakjubkan, pertumbuhan ekonominya pun lebih maju dari alam cahaya mentari.


6 menara besar kini telah bergabung menjadi satu menara besar yang diberi nama menara bulan.


Ketua menara bulan bernama Yo Liang, yang telah memberikan kemakmuran pada seluruh alam cahaya rembulan.


Nien Chu bersama putri Xiang'er menaiki kereta kuda menuju ke menara bulan, guna bertemu Yeiyi yang merupakan leluhur dan penguasa alam cahaya rembulan yang masih hidup hingga saat ini.


Melalui pemandu yang disewanya bersama kereta kuda, Nien Chu dan putri Xiang'er pada akhirnya tiba di depan gerbang menara bulan.


Di depan gerbang banyak terlihat para penjaga yang menjaga dengan ketat jalan masuk menuju ke menara bulan.


"Berhenti ...." teriak salah seorang penjaga saat melihat kereta kuda melintas di hadapannya.


Sesaat pemimpin penjaga memeriksa kedalam kereta, dan mendapati seorang pemuda dan pemudi di atas kereta kuda itu. Dengan tegas sang penjaga langsung menyuruh keduanya untuk turun dari atas kereta kuda.


"Apa tujuan kalian berdua datang ke Menara bulan karena kulihat kalian berdua bukanlah penduduk dari alam cahaya rembulan," ucap pemimpin penjaga menyelidik ke arah keduanya.


"Benar, kami bukan lah penduduk dari alam cahaya rembulan melainkan utusan dari istana matahari dari alam cahaya mentari, kami datang untuk menemui pemimpin menara bulan," jawab Nien Chu.


"Aku tak bisa membiarkan kalian berdua masuk sebelum pihak dari menara bulan mengizinkannya, kalian bisa menunggu di ruangan itu," ucap pemimpin penjaga sambil menunjuk ke salah satu bangunan yang berada di dekat gerbang menara.


"Baiklah, kami akan menunggu di sana," jawab Nien Chu.


Nien Chu dan putri Xiang'er berjalan menuju ke arah bangunan yang ditunjuk oleh pemimpin penjaga, sementara kereta yang membawanya saat ini setelah kembali pulang.


Setelah menunggu lama di dalam ruangan itu, belum juga ada kabar berita dari pihak menara untuk mempersilahkan mereka masuk ke dalam menara.


"Menara ini berdiri megah seperti sebuah istana, tapi pelayanan bagi tamu menara sangat buruk sekali, dan terkesan mengesampingkan para tamu yang datang ke Menara bulan".


"Kau lihat sayang.., sedari tadi kita menunggu di sini tapi tak ada segelas air putih yang disajikan untuk kita, padahal aku sudah menyampaikan bahwa kita berdua merupakan utusan dari istana matahari," ucap Nien Chu.

__ADS_1


"Sabarlah kak, lain wilayah lain juga aturannya, lain alam tentu lain juga lain sifat para pemimpinnya. Kita lebih baik bersabar menunggu dan aku tak ingin kak Nien Chu bersifat arogan di sini," jawab putri Xiang'er dengan memeluk lengan Nien Chu untuk menenangkannya.


Nien Chu benar-benar dibuat tak berkutik dengan keberadaan sang istri di sisinya, dia mampu meredam amarah nya agar tak menerobos kedalam menara bulan untuk bertemu langsung dengan Ketua menara.


Menjelang sore hari, utusan dari menara pada akhirnya menyuruh mereka berdua masuk ke dalam menara.


Nien Chu mengakui di dalam menara itu begitu sangat megah, dengan segala pernak-pernik dan hiasan yang ada di dalam setiap ruangan maupun di jalan menuju ke tempat di mana Ketua menara berada.


Nien Chu dan putri Xiang'er tiba di sebuah ruangan besar, di dalam ruangan besar itu dipenuhi dengan para petinggi menara, dan terlihat seorang anak muda tengah duduk di singgasana kepemimpinan.


Yo kang merupakan putra pertama dari ketua Yo liang, karena sang ayah tengah melakukan meditasi di suatu tempat, maka puncak kepemimpinan saat ini berada di tangan tuan muda Yo kang.


Setelah Nien Chu dan Putri Xiang'er ikut bergabung dengan duduk bersama para petinggi menara bulan, tuan muda Yo kang kemudian menanyakan apa yang menjadi tujuan mereka berdua datang ke Menara bulan.


"Katakan apa keinginan istana matahari menyuruh kalian datang ke tempat ini?" tanya tuan muda Yo kang yang tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Putri Xiang'er.


"Kami berdua datang ke Menara bulan untuk menemui leluhur Yeiyi, karena ada hal penting yang akan kami bicarakan dengannya," jawab Nien Chu.


