
Nien Chu membuka gerbang masuk kedalam bangunan paviliun langit, dan di dalam ruangan bangunan besar itu di penuhi dengan nuansa warna ungu dan merah jambu, hingga terlihat serasi dan terkesan romantis.
Sepertinya kaisar terdahulu begitu menyayangi permaisurinya, hingga bangunan ini di penuhi warna warna feminim yang sangat di sukai oleh kaum wanita," batin Nien Chu.
Nien Chu pada akhirnya bertemu dengan kaisar terdahulu, di mana sang kaisar terlihat begitu tampan dan sangat berkarisma.
"Selamat anak muda, kau berhasil sampai di tempat ini setelah aku menunggu beribu ribu tahun lamanya," ucap kaisar terdahulu.
Mengetahui yang ada di hadapannya merupakan kaisar terdahulu, Nien Chu langsung menggenggam tinju memberi hormat kepadanya.
"Hormatku kepada yang mulia kaisar Xiaoyu," ucap Nien Chu.
"Ha..ha...ha..., aku tak menyangka yang akan mendapatkan harta Karun dariku merupakan pemuda sopan dan dapat menghargai yang lebih tua, dan aku sangat suka akan hal itu.
Tiba tiba saja seekor rubah putih datang kearah Nien Chu, dan dengan manja rubah itu menggesek gesekkan kepalanya kearah kaki Nien Chu.
Melihat tingkah rubah putih itu, Nien Chu langsung meraihnya dan membawanya kedalam gendongannya.
"Kau sangat beruntung Nien Chu, rubah putih juga menyukaimu dan sedari itu aku akan menghadiahkan rubah putih itu kepadamu, jaga dan rawatlah dia baik baik seperti aku merawatnya semasa hidup." ucap kaisar terdahulu.
"Terimakasih yang mulia, aku akan merawatnya dengan baik dan akan menjadikannya sahabatku," jawab Nien Chu.
"Namanya Yi eng, dan mulai sekarang kau bisa memanggilnya dengan nama itu. Nien Chu teteskan darahmu ke atas kening Yi eng agar dia mengakuimu sebagai tuannya yang baru, yang akan selalu setia pada mu," perintah kaisar terdahulu.
"Baik yang mulia" ucap Nien Chu singkat.
Nien Chu tanpa ragu langsung menggigit jari telunjuknya, dan meneteskan darahnya ke atas kening Yi eng yang memiliki simbol bulan sabit disana.
Seketika itu juga, dari dalam tubuh Yi eng keluarlah cahaya putih terang yang menyilaukan mata, sehingga membuat rubah putih itu perlahan lahan memudar dan masuk kedalam Dantian Nien Chu.
"Nien Chu, apakah kau membawa seorang wanita ketempat ini?" tanya kaisar terdahulu.
Nien Chu tak langsung menjawab perkataan kaisar Xiaoyu, dia lebih mencernanya sebelum menjawab pertanyaan sang Kaisar.
Tak berapa lama kemudian Nien Chu melihat seorang wanita tengah berjalan masuk ke tempatnya berada.
"Dewi Giok?" gumam Nien Chu.
Nien Chu tak menyangka jika wanita berjuluk Dewi giok itu bisa sampai ke paviliun langit.
Karena tak ingin terjadi bentrok dengan sang Dewi, Nien Chu memilih menyingkir dari tempat itu.
"Aku menginginkan jantung es abadi, dan kuharap kau tak menghalang halangiku dalam mendapatkannya," ucap sang Dewi.
"Silahkan jika kau menginginkan jantung es abadi itu," jawab Nien Chu kemudian menyingkir menjauh.
Dewi Giok berjalan kearah jantung es abadi, setelah sampai ke tempat jantung es abadi berada, Dewi giok segera menyerap kekuatan jantung es abadi yang berupa kelopak bunga teratai berwarna ungu.
Bunga teratai berwarna ungu itu seketika masuk kedalam tubuh Dewi giok, kemudian sang Dewi menyerap esensi energi di dalam kelopak bunga teratai itu dengan kekuatan misterius dari sektenya.
Sesaat Dewi giok dapat menikmati esensi kekuatan besar yang ada di dalam tubuhnya, akan tetapi tiba-tiba seluruh tubuhnya seakan ingin meledak karena kekuatan jantung es abadi bergejolak dengan hebat, yang membuat Dewi giok merasakan kesakitan yang teramat sangat hingga diapun berlutut dan memegangi dadanya yang semakin sesak.
