Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Kota Danau hitam


__ADS_3

Setelah putri Zeng Yi masuk ke alam surgawi, Nien Chu memutuskan untuk berangkat menuju ke alam cahaya rembulan dan alam cahaya mentari, yang memang merupakan tempat tujuan utamanya untuk membangun kekuatan besar di sana.


Nien Chu kini berada di istana bawah air untuk meminta raja Zhedon membukakan portal menuju ke alam cahaya mentari, untuk menemui orang kepercayaan ayahnya di masa lalu yang bernama Li Ying.


Tuan muda ini merupakan portal menuju istana lumut, ( Sekarang berganti nama menjadi istana matahari) yang berada di alam cahaya mentari, Tuan muda harus mencari keberadaan Lu Ying sendiri. "Ingat tuan muda, walaupun ayah tuan muda pernah melakukan kontrak darah dengan Lu Ying, akan tetapi Lu Ying tak pernah secara langsung melakukan kontrak darah dengan tuan muda, dan hal itu akan sedikit mempersulit tuan muda untuk di akui olehnya, kecuali tuan muda memperlihatkan darah tuan muda padanya".


Setelah lu Ying mencium aroma darah tuan muda maka dengan sendirinya lu Ying akan mengakui tuan muda sebagai putra Thien Yu, satu lagi tuan muda, perbedaan dimensi membuat waktu di alam cahaya mentari lebih lambat dibanding dengan waktu yang ada di alam dunia," ucap raja Zhedon.


"Baik paman, aku akan mengingat semua pesanmu, sedari itu aku mohon diri," ucap Nien Chu kemudian masuk kedalam portal.


Nien Chu tiba di alam cahaya mentari tepatnya di tengah tengah kota. Nien Chu dikejutkan dengan pertumbuhan penduduk yang sangat luar biasa pesat, dengan begitu banyaknya penduduk yang terlalu lama di kota itu.


Keadaan kota dipenuhi dengan penduduk yang merupakan gabungan antara tubuh manusia dan ular, yaitu tubuh setengah ke atas merupakan manusia dan tubuh setengah ke bawah merupakan tubuh ular, Nien Chu juga menemukan banyak manusia murni di sana dengan tubuh yang menyerupai manusia seperti layaknya manusia di alam dunia.


Nien Chu bingung dengan keadaan di tempat itu, pakaian yang digunakan Para manusia tak seperti pakaian yang digunakan di alam dunia.


Melihat hal itu, Nien Chu kemudian mencari tempat bersembunyi untuk menemukan cara agar dia tak disangka penyusup yang masuk ke alam kota, dengan pakaian yang dikenakannya saat ini tak seperti dengan pakaian yang dikenakan para penduduk kota.


Nien Chu kemudian memanggil Peri Lilia yang ada di dalam cincin ruangnya, untuk segera keluar dari dalam cincin dan mebemuinya.


Dengan panggilan kontrak darah yang ada pada peri Lilia, membuat sang peri akhirnya keluar dari dalam cincin ruang Nien Chu.


"Syukurlah kau keluar, dapatkah kau mencarikan baju ganti seperti halnya yang ada di alam ini," ucap Nien Chu.


"Ayahmu dulu memiliki baju seperti yang tuan muda inginkan," ucap peri Lilia kemudian mengeluarkan beberapa baju termasuk baju bangsawan yang ada di istana matahari, lalu diberikan kepada Nien Chu.


Tuan muda alat tukar di sini beda dengan alat tukar di alam dunia, jika tuan muda ingin membeli sesuatu maka tuan muda bisa memakai crystal energi yang banyak terdapat di dalam cincin ruang milik tuan muda," ucap peri Lilia


"Trimakasih atas bantuanmu, untuk itu kau bisa masuk kembali ke dalam cincin ini," ucap Nien Chu.


Setelah memberi hormat, pada akhirnya peri lilia masuk kembali ke dalam cincin ruang yang dimiliki Nien Chu.

__ADS_1


Selepas kepergian peri lilia, Nien Chu kemudian memakai baju peninggalan ayahnya dahulu, agar dia dapat berbaur sebagai penduduk kota itu.


Setelah memakai pakaian yang sama persis digunakan dengan para penduduk di kota itu, Nien Chu kemudian berjalan dengan tenang memasuki kota.


"Kota Danau hitam," batin Nien Chu saat melihat tulisan di salah satu bangunan kota.


Nien Chu kemudian mencari tau keberadaan lu Ying dengan bertanya kepada para penduduk yang ditemuinya, akan tetapi tak ada satupun penduduk yang mampu untuk menjelaskan mengenai keberadaan lu Ying.


