
Leluhur lu Ying dan Biyao begitu sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Kepala Desa, karena bagi mereka berdua menceburkan diri di lautan lahar Api merupakan hal bodoh, dan merupakan tindakan bunuh diri.
Keduanya saling berpandangan satu dengan yang lainnya, tak tahu apa yang harus mereka lakukan saat ini.
Leluhur lu Ying kemudian memasukkan tangannya ke dalam lautan lahar Api, tapi yang di rasakan nya membuatnya segera menarik tangannya kembali, air lahar api begitu panas yang hampir saja membakar seluruh tangannya.
"Ini gila...!!, kepala desa benar-benar ingin membunuh kita berdua dengan ulahnya itu, jika dia memang ingin bunuh diri mengapa tak melakukannya dari awal, sehingga kita tak terperangkap di lautan lahar api dengan kedua monster api itu," ucap leluhur Lu Ying.
Biyao yang tadinya merasa gelisah dengan langkah apa yang harus dilakukannya, kemudian mencerna kembali perkataan kepala desa sebelum sang kepala desa melompat masuk ke dalam lautan lahar api.
"Kita telah menemukan jalan menuju istana dasar laut, jika kalian berdua ingin selamat dari kedua makhluk itu maka ikutlah denganku".
Perkataan kepala desa itu selalu menggema di dalam pikiran Biyao. "Sepertinya jalan menuju ke istana dasar laut adalah dengan melompat masuk ke dalam lautan lahar api ini, tak mungkin kepala desa berfikir sempit dengan melompat kedalam lautan lahar api jika tidak ada tujuannya. Kepala desa memang kurang ajar, dia meninggalkan teka-teki sebelum kepergian nya," batin Biyao.
"Saudara Lu Ying, aku akan masuk ke dalam lautan lahar api ini, jika kau masih ingin di sini maka persiapkanlah dirimu untuk bertarung dengan kedua monster itu," ucap Biyao kemudian meloncat masuk ke dalam lautan lahar api.
Leluhur lu Ying sangat terkejut dengan tindakan nekat Biyao yang seenaknya saja meloncat masuk ke dalam lautan lahar yang membara, akan tetapi diapun tak ingin berada sendiri di atas perahu tua, di temani kedua monster api yang kini mulai bergerak.
Dengan berteriak sekuat tenaga, Lu Ying pada akhirnya melompat ke dalam lautan lahar api.
Lu Ying begitu sangat terkejut saat tiba di dalam lautan lahar api, yang dirasakannya bukannya panas melainkan dinginnya air sungguhan, diapun dapat melihat perahu yang mengambang di atas permukaan air, dan juga dapat melihat Kepala Desa dan Biyao yang kini berada di depan gerbang sebuah istana megah, Lu Ying benar-benar tak menyangka jika ada ilusi yang sangat kuat sampai-sampai dirinya dan Biyao tak mampu untuk mendeteksinya.
Lu Ying kemudian menatap ke arah kepala desa, dia tahu jika kepala desa telah mengetahui jalan untuk masuk kedalam lautan lahar api, tapi sang kepala desa tak memberitahunya.
Apa yang di lakukan kepala desa membuat lu Ying merasa kesal, yang membuat lu Ying segera menuju ke arah kepala desa dengan tinju yang telah dialiri tenaga dalam.
Kepala desa tak bergerak dari tempatnya berada, Dia hanya mengisyaratkan agar lu Ying menghentikan tindakannya karena ada segel peledak yang akan aktif bila Lu Ying mengeluarkan kekuatan energi tubuhnya.
Lu Ying segera menghentikan tindakannya saat melihat isyarat dari kepala desa, dan saat melihat ke sekelilingnya lu Ying mengetahui jika banyak segel peledak yang berada di tempat itu, yang bisa saja menghancurkan mereka bertiga beserta Istana tempat keberadaan leluhur Yeiyi, jika semua segel meledak secara bersamaan.