Kaisar terdahulu tiba tiba muncul di hadapan Dewi giok, dan berkata.
"Tak selayaknya kau mendapatkan kekuatan dariku, karena kau sangat serakah dengan ingin menguasai jantung es abadi, yang jelas jelas itu adalah hak dari Nien Chu yang merupakan orang pertama yang datang menemukanku di tempat ini, sedari itu aku akan melenyapkanmu dari dunia ini!!" ucap kaisar Xiaoyu.
Setelah berkata seperti itu, kelopak bunga teratai langsung keluar dari dalam tubuh Dewi giok, dan perlahan tubuh Dewi giok mulai membeku.
Tak sampai di situ, kini sang kaisar mengangkat tangannya keatas, dengan kekuatan es penghancur yang ada di telapak tangannya.
"Celaka jika kaisar Xiaoyu menghantarkan telapak tangannya ke arah Dewi giok, maka Dewi Giok akan mati dengan tubuh yang hancur menjadi serpihan-serpihan es kecil," batin Nien Chu.
Melihat jika Dewi giok dalam bahaya yang bisa saja merenggut nyawanya, Nien Chu segera berlari kearah kaisar Xiaoyu dan meminta permohonan agar Dewi giok tak mendapatkan kematian darinya.
"Yang mulia, aku tak ingin kau membunuh wanita ini," ucap Nien Chu sambil menggenggam tinju memberi hormat di hadapan kaisar Xiaoyu.
Kaisar Xiaoyu seketika itu melirik ke arah Nien Chu, lantas sang Kaisar pun bertanya.
"Apakah dia kekasihmu sehingga kau mempertaruhkan nyawamu untuk memohon pengampunan baginya?" tanya Kaisar Xiaoyu.
"Iya" ucap Nien Chu.
Nien Chu terpaksa berbohong, karena tak ada pilihan lain baginya untuk menyelamatkan Dewi giok dari kematian.
"Aku bertanya pada mu wanita, apakah Nien Chu adalah kekasihmu?" tanya kaisar Xiaoyu menyelidik.
Dewi Giok terdiam dan tak bisa berkata apa apa, karena dia merasa tak mempunyai hubungan apapun dengan Nien Chu.
"Yang mulia, kami baru jadian dan tak ada yang tau jika kami sudah menjadi sepasang kekasih, yang mulia mungkin kekasihku Dewi giok malu jika anda mengetahui hubungan kami, walaupun dia begitu kasar kepadaku tapi dia berhati baik.
Yang mulia jika berkenan aku ingin kau memberikan jantung es abadi kepadanya, karena kekuatan yang di miliki kekasihku ini adalah berelemen es," timpal Nien Chu.
"Nien Chu aku tak bertanya padamu, lebih baik kau diam!!, biar aku dengar sendiri jawaban pertanyaanku ini dari mulut Dewi Giok," jawab kaisar Xiaoyu.
"Maafkan aku yang mulia," ucap Nien Chu kemudian melangkah pergi dari hadapan kaisar Xiaoyu.
Sebelumya Nien Chu melirik kearah Dewi giok sambil berkata dengan menggunakan kekuatan batinnya, hingga suara Nien Chu hanya terdengar oleh Dewi giok seorang.
"Hidupmu ada di tanganmu sendiri, aku tak mempunyai niat buruk hanya ingin menyelamatkanmu dari kematian," ucap Nien Chu.
"Dewi giok aku bertanya padamu, apakah Nien Chu adalah kekasihmu?" tanya kaisar Xiaoyu untuk kedua kalinya dengan penekanan di perkataannya yang sangat jelas terdengar.
Dewi Giok tak punya pilihan lain, selain mengiyakan pertanyaan kaisar Xiaoyu, semua itu demi hidupnya yang saat ini berada di ujung tanduk.
"Nien Chu adalah kekasihku," jawab Dewi Giok.
"Katakan sekali lagi karena aku belum jelas mendengar nya," ucap kaisar Xiaoyu.
