Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Gunung Wongku


__ADS_3

Siang hari pangeran Zeng Wu telah tiba di puncak gunung Wongku, karena lelah diapun sejenak beristirahat di sebuah pohon rindang, agar dia dapat terhindar dari sengatan sinar matahari yang menyengat siang itu.


"Aku harus segera mencari guru wong Chen agar aku dapat berguru padanya, guna meningkatkan kekuatan seperti apa yang di inginkan ayah," batin pangeran Zeng Wu.


Pangeran Zeng Wu tak ingin menyia nyiakan waktu yang ada, diapun segera bangkit berdiri untuk mencari tetua wong Chen.


Di saat perjalanannya itu tiba tiba pangeran Zeng Wu di hadang oleh seorang wanita cantik yang menghunuskan pedang ke arahnya


"Mau apa kau datang ke puncak gunung Wongku?" tanya wanita itu tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


Pangeran Zeng Wu diam, dia masih terpanah oleh wajah cantik wanita yang ada di hadapan nya, akan tetapi bentakan wanita muda itu yang di sertai tenaga dalam, membuat pangeran Zeng Wu tersentak dan buru buru menjawab pertanyaan wanita muda yang ada di hadapannya.


"Namaku Zeng Wu, aku sengaja kepuncak gunung Wongku untuk menemui tetua Wang Chen, karena ada hal penting yang ingin ku minta padanya," jawab pangeran Zeng Wu.


"Pulang lah, guruku saat ini tak ada ditempat, jika kau ingin menemuinya maka datanglah 2 Minggu lagi, karena guruku saat ini tengah melakukan meditasi di suatu tempat," ucap wanita muda itu.


"Nona, izinkan aku untuk untuk menunggunya disini karena jika aku kembali pulang, perjalanan yang akan kutempuh sangatlah jauh dan memerlukan waktu yang cukup lama hingga aku bisa kembali datang ke tempat ini," jawab pangeran Zeng wu.


"Jika kau tak ingin pergi dari sini, maka jangan salahkan aku jika aku akan melukaimu," ucap wanita muda yang ada di hadapan pangeran Zeng Wu, yang saat ini telah bersiap untuk menyerang nya.


"Tunggu nona, aku tak ingin adanya sebuah pertarungan karena niatku datang ke sini bukan bermaksud untuk mencari masalah, namun jika kau berkeras ingin bertarung denganku maka aku minta agar kau menyebutkan namamu, agar jika aku mati maka matiku tak kan sia-sia karena aku akan mati di tangan wanita tercantik yang tak pernah kulihat seumur hidupku," ucap pangeran Zeng Wu.


"Baik jika itu yang kau inginkan, namaku Yihan," ucap wanita muda itu dan tak lama kemudian dia pun menyerang pangeran Zeng Wu dengan ganas.


Pangeran Zeng Wu tak membalas serangan wanita muda itu, dia lebih banyak menghindar karena pangeran Zeng Wu mengetahui jika ranah tingkat kekuatan wanita muda itu masih berada di bawahnya.

__ADS_1


Melihat lawan tarungnya seperti meremehkannya, membuat Yihan menambah kecepatan serangnya yang membuat pangeran Zeng Wu mau tidak mau mengeluarkan pedang yang berada di dalam cincin ruangnya, semua itu untuk menangkis setiap serangan pedang sang wanita yang mengarah padanya.


"Hujan 1000 pedang," teriak Yihan.


Pangeran Zeng Wu menyadari jika wanita muda yang menjadi lawan tarungnya tak main main dalam menghadapinya, karena dia telah mengeluarkan salah satu teknik terbaik yang dimilikinya.


"Aku harus menghentikan serangannya, karena jika serangan yang dia lancarkannya itu beradu dengan kekuatan petir yang ku miliki, sudah pasti salah satu diantara kami berdua pasti akan terluka.


Aku harus mengorbankan diriku untuk menghentikan pertarungan ini, karena jika wanita itu yang terluka maka sangat kecil kemungkinan bagi ku untuk berguru kepada tetua Wong Chen, dan sangat kecil pula harapanku untuk kembali ke istana cahaya naga.


Bagaimana aku dapat membesarkan serikat dagang jika aku tak bisa kembali ke istana cahaya naga, karena Ayah telah berpesan padaku jika aku telah menjadi kuat maka aku bisa kembali ke istana cahaya naga," batin pangeran Zeng Wu.


"Tunggu nona..!, aku sengaja datang ke gunung Wongku untuk memenuhi perintah ayahku yang merupakan seorang Kaisar di wilayah kekaisaran cahaya naga, untuk menemui tetua wong Chen agar aku dapat berguru padanya," ucap pangeran Zeng Wu sambil melepaskan pedang yang berada di genggaman tangannya.