Lu Ying mulai memperhatikan Biyao yang tengah menetralkan semua segel yang berada di tempat itu, dia hanya diam menunggu Biyao selesai mengerjakan tugasnya.
Di tempat lain, pertarungan udara telah di menangkan oleh para naga bersayap, dan saat ini para naga bersayap tengah mengejar pasukan terbang Nien Chu yang dipimpin oleh Virgion.
__ADS_1
Seluruh petinggi pasukan terbang yang bersembunyi di awan sihir yang telah diciptakan oleh pangeran Xi Xio, merasa senang karena sebentar lagi ratusan ribu naga bersayap akan masuk ke dalam perangkap yang mereka ciptakan.
Akan tetapi rasa senang itu tiba-tiba saja sirna setelah mendengar teriakan ratusan ribu elang putih raksasa, yang membuat para naga bersayap menghentikan pengejarannya.
Pangeran Xi Xio merasa geram melihat hal itu, dia tak menyangka jika elang putih raksasa dapat mengetahui adanya perangkap yang telah dia ciptakan olehnya, sehingga pangeran Xi Xio memerintahkan untuk melakukan penyerangan langsung kepada naga bersayap dan burung elang putih raksasa.
Awan sihir pun menghilang, yang membuat mereka semua langsung menyerang ke arah pasukan terbang menara bulan, sehingga pertempuran udara pun terjadi.
Sementara itu, Nien Chu yang masih bertarung dengan ketua Yo liang, tak menyangka jika ketua menara bulan itu mampu mengimbangi setiap Serangan yang dilakukannya, walaupun Nien Chu telah menggunakan kekuatan teratai kaca ilahi untuk menghancurkannya.
Kembali jual beli serangan tercipta, pedang mereka berdua saling beradu di udara hingga menimbulkan percikan bunga api yang menandakan jika kekuatan keduanya masih berimbang.
Kecepatan mereka berdua seperti bayang-bayang, yang hanya memperlihatkan sekelebatan bayangan hitam yang saling serang di antara mereka dua.
Di tempat lain Biyao telah berhasil menghancurkan segel yang membelenggu istana dasar lautan, mereka pun masuk ke dalam dan menemukan leluhur Yeiyi yang telah merubah dirinya menjadi sosok seorang wanita yang menatap penuh amarah kepada mereka bertiga.
Kepala desa begitu sangat terkejut melihat penampakan sosok wanita muda di hadapannya, wanita yang sangat cantik dengan umur yang sebaya dengan Han Huang, sekitar 18 tahun.
Lu Ying segera maju ke depan yang diikuti dengan Biyao, sementara kepala desa memilih diam di tempat nya berada, karena dia tahu jika wanita muda yang terlihat cantik itu begitu sangat menakutkan Jika dia telah marah.
"Dan aku rasa kau belumlah sepikun itu sehingga tak mengenali kami berdua," timpal Biyao.
Yeiyi kemudian mengernyitkan alisnya, dan menatap kedua laki-laki di hadapannya itu silih berganti.
"Bukankah kau Lu Ying...!, dan kau Biyao..!, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Yeiyi.
"Tuan muda Nien Chu yang merupakan putra tuan muda kita Thien Yu, menyuruhku untuk menjemputmu di istana dasar laut ini," ucap lu Ying.
"Tuan muda Thien Yu telah mempunyai seorang putra?, bagaimana rupanya? apakah dia sama tampannya seperti tuanku Thien Yu?" tanya Yeiyi bertubi tubi.
"Dia sangat tampan, dan wajahnya sama persis dengan ayahnya, jika kau melihatnya maka kau tak akan bisa membedakan mana ayah dan mana anak, yang jelas semua sifat dan perilakunya sangat mirip dengan ayahnya," jawab Biyao.
Leluhur Yeiyi begitu sangat senang mendengarnya, dan dia pun dapat melupakan sejenak semua amarah yang selama ini membelenggu hatinya, selama terkurung di istana dasar lautan.