"Bagai mana aku bisa mengetahui keberadaan lu Ying dari para para penduduk di kota danau hitam ini, sementara aku sendiri tak tahu ciri-ciri lu Ying," batin Nien Chu kemudian menepuk jidatnya sendiri.


Nien Chu pada akhirnya menelusuri sudut kota dan akhirnya menemukan keramaian di tempat itu.


Nien Chu mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada seorang laki-laki tua yang merupakan penduduk asli di kota itu.


"Paman.., apa yang sebenarnya terjadi mengapa ada keramaian di tempat ini?" tanya Nien Chu.


"Besok akan diadakan turnamen beladiri yang akan memperebutkan hadiah dari raja kota matahari, semua warga kota yang memiliki kemampuan di bidang beladiri ikut mendaftar karena kompetisi ini tak terbatas usia dan golongan".


"Ini merupakan kesempatanku untuk masuk ke kota kerajaan dan bertemu langsung dengan raja kota, jika aku telah berada di sana pasti akan mudah bagiku untuk mencari tau keberadaan paman lu Ying," batin Nien Chu.


Nien Chu kemudian ikut masuk ke dalam kerumunan para mendaftar yang akan melakukan pertarungan besok, Setelah lama menunggu antrian yang ada, akhirnya giliran Nien Chu untuk mendaftarkan diri.


Setelah mendaftarkan diri, Nien Chu kemudian memasuki sebuah rumah makan karena perutnya saat ini benar-benar sangat lapar.


"Ternyata menu makanan di sini sama halnya dengan makanan yang berada di alam dunia," batin Nien Chu.


Nien Chu memesan beberapa jenis makanan dari seorang pelayan wanita, setelah makanan itu datang Nien Chu lalu menyantapnya.


"Dari pembicaraan orang-orang di sini, ternyata kompetisi bela diri ini merupakan suatu tanda kehormatan jika bisa mengikutinya, karena pertarungan yang terjadi adalah pertarungan sampai mati," batin Nien Chu.


"Tak kusangka kompetisi yang diadakan oleh raja kota bisa sekejam ini, mengapa paman lu ying tak menghilangkan tradisi itu bukan kah tradisi itu sangat merugikan bagi masyarakat luas," batin Nien Chu.

__ADS_1


Nien Chu kemudian memanggil sang pelayan yang merupakan wanita paruh baya, untuk mengorek keterangan mengenai kompetisi yang terjadi di kota danau hitam.


"Bibi.., mengapa kompetisi yang akan dilakukan oleh kedua petarung, akan dilakukan hingga salah seorang petarung ada yang mati?" tanya Nien Chu.


"Anak dari mana?, mengapa tak mengetahui tentang tradisi yang sudah ada dari zaman dulu di kota danau hitam ini?" tanya sang bibi.


Nien Chu berpikir sesaat untuk menjawab pertanyaan dari sang pelayan, setelah menemukan jawabannya, Nien Chu lalu menjawab pertanyaan dari sang bibi.


"Aku berasal dari pinggir kota bi, Ayah ibuku telah lama mati sedari aku kecil sehingga aku tak mengetahui perkembangan kota," jawab Nien Chu.


Terlihat sang bibi mengangguk anggukkan kepalanya, mengerti mengapa pemuda yang ada di hadapannya tak mengetahui mengenai perkembangan tradisi kota danau hitam.


"Di kota danau hitam jika ada sebuah pertarungan baik berupa pertarungan perseorangan maupun pertarungan dalam sebuah kompetisi, akan dilakukan sampai ada yang mati agar dendam cukup sampai di situ saja".


"Tradisi ini sudah berlangsung dari generasi ke generasi dan hanya ada di kota danau hitam saja, sementara di kota lain tradisi ini tak berlaku," ucap sang bibi.


"Trimakasih Bi atas semua penjelasannya," ucap Nien Chu.


Sang pelayan kemudian kembali menjalankan tugasnya untuk melayani tamu yang datang, dan Nien Chu kembali menikmati makanannya.


"Ternyata tradisi itu hanya berlaku di kota danau hitam saja, untuk menghilangkan dendam dalam sebuah pertarungan".


"Aku akan mencari penginapan untuk malam ini, sambil menunggu esok hari," batin Nien Chu.


Bersambung.


Sebenarnya author ingin menamatkan novel ini dengan cepat, berhubung banyak permintaan yang menginginkan novel ini tamat dengan tak tergesa gesa maka author akan membuat novel ini tamat tanpa tergesa gesa.


Author hanya akan menulis novel ini satu episode perhari karena author akan fokus ke novel baru yang berjudul Penguasa elemen es dan angin, bukan berarti author meninggalkan novel ini semua itu karena hasil untuk memenuhi kebutuhan hidup author berada di novel baru.


Harap sahabat semua memakluminya, trimakasih.

__ADS_1


__ADS_2