"Nien Chu adalah kekasihku," jawab Dewi Giok untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Ha...ha...ha..., kalian memang pasangan yang serasi, aku akan menjadikan kalian berdua sebagai seorang pasangan sejati layaknya diriku dahulu, hingga kalian berdua mampu menampilkan kepercayaan diri di hadapan orang banyak, jika kalian berdua adalah seorang kekasih yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Dewi Giok bangkitlah, aku akan menjadikan kau wanita terkuat yang pernah ada, kau akan mewarisi seluruh kekuatan elemen es yang ku miliki sewaktu masih hidup, kau tinggal mengasahnya saja hingga kau menjadi tak terkalahkan.
Kaisar Xiaoyu memasukkan jantung es abadi ke dalam tubuh Dewi giok, kemudian membantu sang Dewi agar bisa menyerap esensi energi besar dari jantung es abadi, hingga ledakan energi pun terjadi di dalam tubuh Dewi giok yang mengguncangkan area di sekitar paviliun langit, termasuk tempat di mana terdapat para kelompok murid yang tengah bertarung melawan ular piton api diatas lautan lahar.
Dewi Giok yang mendapatkan energi dari kaisar Xiaoyu seketika itu menembus ranah tingkat dewa, yang merupakan ranah tertinggi di dalam susunan kekuatan di alam dunia.
Nien Chu kemarilah, sesuai janjiku sebelum aku lenyap untuk selamanya karena telah memberikan kekuatanku ini kepada kekasihmu, maka aku akan menjadikan kalian berdua pasangan kekasih yang saling melengkapi.
Nien Chu berjalan kearah kaisar Xiaoyu dan Dewi giok, tak lama kemudian taburan bunga bunga entah dari mana datangnya tiba tiba saja berterbangan memenuhi ruangan itu, sehingga menimbulkan keharuman bunga bunga yang khas.
"Nien Chu ini adalah kitab kuno surgawi, cara menggunakan tehnik busur panah surgawi yang merupakan tehnik terkuat yang pernah di miliki ratuku semasa masih hidup, karena kau telah memiliki busur panah surgawi, maka kitab kuno ini akan ku berikan padamu, ucap kaisar Xiaoyu sambil memberikan sebuah kitab kuno berwarna emas ke pada Nien Chu.
"Nien Chu menerima kitab kuno tersebut lalu memasukkannya ke dalam cincin ruang yang dimilikinya, sambil berucap, trimakasih yang mulia," jawab Nien Chu.
"Setelah ini aku akan lenyap untuk selamanya, dan selamat ku ucapkan kepada kalian berdua karena telah mewarisi semua harta karun di paviliun langit, semoga kedepannya kalian berdua saling jaga dan saling menyayangi, serta saling menghargai, itu yang akan membuat hubungan kalian berdua tetap abadi untuk selamanya.
Tak berapa lama kemudian kaisar Xiaoyu mulai memudar dan hilang untuk selama-lamanya, sementara itu Dewi giok dan Nien Chu tiba tiba saja merasakan gairah yang sangat besar di tubuhnya, gairah yang ingin memiliki satu dengan yang lainnya.
"Apa yang terjadi denganku, mengapa aku tak dapat menahan rasa ini, rasa yang membuatku ingin melakukan hubungan suami istri dengan Nien Chu," batin Dewi Giok sambil mengeluarkan kekuatan ranah tingkat dewa yang dimilikinya untuk menepis rasa itu, akan tetapi kekuatan ranah Dewa yang dimilikinya seperti terkunci dan tak dapat digunakan olehnya.
Di sisi lain, Nien chu pun merasakan hal yang sama, rasa yang tak bisa ditepisnya hingga diapun meminta bantuan inti api surgawi dan rubah putih yang ada di dalam Dantiannya, akan tetapi kedua kekuatan besar yang ada di dalam dantiannya itu tak merespon panggilannya, mereka seperti terkunci dari apapun yang berada di luar Dantian Nien Chu.
Nien Chu dan putri Giok sama-sama tak bisa mengendalikan diri lagi, cadar yang menutupi wajah putri giok pun tersingkap, maka tampaklah wajah cantik nan rupawan di balik cadar yang selama ini menutupi wajahnya.
Nien Chu terbuai dengan keindahan pesona sosok wanita cantik yang ada di hadapannya, yang membuat keduanya pun saling berciuman dengan hangat, hingga ciuman itu semakin lama semakin dalam hingga mereka berdua kesulitan untuk bernafas.
