Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Tuan muda Han Lan


__ADS_3

Para prajurit yang ada segera mengepung bangunan bangunan yang ada di lumbung gandum, termasuk tempat di mana Thien Yu dan Biyao tengah bermeditasi.


"Bagaimana prajurit, apakah kalian menemukan penyusup itu?" tanya perwira tinggi yang merupakan pemimpin seluruh prajurit.


"Kami tak menemukan kedua penyusup itu perwira," jawab salah seorang prajurit.


"Bodoh!!, kedua manusia itu merupakan kultivator kuat, pastinya sangat mudah baginya untuk bersembunyi hingga kalian semua tak bisa menemukannya.


Aku perintahkan kepada kalian semua untuk membakar semua bangunan di tempat ini," teriak perwira tinggi istana glory itu.


Thien Yu perlahan membuka matanya karena suara perintah sang perwira tinggi untuk membakar semua bangunan di lumbung gandum itu.


"Kalian semua memang ingin mencari mati, baik jika kalian nekat membakar tempat ini maka akupun tak segan segan untuk membinasakan kalian semua," batin Thien Yu.


Api besar seketika itu berkobar saat para prajurit istana membakar bangunan lumbung gandum.


Tak lama berselang, pekik kematian para prajurit istana glory menggema di mana mana, satu persatu prajurit itu tergeletak di tanah dengan tubuh yang bersimbah darah dan tak bernyawa.


Kejadian itu terus berlanjut hingga para prajurit yang ada hanya tersisa segelintir saja.


Perwira tinggi yang menjadi pemimpin para prajurit menjadi ciut nyalinya saat melihat begitu banyak prajuritnya mati, dan tampa diketahui siapa pelakunya.


Dengan alasan itu, membuat sang perwira tinggi segera meninggalkan tempat itu, tapi sayang sebuah segel berbentuk kubus tiba tiba saja mengurung dirinya, hingga dia tak dapat pergi ke mana-mana selain berada di dalam kurungan segel itu.


"Paman Biyao kau berhasil mendapatkan pemimpinnya setelah para prajuritnya mati di tanganku, sekarang apa yang ingin paman lakukan kepadanya?" tanya Thien Yu.

__ADS_1


"Pangeran, tak ada pilihan lain selain menghabisinya, karena itu merupakan cara menghilangkan jejak dari para prajurit istana glory yang akan datang ke tempat ini," jawab Biyao.


Setelah berkata seperti itu, tak lama kemudian segel yang mengurung sang perwira dari istana glory itu makin lama semakin mengecil, dan kemudian hilang tanpa bekas seiring kematian perwira tinggi yang terkurung di dalamnya.


"Pangeran ayo kita tinggalkan tempat ini sebelum para prajurit bantuan dari istana glory datang ketempat ini," ucap Biyao.


Thien Yu menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Biyao.


Dengan menggunakan peta kekaisaran yang ada pada Biyao, Thien Yu melesat mengikuti Biyao yang lebih dulu pergi meninggalkannya.


Ditengah kota terlihat aktivitas mulai normal kembali, pasar besar mulai terbuka dan banyak penduduk yang menjajakan barang dagangan nya, sehingga keramaian kota kembali semarak.


Dengan banyaknya para penduduk yang hilir mudik di tempat itu, mempermudah Biyao dan Thien Yu untuk berjalan di tengah kota apalagi mereka berdua telah mengganti pakaian dan menyamarkan diri mereka masing-masing, layaknya seperti para penduduk kota di kekaisaran Glory.


"Ada baiknya malam ini kita pergi menuju ke negeri di atas awan tempat keberadaan pagoda 9 berada, karena pergerakan di malam hari lebih leluasa dilakukan dari pada bergerak di sore hari.


Di rumah makan itu mereka berdua tak di terima dengan baik oleh para pelayan rumah makan, karena penampilan mereka berdua yang seperti penduduk kota biasa dengan pakaian seadanya, dan bukan dari kalangan menengah keatas seperti para pedagang besar, saudagar, dan para petinggi istana glory, karena memang rumah makan itu merupakan rumah makan yang diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas.


