Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Alam surgawi


__ADS_3

Nien Chu menatap tak berkedip wanita cantik yang kini berjalan ke arahnya, aroma wangi yang keluar dari tubuh wanita itu membuat Nien Chu merasakan suatu sensasi keindahan dari seorang wanita.


Dewi Giok tersenyum dan langsung menggelayut manja di lengan Nien Chu.


"Ada yang ingin kukatakan kepadamu, mengenai beberapa wanita yang dekat denganku saat ini," ucap Nien Chu.


"Aku tak perduli dengan mereka semua, yang penting kau menyayangiku itu sudah cukup bagi ku," jawab Dewi Giok.


"Aku akan menyayangi semua wanitaku dan akan melindungi mereka semua dengan nyawaku, aku takkan membiarkan ada yang mengusik para wanitaku termasuk dirimu," ucap Nien Chu.


Dewi Giok semakin mempererat pelukannya di lengan Nien Chu, ada kedamaian, kehangatan dan kenyamanan saat berada di dekat Nien Chu, hingga Dewi Giok ingin berlama-lama memeluk lengan Nien Chu.


Setelah puas memeluk lengan Nien Chu, Dewi Giok pun berkata.


"Kau bilang padaku ingin membawaku ke suatu tempat, dapatkah kita pergi ke sana sekarang?" tanya sang Dewi.


"Tentu saja" jawab Nien Chu.


Nien Chu kemudian menyalurkan energi murninya ke dalam cincin pemberian dari Zen Zo, dan tak lama kemudian mereka berdua tiba di suatu tempat yang begitu indah.


Sebuah danau dengan air jernih dan pemandangan bintang serta bulan yang berada di tempat itu, begitu indah dibanding dengan pemandangan dan bulan di alam dunia, karena bintang dan bulan terlihat lebih dekat jaraknya.


Di tengah tengah danau terdapat sebuah bangunan yang berdiri megah, terlihat dengan adanya bahan-bahan berkualitas tinggi dalam pembuatan bangunan tersebut.


Bangunan itu begitu terang benderang karena di setiap sudut bangunan terdapat sebuah batu yang memancarkan cahaya terang, sehingga keindahan bangunan dapat terlihat nyata dari tempat Nien Chu dan Dewi Giok berada.


Udara di tempat itu pun sangat sejuk sehingga memberikan kesegaran tersendiri saat menghirupnya.


Nien Chu mengajak Dewi Giok ke dalam bangunan besar itu, dengan berjalan diatas jembatan yang menghubungkan antara daratan dan bangunan besar di tengah danau.


Dewi Giok begitu sangat kegirangan saat melihat ikan ikan yang berada di dalam danau, dari lantai jembatan yang tembus pandang.

__ADS_1


Nien Chu tersenyum saat melihat tingkah Dewi Giok, yang berlari ke sana kemari layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru.


"Aku tak menyangka jika wanita yang dahulunya sangat dingin, ternyata mempunyai sifat kekanak kanakan seperti ini setelah bersama ku," batin Nien Chu.


Tiba tiba Dewi Giok berkata yang mengejutkan Nien Chu.


"Kak Nien Chu Aku ingin berenang di danau ini, rasanya aku ingin bermain dengan ikan ikan yang berada di sana," ucap Dewi Giok.


"Apa...?, apa aku tak salah mendengarnya..., bukankah kau baru saja mandi," jawab Nien Chu.


"Apakah kau melarang ku untuk berenang di danau ini kak Nien Chu?" tanya Dewi Giok dengan wajah yang cemberut namun masih memperlihatkan kecantikan alami yang dimiliki nya.


"Kau boleh melakukan apapun sesuai keinginanmu di sini," jawab Nien Chu kemudian.


Mendengar perkataan Nien Chu, Dewi Giok langsung tersenyum dan memeluknya, setelah itu Sang Dewi mundur sekitar 2 meter di hadapan Nien Chu, kemudian melepaskan pakaian yang dikenakannya tanpa adanya satupun benang yang saat ini menutupi tubuhnya.


Darah Nien Chu seketika itu bergejolak, darah mudanya bangkit dengan sendirinya melihat pemandangan indah di hadapannya itu.


Nien Chu menelan ludahnya sendiri, perkataan Dewi Giok membuatnya seakan tertantang, untuk mengulang lagi percintaannya bersama sang Dewi.