Mereka berdua tak kuasa lagi menahan gairah yang ada, hingga tak terasa pakaian yang di kenakan oleh mereka berdua satu persatu terlepas dan berserakan di tanah.
Nien Chu merebahkan tubuh Putri giok di atas tumpukan bunga-bunga yang berserakan, dan mulai menelusuri leher jenjang wanita muda itu sambil memberikan tanda merah di berbagai tempat sebagai tanda kepemilikan.
Suara nafas yang memburu seketika itu mengisi kesunyian di dalam ruangan besar itu, Nien Chu dengan gagah mulai melakukan tugasnya untuk menuntaskan segala hasrat yang ada.
Bak seorang penunggang kuda, Nien Chu terus memacu kudanya menaiki puncak pendakian gunung tertinggi.
Gerakan yang dilakukan Nien Chu begitu berirama, sehingga membuat Dewi giok perlahan lahan menikmati dan mulai mengimbangi apa yang dilakukan oleh Nien Chu.
Setelah beberapa waktu berlalu pekikan penuh kenikmatan keduanya seketika itu mewarnai kesunyian di dalam ruangan itu, hingga Nien Chu pun terbaring letih di sisi Dewi Giok.
Tak lama kemudian kesadaran mereka berdua kini telah pulih, dengan cepat keduanya menyambar pakaian mereka masing-masing dan memakainya.
Nien Chu tak bisa berkata apa-apa saat Dewi giok mengarahkan pedang terhunus ke arahnya.
"Kau telah menodaiku maka aku akan membunuhmu," ucap Dewi Giok dengan amarah membara di wajahnya.
"Dewi Ini semua bukan kehendak ku, aku tak bisa menepis gejolak itu walaupun aku berusaha untuk tetap melawannya.
Dewi Maafkan aku atas semua yang telah terjadi, dan jika dengan membunuhku kau bisa memaafkan apa yang telah kulakukan kepadamu, maka aku bersedia mati saat ini juga," jawab Nien Chu dengan rasa bersalah di hatinya.
Nien Chu memejamkan matanya, untuk penerima apapun yang akan dilakukan Dewi giok padanya.
Kejadian hari ini anggap saja tak pernah terjadi, karena pemuda sepertimu takkan pantas menjadi pendamping hidupku sampai kapanpun itu.
Nien Chu aku tak pernah menyangka sampah sepertimu yang telah merenggut kesucian ku, jadi kau jangan berharap setelah kejadian hari ini kau akan memilikiku.
Kejadian hari ini aku tak ingin kau menceritakan kepada siapapun, dan jika aku mendengarnya maka hari itu juga merupakan hari kematianmu.
Nien Chu mulai hari ini kita tak ada hubungan apa-apa, dan jika kita bertemu anggap saja kau tak mengenaliku" ucap Dewi giok kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Dewi Giok, tiba-tiba saja kelompok murid berdatangan ke paviliun langit, dan betapa terkejutnya mereka semua setelah melihat jika Nien Chu telah berada disana.
"Cepat serahkan kepada ku jantung es abadi itu, jika tidak aku sendiri yang akan membunuhmu," ucap senior Yilda.
"Aku tak menemukan apapun juga di sini, jika tak percaya kau bisa memeriksaku senior," ucap Nien Chu.
8 murid senior merasa jika memang Nien Chu tak mempunyai jantung es abadi, karena jika dia mempunyai jantung es abadi itu maka mereka semua yang berada di tempat itu bukanlah tandingannya.
"Senior, aku dan Nien Chu mempunyai masalah yang harus di selesaikan hari ini, dan masalah itu hanya bisa diselesaikan di tempat ini," ucap Wang tianyang.
"Akupun mempunyai masalah yang harus diselesaikan dengan Nien Chu, dan kuharap pada senior semua bisa memakluminya," ucap Hyun Micha dengan amarah yang membara di dadanya.
Ke 8 senior mengetahui apa yang diinginkan oleh Wang tianyang dan Hyun Micha, sehingga ke-8 senior itu pun pergi meninggalkan tempat itu dengan memecahkan kristal biru yang ada di tangannya.
Kepergian ke 8 senior diikuti oleh para murid lainnya, dan kini yang tertinggal di tempat itu hanyalah para murid yang mempunyai masalah dengan Nien Chu di tempat itu.
