
3 tahun telah berlalu, hubungan antara pangeran Zeng Wu dan Yihan semakin dekat, apalagi hubungan mereka berdua sangat di dukung oleh tetua Wong Chen dan kaisar Zeng Gong, hal itu membuat pangeran dan Yihan semakin giat berlatih bersama, di bawah bimbingan sang guru, tetua Wong Chen.
Saat ini tingkat kultivasi pangeran Zeng Wu sudah berada pada tingkat ranah alam, sementara Yihan sudah berada pada tingkat ranah Roh.
Saat ini kaisar Zeng Gong sudah menyerahkan kedudukan kaisar pada putra mahkota, karena kaisar Zeng Gong ingin memfokuskan diri untuk menembus ranah suci.
1 Minggu lagi pelantikan putra mahkota akan di laksanakan, dan hari itu pangeran Zeng Wu meminta izin kepada tetua Wong Chen untuk turun gunung.
"Guru karena saat ini putra mahkota akan dilantik menjadi Kaisar di kekaisaran cahaya naga, maka izinkan aku untuk mengikuti acara pelantikan itu," ucap pangeran Zeng Wu.
"Kau boleh pergi untuk mengikuti pelantikan putra mahkota, dan aku ingin kau tetap mengembangkan apa yang telah kuberikan kepadamu, dan jika ada kesulitan dalam kultivasimu maka kau jangan ragu untuk menemuiku kembali," jawab tetua Wong Chen.
"Trimakasih guru," ucap pangeran Wong Chen.
"Yihan bagai mana denganmu, apakah kau akan pergi bersamaku ke istana cahaya naga?" tanya pangeran Yihan.
"Aku akan tetap di sini untuk menemani guru, dan aku ingin kau tak macam macam saat berada di istana karena ketampanan dan kedudukanmu sebagai pangeran, bisa membuat para wanita di sana tergila gila padamu," jawab Yihan.
"Aku tak akan pernah mencintai seorang wanita selain dirimu, dan suatu hari nanti aku pasti akan kembali ke gunung Wongku, dan pada saat itu aku akan datang untuk melamar mu," ucap pangeran Zeng Wu.
Mendengar janji pangeran Zeng Wu, membuat tetua Wong Chen dan Yihan merasa senang.
Setelah tak ada pembicaraan yang terjadi, tetua Wong Chen akhirnya pergi dari tempat itu menuju ketempat dimana biasa dia bermeditasi.
Malam itu Yihan membantu pangeran Zeng Wu untuk membereskan semua barang-barang sang pemeran, dan juga mempersiapkan segala perbekalan yang akan dibawanya turun gunung.
Saat kebersamaannya itu, entah siapa yang memulai duluan tiba tiba saja mereka berdua saling berpelukan, dan bibir mereka berdua pun saling beradu satu dengan yang lainnya.
Sesaat ciuman itu semakin dalam hingga membuat napas mereka saling memburu.
Satu persatu pakaian mereka terlepas dan berserakan di lantai kamar tanpa mereka berdua sadari, Yihan yang mengetahui jika apa yang akan mereka lakukan itu salah, tak bisa berbuat apa apa karena dia juga terbawa suasana dan menginginkannya.
Karena tak ada penolakan dari Yihan membuat pangeran Zeng Wu semakin gencar dalam melancarkan aksinya, hingga membuat ******* ******* kecil dari mulut Yihan mewarnai ruangan kamar itu.
Dan pada suatu ketika tiba tiba pekikan keras keluar dari mulut Yihan, saat merasakan adanya benda tumpul yang memasuki mahkota yang selama ini di jaganya.
Rasa perih seketika itu di rasakan oleh Yihan, yang membuatnya mencakar bahu pangeran ketiga sambil berkata.
__ADS_1
"Kak Zeng Wu perih," rintih nya.
Mendengar rintihan Yihan, pangeran Zeng Wu segera mengatur irama geraknya secara perlahan, dan setelah melihat Yihan mulai menikmati sensasi kultivasi ganda itu, pangeran Zeng Wu segera mempercepat gerakannya hingga pembaringan yang mereka tempati bergerak seirama dengan gerakan pangeran Zeng Wu.
Dan tak berapa lama kemudian, erangan panjang keluar dari mulut pangeran Zeng Wu, dan secara perlahan gerakannya pun mulai berhenti.
Pangeran Zeng Wu tergeletak di sisi Yihan yang kini meneteskan air mata.
"Kau menyesal melakukannya dengan ku?" tanya sang pangeran.
"Aku tak menyesalinya, aku hanya takut kau pergi meninggalkan ku setelah kejadian ini," jawab Yihan.
"Aku tak akan mungkin meninggalkanmu, karena aku begitu sangat mencintaimu dan kuharap di masa depan kau adalah wanita yang akan melahirkan anak anakku kelak," ucap pangeran Zeng Wu sambil mendekap tubuh Yihan.
*****
Pagi pagi sekali setelah berpamitan dengan Yihan, pada akhirnya pangeran Zeng Wu turun gunung menuju ke istana cahaya naga.
Sementara itu di dalam sebuah goa, Nien Chu telah berhasil menguasai ke dua tehnik dari pedang penguasa malam.
Sudah waktunya aku memasuki reruntuhan dimana terdapat labirin di dalamnya, karena aku berkeyakinan jika reruntuhan itu terdapat suatu rahasia yang berhubungan dengan ku," batin Nien Chu.
