
Di luar aula, tampak senyum ceria pangeran ke 3 melihat keakraban adik perempuan satu satunya itu dengan Nien Chu, dan dia pun langsung menyongsong mereka berdua.
"Kakak Wu, kami berdua telah lolos ujian pemurnian pil dan saat ini kami berdua telah menjadi murid istana Akademi bulan suci," ucap putri Zeng Yi.
"Aku sangat senang mendengar jika kalian berdua telah lolos ujian hari ini, kalau begitu mari kita rayakan keberhasilan kalian," ucap pangeran Zeng Wu.
"Pangeran kami berdua tak bisa merayakannya di luar akademi ini, karena kami berdua telah sah menjadi murid di akademi bulan suci, dan tentunya ada aturan yang tak bisa kami langgar yaitu keluar dari istana akademi bulan suci tanpa izin dari para guru besar di sana," ucap Nien Chu.
"Iya kak, kami saat ini belum meminta ijin kepada guru besar akademi, dan sebentar lagi kami para murid baru akan dikumpulkan untuk mendapatkan pengarahan dari kepala akademi, mengenai siapa guru yang akan membimbing kami berdua untuk menjadi seorang Alkemis hebat di masa depan," timpal putri Zeng Yi.
"Baiklah mungkin kita akan merayakannya di tempat dan waktu yang lain," jawab pangeran Zeng Wu.
"Yi'er aku ingin berbicara empat mata dengan Nien Chu, dan ada baiknya kau masuk ke dalam aula kembali," ucap pangeran Zeng Wu.
"Baiklah kak" jawab putri Zeng Yi sambil melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian putri Zeng Yi, pangeran Zeng Wu mengutarakan keinginannya kepada Nien Chu.
"Nien Chu, aku sekarang bisa lega karena Zeng Yi bisa masuk menjadi murid di istana akademi bulan suci, dan besok pagi rencananya aku akan kembali ke istana cahaya naga karena banyak tugas yang harus ku selesaikan disana.
Nien Chu, Kau merupakan sahabatku dan telah ku anggap sebagai saudaraku sendiri, aku ingin menitipkan Yi'er padamu untuk kau jaga selama berada di istana akademi bulan suci.
Ada rasa khwatiran saat mendengar jika murid baru yang lolos tahun ini, akan melakukan perburuan harta karun Kaisar istana mutiara hidup terdahulu, dan tentunya banyak bahaya yang akan datang kepadanya," ucap pangeran Zeng Wu.
"Kau tak usah khawatir pangeran, aku akan menjaga Zeng Yi dan aku tak akan membiarkannya dalam bahaya," jawab Nien Chu.
"Trimakasih Nien Chu" ucap pangeran Zeng Wu.
__ADS_1
*****
Di tempat lain Hyun Zi yang memasuki portal dalam menjalani hukumannya, tiba di sebuah tempat yang tandus dengan hamparan pasir yang terlihat sepanjang mata memandang.
Hyun Zi terus berjalan untuk mencari perlindungan dari terik matahari, akan tetapi dia belum juga menemukan sebuah tempat untuk berteduh.
"Aku harus mencari sumber air, jika tidak aku akan mati kehausan di sini, karena perbekalan air minum yang kubawa hanya bisa bertahan selama dua hari," batin Hyun Zi.
Hyun Zi terus berjalan dan lama-kelamaan tubuhnya pun mulai terasa lelah akibat panasnya sinar matahari yang begitu sangat menyengat, dan pada akhirnya Hyun Zi mengeluarkan artefak pelindung yang di berikan penatua Hyun Joong padanya, untuk menahan sengatan sinar matahari yang semakin siang semakin bertambah panasnya.
Setelah masuk ke dalam gelembung yang tercipta dari artefak langit pemberian penatua Hyun Joong, kini Hyun Zi merasakan kesejukan setelah berada di dalamnya.
"Syukurlah ada artefak langit ini, jika tidak aku pasti akan terpanggang sinar matahari yang terasa lebih panas 2 kali lipat dari yang berada di alam dunia.
Ada baiknya aku mencari sumber air di malam hari, dan akan masuk ke dalam gelembung artefak ini di siang hari, semua itu agar aku bisa bertahan hidup," batin Hyun Zi.
