
Pagi hari suasana di dalam istana begitu sepi karena tak ada satu pun penjaga maupun pelayan yang masih tersisa dari pembantaian itu. Thien Yu membuka matanya perlahan setelah melakukan kultivasi panjang semalaman.
"Aku harus menemui Lu ying sebelum aku berangkat menuju alam cahaya rembulan," batin Thien Yu.
Thien Yu kembali memejamkan matanya dan roh jiwanya masuk kedalam alam batinnya untuk menemui Lu ying.
Tampak terlihat Lu ying tengah melakukan kultivasi penyerapan Qi murni. Merasakan kehadiran Thien Yu, Lu ying pun perlahan membuka matanya.
"Mengapa tuan muda menemuiku?" tanya Lu ying.
"Aku sengaja menemuimu agar kau dapat melindungi istana ini selama aku berada di alam cahaya rembulan, aku akan kesana untuk melatih diri dan aku tak ingin kau mengikutiku sampai ke sana, semua itu ku lakukan agar aku bisa melatih diri lebih kuat lagi dan tak tergantung kepadamu yang selalu melindungi ku," ucap Thien Yu.
"Tapi tuan muda, ada baiknya aku ikut denganmu kesana agar aku dapat melindungimu dari dalam alam batinmu," jawab Lu ying.
"Tidak lu ying, aku ingin kau mengikuti perintahku untuk berada di istana lumut," ucap Thien Yu.
Mendengar penolakan dari Thien Yu, membuat Lu ying tak bisa berbuat apa apa, walaupun berat hati Lu ying pun mengiyakan permintaan tuan mudanya agar tetap tinggal di istana Lumut.
"Baiklah tuan muda, aku akan mengikuti perintahmu, berhati hatilah disana," jawab Lu ying.
*****
Di istana lumut, putri Meyling terlihat sangat cantik memakai pakaian serba putih di kombinasikan dengan warna hijau muda, namun sayang wajahnya yang cantik seakan sulit sekali memperlihatkan senyum manisnya.
Perubahan sikap putri Meyling sangat jelas di mata Thien Yu, yang membuat Thien Yu sedikit risih berdekatan dengan sang Putri.
Setelah sang putri membuka tabir alam cahaya rembulan, sang putri pun melangkah masuk sambil berkata. "Apalagi yang kau tunggu Thien Yu!, apakah kau tak ingin ikut masuk kesini?" tanya sang putri dingin.
Thien Yu seakan tak percaya jika sang putri yang tadinya lembut, kini berubah menjadi dingin padanya. "Dasar wanita, berjuta misteri dihatinya sehingga membuat ku tak bisa menebak apa isi hatinya," batin Thien Yu sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam alam cahaya rembulan hingga tabir tertutup kembali.
Sang putri melangkahkan kakinya di depan Thien Yu tanpa sedikitpun memandang maupun berbicara padanya.
__ADS_1
Thien Yu yang tak ingin masalah ini berlarut larut, dengan cepat melangkah kearah sang putri dan meraih tangan kanannya hingga membuat sang Putri menghentikan langkahnya. Apa yang di lakukan Thien Yu membuat putri Meyling membalikkan badannya menghadap ke arah Thien Yu.
Mereka berdua saling bertatapan mata dan tak lama kemudian sang putri menghempaskan tangan nya hingga terlepas dari genggaman tangan Thien Yu.
"Kau jangan kurang ajar padaku, aku tak ingin kejadian ini terulang lagi karena aku tak menginginkan hal itu," ucap putri Meyling marah.
"Aku ingin tau mengapa kau sangat berubah padaku, selama ini kita adalah teman yang baik dan saling membantu tapi mengapa kau tiba-tiba saja berubah dan begitu dingin kepadaku?" tanya Thien Yu.
"Thien Yu!, tanyakan pada dirimu sendiri apa yang sebenarnya terjadi!, kali ini aku membawamu ke tempat ini agar kau dapat menemukan jati dirimu sebagai seorang Kultivator kuat dan pilih tanding, anggap saja semua ini sebagai rasa terima kasihku karena kau telah menolongku sebanyak 2 kali, dan setelah ini hutangku kepadamu lunas," jawab putri Meyling sambil membalikkan badannya kembali dan melangkah pergi.
Thien Yu yang mulai merasa kesal dengan semua tingkah laku sang putri padanya, dengan cepat kembali menarik tangan sang putri hingga sang putri kehilangan keseimbangan dan terjatuh kearah Thien Yu.
Thien Yu langsung menyambut tubuh putri Meyling dengan sebuah pelukan hangat.