Semua petinggi menara bulan saling berpandangan satu dengan yang lainnya, mereka begitu sangat heran karena utusan dari istana matahari ingin mencari leluhur mereka.


"Jika begitu Aku ingin menemui ketua menara, Aku ingin menanyakan langsung kepada nya mengenai keberadaan leluhur Yeiyi," ucap Nien Chu yang merasa jika anak muda yang duduk di kursi ke pemimpinan bukanlah ketua sesungguhnya.


"Ayahku telah beberapa tahun belakangan ini tak menampakkan diri di menara bulan, karena tengah melakukan meditasi di suatu tempat yang hanya dia yang mengetahui tempat tersebut".


"Untuk sementara aku lah yang menjadi ketua menara pengganti, dan untuk masalah pertanyaan kalian kepadaku maka aku akan menjawabnya, kami tak mengetahui keberadaan leluhur Yeiyi," jawab Tuan muda Yo kang.


"Jika begitu kami berdua mohon diri karena tak mendapatkan solusi dalam hal ini, kami akan tinggal di kota bulan dan sekiranya tuan muda dapat memberikan kami izin untuk tinggal di sana, sambil menunggu ketua menara datang kembali ke menara bulan," ucap Nien Chu.


"Jika itu keinginan kalian berdua maka aku akan mengizinkan kalian tinggal di kota bulan, sambil menunggu kedatangan ayah ku kembali," jawab tuan muda Yo kang.


Nien Chu pada akhirnya keluar dari dalam menara bulan, dan mencari tempat tinggal di sekitar kota.

__ADS_1


Nien Chu mendapatkan sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas, dia pun menyewa rumah itu selama satu bulan ke depan dengan harga yang lumayan besar.


Di menara bulan, terjadi pertemuan empat mata antara penasehat menara dan Tuan muda Yo kang.


"Paman Aku menginginkan wanita yang bersama pemuda tadi, kecantikannya sungguh alami dan membuatku terpesona, aku baru pertama kali melihat wanita secantik dia di alam cahaya rembulan ini," ucap Tuan muda Yo kang.


"Penglihatan mu memang sangat luar biasa Yo kang, wanita itu memang sangatlah cantik dan tak sebanding dengan semua istri yang telah kau miliki. Paman akan mencari cara untuk membawa wanita itu ke hadapan mu, dan bila perlu pemuda yang bersamanya akan Paman lenyapkan," jawab penasehat menara.


"Terimakasih paman, kau memang sangat bisa diandalkan, dan aku menunggu hasil nya," ucap tuan muda Yo kang dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


*****


Telah dua hari lamanya Nien Chu dan putri Xiang'er tinggal di alam cahaya rembulan, akan tetapi selama pencarian mereka dengan menanyakan kepada penduduk kota mengenai keberadaan leluhur Yeiyi, tak jga membuahkan hasil.


Hampir semua penduduk tak mengenal bahkan mengetahui mengenai leluhur alam cahaya rembulan, mereka hanya mengetahui beberapa leluhur turun-temurun ketua menara yang telah tiada.


"Sepertinya akan sulit bagi kita untuk mendapatkan keterangan mengenai leluhur Yeiyi di kota ini, dan jika dalam satu minggu kita tak menemukannya, lebih baik kita pulang ke istana matahari," ucap Nien Chu.


"Aku rasa kita takkan mengetahui keberadaan leluhur Yeiyi kecuali kita menanyakan langsung kepada ketua menara bulan, karena aku yakin jika ketua menara mengetahui keberadaan leluhur Yeiyi," jawab putri Xiang'er.


"Kita tak usah mencarinya lagi, lebih baik kita menikmati kota indah ini, anggap saja sebagai bulan madu pernikahan kita," ucap Nien Chu kemudian membelai lembut rambut panjang putri Xiang'er.


Namun kemesraan mereka berdua tak berlangsung lama, karena Nien Chu mendengar adanya pergerakan beberapa praktisi bela diri di luar rumahnya.


"Ada apa kak..., sepertinya kau terlihat gelisah?" tanya putri Xiang'er.


"Aku mendengar adanya pergerakan praktisi beladiri di luar rumah, Aku yakin dia akan melakukan hal buruk pada kita," jawab Nien Chu.


"Sayang ..., kau tinggallah di sini aku akan melihat keadaan di luar sana," ucap Nien Chu.


"Berhati hatilah...," jawab putri Xiang'er.

__ADS_1


Nien Chu kemudian menjajakan kaki kanannya ke lantai ruangan, hingga terciptalah sebuah segel kuat yang langsung menyelimuti bangunan rumah tempat keberadaan mereka berdua.


Bersambung


__ADS_2