Tak lama kemudian malam pun mulai datang, yang menyelimuti area tempat keberadaan Hyun Zi.
Baru beberapa langkah berjalan, Hyun Zi merasakan adanya kelebatan bayangan d sekitarnya, akan tetapi Hyun Zi tak bisa mengetahui keberadaan mahluk itu, dia pun pada akhirnya menajamkan pendengarannya dan mengeluarkan pedang Tetes embun pemberian dari penatua Hyun Joong, untuk mengantisipasi serangan mendadak dari mahluk itu.
Benar saja, serangan dari mahluk itu datang tiba tiba dengan menggunakan cakarnya, aura yang keluar dari serangan kedua tangannya begitu sangat menindas, hingga kedua tangan itu berbenturan dengan pedang tetes embun yang membuat Hyun Zi terpental, dan pedang yang berada di genggaman tangannya pun terlepas.
Kekuatan ranah emperor yang ada pada Hyun Zi tak berarti apa apa dalam menghadapi mahluk yang menyerangnya.
"Bukan kah mahluk itu adalah manusia sama sepertiku, hanya saja tubuhnya sangat kurus dan rambut yang ada di kepalanya pun terlihat habis karena rontok, sehingga membuat sosok manusia itu begitu sangat menyeramkan.
Tunggu..!, bukankah baju yang di kenakan nya merupakan baju dari sekte surgawi, jangan jangan dia adalah anggota sekte surgawi yang diasingkan sama seperti ku," batin Hyun Zi.
__ADS_1
"Tetua, aku minta maaf jikalau telah mengusik mu, namaku Hyun Zi dari sekte surgawi," ucap Hyun Zi.
"Ha..ha..ha.., Aku tak perduli kau dari sekte mana, saat ini yang kuinginkan adalah memakan mu, karena telah berbulan bulan tak makan," ucap sosok tua yang ada di hadapan Hyun Zi.
Mendengar perkataan wanita tua itu membuat Hyun Zi bergidik ngeri, dan buru buru Hyun Zi mengambil pedangnya yang tergeletak di tanah untuk mengantisipasi serangan susulan dari wanita itu.
"Tetua aku punya banyak makanan, jika kau lapar kau bisa makan perbekalan yang kubawa ini," ucap Hyun Zi sambil mengeluarkan semua makanan yang di bawanya ke hadapan sosok wanita tua yang ada di hadapannya.
"Silahkan tetua!, makanan makanan ini tak beracun dan kau boleh memakan semuanya," ucap Hyun Zi.
Melihat makanan yang banyak di hadapannya, wanita tua itu langsung memakan makanan itu hingga kekenyangan.
"Kau...!!, siapa namamu?" tanya wanita tua itu.
"Hyun Zi" ucapnya singkat.
"Ha...ha...ha..., Akhirnya aku bertemu dengan keturunan dari keluarga Hyun Joong yang telah membuat ku menjadi seperti ini," ucap wanita tua itu kemudian mengeluarkan kekuatan cakarnya dan kembali menyerang ke arah Hyun Zi.
Mendapatkan serangan mendadak dari wanita tua itu, Hyun Zi segera mengeluarkan segenap kemampuannya, hingga pertarungan pun kembali terjadi.
Mengahadapi kekuatan ranah Dewa membuat Hyun Zi tak berdaya, wanita muda itu terkena tendangan yang telak mengenai tubuhnya.
Hyun Zi kembali terhempas kepermukaan pasir dan merasakan dadanya sangat sesak sekali. Dengan sisa sisa tenaganya Hyun Zi mengeluarkan artefak pelindung langit dari dalam cincin ruangnya, kemudian mengaktifkannya.
Kini Hyun Zi berada di dalam gelembung, dan untuk sementara waktu dia aman di dalam sana, karena wanita tua itu tak mampu untuk menghancurkan pelindung gelembung yang tercipta.
"Kau jangan senang dulu karena aku pasti bisa menghancurkan pelindungmu itu putri keluarga Hyun... !" ucap nenek tua itu dan menghilang dari pandangan mata Hyun Zi.
__ADS_1
Tak beberapa lama matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, Hyun Zi duduk bersila dan meminum beberapa pil untuk mengobati luka dalamnya dengan cara berkultivasi.
Bersambung