
Nien Chu membuka matanya perlahan dan kembali menatap ke arah sisi tempat tidurnya, akan tetapi dia tak dapat melihat keberadaan Tang Yin di tempat itu.
"Baguslah dia telah pergi, ada baiknya aku membersihkan diri terlebih dahulu agar kesegaran bisa kudapatkan kembali," batin Nien Chu.
Setelah membersihkan diri, Nien Chu kembali ke kamarnya dan mendapati Tang Yin telah berada di sana, dengan membawa sebuah keranjang yang berisikan makanan.
"Aku melihat kau sudah tak ada di dalam kamar makanya aku membawakanmu sup gingseng, agar membuatmu bertenaga kembali," ucap Tang Yin sambil mengeluarkan isi di dalam keranjang.
Demi menghormati apa yang telah dilakukan Tang Yin padanya, Nien Chu pada akhirnya memakan semua apa yang ada di atas meja, karena memang perutnya kini sudah sangat lapar.
"Selamat ya atas kemenangan mu dalam pertarungan menghadapi Fang Lang, dan sekarang ini namamu telah terkenal sebagai pemuda jenius yang mampu mengalahkan Fang Lang, yang merupakan satu-satunya pemuda yang berhasil dua kali berturut-turut memenangkan kompetisi 4 keluarga besar dalam kurun waktu 2 tahun belakangan ini.
Dan jika kali ini kau mengikuti pertarungan yang akan diadakan 4 keluarga besar, maka sudah dipastikan kau akan menjadi juaranya karena selama ini Fang Lang selalu mendominasi setiap pertarungan yang dilakukannya," ucap Tang Yin.
"Kau membesar membesarkan kejadian yang ada nona muda, kemenanganku saat itu mungkin karena keberuntungan yang aku miliki, sehingga Fang Lang dapat aku kalahkan," jawab Nien Chu.
"Kau selalu merendah diri Nien Chu hingga membuatku semakin kagum padamu, jika kau berkenan aku ingin mengajakmu jalan-jalan di kota sambil mencari pakaian baru untuk mu, tenang saja aku yang akan membayarnya," ucap Tang Yin.
"Aku belum bisa untuk bepergian jauh Nona muda, karena kondisi tubuhku masih lemah," tolak Nien Chu.
"Jika begitu aku akan menemanimu di sini kebetulan aku tak punya acara hari ini, bagaimana menurutmu?" tanya Tang Yin kembali.
"Jika nona muda mengizinkan, hari ini aku akan memulihkan diri dengan berkultivasi, dan sementara waktu aku tak bisa diganggu," jawab Nien Chu.
Terlihat Tang Yin menarik nafas dalam dalam mendengar penolakan yang dilakukan Nien Chu padanya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan pergi dari sini tapi ingat besok hari aku ingin mengajakmu ke kota, dan aku tak ingin adanya penolakan," ucap Tang Yin.
"Baik nona muda, besok aku pasti akan menemani ke kota," jawab Nien Chu untuk menyenangkan hati Tang Yin.
Tang Yin berdiri dengan menatap Nien Chu dengan tatapan yang sulit dijelaskan, dan tak lama kemudian dia pun berkata. "Mulai besok aku tak ingin kau memanggilku dengan panggilan Nona muda, cukup kau memanggilku dengan nama Yin'er sebagaimana Tao sio memanggilku dengan sebutan itu," ucap Tang Yin kemudian pergi meninggalkan ruangan kamar Nien Chu.
Nien Chu mengetahui jika saat ini Tang Yin ingin dekat dengannya, semua itu dapat diketahui dari perilaku dan tatapan matanya ke arah Nien Chu.
"Aku tak mungkin mempermainkan Tang Yin walaupun selama ini dia telah berbuat buruk terhadapku, ada baiknya aku pergi menemui ayah di ibukota kekaisaran, untuk meminta izin darinya agar aku bisa mendapatkan restu berkelana untuk meningkatkan kekuatanku, biar bagaimana pun juga aku harus dapat menembus ranah tingkat dewa karena perkataan wanita yang menemuiku di bawah alam sadarku telah membuatku sangat penasaran dibuatnya.
"Saat ini tujuan hidupku hanyalah satu yaitu meningkatkan kekuatan di ranah tingkat dewa, karena dengan begitu aku dapat menemui wanita yang telah mengaku sebagai ibuku," batin Nien Chu.