Walaupun Nien Chu sebelumnya pernah melakukan hubungan percintaan dengan sang Dewi, namun kali ini perbedaannya begitu sangat luar biasa, alam terbuka membuat Nien Chu benar benar terbakar gairah, yang membuatnya tak bisa berkata apa apa dalam menjawab perkataan Dewi Giok.


Nien Chu kemudian melangkah kearahnya, dan Dewi Giok menyambut kedatangan kekasihnya itu sehingga mereka berdua saling berciuman di tempat itu.


"Kak Nien Chu, Aku akan melakukan suatu hal yang tak akan pernah kau lupakan selama hidupmu," bisik Dewi Giok.


Nien Chu bingung dengan perkataan sang Dewi, sehingga dia bertanya tanya di dalam hati apa yang akan di dilakukan Dewi Giok kepadanya.


Nien Chu membiarkan saat Sang Dewi mulai melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya, hingga tak ada satupun benang yang melekat di tubuhnya.


Nien Chu begitu sangat terkejut saat Sang Dewi mulai memegang tonggak hidup yang dimilikinya, hingga terdengar ******* panjang dari mulut Nien Chu saat Dewi Giok mulai jongkok dan memainkan tonggak hidup miliknya.

__ADS_1


Dewi Giok mulai menikmati es lilin yang ada di hadapannya dengan penuh gairah, setelah puas menikmati es lilin itu tanpa ada yang terlewatkan, Dewi Giok mulai memasukkan es lilin itu ke dalam mulutnya, yang menimbulkan leguhan panjang dari mulut Nien Chu.


Dewi Giok seperti tahu apa yang diinginkan oleh Nien Chu, dia pun melakukan gerakan maju mundur dalam menikmati es lilin yang ada di dalam mulutnya, hingga beberapa waktu berlalu es lilin itu pun cair yang memenuhi rongga mulutnya.


Nien Chu tak berdaya, tubuhnya begitu sangat letih hingga dia pun menjatuhkan tubuhnya ke dalam air danau yang jernih.


Dewi Giok memuntahkan es lilin yang mencair di dalam mulutnya, karena dia merasa asing dengan aroma yang ditimbulkan es lilin yang mencair itu.


Dewi giok merasakan kepuasan tersendiri saat melihat kekasihnya begitu menikmati sensasi yang telah diberikannya, sehingga membuat dirinya ikut masuk ke dalam danau dan mendekat ke arah Nien Chu.


Nien Chu menyambut kedatangan Dewi giok dan memberikan sebuah kecupan di keningnya. "Kau sangat luar biasa dengan memberikan sesuatu yang tak pernah kurasakan selama ini," bisik Nien Chu.


"Aku akan selalu memberikan yang terbaik untukmu, agar kau tak akan pernah meninggalkanku," jawab Dewi Giok.


Tangan Dewi giok kembali menjulur ke bawah, dan betapa terkejutnya sang Dewi saat merasakan tonggak hidup milik Nien Chu telah kembali ke dalam posisi siap tempur, sehingga membuatnya tertawa kecil di buatnya.


Nien Chu mendekap Dewi giok dari belakang dan membawanya ke sebuah tiang jembatan yang terbuat dari batu dengan permukaan yang sangat halus.


Dewi Giok berpegangan di tiang jembatan itu saat Nien Chu mulai melakukan aksi nya, Nien Chu dengan gagah memeluk tubuh Dewi Giok dari belakang, dan bersamanya memacu kuda mendaki sebuah gunung impian bersama.


Nien Chu terus memacu kudanya seirama dengan nafas keduanya yang sama sama memburu.


Setelah merasakan jika puncak gunung impian sudah teramat dekat dengannya, Nien Chu semakin kuat memacu kudanya hingga teriakan kepuasan dari mulut keduanya terdengar setelah puncak gunung impian telah berhasil mereka raih.


Malam itu merupakan malam yang sangat bersejarah bagi mereka berdua, karena seperti tak kenal lelah keduanya terus melakukan hal itu berkali kali, di tempat yang berbeda hingga pagi menjelang.


Tengah hari Nien Chu terbangun dari tidurnya, dan mendapati Dewi Giok masih terlelap di atas pembaringan.


Dengan perlahan Nien Chu turun dari pembaringan dan berjalan keluar kamar itu untuk membersihkan diri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2