
Kompetisi beladiri di menara Jingga tersebar ke seluruh alam cahaya rembulan, di mana hadiah yang diperebutkan sangatlah besar, selain sumber daya yang merupakan benda-benda berkualitas tinggi, terdapat juga inti api bulan suci yang menjadi daya tarik semua kultivator kuat untuk dapat berpartisipasi dalam kompetisi bela diri tersebut.
Hari yang ditentukan pun tiba, masing masing menara yang berada di alam cahaya rembulan telah menentukan wakilnya, termasuk menara jingga yang merupakan tuan rumah dalam acara tersebut.
Tetua Yi Ning mendaftarkan Thien Yu sebagai perwakilan dari menara hijau, dan semua orang yang berada di tempat itu pun terkejut setelah mengetahui adanya perwakilan dari menara hijau, karena dalam pikiran mereka menara hijau selama ini telah dimusnahkan oleh menara keabadian.
Semua Kultivator yang ikut mendaftarkan diri di tempat itu begitu sangat meremehkan Thien Yu, dan bahkan ada yang terang-terangan menghina dan menganggap jika menara hijau sebagai aib dari menara menara besar yang ada.
Darah Thien Yu seketika mendidih menahan amarah di dadanya, akan tetapi dia tak ingin ceroboh dalam menyikapi itu semua karena kecerobohannya bisa saja menjadi bumerang bagi dirinya dan menara hijau.
"Tunggulah di atas arena pertarungan nanti, kalian semua pasti akan kuberi pelajaran yang setimpal," batin Thien Yu.
Dari kejauhan Thien Yu melihat sosok wanita yang sangat di kenalnya, dia adalah putri Meyling yang begitu sangat ceria tengah berbincang berdua dengan seorang pemuda tampan.
Keakraban itu begitu sangat jelas terlihat, yang membuat Thien Yu merasakan kegelisahan di hatinya."Mengapa hatiku seperti tak terima jika putri Meyling bersama pemuda itu, apa yang sebenarnya telah terjadi dengan hatiku?" batin Thien Yu.
Rasa cemburu membuat Thien Yu melangkahkan kakinya kearah putri Meyling, setibanya di sana Thien Yu segera menarik tangan sang putri dan menggenggamnya.
"Aku ingin ingin bicara!" ucap Thien Yu.
Putri meyling sangat terkejut dengan perlakuan kasar seseorang padanya, dan semakin terkejut lagi jika yang menggenggam tangannya adalah Thien Yu.
Putri Meyling segera mencerna keadaan yang ada, dan dia yakin jika Thien Yu sedang terbakar api cemburu karena dirinya tengah bersama seorang pemuda anak dari pemimpin menara keabadian.
Sebenarnya putri Meyling sangat senang karena Thien Yu masih hidup, tapi dia juga ingin memberi pelajaran pada Thien Yu dengan membuatnya cemburu.
__ADS_1
"Lepaskan tangan ku Thien Yu," ucap putri Meyling, jika kau ingin berbicara padaku maka bicaralah karena aku tak punya banyak waktu," jawab putri Meyling.
Thien Yu tetap memegang erat tangan putri Meyling, dan tak ingin melepaskannya.
Sesaat Thien Yu menatap kearah pemuda yang bersama putri Meyling, rasa terbakar api cemburu seketika menyeruak di hatinya, mengingat pemuda yang bersama putri Meyling mempunyai wajah tampan.
"Aku mencintaimu," ucap Thien Yu singkat.
Putri Meyling terdiam, memang sejak lama dia sangat mengharapkan kata kata itu keluar dari mulut Thien Yu, tapi keadaan berbeda saat perkataan itu keluar setelah dia tengah bersama seorang pemuda, yang membuat putri Meyling meragukan ketulusan cinta Thien Yu, dan lebih memilih diam.
"Kau mengenalnya Meyling?" tanya pemuda yang bernama Jiohio putra ketua menara keabadian, yang merasa cemburu pada pemuda yang juga tengah mengatakan cinta pada putri Meyling.
"Aku tak mengenalnya," sangkal sang putri sekedar ingin tau ekspresi wajah Thien Yu.