Malam itu juga Nien Chu berkemah dan pergi ke ibukota kekaisaran cahaya naga, untuk bertemu dengan ayahnya yang sekarang ini ditugaskan saudagar Tang dalam mengawasi beberapa toko yang berada di wilayah kekaisaran cahaya naga.
Setelah di rasa cukup, Nien Chu dengan sembunyi-sembunyi menyelinap keluar dari wilayah area kediaman saudagar Tang.
Malam hari Nien Chu memutuskan beristirahat di atas pohon besar, semua itu untuk mencegah dirinya bertemu dengan binatang buas maupun binatang roh yang banyak berkeliaran di malam hari.
Saat ingin meminjamkan matanya, tiba tiba saja Nien Chu mendengar sebuah alunan seruling yang sangat merdu. Apa yang didengarkannya itu membuat hatinya sangat penasaran dan ingin mengetahui sumber dari suara suling tersebut.
"Mengapa ada suara seruling di dalam hutan yang lebat ini, pastinya orang yang melakukan hal itu merupakan seorang kultivator kuat, karena dia tak takut akan binatang buas maupun binatang roh yang terganggu dengan suara serulingnya tersebut. Lebih baik aku aku mencari tau dari mana sumber suara seruling tersebut," batin Nien Chu.
Dari kejauhan Nien Chu melihat jika di atas sebuah dahan pohon yang cukup besar, seorang pemuda tengah meniup seruling dengan merdu, dan di sekitar nya terdapat beberapa binatang roh yang begitu antusias mendengarkan suara seruling yang di tiupnya.
"Siapakah pemuda itu, dan mengapa dia mampu menaklukan para binatang roh untuk mendengarkan alunan serulingnya," batin Nien Chu.
__ADS_1
Tiba tiba saja pemuda itu menghentikan tiupan serulingnya, yang membuat seluruh binatang roh yang ada di tempat itu pergi menjauh.
"Mengapa kau hanya berdiri di situ, jika Kau bukannya lawan maka datanglah kepadaku," ucap suara pemuda itu yang ditujukan ke pada Nien Chu.
Nien Chu sedikit terkejut saat mengetahui jika pemuda berpakaian serba putih itu mengetahui keberadaannya. Karena telah diketahui keberadaannya Nien Chu pada akhirnya pergi menuju ke arah sang pemuda berpakaian serba putih.
"Maafkan aku karena telah mengganggu kesenangan anda dalam meniup seruling, tapi bukan maksudku untuk mengusik keberadaan anda di sini, aku hanya penasaran dengan suara seruling di malam hari apalagi suara itu terdengar dari dalam hutan yang lebat ini, hingga aku memutuskan untuk mencari tahu sumber suara seruling yang anda tiup itu," ucap Nien Chu dengan tenang.
"Aku berada di dalam hutan yang lebat ini memang untuk mencari ketenangan hati, dan kebetulan kau berada di sini berarti aku mempunyai seorang teman untuk ku ajak berbincang bincang," ucap pemuda itu sambil turun dari atas dahan pohon yang cukup tinggi dari permukaan tanah.
Tak terdengar suara sedikitpun saat pemuda itu menjejakkan kaki di tanah, dan Nien Chu tau jika pemuda yang ada di hadapannya saat ini memiliki teknik meringankan tubuh yang sangat tinggi.
"Apa yang kau cari di dalam hutan malam-malam begini?" tanya pemuda itu tiba-tiba.
"Aku ingin pergi ke kota kekaisaran guna menemui ayahku di sana, karena ada hal penting yang ingin sampaikan padanya," jawab Nien Chu sambil menyadarkan diri di pohon besar yang berada di tempat itu.
Setelah berkata seperti itu, maka terjadilah perbincangan di antara mereka berdua, dan kehadiran Nien Chu di tempat itu membuat Zeng Wu merasa senang.
"Nien Chu aku juga akan pergi ke kota kekaisaran dan kita akan pergi berdua kesana, aku akan mengajakmu ke rumahku dan kau akan menjadi tamu kehormatanku disana," ucap Zeng Wu.
Terimakasih saudara Zeng Wu, aku pasti akan datang memenuhi undangan mu itu," jawab Nien Chu.
Setelah cukup lama berbincang bincang, membuat mereka berdua memutuskan untuk beristirahat karena malam telah larut.
Pagi hari setelah sarapan pagi dari hasil hewan buruan yang mereka tangkap, Nien Chu dan Zeng Wu melesat pergi hingga sampai di depan gerbang kota ke kaisaran di siang hari.
__ADS_1
Bersambung