Sementara itu putri Giok yang pergi meninggalkan Nien chu, menghentikan langkahnya saat melihat adanya para murid baru dan murid senior yang memasuki paviliun langit, dia sangat yakin jika para murid tersebut ingin mencari jantung es abadi yang kini telah diserapnya.
Dewi Giok tersenyum saat melihat jika beberapa murid ranah suci tengah berselisih dengan Nien Chu yang menyebabkan mereka ingin membunuhnya, sehingga Dewi giok sangat berharap jika mereka dapat membunuh Nien Chu, karena dengan kematian pemuda itu tak akan ada yang pernah mengetahui rahasia yang pernah menjadi di paviliun langit antara dirinya dan Nien Chu.
"Kurasa kau tak akan bisa selamat dari mereka, karena tingkat kekuatan yang kau miliki tak sebanding dengan mereka bertiga," ucap Dewi Giok dengan senyuman di wajahnya, dia pun memecahkan kristal biru kemudian menghilang dengan kelegaan di hatinya.
*****
Nien Chu kali ini dihadapkan dengan 3 kultivator kuat di hadapannya, dia adalah hyun Micha, Wang ze dan Wang tianyang, yang selama ini menginginkan kematiannya.
"Nien Chu kau takkan bisa lari lagi dari tempat ini, karena tempat ini merupakan kuburan bagi dirimu," teriak Wang ze.
Nien Chu terdiam karena dia mengakui jika dirinya belum sanggup menghadapi ketiganya, itu semua akibat luka dalam yang masih dideritanya, sehingga tak ada pilihan lain bagi dirinya selain menghancurkan kristal biru yang kini berada di dalam genggaman tangannya.
Hyun Micha yang mengetahui jika Nien Chu saat ini tengah menggenggam batu kristal biru agar dapat pergi dari paviliun langit, segera menghantamkan telapak tangannya yang mengandung kekuatan ranah suci, ke arah tangan Nien Chu yang memegang batu kristal biru.
Serangan tiba tiba dari Hyun Micha membuat batu kristal biru yang ada ditangan Nien Chu terlepas dan jatuh ke tanah, dengan cepat Wang ze meraih batu itu dan menghancurkannya ke dinding ruangan.
"Tak semudah itu kau akan pergi dari sini, dan sudah ku katakan di sini merupakan tempat kuburan bagimu maka matilah kau...!!" ucap Wang ze dengan penekanan di perkataannya.
"Kalian memang lebih kuat dariku tapi sayang sekali walaupun kalian memiliki kekuatan yang besar, tak akan mudah bagi kalian untuk membunuhku," jawab Nien Chu.
Mendengar perkataan Nien Chu, membuat Wang ze murka dan menyerang ke arah Nien Chu.
__ADS_1
Serangan Wang ze dapat dihindari dengan mudah oleh Nien Chu, hingga pada akhirnya Nien Chu mengeluarkan pedang penguasa malam dari dalam tubuhnya.
"Wang ze tempat ini bukanlah kuburan bagiku, tapi merupakan kuburan bagimu, dan sudah waktunya kau mati di tanganku," ucap Nien Chu dan langsung menggunakan teknik pedang penguasa malam, 6 rasi Bintang.
Melihat Nien Chu akan menggunakan salah satu teknik terkuat nya, Wang tianyang segera menyerang Nien Chu dengan pedangnya, akan tetapi serangannya seketika itu terhenti saat melihat seekor rubah putih raksasa dengan 3 ekornya yang panjang telah menghadang langkahnya.
"Rubah putih ini bagaimana bisa berada di tempat seperti ini, dan mengapa dia sepertinya melindungi Nien Chu?" batin Wang tianyang bertanya tanya.
Rubah putih seketika itu menyerang ke arah Wang tianyang dengan ketiga ekornya, hingga membuat Wang tianyang sangat kesulitan menghadapi nya.
Hyun Micha tak luput dari sarangan rubah putih berekor 3 tersebut, dengan menembakkan bola cahaya sebesar bola kaki ke arah Hyun Micha, membuat Hyun Micha harus menahan serangan itu dengan pedangnya yang dialiri kekuatan ranah tingkat suci.
Ledakan yang terjadi membuat Hyun Micha terhempas menabrak dinding ruangan hingga hancur, Hyun Micha terduduk sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya, yang menandakan jika saat ini dia telah terluka dalam cukup parah.
