
"Kau sangat hebat anak muda karena bisa menahan seranganku, tapi itu baru permulaannya saja, karena aku belum mengeluarkan semua kemampuan yang kumiliki."
"Aku tak menyangka, setelah lama aku tak mengikuti perkembangan di dunia persilatan, sekarang ini para kultivator muda telah mempunyai kemampuan kuat seperti mu, yang telah menembus ranah dewa tak terbatas di usia muda."
"Ha...ha...ha..., aku semakin bersemangat untuk bertarung dengan mu anak muda..!!" ucap wanita paruh baya itu.
"Terimakasih atas pujianmu tetua, aku akan sangat senang sekali dapat mengasah kemampuanku dengan bertarung melawan salah seorang kultivator kuat di kekaisaran cahaya naga," jawab Nien Chu.
Mendengar perkataan Nien Chu wanita paruh baya yang berjuluk walet hitam dengan nama Cin Ling, dengan segera menyerang kearah Nien Chu, hingga pertarungan pun kembali terjadi.
An Yue yang ingin masuk kedalam arena pertarungan, seketika itu menghentikan keinginannya itu, saat mendengar suara seorang wanita menggema di belakangnya.
"Jika kau ikut di dalam pertarungan itu, kau hanya akan membuat beban bagi tuan mudaku, wanita yang bertarung dengannya merupakan seorang kultivator kuat yang memiliki kemampuan mumpuni."
"Jadi ku harap kau tak bertindak bodoh dengan ikut bertarung membantu tuan mudaku," ucap Tency.
An Yue seakan tak percaya mengetahui jika rubah ekor 3 yang bersamanya, dapat berbicara layaknya seorang manusia, sehingga An Yue perlahan lahan mundur kebelakang karena merasa takut akan hal itu.
"Kau tak usah takut padaku, karena aku tak akan mungkin melakukan hal buruk pada mu. Kau merupakan sahabat tuan mudaku berarti kau pun adalah sahabatku," ucap Tency kembali.
"Maafkan aku Tency, aku sebelumnya tak pernah mengetahui jika binatang roh dapat berbicara sepertimu, sehingga membuatku merasa aneh dan takut."
"Baiklah, aku akan mengikuti perkataanmu dengan tak ikut dalam pertarungan itu," jawab An Yue.
"Itu lebih baik dari pada kau nantinya akan terluka, lebih baik kita mengawasi pertarungan itu dari sini," ucap Tency kemudian merubah di rinya menjadi seorang wanita muda.
__ADS_1
Makin kesini An Yue semakin merasa jika Tency merupakan binatang roh yang baginya sangat luar biasa, selain dapat berbicara layaknya manusia kini dia dapat merubah dirinya menjadi seorang manusia.
Setelah Tency mengulurkan tangan untuk bersahabat dengannya, membuat An Yue menyambut uluran tangan Tency dengan hangat, dan setelah berbincang bincang sesaat mereka berdua akhirnya fokus dalam memantau pertarungan yang terjadi.
Di dalam pertarungan itu, Nien Chu merasakan jika wanita paruh baya yang menjadi lawan tarungnya, memiliki kemampuan layaknya asap yang susah untuk diserang secara langsung, sehingga membuat Nien Chu sangat kesulitan untuk melakukan serangan jarak dekat maupun jarak jauh kepadanya.
"Wanita baru baya ini pasti mempunyai kelemahan, tak mungkinlah dia mempunyai kemampuan layaknya asap yang dapat menyerangku dengan mudah, tanpa aku bisa memberikan serangan yang mampu untuk melukainya tanpa ada kelemahan, aku harus segera mencari kelemahan itu untuk dapat mengalahkannya," batin Nien Chu.
Tiba tiba Nien Chu dikejutkan dengan sebuah teriakan menggelegar dari mulut lawan tarungnya.
"Bayangan pedang 1000 halilintar" teriak sang wanita.
Maka terlihat petir menyambar nyambar di langit, seiring terbentuknya bayangan pedang hitam yang membuat suasana menjadi sangat mencekam di tempat itu.
"Anak mudah Aku ingin melihat seberapa petangguh dirimu untuk menghadapi serangan ku kali ini," ucap Cin Ling.
"Aku bukanlah orang lemah seperti yang ada di dalam pikiranmu, walaupun Kau memiliki teknik yang sangat kuat, aku pasti akan dapat menghancurkannya dengan mudah, karena serangan mu ini terlihat seperti mainan anak anak bagiku," jawab Nien Chu mencoba memprovokasi lawan tarungnya.
"Tehnik tanah dan bebatuan hukum illahi," ucap Nien Chu.
