
Putri Meyling sangat terluka dengan perkataan Thien Yu yang menyalah artikan niat baiknya, diapun terus melangkah pergi dari tempat itu tanpa memikirkan pertarungannya.
Air matanya terus menetes di pipi tanpa dapat di bendung oleh nya, diam diam Thien Yu mengikuti langkah putri Meyling dari belakang, Thien Yu ingin memperbaiki hubungannya yang belakangan ini renggang dengan putri Meyling.
Thien Yu menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita cantik datang ke dekat putri Meyling, dan saat sang putri melihat wanita itu diapun segera memeluknya.
"Siapakah wanita yang tengah bersamanya itu?" tanya Thien Yu dalam hati.
Timbul tanda tanya di hati Thien Yu melihat kedua wanita yang ada di hadapannya saling berpelukan, dan diapun segera mendekati mereka berdua dengan mengendap endap diantara semak belukar, semua itu di lakukannya hanya untuk mendengar percakapan antara mereka berdua dari dekat.
"Ibu..!!" Isak putri Meyling dengan memeluk erat tetua Cinsyin.
"Ibu?, mengapa Meyling memanggil wanita sebayanya dengan panggilan ibu? lantas siapakah ratu ular danau hijau jika Meyling memanggil wanita itu ibu?" batin Thien Yu yang kembali memasang pendengarannya dengan tajam.
"Aku tau apa yang kau rasakan putriku, walau sekuat apapun kau mengejar cintamu dan jika kalian tak berjodoh, sama halnya kau menjaga jodoh orang, ingat putriku kau dan pemuda itu berbeda kasta antara langit dan bumi, dia bangsa manusia sementara kau bangsa peri ular hijau, kau bisa berumur panjang hingga ribuan tahun sementara dia berumur pendek hanya puluhan tahun. Jika hubungan mu terus berlanjut kau dan dia hanya bisa bersama dalam waktu yang singkat setelah itu kau akan berada pada masa kesendirian karena di tinggal mati olehnya. Putriku kau harus memikirkan kembali hubunganmu dengan pemuda ras manusia yang kau cintai itu, dan kau tak perlu sesali apa yang telah terjadi karena semua keputusan ada di tanganmu, aku sebagi ibu sangat senang jika melihat mu bahagia," ucap tetua Cinsyin.
"Ibu apa yang harus kulakukan sekarang ini?" tanya putri Meyling.
"Jika kau meminta saran dari ibu maka aku ingin kau melupakan dia, bagai mana kau bisa bahagia bersamanya jika sekarang saja dia telah melukai hatimu berkali kali, apa lagi jika kalian telah sah menjadi suami istri di masa depan, besar peluang Thien Yu untuk menyakitimu lebih dalam lagi dan ibu tak mau itu terjadi, tinggallah bersama ibu disini dan lambat laun kau pasti akan melupakannya," jawab tetua Cinsyin.
Putri Meyling yang tengah terpuruk, merasa jika hubungannya dengan Thien Yu sudah berada di ujung kehancuran, sang putri hanya dapat mengiyakan perkataan ibunya untuk meninggalkan Thien Yu.
__ADS_1
"Baik ibu, aku akan mengikuti perkataanmu," ucap putri Meyling sambil memeluk erat tubuh ibunya.
Thien Yu yang mendengar semua pembicaraan ibu dan anak itu tak dapat berbuat apa apa. Di dalam pikirannya saat ini hanya ada sebuah dosa terhadap gurunya. "Aku telah melanggar janjiku pada guruku Naga Giok, yang tak akan mempunyai kekasih sebelum aku menjadi kuat, sehingga membuat satu persatu wanita yang ku sayangi meninggalkanku," batinnya.
Thin Yu memutar badan untuk melangkah pergi, tapi sebuah ranting kering yang terinjak oleh kakinya menimbulkan suara gemeretak, hal itu membuat putri Meyling dan tetua Cinsyin mengarahkan pandangannya kearah semak belukar tempat Thien Yu berada.
"Keluarlah dari persembunyianmu itu, atau aku akan membinasakan mu," hardik tetua Cinsyin.
Tak ada pilihan bagi Thien Yu, keberadaannya telah di ketahui oleh mereka berdua, dan diapun menapakkan dirinya dengan keluar dari semak belukar.