__ADS_1
"Saudariku, kami sengaja menemuimu karena tuan muda Nien Chu memerlukan bantuanmu," ucap Biyao.
"Apa yang dia inginkan dariku?" tanya Yeiyi.
"Saat ini tuan muda tengah bertarung melawan Yo liang, dan pasukan elang putih raksasa begitu tangguh bagi pasukan terbang yang dimiliki tuan muda, dan kuharap saudari Yeiyi bisa membantunya," jawab Lu Ying.
Seketika itu juga amarah Yeiyi meluap, dia tak menyangka telah melatih seorang murid yang akan menghancurkan dirinya dan alam cahaya rembulan, dengan semua kekuatan yang telah diturunkan kepadanya.
Mengetahui hal itu, pada akhirnya Yeiyi memilih untuk mengikuti ketiga praktisi beladiri yang menjemputnya, untuk pergi ke medan pertempuran antara pasukan Nien Chu dan pasukan menara bulan.
Dengan menunggangi burung elang putih raksasa, mereka berempat menuju ke menara bulan.
Sementara itu pertarungan antara Nien Chu dan ketua Yo liang mulai menampakkan hasil siapa yang lebih unggul dari pertarungan mereka itu.
Nien Chu dengan kekuatan teratai langit 7 warna dapat membuat ketua Yo liang mulai terdesak, dengan seringnya ketua Yo liang menghindari serangan teratai Langit tujuh warna, tanpa mau beradu kekuatan dengannya.
Semua itu karena beberapa kali ketua Yo liang beradu kekuatan dengan Nien Chu, selalu saja dirinya mengalami keterpurukan dengan hilangnya sebagian energi tubuh yang di milikinya, karena tersedot oleh kekuatan yang dimiliki oleh nien Chu.
"Kekuatan apakah yang berada di belakang teratai yang memancarkan cahaya pelangi itu, sehingga setiap kali aku beradu kekuatan dengannya Aku selalu merasakan adanya kekuatan besar yang menarik seluruh kekuatan yang kumiliki, sehingga aku sangat sulit untuk mengembalikan kekuatan ku yang telah di serapnya," batin ketua Yo liang.
Sementara di angkasa, pertempuran udara sangat sengit di antara kedua belah pihak sehingga menimbulkan banyak korban berjatuhan di kedua belah kubu.
Saat pertarungan sengit itu terjadi, tiba-tiba saja elang putih raksasa kini berbalik menyerang ke arah naga bersayap, yang membuat pasukan naga bersayap langsung porak poranda dibuatnya.
Semua yang ada di kubu pangeran Xi Xio begitu sangat heran dan bertanya-tanya dengan fenomena yang terjadi, mereka semua tak menyangka jika pasukan burung elang Putri raksasa yang sangat tangguh, kini malah berbalik menyerang kearah kubu musuh.
Namun semua pertanyaan itu menjadi sirna setelah Lu Ying dan Biyao menampakkan diri, dan mengisyaratkan bahwa leluhur Yeiyi yang telah melakukan hal itu.
Melihat isyarat itu, pangeran Xi Xio segera memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan naga bersayap sampai seakar akarnya.
Di tempat lain, penasehat menara bulan bersama tuan muda Yo kang, begitu sangat terkejut melihat elang putih raksasa malah membelok dan menyerang pasukan terbang naga bersayap, hal itu membuat sang penasehat menjadi geram dan semakin memperbesar pusaran hitam di langit, sehingga naga bersayap semakin banyak yang keluar dari dalam pusaran itu.
Leluhur Yeiyi menatap pertarungan yang terjadi antara Yo liang dan Nien Chu, saat leluhur Yeiyi ingin masuk kedalam pertarungan yang terjadi, Biyao segera menahannya.
__ADS_1
"Biarkan tuan muda yang menyelesaikannya," ucap Biyao.
Bersambung.