Thien Yu terkejut dengan perkataan putri Meyling yang tak mengenalnya, hingga membuatnya seakan tak percaya.
"Tunggu!!, kau jangan berulah di sini atau aku yang akan menghabisimu," ucap Jiohio yang merasa terganggu dengan kehadiran Thien Yu disaat dia sedang berduaan dengan putri Meyling.
"Thien Yu mengibaskan tangannya keatas seakan tak menggubris perkataan jiohio, dan diapun tetap mantap melangkah pergi dari tempat itu.
Apa yang di lakukan Thien Yu membuat putra penguasa menara abadi sangat kesal, karena belum ada satu orang pun yang berani melakukan hal itu padanya di alam cahaya rembulan.
"Lihat saja, aku akan membunuhmu saat di arena pertarungan nanti," bisik Jiohio.
Setelah itu dia kembali kepada putri Meyling, akan tetapi wanita cantik yang sangat di kagumi nya itu malah pergi meninggalkannya, hal itu membuat Jiohio semakin memendam amarahnya terhadap Thien Yu.
__ADS_1
*****
Pengundian kultivator yang akan bertarung sudah di laksanakan, 6 menara masing masing menurunkan 3 kandidat yang akan ikut berkompetisi, hanya menara hijau yang menurunkan 1 petarung yaitu Thien Yu.
Semua mata menatap tajam kearah Thien Yu wakil dari menara hijau, termasuk para ketua 6 menara yang ada. merasakan hal itu, Thien Yu tetap cuek dan tak mempedulikan semua itu, yang membuat tetua Yi Ning begitu bangga pada muridnya yang bisa tetap tenang di bawah tekanan 6 menara yang ada.
Tak lama kemudian seorang penatua dari menara jingga mengumumkan jika pertarungan akan segera di mulai, dan nama yang keluar dari hasil undian itu adalah Thien Yu. Dia akan bertarung melawan putri Meyling dari menara keabadian.
Sorak Sorai penonton terhadap putri Meyling begitu tumpah ruah, sementara Thien Yu hanya mendapat hinaan dan cemoohan dari para penonton di tempat itu.
Walaupun mendapatkan banyak kata kata yang tak enak di dengar, Thien Yu tetap tenang naik ke arena pertarungan.
Tampak putri Meyling menatap tajam kearah Thien Yu sambil berkata. "Maafkan aku karena tak mengakui mu saat itu Thien Yu, semua itu kulakukan untuk menghindarkan mu dari bahaya karena Jiohio pasti akan menghabisimu jika saat itu aku berkata mengenalmu, karena Jiohio juga mencintaiku," ucap putri Meyling.
"Putri, saat ini aku menginginkan kemenangan dalam pertarungan kita, dan aku meralat lagi jika saat itu aku pernah berkata jika aku mencintaimu, dan mulai sekarang kita tak punya hubungan apa apa lagi," ucap Thien Yu sambil melepaskan pukulan tangan kosong kearah putri Meyling.
Melihat serangan Thien Yu kearahnya, putri Meyling hanya memejamkan matanya dan sama sekali tak ingin menangkis maupun menghindari serangan yang di lancarkan Thien Yu.
Apa yang dilakukan putri Meyling membuat Thien Yu menarik kembali serangannya.
"Mengapa kau tak menghindari seranganku!?" tanya Thien Yu.
Putri Meyling membuka kembali matanya dan berkata, "Thien Yu kau pasti sudah mengetahui jawabannya," jawabnya sambil melangkah pergi meninggalkan arena pertarungan.
Dengan perginya putri Meyling dari arena pertarungan, membuat Thien Yu menang sebelum bertarung dalam pertandingan itu. Terlihat Thien Yu tersenyum dengan perginya putri Meyling. "Aku tau kau pun mencintaiku putri," batin Thien Yu yang juga pergi meninggalkan arena pertarungan.
__ADS_1
Dari jauh Jiohio yang melihat hal itu merasa sangat kesal, dia menggenggam tinjunya kuat kuat sambil tak berhenti menatap kearah Thien Yu. "Pasti ada sesuatu di antara mereka berdua, dan aku tak akan membiarkan pemuda itu mendapatkan putri Meyling dariku," bisik Jiohio.
Bersambung.