"Thien Yu!!," pekik putri Meyling sangat terkejut melihat kemunculan sosok pemuda yang begitu sangat dikenalnya.
Tetua Cinsyin yang mengetahui jika pemuda itu merupakan pemuda yang telah melukai hati putrinya, dengan segera menghampiri Thien Yu.
"Tetua tenanglah, aku tak akan mengatakan kepada siapapun jika putri Meyling adalah putrimu, dan aku tak akan ikut campur dengan semua itu," jawab Thien Yu.
Thien Yu kemudian menatap kearah putri Meyling dan berkata. "Ling er, aku telah mendengar semua pembicaraan kalian, aku hanya ingin bertanya satu hal dan kau harus menjawab pertanyaanku dengan sejujur jujurnya, agar tak ada penyesalan diantara kita di kemudian hari," ucap Thien Yu.
Terlihat putri Meyling hanya terdiam, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
"Ling'er, aku akan menjaga dan akan menyayangi mu dengan setulus hatiku, apakah kau mau menikah dengan ku?" tanya thin Yu.
__ADS_1
Perkataan Thien Yu membuat air mata putri Meyling mengalir deras, isaknya pun mulai kedengaran dari mulutnya, permintaan Thien Yu sudah terlambat karena sang putri telah berjanji kepada tetua Cinsyin untuk meninggalkan Thien Yu.
Tiba tiba saja tetua Cinsyin mengeluarkan bentakan yang di aliri Qi murni.
"Tidak..!!, aku tak akan membiarkan putriku menderita bersamamu, jika kau menyayangi putriku maka pergilah dari kehidupannya," ucap tetua Cinsyin sambil meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat.
"Tetua, ijinkan aku mendengar langsung jawaban dari putri anda, setelah itu aku bisa memutuskan untuk mempertahankan cintaku atau pergi jauh dari cintaku untuk selamanya," ucap Thien Yu.
"Putriku telah memutuskan jika hubungan kalian telah berakhir, dan kau jangan coba coba mendekati putriku lagi," ucap sang tetua kembali.
Thien Yu terus memandangi mata putri Meyling, akan tetapi sang putri hanya menundukkan kepalanya, dan tak lama kemudian diapun berkata. "Thien Yu aku minta kau pergi dari tempat ini, kita tak dapat bersama lagi karena banyak perbedaan diantara kita yang mengharuskan ini terjadi," ucapnya.
"Maksudmu ras antara manusia dan peri??, Ha..ha..ha..Aku salah menilai mu selama ini ling'er, cintaku kepadamu telah membutakan ku hingga aku menaruh harapan besar padamu.
Setelah aku dapat meyakinkan diriku jika akupun mencintaimu malah sekarang kau pergi dan tak ingin memperjuangkan cinta ini..!!
Ling'er kau telah menyakiti hatiku yang saat ini begitu mengharap dan tulus cinta kepadamu, dan Jika itu sudah menjadi keputusanmu maka di masa depan anggap saja kita tak saling kenal, dan aku juga pasti bisa untuk melupakanmu walaupun membutuhkan waktu yang lama," ucap Thien Yu sambil mengeluarkan batu energi pemberian putri Meyling, dan menghancurkan batu itu di hadapannya yang menandakan jika hubungan mereka berdua telah berakhir, setelah itu thien Yu melangkah pergi dari tempat.
Kepergian Thien Yu membuat tetua Cinsyin dapat bernapas dengan lega, karena di dalam pikiran nya saat ini dia ingin menjodohkan putrinya dengan Jiohio yang mempunyai masa depan lebih baik dari Thien Yu, apa lagi jiohio merupakan calon pewaris tunggal puncak ke pimpinan menara abadi, dan tentunya tetua Cinsyin tak akan khwatir lagi dengan masa depan putrinya di kemudian hari jika putrinya bersanding dengan Jiohio.
Bersambung
__ADS_1
Kali ini saya minta di maklumi keadaan saya kak, tangan kanan masih sakit karena di pasang pen, dan harus minum obat dengan efek ngantuk, biasanya saya ngetik dengan tangan kanan dan sekarang harus ngetik dengan tangan kiri, saya telah berusaha agar tetap terbit walaupun hanya 1 episode, jadi saya minta sahabat semua bersabar๐๐๐.