Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Pertempuran 1


__ADS_3

Kepala desa, Biyao serta lu Ying, berangkat berlainan arah dengan keberangkatan pasukan yang dipimpin oleh Nien Chu.


"Kepala desa, apakah masih jauh jalan masuk menuju ke istana dasar lautan?" tanya Biyao.


"Masih jauh, jalan yang menuju ke sana masih bermil mil jauhnya dari tempat ini," jawab kepala desa.


Leluhur Lu Ying yang tak sabaran, langsung mengeluarkan kekuatannya hingga mereka bertiga kini berada di depan sebuah lobang yang menuju ke tanah.


"Benar...!!, ini dia lobang yang menuju ke istana dasar lautan," ucap kepala desa.


Sejenak biyao melihat segel yang ada di permukaan lobang kemudian berkata.


"Segel ini berhubungan langsung dengan orang yang membuat segel ini, jika aku menghancurkan segel ini maka yang membuat segel akan mengetahuinya dan pasti dia akan datang ke tempat ini," ucap Biyao.


"Kau tak usaha mengkhawatirkan hal itu, lebih baik kau segera menghancurkan segel ini agar kita bisa segera masuk ke dalam sana, jika ketua menara bulan datang ke tempat ini biar aku yang akan menghadapinya," ucap leluhur Lu Ying.


Tanpa banyak bicara, Biyao kemudian menggunakan keahliannya untuk membuka segel yang ada di permukaan Lobang, dan akhirnya berhasil menghancurkan segel itu.


Sementara itu di menara bulan, ketua Yo liang merasakan jika segel yang di buatnya yang merupakan jalan masuk keistana dasar lautan, telah di hancurkan oleh seseorang yang membuat ketua Yo liang merasa geram.


Ketua Yo liang bangkit berdiri dari kursi kebesarannya, kemudian berkata. "Aku akan membunuh kalian semua," ucap ketua menara bulan itu.


Akan tetapi tiba tiba saja seorang anggota pelindung menara menghadap ketua Yo liang.


"Ketua..., saat ini pergerakan pasukan besar besaran yang di pimpin oleh Nien Chu, telah menuju ke Menara bulan," ucap anggota pelindung.

__ADS_1


"Kurang ajar, ternyata anak muda itu masing ingin bertempur dengan menara bulan..., Segera siapkan seluruh armada tempur menara bulan untuk melakukan peperangan besar," perintah ketua Yo liang.


Maka berangkatlah anggota pelindung menara bulan itu untuk mempersiapkan pasukan besar, sementara penasehat istana telah membuat pusaran gelap di langit, yang menandakan jika pasukan naga terbang siap untuk melakukan pertempuran besar.


Nien Chu berjalan di udara dan berteriak lantang. "Yo liang.., aku ingin bertarung denganmu!!".


Ketua menara bulan begitu tertantang dengan teriakan Nien Chu, dengan cepat diapun menghilang dan kini telah berada di hadapan Nien Chu.


"Akhirnya kau datang juga karena aku sudah tak sabar untuk segera menghancurkanmu," ucap Nien Chu.


"Ha..ha..ha.., nyalimu besar juga anak muda, karena kau berani untuk menantang ku. Aku akan melihat seberapa kuat kemampuanmu sehingga membuatmu berani berhadapan langsung dengan ku," jawab ketua Yo liang.


Nien Chu mengeluarkan pedang penguasa malam dari dalam tubuhnya, aura dingin yang sangat mematikan seketika itu menyebar di udara.


Ketua Yo liang juga mengeluarkan pedangnya, tampak cahaya putih menyilaukan mata keluar dari bilah pedang yang kini berada di genggaman tangan ketua Yo liang.


Satu persatu korban berjatuhan dari kedua kubu yang bertempur, pengikut Nien Chu yang berada di darat tak ragu lagi untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya, dalam menghancurkan pasukan menara bulan yang ada di hadapannya.


Ratusan ribu pasukan menara bulan melepaskan anak panah kearah pasukan darat milik Nien Chu, yang membuat hujan anak panah berada di kubu para penyerang.


Inti api hidup dan inti api surgawi merubah diri menjadi dua ekor ular naga, dan dengan adanya aura panas yang keluar dari tubuh mereka berdua, anak panah yang menghujani pasukan Nien Chu hancur menjadi debu.


Sementara itu, Biyao, leluhur Lu Ying, dan kepala desa pada akhirnya sampai kesebuah lautan lahar api, panas yang di timbulkan lahar api membuat ketiganya harus mengeluarkan tenaga ekstra agar tak meleleh.


Kita tak mungkin menyebrangi lautan lahar api ini, karena suhunya begitu panas dan tak ada alat untuk bisa menyebrang kan kita kesana," ucap leluhur Lu Ying.

__ADS_1


"Bagaimanapun kita harus mencari cara agar dapat menyebrangi lautan lahar ini, jika kita tak berhasil mengemban misi dari tuan muda, maka aku selamanya akan malu berhadapan dengannya," jawab Biyao.


Di saat leluhur lu ying melakukan percakapan dengan biyao, kepala desa berjalan menuju kearah perahu tua yang berada di tepi lautan lahar api.


"Apakah kalian berdua masih ingin berdebat disana," ucap kepala desa yang kini berada diatas perahu tua.


"Aku telah menemukan alat untuk menyebrangi lautan lahar ini, apa yang kalian tunggu ayo cepat ke tempat ini!" perintah kepala desa.


Mau tak mau mereka pun pergi ke tempat ketua desa berada, dan menaiki perahu yang ada di tepi lautan lahar api.


"Perahu apa ini kok bisa tahan dengan panasnya lahar api?" tanya leluhur Lu Ying.


"Tetua bisa menanyakan langsung jika nanti bertemu dengan leluhur Yeiyi," jawab kepala desa yang membuat leluhur lu Ying pada akhirnya terdiam.


Saat perahu melaju pelan menuju ketengah lautan lahar api, tiba tiba saja mereka merasakan adanya pergerakan di bawah perahu, yang membuat Biyao maupun lu Ying langsung memasang kewaspadaannya, hanya kepala desa yang terlihat tenang tenang saja.


"Sepertinya yang bergerak di bawah perahu adalah ular raksasa, ini sangat berbahaya bagi kita jika ular tersebut menghancurkan perahu yang kita tempati ini," ucap Biyao.


"Kau benar saudara biyao, kita harus segera mencari solusi menjauh dari ular raksasa itu, jika tidak akan sangat berbahaya bagi kita," jawab leluhur lu Ying.


Benar saja, kini di hadapan mereka telah muncul dua ekor ular raksasa yang menghadang jalan perahu, tentunya hal itu membuat kepanikan diantara Biyao dan leluhur lu Ying.


Kepala desa yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum, dan berkata.


"Kita telah menemukan jalan menuju ke istana bawah laut, jika kalian ingin selamat dari ular itu maka ikutilah aku," ucap kepala desa kemudian menceburkan diri kedalam lautan lahar api yang panas.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2