Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Berlatih tehnik pedang penguasa malam


__ADS_3

Nien Chu melesat cepat menuju ke arah naga air yang melayang di udara, dan ....


"Zlep...."


Pedang penguasa malam menancap telak ke dada Sang Naga Air, dan dengan kekuatan ranah tingkat Alam yang di milikinya, Nien Chu mengarahkan pedang penguasa malam itu dari dada hingga menuju ekor Sang Naga Air, hingga membuat luka menganga besar di tubuh Sang Naga Air terlihat nyata.


Sisik yang sekeras berlian tak berarti apa-apa pada pedang penguasa malam, karena dengan mudah pedang itu mampu untuk merobek sisik yang sekeras berlian itu.


Naga air masuk kedalam danau, dan menggeliat-geliat sesaat hingga menimbulkan gelombang air danau yang meluap.


Tak lama kemudian air danau kembali tenang dan tampaklah naga air telah mati dan mengambang di permukaan danau.


Nien Chu segera menampakkan tangannya ke kepala naga air, hingga mutiara naga yang ada padanya tiba-tiba mencuat keluar dan menuju kearah tangan kanan Nien Chu.


"Aku tak menyangka di kedalaman hutan binatang iblis terdapat berbagai macam binatang roh yang sangat kuat termasuk naga air tingkat ke 8 ini, dengan mutiara naga yang ada padanya aku bisa meningkatkan kekuatanku di ranah tingkat selanjutnya," batin Nien Chu.


Nien Chu segera mengarahkan cincin ruangnya ke arah naga air, hingga naga air itu pun menghilang dan masuk ke dalam cincin ruang Nien Chu.


Nien Chu sengaja membawa naga air itu, selain dagingnya bisa dikonsumsi, kulitnya juga mempunyai harga yang sangat tinggi di pasaran, dan tentunya harga jual naga air itu bisa menambah keuangan bagi Nien Chu.


Nien Chu melesat cepat, tujuannya kembali ke gua tempatnya berada, untuk memulihkan diri akibat bertarung dengan naga air yang sangat menguras tenaga.


Sesampainya di depan pintu goa, Nien Chu segera memasang pelindung agar tak ada binatang roh yang masuk ke dalam gua di saat dia tengah melakukan kultivasi.


Di dalam Goa Nien Chu kebingungan karena pedang penguasa malam tak mau masuk ke dalam cincin ruangnya. "Apa yang harus kulakukan dengan pedang penguasa malam ini, tak mungkin di setiap saat aku harus membawanya di sisiku karena hal itu akan membuat parakultivator kuat akan mengujiku, di saat aku nantinya keluar dari dalam hutan binatang iblis ini," batin Nien Chu.


Tiba tiba laki-laki paruh baya berjubah putih keluar dari dalam Dantian Nien Chu, pada saat Nien Chu merasa kebingungan dengan pedang penguasa malam.


"Nien Chu, pedang penguasa malam tak akan pernah tinggal di di dalam cincin ruang mu, karena dia hanya mau tinggal di alam batinmu dan jika kau memerlukan pedang itu dalam pertarungan mu, maka dia akan keluar dari dalam alam batinmu mu.


Nien Chu dahulu kala pedang penguasa malam memiliki 2 tehnik yang sangat kuat, yaitu tehnik 6 rasi bintang, dan tehnik tebasan semesta.


Saat ini kau telah diakui sebagai pemiliknya yang sah maka dengan sendirinya kau bisa mempelajari kedua teknik itu di alam batinmu. Saat ini kau telah mencapai ranah tingkat Alam dan kurasa kau bisa mempelajari teknik itu tanpa meningkatkan ranah tingkatanmu lagi," ucap laki laki paruh baya itu.


"Guru, bagaimana dengan mutiara naga air yang ada padaku, apakah aku saat ini bisa menyerap kekuatan energi yang terkandung di dalamnya, agar aku bisa meningkatkan ranah tingkatanku ke tingkat selanjutnya?" tanya Nien Chu.


"Saat ini teknik yang kau miliki masih sangat minim, jika kau meningkatkan ranah tingkatan mu menggunakan mutiara naga air itu, maka akan percuma saja.