Di tempat lain Nien Chu yang telah menggunakan teknik 6 rasi bintang ke arah Wang ze, tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia pun melakukan pembantaian hingga membuat tubuh Wang ze terpotong-potong di berbagai tepat.
Wang tianyang yang tengah bertarung melawan rubah putih berekor 3, tak bisa berkata apa-apa saat melihat tubuh adiknya telah terpotong-potong, dia tak percaya jika Wang tianyang akan mati dengan cara sesadis itu.
"Nien Chu kau telah membunuh adikku maka mulai hari ini kau adalah musuh abadiku," gumam Wang tianyang dan dengan cepat dia pun melesat ke arah Hyun Micha.
Sesaat kemudian mereka berdua pun lenyap karena telah menghancurkan kristal biru yang ada pada mereka berdua.
Nien Chu meraih cincin ruang yang dimiliki Wang ze, dan mendapati kristal biru di dalamnya.
"Aku harus segera pergi dari tempat ini, sebelum mereka berdua mengatakan hal buruk mengenai diriku kepada para guru besar di istana bulan suci," batin Nien Chu.
Nien Chu meraih rubah putih yang telah berubah wujud kembali ke asalnya, dan membawa rubah putih itu ke dalam gendongannya, kemudian Nien Chu memecahkan kristal biru hingga dia pun kini berada di istana bulan suci.
Di istana bulan suci Wang tianyang mengatakan kepada guru besar yang ada jika Nien Chu telah membunuh adiknya, dan melukai Hyun Micha hingga terluka parah.
"Apakah benar kau telah melakukan hal itu Nien Chu?" tanya kepala akademi.
"Aku memang telah membunuhnya, daripada aku sendiri yang akan mati di tangan mereka bertiga.
Mengenai Hyun Micha aku tak melukainya, mana mungkin aku yang berada di ranah alam mampu mengalahkan Hyun Micha yang berada di ranah suci," jawab Nien Chu.
Benar ketua, kami menjadi saksi bagaimana Wang ze, Wang tianyang dan hyun Micha memburu kami semua untuk dibunuh, sehingga kami berempat lebih cepat kembali ke akademi untuk menyelamatkan diri," ucap Nang nan yang di benarkan perkataannya oleh putri Zeng Yi, Guqin dan Jing ci.
"Wang tianyang apakah yang di di katakan Nang nan benar adanya?" tanya kepala Akademi.
Wang tianyang tak bisa berkata apa-apa saat kepala akademi bertanya kepadanya mengenai kebenaran itu, dia hanya diam untuk memikirkan cara menjawab pertanyaan ketua akademi.
Setelah beberapa saat lamanya akhirnya Wang tianyang berkata.
"Ketua apa yang dikatakan mereka itu bohong adanya, kami hanya ingin mendapatkan senjata berkualitas yang mereka dapatkan sedari itu aku mengejarnya, tapi ketua...!, Nien Chu telah melukai Hyun Micha dengan menyuruh rubah putih yang ada padanya itu untuk melukainya!!" jawab Wang tianyang dengan penekanan di perkataannya.
"Wang tianyang kau jangan berdusta seperti itu, mana mungkin berubah sekecil ini mampu untuk melukai Hyun Micha yang merupakan seorang kultivator di tanah suci, ini jelas sekali Jika kau telah berbohong," ucap Nien Chu.
"Ketua, anda bisa memeriksa rubah yang disangka binatang roh yang telah melukai Hyun Micha ini," ucap Nien Chu sambil memberikan rubah yang ada di gendongannya kepada kepala akademi.
Kepala akademi lantas memeriksa rubah putih yang ada padanya.
Dengan kekuatan yang dimilikinya, kepala akademi memeriksa setiap inci tubuh berubah putih tersebut.
Setelah memeriksa rubah putih tersebut maka kepala akademi memutuskan jika rubah tersebut hanyalah binatang biasa, dan bukan tergolong binatang roh seperti apa yang dituduhkan oleh Wang tianyang.
Wang tianyang meremas tinjunya sendiri merasakan kekalahan yang dirasakannya, dia kalah berdebat dan tentunya kekalahannya itu dapat menguntungkan bagi Nien Chu dari segala tuduhannya.
"Dalam hal ini tak ada yang bisa disalahkan, kematian para murid di dalam paviliun langit sudah merupakan resiko bagi mereka yang ingin mendapatkan berbagai macam harta karun di sana.
