
Kembali tak ada suara yang keluar dari mulut sang walikota sehingga membuat Nien Chu mengangkat tangannya ke atas.
Tubuh nona muda Ling Ling tiba tiba terangkat dan menuju ke arah dinding ruang pribadi sang walikota, kemudian melekat erat di sana dengan menghadap ke arah Nien Chu.
Melihat hal itu walikota hanya bisa memejamkan matanya, dan tetap pada pendiriannya yang tak ingin mengatakan jika pangeran lah yang telah memerintahkan membunuh Nien Chu.
Karena tak ada itikad baik dari sang walikota, Nien Chu kembali mengibaskan tangannya sehingga pakaian yang melekat di tubuh nona muda Ling Ling hancur berantakan, dan tak menyisakan satupun benang yang kini melekat di tubuhnya.
Nona muda Ling Ling memohon dan menghiba agar Nien Chu tak melakukan hal buruk padanya, namun sang walikota yang mendengar hal itu tetap diam dan larut dalam pikirannya sendiri.
"Ku rasa kau memang menginginkan kehancuran Putri mu, baiklah jika itu yang kau inginkan aku akan monodai putrimu di depan matamu," ucap Nien Chu kemudian berjalan ke arah Nona muda Ling Ling.
Nona muda Ling Ling terus-terusan berteriak agar sang ayah mengatakan siapa yang telah meracuni Nien Chu, sebelum hal buruk terjadi padanya.
Hingga suara sang walikota menghentikan langkah Nien Chu.
"Putra mahkota Xiangjiang yang telah memerintahkan untuk meracuni mu," ucap sang walikota.
Mendengar hal itu, Nien Chu segera mengibaskan tangannya sehingga sebuah angin yang memadat menghantam tubuh sang walikota, yang membuatnya tak sadarkan diri.
Nien Chu segera melepaskan belegu yang ada di tubuh nona muda Ling Ling, dan melemparkan sebuah kain agar dapat menutupi tubuhnya.
"Maaf kan aku, hanya ini jalan satu-satunya agar ayahmu dapat menyebutkan nama orang yang ingin membunuhku," ucap Nien Chu.
Tak lama kemudian Nien Chu pun menghilang dari pandangan mata nona muda Ling Ling.
*****
Dengan mengikuti petunjuk dari penduduk kota mengenai keberadaan kota Danau hijau, pada akhirnya Nien Chu tiba di kota tersebut.
Disana Nien Chu dapat dengan mudah menemukan rumah sang walikota, karena rumah walikota danau hijau lebih besar dari rumah rumah yang berada di kota tersebut.
Nien Chu kemudian mengaktifkan mata langit untuk mencari keberadaan sang pangeran, dan di sebuah taman Nien Chu melihat pangeran Xiangjiang tengah bersama dengan Nona muda Lin Ar.
Dengan mengunakan kekuatan menembus dimensi, Nien Chu berhasil tiba di tempat sang pangeran berada, tanpa harus melewati penjagaan yang ketat di dalam rumah sang walikota.
__ADS_1
Pangeran dan Nona muda Lin Ar begitu sangat terkejut saat melihat Nien Chu telah berada di hadapannya, melihat hal itu membuat nona muda berteriak histeris untuk memanggil para penjaga yang banyak berjaga di sekitar rumah besar sang walikota.
"Para penjaga langsung mengepung Nien Chu, begitupun dengan para kultivator kuat yang merupakan pengawal sang pangeran, merekapun ikut mengepung Nien Chu.
"Ha ...ha ..ha .., ternyata kau masih hidup Nien Chu, dan sekarang kau mengantarkan nyawamu ke tempat ini," ucap pangeran Xiangjiang.
"Sudah kukatakan padamu walaupun kau seorang Kaisar jika berani mengusik ku maka aku akan melenyapkan mu," jawab Nien Chu.
Mendengar perkataan Nien Chu membuat sang pangeran murka, dan langsung menyuruh para penjaga untuk meringkus Nien Chu.
"Apa yang kalian tunggu cepat ringkus dia dan berikan mayatnya kepada binatang buas yang ada di hutan!!" perintah sang pangeran.
Belum sempat para penjaga bergerak untuk meringkus Nien Chu, tiba tiba saja sebuah pedang hitam berkelebat cepat dan membunuh semua penjaga yang ada di tempat itu.
Pangeran begitu sangat terkejut melihat apa yang telah terjadi, tanpa bergerak sedikit pun Nien Chu berhasil memenggal kepala seluruh penjaga yang mengepungnya.
Kini pedang hitam yang telah memenggal kepala seluruh penjaga, telah berada di genggaman tangan Nien Chu.
Aura menindas yang keluar dari pedang penguasa malam, membuat seluruh kultivator kuat yang menjaga Pangeran selama ini langsung bersiaga untuk melakukan pertarungan dengannya.