Walaupun kau telah mempunyai ranah kekuatan yang tinggi, tetapi di dalam dirimu masih minim dengan teknik beladiri, maka akan percuma saja ranah tingkat kekuatan itu. Apa yang akan kau pakai bertarung dengan musuh-musuhmu jika kau tak mempunyai teknik kuat? sedari itu aku ingin kau mempelajari kedua teknik dari pedang penguasa malam sebelum kamu meningkatkan kembali ranah tingkatanmu ke tingkat selanjutnya, agar berimbang ranah tingkat kekuatan dengan teknik kuat yang kau miliki," jawab lelaki paruh baya itu.

__ADS_1


"Baik guru, aku akan mengikuti perkataan mu," ucap Nien Chu.


Nien Chu segera menaruh pedang penguasa malam di hadapan nya, dan dia pun segera melakukan kultivasi.


Sesaat kemudian pedang penguasa malam mengambang di udara dan memancarkan aura yang langsung menuju ke arah Nien Chu.


Nien Chu seketika itu merasakan adanya dua teknik kuat yang kini berada di dalam kepalanya, dan dia dapat merasakan kedua teknik itu begitu memberikan hawa mematikan yang sangat kuat.


Pedang penguasa malam yang ada di hadapannya kini telah menghilang dan masuk ke alam batin Nien Chu, dan begitupun dengan Nien Chu yang kini telah berada di alam batinnya sendiri sambil menggenggam pedang penguasa malam di genggaman tangan kanannya.


.


Nien Chu segera mengingat pesan dari gurunya untuk berlatih ke dua teknik pedang penguasa malam di alam batinnya, dan dengan dasar itu Nien Chu pun mulai berlatih kedua tehnik pedang penguasa malam di sana.


*****


Nun jauh disana tepatnya di gunung Wongku.


Setelah 2 hari tak sadarkan diri, akhirnya pangeran Zeng Wu pun tersadar dari pingsannya.


Pangeran Zeng Wu mengedarkan pandangannya sekeliling ruangan tempatnya terbaring, dan pandangan matanya pun berhenti pada sosok wanita muda yang berada tak jauh darinya.


Sesat pangeran Zeng Wu mencerna keadaan yang ada, dan mengingat-ingat kembali kejadian apa yang dialaminya sebelum dia tak sadarkan diri.


Setelah mengetahui Jika dia pingsannya karena tertusuk pedang sang wanita muda yang ada di hadapannya, Pangeran Zeng Wu pun berkat.


"Keadaanku baik-baik saja dan tak mungkin hanya sebuah pedang mampu untuk membunuhku," jawab pangeran Zeng Wu.


Perkataan sang pangeran membuat Yihan merasa kesal, dan dia menyesali telah menanyakan hal itu kepada pemuda yang tengah terbaring di hadapannya.


"Jika pedangku takkan sanggup membunuhmu, maka aku akan mencoba untuk menusukkan pedangku ini kembali kepadamu," ucap Yihan sambil mengeluarkan pedangnya dari dalam cincin ruang yang dimilikinya.


"Gila, wanita ini walaupun terlihat sangat cantik tapi sungguh sangat menakutkan, dia tak bisa dibawa bercanda dan lebih baik aku tak menyinggungnya lagi," batin pangeran Zeng Wu.


"Maafkan aku nona muda, aku hanya sekedar bercanda kepadamu," ucap pangeran Zeng Wu.


Yihan yang merasa di atas angin karena sang pangeran begitu takut padanya, membuat Yihan berkeinginan untuk mengerjai sang pangeran.


"Aku tak perduli dengan candaan mu, lebih baik pedang ini kembali bersarang di tubuh mu," ucap Yihan sambil berpura-pura menyerang ke arah pangeran Zeng Wu.

__ADS_1


"Melihat serangan Yihan, pangeran Zeng Wu pun dengan refleks menghindarinya dengan melompat dari pembaringannya, akan tetapi rasa sakit yang dirasakan akibat tusukan pedang sebelumnya, pembuat pangeran Zeng Wu kehilangan keseimbangan dan berteriak kesakitan sambil memegangi dadanya.


Yihan yang melihat pangeran Nien Chu akan terjatuh dari atas pembaringannya, seketika itu melepaskan pedang yang berada di dalam genggaman tangannya dan menyambut jatuhnya sang pangeran, hingga Yihan pun ikut terjatuh bersama pangeran Zeng Wu.