"Aku tak mungkin termakan oleh perkataanmu," ucap Yihan.


"Zleep...."


Pedang yang digunakan Yihan menembus tubuh pangeran Zeng Wu tanpa sedikit pun melakukan berlawanan, hingga membuat pangeran Zeng Wu terkapar di tanah dengan tubuh yang bersimbah darah.


Melihat pemuda yang ada di hadapannya sudah tak sadarkan diri, membuat Yihan segera datang menghampirinya.


"Kau tak usah mencoba mengakui dirimu sebagai seorang pangeran, karena tak satu dua orang yang mengatakan hal itu di sini yang menganggap dirinya pangeran, hingga membuat mereka dapat mengambil semua sumber daya yang berada di gunung Wongku dengan leluasa," ucap Yihan.


Yihan lalu memeriksa identitas pangeran Zeng Wu, dan betapa terkejutnya sang wanita muda itu saat melihat jika pemuda yang disangkanya penipu, ternyata memiliki lencana seorang pangeran di kekaisaran cahaya naga.

__ADS_1


"Celaka dia benar-benar seorang pangeran, ini bisa sangat berbahaya bagi gunung Wongku jika pemuda ini sampai mati, dan guruku pasti tak akan memaafkanku jika aku membunuh seorang pangeran," batin Yihan.


Yihan segera membawa pangeran Zeng Wu menuju ke kediamannya di puncak gunung Wongku, agar segera mendapatkan pertolongan di sana.


Sementara itu di hutan binatang iblis, Nien Chu masih tetap bersembunyi di semak belukar yang rimbun, dan terus memantau singa bersayap yang ada di hadapannya.


Itu dilakukan Nien Chu untuk menghindari empat binatang roh tingkat ke-8, yang juga tengah memantau keberadaan singa bersayap yang kini kondisi tubuhnya semakin melemah.


Sesaat singa bersayap itu menatap keempat binatang roh yang kini semakin mendekat ke arahnya, dan tak lama kemudian singa bersayap itupun terkulai dan tak bergerak lagi.


"Nien Chu kau tetap di sini karena aku masih merasakan kehidupan di diri sehingga bersayap itu, aku ingin kau segera memasang segel pelindung dari api inti Surgawi, karena firasat ku merasakan jika singa bersayap itu akan melakukan serangan kepada keempat binatang roh yang ada di sekitarnya," ucap suara inti inti api surgawi yang berada di Dantian Nien Chu.


Mendengar perkataan gurunya, Nien Chu segera memasang pelindung di sekitarnya, hingga gelembung berwarna putih kini menyelimuti tempat keberadaannya.


Benar saja, saat ke 4 binatang roh itu mulai berlari ke arah singa bersayap untuk memperebutkan batu energinya, tiba tiba saja ledakan besar terjadi hingga membuat ke empat binatang roh itu terpental dan menabrak apapun yang ada di belakangnya.


Tak ada satupun ke 4 binatang roh itu yang mampu bangkit lagi, karena tubuh mereka kini tengah terluka parah akibat serangan kejut yang dilakukan singa bersayap sebelum menghembuskan napas terakhirnya.


Sementara itu gelombang kejut yang terjadi akibat serangan dari singa bersayap, membuat pelindung yang menyelimuti tubuh Nien Chu pecah, hingga membuat Nien Chu terseret beberapa meter kebelakang.


Nien Chu merasakan jika tubuhnya benar-benar luluh lantak hingga sulit untuk bernapas. "Efek ledakan dari singa bersayap sungguh sangat luar biasa, aku telah memakai semua kekuatanku untuk membuat pelindung bagi tubuhku, akan tetapi pelindung itu tak mampu untuk berbuat banyak dalam menahan serangan gelombang kejut dari singa bersayap itu," batin Nien Chu.


Di saat Nien Chu dalam keterpurukan tiba-tiba saja laki-laki paruh baya muncul dan memberikan energi inti api surgawi ketubuh Nien Chu, yang membuat Nien Chu dapat pulih dari luka yang di deritanya.


"Trimakasih guru," ucap Nien Chu setelah dapat menguasai dirinya kembali.

__ADS_1


"Nien Chu kau tak mempunyai waktu lama untuk mendapatkan batu energi pada tubuh singa bersayap, karena ke 4 binatang roh itu pasti telah berupaya untuk memulihkan kondisi tubuh mereka, agar bisa mendapatkan batu energi di tubuh singa bersayap itu.


Bersambung


__ADS_2