Tiba tiba saja tanah dan bebatuan yang berada di sekitar Nien Chu berterbangan ke udara dan membentuk sebuah perisai pertahanan bagi Nien Chu, yang menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga yang terlihat hanya susunan batu dan tanah berbentuk bola raksasa, sehingga tubuh Nien Chu kini tak terlihat lagi.
Melihat perisai yang di buat Nien Chu membuat wanita paruh baya itu hanya tersenyum, karena baginya perisai yang dibuat anak muda itu tak akan mampu untuk menahan serangannya, sehingga dia pun langsung menapakkan tangannya ke tanah maka ribuan pedang bayangan hitam langsung menuju ke arah perisai yang dibentuk oleh Nien Chu.
"Kau terjebak dalam perangkapku, ternyata ini kelemahan mu..." batin Nien Chu.
__ADS_1
Disaat wanita paruh baya itu fokus dalam menggempur bola raksasa yang terbuat dari tanah dan bebatuan, tiba-tiba saja tubuhnya terhampas dan menghantam tanah dengan kuat, akibat sebuah serangan yang tak diduga-duga oleh Cin Ling.
Cin Ling terluka parah akibat serangan jarak dekat yang dilakukan oleh Nien Chu dari belakang, hingga diapun tak mampu lagi melanjutkan pertarungan itu karena luka dalam yang dideritanya.
"Mengapa...!!, mengapa bisa seperti ini...!!" teriak Cin Ling yang tak menduga jika Nien Chu mampu membuatnya terluka parah.
"Kau hanya fokus dengan serangan mu itulah kelemahan dari dirimu, tanpa membuat pertahanan kuat sehingga aku dapat melumpuhkan mu."
"Tetua..., kau sangat tangguh jika kau menggunakan teknik bayangan sehingga aku tak mampu untuk melakukan serangan sedikitpun padamu."
"Tehnik perisai yang ku gunakan tadi hanyalah pengalihan agar tetua merasa jika aku masih berada di dalam perisai tanah dan bebatuan itu, sehingga aku dengan mudah dapat pergi dari dalam perisai itu dengan menggunakan salah satu teknik bayangan yang memiliki."
"Karena tetua sangat fokus untuk menghancurkan perisai yang melindungi keberadaanku, maka kehadiranku di belakang tetua sama sekali tak tua sadari, dan aku dapat dengan mudah untuk menyerang tetua," jawab Nien Chu.
"Ha...ha...ha..., bertahun-tahun aku menjadi kultivator kuat yang sulit dicari tandingannya di kekaisaran cahaya naga, hingga aku harus mengasingkan diri dari dunia persilatan karena tak ada lagi lawan kuat yang mampu untuk mengalahkanku, dan kini aku harus menerima kekalahan oleh seorang anak muda sepertimu, dengan cara licik seperti ini."
"Aku ingin kau sekarang membunuhku, jika tidak, di suatu hari nanti saat aku telah sembuh dari luka yang kau berikan ini, aku pasti akan datang untuk mencarimu dan saat itu aku tak akan berbelas kasih terhadap mu," ucap Cin Ling.
An Yue dan Tency datang ketempat itu, An Yue yang begitu sangat kesal melihat keangkuhan wanita paruh baya yang tergeletak di tanah akhirnya angkat bicara.
"Nien Chu kau jangan berbelas kasih kepadanya dengan membiarkannya hidup, di masa depan wanita ini akan menjadi momok bagimu, untuk itu kau harus melenyapkannya atau aku sendiri yang akan membunuhnya untukmu," ucap An Yue kemudian mengeluarkan pedangnya.
"Tahan An Yue...!!, tetua ini hanya menjalankan tugasnya untuk menghalau orang-orang yang akan datang membunuh pangeran, bukan berarti dia mempunyai masalah denganku, lebih baik kita tinggalkan saja dia di sini untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung Wongku," jawab Nien Chu.
"Tuan muda..., dia telah memberikan ancaman bagi mu dan di masa depan dia pasti akan mewujudkan nya, lebih baik aku hancurkan Dantian di tubuhnya agar dia bisa menyadari kebodohannya karena telah berani menyinggungmu,"! timpal Tency kemudian menyerang kearah wanita paruh baya yang tergeletak di tanah.
__ADS_1
Cin Ling hanya pasrah saat melihat serangan telapak tangan Tency yang mengandung energi kuat menuju kearahnya, akan tetapi sebuah gelombang kejut dapat menghempaskan serangan telapak tangan itu, hingga serangan dari Tency menghantam sisi Cin Ling yang membuat bekas telapak tangan yang dalam di tanah.
Bersambung.