Di lantai ruangan posisi jatuhnya Yihan begitu sangat menguntungkan bagi pangeran Zeng Wu, karena posisi Yihan berada di bawah dan posisi pangeran Zeng Wu berada di atasnya.


Wajah keduanya begitu sangat dekat satu dengan yang lainnya, hingga hembusan nafas dari keduanya dapat mereka rasakan menerpa wajah masing masing.


Tatapan keduanya pun saling beradu, hingga membuat rasa sakit yang di rasakan pangeran Zeng Wu sebelumnya, seketika itu lenyap tak tersisa yang ada hanya debaran jantungnya yang tak karuan.


Di sisi lain Yihan pun merasakan hal yang sama, jantungnya seketika itu berdetak sangat cepat saat melihat wajah tampan sang pangeran dari dekat, dan merasakan hembusan nafas sang pangeran yang menerpa wajahnya.


Karena dorongan rasa malu, Yihan segera mendorong tubuh pangeran hingga membuatnya terjatuh di sisi Yihan.


Terdengar desis kesakitan pada mulut sang pangeran akan tetapi Yihan tak memperdulikannya, dia lalu berlari keluar dari dalam ruangan tempat keberadaan pangeran Zeng Wu.


Di sebuah taman bunga miliknya, Yihan duduk termenung. Dia heran dengan apa yang dirasakannya saat ini, kejadian yang baru saja dialaminya bersama pangeran masih sangat membekas di dalam pikirannya, dan saat mengingat sang pangeran tiba-tiba saja jantungnya berdetak sangat cepat.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan hatiku, mengapa wajah Pangeran itu selalu menghiasi kepalaku, apakah saat ini aku telah jatuh cinta kepadanya?" batin Yihan.


"Tidak ..., aku tak akan pernah jatuh cinta pada siapapun, aku akan tetap sendiri dan akan menjaga guru di puncak gunung Wongku ini," batin Yihan.


Sementara itu, tetua Wong Chen yang sebelumnya meminta izin kepada muridnya untuk pergi melakukan meditasi di suatu tempat, semua itu hanya akal-akalnya saja.


Kini tetua Wong Chen tengah bersama sahabatnya Kaisar Zeng Gong di kediaman sang Kaisar.


Mereka berdua tengah santai minum anggur dan membicarakan hal penting di sana.


"Semoga rencana kita berjalan dengan lancar, Yihan merupakan murid sekaligus telah ku anggap putriku sendiri, dan permintaanmu untuk menjodohkan Yihan dengan putramu Zeng Wu semoga bisa sesuai dengan harapan kita berdua.


Dengan menyuruh Zeng Wu pergi sendiri ke puncak gunung Wongku, dan di puncak gunung Wongku muridku juga tengah sendiri, pasti saat ini mereka berdua sudah saling kenal satu dengan yang lainnya, dan aku berharap perkenalan mereka berdua akan menumbuhkan benih cinta," ucap tetua Wong Chen.


"Kau benar saudaraku, semoga perjodohan yang telah kita sepakati ini dapat berjalan dengan lancar, dan tentunya Aku berharap jika Yihan merupakan calon pendamping putraku pangeran Zeng Wu di masa depan," jawab kaisar Zeng Gong.


Sebenarnya kaisar Zeng Gong ingin menjodohkan putra mahkota dengan Yihan, yang dari pandangan sang Kaisar Yihan merupakan wanita terbaik yang pantas bersanding dengan putra mahkota, selain cerdas, Yihan juga merupakan kultivator tangguh yang dilatih langsung oleh kultivator kuat yang berjuluk raja gunung Wongku, yang memiliki tingkat ranah Suci, selain itu Yihan juga menguasai teknik pengobatan serta meracik pil obat.


Tapi melihat sifat dan perilaku putra mahkota yang buruk, membuat Kaisar Zeng Gong tak ingin menjodohkannya dengan Yihan, karena sang Kaisar takut jika putra mahkota memperlakukan Yihan dengan buruk di masa depan yang dapat membuat hubungan persahabatan nya yang lama terjalin dengan tetua Wong Chen akan hancur.


Untuk mencegah tak terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, membuat sang Kaisar memutuskan untuk menjodohkannya dengan putranya Zeng Wu agar hubungannya dengan tetua Wong Chen tetap baik.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2