Untuk luka dalam yang diderita oleh Hyun Micha, pihak balai pengobatan Akademi akan menyembuhkannya, dan bagi Nien Chu dia akan dihukum selama 6 bulan lamanya yaitu diasingkan di sebuah tempat yang tak bisa dikunjungi oleh siapapun.
Ini merupakan keputusan akademi dan tak boleh lagi diganggu gugat lagi," ucap ketua akademi.
Setelah berkata seperti itu, para murid senior segera membawa Nien Chu pergi menuju ke pengasingannya, sementara Wang tianyang menatap kepergian Nien Chu dengan amarah di hatinya.
"Aku akan menyampaikan berita ini kepada ayahku, agar kau menjadi buronan nomor 1 bagi Mision ilahi Nien Chu," batin Wang tianyang.
Setelah itu Wang tianyang meminta izin kepada ketua akademi untuk menyampaikan berita kematian adiknya ke pada sang ayah, dan ketua akademi pun mengiyakan keinginan Wang tianyang itu.
Di Mision ilahi, Wang tianyang menceritakan semua yang terjadi di paviliun langit kepada sang ayah, dan juga menceritakan bagaimana dengan sadis nien Chu membunuh Wang ze adiknya.
Wang Qin ( ketua Mision ilahi) begitu sangat terkejut mendengar cerita dari putranya, akan tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena Nien Chu masih berada di istana akademi bulan suci.
"Putraku, kita tak bisa membunuh Nien Chu untuk membalaskan kematian adik mu selagi dia masih berada di dalam istana akademi bulan suci, karena akademi bulan suci terbentuk semua itu karena peran serta sang Kaisar, dan jika Mision ilahi melakukan penyerangan ke sana maka sama halnya kita bunuh diri, istana mutiara hidup pasti akan melenyapkan Mision ilahi dari wilayah kekaisarannya.
Kita tunggu sampai Nien Chu keluar dari akademi, dan saat itu merupakan kesempatan bagi kita untuk melenyapkannya.
"Baik ayah, aku akan bersabar demi untuk melenyapkannya," jawab Wang tianyang.
Sementara itu, Nien Chu kini di bawah ke pengasingannya yang berupa hutan lebat tanpa adanya seorang manusia pun di dalamnya.
"Nien Chu kau akan berada di tempat ini selama 6 bulan lamanya, kau akan bertahan hidup dan mencari makanan mu sendiri, semua itu agar kau dapat merenungkan kesalahanmu yang telah membunuh Wang ze.
Di ujung barat tempat ini merupakan wilayah para binatang roh berbagai tingkatan, yang dahulunya pernah ditangkap oleh akademi bulan suci dan ditempatkan di sebelah barat hutan ini.
Aku tak ingin kau mengusiknya dengan pergi ke sana, karena hal itu sama saja dengan mencari mati, dan kami semua para guru besar yang ada di dalam istana Akademi bulan suci, tak bertanggung jawab akan hal itu karena kami telah memperingatkanmu sebelumnya," ucap seorang tetua yang membawa Nien Chu ke pengasingan nya.
"Baik tetua, aku akan mengingat pesanmu," jawab Nien Chu.
Setelah kepergian sang tetua, Nien Chu segera merebahkan tubuhnya di sebuah batu besar, sementara Yi eng sang rubah putih begitu senang berada di tempat itu, dia pun berlari ke sana dan kemari untuk bermain dengan alam di sekitarnya.
Nien Chu mengingat kembali bagaimana Dewi giok dengan seenaknya mengatakan jika dirinya adalah sampah, yang takkan mungkin bisa mendapatkannya.
"Aku akan buktikan kepadamu, suatu hari kelak kau akan bertekuk lutut di hadapanku, dan meralat lagi perkataanmu mengenai diriku yang kau katakan seorang sampah, ini pasti akan ku buktikan," batin Nien Chu dengan kekesalan di hatinya.
"Lebih baik aku mencari makanan di tempat ini, Karena perutku sudah terasa sangat lapar," batin Nien Chu.
"Yi eng, ayo kita pergi untuk berburu binatang buruan agar kita bisa memakannya," ucap Nien Chu kemudian melesat pergi masuk ke dalam hutan yang diikuti Yi eng di belakangnya.
__ADS_1
Bersambung