Pangeran Xiangjiang segera berlari meninggalkan tempat itu, akan tetapi tiba-tiba saja sebuah cengkraman tangan Nien Chu telah berada di lehernya, yang membuat pangeran Xiangjiang kesulitan untuk bernafas.
"Lepaskan pangeran...!!, apa yang telah kau lakukan akan membuatmu dalam masalah karena telah mengancam nyawa putra mahkota," ucap salah seorang pengawal pangeran.
Nien Chu segera mengibaskan tangannya, maka sebuah jarum emas langsung melesat cepat menembus kepala pengawal sang pangeran, hingga hingga pengawal itu pun ambruk ke tanah dan tewas seketika.
Melihat rekannya mati, beberapa pengawal langsung menembakkan kembang api ke udara yang menandakan jika putra mahkota tengah dalam bahaya.
"Sekarang kau tak bisa kemana-mana lagi karena prajurit dari kekaisaran akan datang ke tempat ini. Cepat lepaskan pangeran agar kau sedikit dapat keringanan hukuman darinya," ucap pengawal pangeran dengan memasang kewaspadaan tinggi.
Dari belakang nien Chu tampak Nona muda Lin Ar dengan diam-diam menarik sebuah busur panah, dan di arahkan kepada Nien Chu.
Sesaat kemudian nona muda itu melepaskan anak panah dari busurnya, dan anak panah itu langsung melesat cepat ke arah Nien Chu.
Nona Lin Ar merasa sangat senang melihat anak panah yang dilepaskan nya, mengarah tepat ke arah Nien Chu, tapi kesenangannya itu seketika berubah saat anak panah berbalik dan melesat cepat ke arahnya.
__ADS_1
Nona muda Lin Ar akhirnya ambruk ke tanah dengan anak panah yang menancap di lehernya.
Walikota bersama beberapa pengawal datang ke tempat itu, saat melihat putri kesayangannya telah tak bernyawa akibat sebuah anak panah yang tertancap di lehernya, sang walikota langsung berteriak histeris dan langsung menyuruh seluruh penjaga yang bersamanya untuk segera meringkus Nien Chu.
Lagi lagi Pedang hitam tiba-tiba saja melayang di udara, dan satu persatu para penjaga akhirnya tewas saat pedang penguasa malam menebas putus leher mereka.
Putra mahkota yang berada di dalam cengkeraman tangan Nien Chu, akhirnya tewas karena kesulitan untuk bernapas.
Nien Chu melemparkan tubuh pangeran yang tak bernyawa, kemudian dengan santai dia pun berjalan meninggalkan tempat itu.
Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba saja para pengawal Pangeran yang tersisa langsung menyerangnya.
Dengan pedang penguasa malam di dalam genggaman tangannya, dalam waktu sekejap seluruh pengawal Pangeran akhirnya mati dengan anggota tubuh yang berserakan di mana mana.
Walikota yang menyaksikan hal itu hanya terdiam, tubuhnya sangat sulit di gerakan akibat rasa takut melihat keganasan pemuda yang ada di hadapannya.
Nien Chu sesaat memandang ke atas lagit, dan melihat pasukan terbang dari kekaisaran matahari telah tiba di tempat itu, mereka semua mengendarai kuda bersayap.
Seorang jendral turun dari kudanya dan langsung berdiri di hadapan Nien Chu. Sesaat jendral itu melihat bekas bekas pembantaian yang dilakukan oleh Nien Chu.
Dan saat melihat tubuh putra mahkota yang tak bernyawa lagi, membuat Jenderal itu murka dan langsung mengangkat tangannya untuk menyuruh seluruh pasukan terbangnya untuk membinasakan Nien Chu.
Jendral itu segera melesat pergi dari tempat itu, tak lama kemudian ribuan anak panah bagaikan hujan melesat cepat ke arah Nien Chu.
Nien Chu langsung menggunakan kekuatan menembus dimensi, dan kini telah berada di belakang Sang Jenderal dan mengalungkan pedang penguasa malam di lehernya.
Para pasukan udara kekaisaran matahari seketika itu menghentikan serangannya, saat melihat Sang Jenderal kini telah berada di dalam kekuasaan Nien Chu.
"Aku hanya berurusan dengan putra mahkota yang telah berani menyinggung ku, kali ini kekaisaran mu telah datang untuk membuat masalah dengan ku, maka persiapkanlah kekaisaran mu untuk melakukan peperangan denganku, kecuali kalian mendatangkan Lu Ying untuk menemuiku," ucap Nien Chu.
Setelah berkata seperti itu Nien lalu menghentakkan kakinya ke tanah dengan menggunakan kekuatan semesta, dan pada akhirnya ribuan pasukan terbang dari ke kisaran matahari berjatuhan ke tanah.
Sang jendral seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya, dengan sekali hentakan kakinya pemuda itu bisa menghancurkan armada tempur terbang sebuah Kaisar besar.
Bersambung.
__ADS_1