Detak jantung sang putri berpacu keras, dia tak menyangka jika Thien Yu akan melakukan hal itu padanya, yang membuat sang putri diam seribu bahasa di dalam pelukan Thien Yu.
"Aku tak ingin kau pergi dariku, dan aku tak ingin kehilanganmu Meyling," bisik Thien Yu.
"Thien Yu, aku tak ingin kau merasa kasihan padaku karena kau tau jika aku mencintaimu, mungkin lebih baik jika kita tak bersama dulu," ucap putri Meyling dengan sedikit mendorong tubuh Thien Yu sehingga pelukannya pun terlepas.
Setelah itu sang putri melesat pergi, namun samar samar suara sang putri terdengar di telinga Thien Yu. "Satu bulan di dalam alam cahaya rembulan sama halnya 1 hari di alam duniamu, temukan jati dirimu disini walau tanpa bersamaku," ucap putri Meyling.
Thien Yu terdiam, kali ini dia semakin tak habis pikir dengan jalan pikiran putri Meyling, disaat dirinya membuka hati malah sang putri pergi menjauh.
"Sudah lah, untuk apa aku berlarut larut dalam masalah ini, lebih baik aku menelusuri alam ini siapa tau aku menemukan sesuatu yang dapat meningkatkan kultivasiku," batin Thien Yu.
Thien Yu pun melesat kedalam rimbun pepohonan yang sangat besar, yang berkali kali lipat lipat besarnya dari pepohonan yang berada di bumi.
Semakin masuk kedalam hutan lebat itu, Thien Yu tiba tiba saja mendengar suara nyanyian seperti bergumam dari mulut seseorang. Thien Yu semakin menajamkan pendengarannya dan lama kelamaan suara itu semakin jelas terdengar olehnya.
Kurasa ada seseorang di tempat ini, perlahan lahan Thien Yu berjalan mengikuti sumber suara, dan tak di sangka oleh Thien Yu jika sumber suara itu berasal dari seorang nenek tua yang tengah duduk diatas sebuah dahan pohon.
__ADS_1
"Nenek apakah nenek bisa memberi tahu kepadaku tempat apakah ini?" tanya Thien Yu.
Nenek tua itu menghentikan nyanyiannya dan menatap tajam kearah Thien Yu.
"Anak muda, apakah kau ingin ikut berlomba untuk mendapatkan inti Api bulan suci di menara Jingga? " ucap nenek tua balik bertanya.
"Menara Jingga, inti api bulan suci, aku tak tau semua itu, bagai mana mungkin putri Meyling tak menceritakan ini semua padaku," batin Thien Yu yang hanya terdiam di tempatnya.
Anak muda, kau masih terlalu lemah dan tak akan mungkin bertarung di menara Jingga, seharusnya kau menjadi kuat sebelum kau pergi kesana, kau hanya mencari mati saja," hardik nenek tua itu.
"Nenek aku tak mengerti dengan semua yang kau katakan, aku memang ingin menjadi kuat, tapi aku tak pernah berfikir untuk bertarung di menara jingga.
"Berarti kau bukan berasal dari alam cahaya rembulan ini?" tanya sang nenek.
"Iya" jawab Thien Yu singkat.
Ha..ha..ha.., Penantian ku selama ini untuk mendapatkan seorang murid akhirnya menuai hasil, aku telah menunggumu anak muda, aku kan menjadikanmu muridku," ucap sang nenek sambil melompat ke hadapan Thien Yu.
Thien Yu sejenak menyelidik ke arah sang nenek, dan hatinya begitu ragu dengan kekuatan yang di milikinya, karena sang nenek terkesan kumuh dan cendrung seperti seorang gelandangan.
"Aku tau apa yang kau pikirkan anak muda, coba kau serang aku dengan tehnik terkuat mu," ucap sang nenek.
"Aku tak ingin bertarung dengan mu nek, lebih baik aku pergi dari sini," jawab Thien Yu.
"Kurang ajar, berani sekali kau meremehkan ku, maka bersiaplah kau untuk menerima seranganku," ucap sang nenek.
Bersambung.
Maaf sahabat, aku hanya bisa menulis 1 episode beberapa hari kedepan, karena sore kemarin, aku mengalami kecelakaan, pergelangan tangan tergeser, jari manis dan jari kelingking patah dan memerlukan perawatan.
Saya akan tetap menulis setiap harinya, semoga para sahabat bisa memakluminya, trimakasih🙏, semoga kita semua selau terhindar dari musibah yang tak diinginkan, Amin.
__ADS_1