Setelah melakukan segala pertimbangan, pada akhirnya Nien Chu memutuskan untuk masuk ke dalam reruntuhan yang berada di tengah tengah hutan binatang iblis.
Akan tetapi keinginannya itu tak dapat dilakukannya karena api inti surgawi yang ada di dalam dantiannya berkata.
"Nien Chu, lebih baik kau sekarang pergi ke istana cahaya naga, karena firasatku mengatakan akan terjadi hal yang besar di sana," ucap nya.
"Maksud guru?" tanya Nien Chu.
"Aku juga belum tau pasti, Tapi firasatku ini mengatakan jika kejadian itu ada hubungannya dengan mu," ucap api inti surgawi.
Nien Chu terdiam dan mencerna perkataan Sang guru. "Mungkin belum waktunya aku pergi ke reruntuhan bangunan di tengah hutan ini, dan ada baiknya aku pergi ke kota kekaisaran cahaya naga, guna melihat perkembangan yang ada di kekaisaran itu," batin Nien Chu.
Hari itu juga Nien Chu bergegas pergi meninggalkan hutan binatang iblis, yang selama 3 tahun ini dia tempati untuk berlatih, dengan tujuan pergi ke kota kekaisaan saran naga.
Di gerbang kota Nien Chu dapat masuk dengan mudah karena dia masih memiliki lencana pengenal yang di berikan pangeran Zeng Wu 3 tahun yang lalu.
__ADS_1
Kondisi kota kekaisaran saat ini begitu sangat pesat peningkatannya, serikat dagang yang dahulunya pernah dibentuk bersama pangeran ketiga, kini telah menguasai kota dan dikenal di seluruh wilayah ke kaisaran.
Nien Chu begitu takjub dengan perkembangan serikat dagang, dan bangunan Guild yang dahulunya biasa saja, kini menjelma menjadi sebuah bangunan besar layaknya istana, dan berdiri megah di tengah kota.
"Syukurlah serikat dagang masih tetap berjalan dan semakin berjaya. Ada baiknya saat ini aku pergi kerumah makan karena di sana aku bisa mendapatkan informasi tentang apa yang menjadi firasat inti api surgawi, tapi sebelumya aku akan mencari beberapa pakaian untukku pakai dan kusimpan di dalam cincin ruang ku, karena pakaian yang aku kenakan saat ini sudah sangat kusam dan penuh sobekan di sana sini," batin Nien Chu.
Setelah mendapatkan pakaian yang diinginkannya, Nien Chu akhirnya pergi kerumah makan yang cukup besar.
Nien Chu memesan beberapa makanan dan minuman, sambil mendengarkan percakapan para pengunjung rumah makan.
"Ternya benar firasat guru, beberapa hari lagi akan terjadi pelantikan putra mahkota menjadi kaisar, dan saat dimana putra mahkota telah menjadi Kaisar maka akan sulit bagiku untuk membunuhnya.
Jika begitu halnya, malam ini aku akan membunuh putra mahkota," batin Nien Chu.
Sementara itu di istana kekaisaran cahaya naga, tampak sang kaisar begitu sangat senang melihat putranya Zeng Wu telah kembali di istana.
Kaisar Zeng Gong memeluk erat Pangeran ketiga, untuk melepaskan rindu setelah 3 tahun tak bertemu.
"Kau semakin dewasa putraku, aku senang melihatmu telah kembali. Bagaimana hubunganmu dengan Yihan?" tanya sang kaisar.
"Ayah, setelah pelantikan putra mahkota, aku akan membenahi serikat dagang dan setelah itu aku akan melamar Yihan untuk menjadi istriku," jawab pangeran ke 3.
"Aku akan merestui hubungan kalian berdua, jika begitu halnya aku akan menunda keberangkatanku untuk melakukan kultivasi menembus ranah suci, karena aku ingin melihatmu menikah dengan Yihan, dan aku akan mengadakan acara besar besaran yang selama ini tak pernah terjadi di kekaisaran cahaya naga," ucap kaisar Zeng Gong.
"Terimakasih ayah atas semua kebaikanmu terhadapku," jawab pangeran ke 3.
"Putraku pangeran Zeng Wu, kakak mu pangeran Zeng Hong, mempunyai sifat dan karakter yang sangat berbeda dengan mu, dia begitu keras dan pendendam.
Setelah keluar dari dalam perpustakaan untuk berlatih di sana, dia lebih pendiam dan mudah-mudahan dia telah menata diri untuk menjadi seorang kaisar muda, aku ingin kau tetap menjaganya karena hanya kau yang bisa untuk memberikan perlindungan padanya.
Aku tak berharap banyak pada pangeran ke 2 karena pangeran kedua saat ini dantiannya telah hancur, semua itu akibat kesukaannya berjudi hingga dia harus berurusan dengan seorang kultivator kuat, yang dia curangi saat perjudian terjadi," ucap kaisar Zeng Gong.
"Ayah walaupun aku tak begitu cocok dengan putra mahkota, biar bagaimanapun dia tetap saudara ku dan aku berjanji padamu untuk menjaganya," ucap pangeran ke tiga.
Mendengar perkataan dari pangeran Zeng Wu, membuat kaisar Zeng Gong menjadi tenang.
Bersambung.
__ADS_1