Thien Yu menggertakkan giginya saat seorang pelayan rumah makan itu secara terang terangan mengusirnya, sehingga hampir saja keributan terjadi akibat sikap pelayanan yang begitu kasar kepada Thien Yu.


Untung saja Biyao masih bisa meredam amarah sang pangeran, hingga keributan itu terhindarkan.


Di dalam rumah makan tampak seorang anak bangsawan tengah memperhatikan keributan kecil yang terjadi, dan anak bangsawan itu memanggil Thien yu serta Biyao untuk makan bersamanya.


"Sepertinya kalian berdua bukan berasal dari tempat ini sehingga kalian tak tahu mengenai rumah makan yang kalian masuki ini," ucap pemuda tampan yang merupakan anak seorang bangsawan istana glory.

__ADS_1


"Benar tuan muda, kami memang bukan berasal dari tempat ini, kami berasal dari kota rumpun bambu yang berdekatan dengan Desa batu," jawab Thien Yu.


"Kebetulan aku cuma sendiri dan tak mempunyai teman makan, ada baiknya jika kalian berdua ikut makan bersamaku," ucap pemuda itu.


"Terimakasih tuan muda, suatu kehormatan bagi kami berdua bisa makan bersama anda," jawab Biyao.


Tak lama kemudian mereka bertiga saling memperkenalkan diri, dan pemuda itu memperkenalkan dirinya bernama Han Lan, yang merupakan putra bangsawan Han dari kekaisaran glory.


Setelah saling memperkenalkan diri maka tuan muda Han Lan mempersilahkan Thien Yu dan Biyao, untuk memesan semua makanan yang diinginkannya, setelah itu mereka bertiga pun makan bersama.


Sambil menikmati makanan yang tersaji, tuan muda Han Lan menanyakan tujuan mereka datang ke ibu kota.


"Tuan muda Han Lan, keponakanku ini begitu sangat ingin untuk berlatih di dalam pagoda 9, maka kami berdua pada akhirnya datang ke ibu kota dengan tujuan membawa keponakan untuk mendaftarkan diri agar dapat menjadi murid pagoda 9," ucap Biyao.


"Paman Biyao, untuk masuk ke dalam pagoda 9 apalagi menjadi murid di sana begitu sangat sulit, harus melewati tahapan-tahapan dan penyeleksian murid agar dapat menjadi murid di sana. Selain itu untuk masuk ke wilayah negri di atas awan begitu sangat mustahil terjadi, karena wilayah negeri diatas awan tempat keberadaan pagoda 9 kini telah tertutup segel langit, yang merupakan segel terlarang terkuat yang pernah ada, sehingga siapapun tak akan bisa menembus segel pelindung tersebut walaupun yang membukanya merupakan kultivator yang telah menembus ranah tingkat dewa.


Kebetulan aku akan menuju ke pagoda 9 karena aku merupakan murid di sana, kita bisa berangkat bersama-sama siapa tahu Thien Yu bisa menjadi salah satu murid di pagoda 9," ucap tuan muda Han Lan.


"Trimakasih atas kebaikan hati tuan muda," ucap Thien Yu.


Malam itu Thien Yu dan Biyao menginap di sebuah penginapan bersama tuan muda Han Lan, karena besok pagi mereka bertiga akan pergi menuju ke negeri diatas awan tempat keberadaan pagoda 9 berada.


"Sepertinya Han Lan merupakan orang baik paman, dan kurasa Han Lan adalah pemuda yang mandiri," ucap Thien Yu.


"Kita tak usah menyimpulkan hal baik pada dirinya karena kita belum melihat sepak terjang pemuda itu, pangeran aku akan melihat keberadaan Han Lan di dalam kamarnya, siapa tau dia mempunyai niat buruk kepada kita," ucap Biyao.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2