
Hasil pertarungan yang terjadi belum menemukan titik terang, para panitia penyelenggara masih mengadakan rapat untuk menentukan siapa pemenang dari pertarungan itu, karena dalam pertarungan yang terjadi Nien Chu telah menghancurkan masa depan Li Yu She dengan menghancurkan kultivasinya, di mana aturan dari turnamen melarang keras itu terjadi.
Di sisi lain panitia penyelenggara juga mempertimbangkan masalah ketua Oyang Hong, yang ikut campur dalam pertarungan antara Nien Chu dan Li Yu She.
Saat ini Nien Chu berada di sebuah kamar di balai pengobatan istana, untuk melakukan pemulihan diri akibat pertarungan yang membuatnya terluka dalam.
Tak ada satupun orang yang diperbolehkan untuk menjenguk Nien Chu, semua itu agar Nien Chu dapat segera pulih seperti sediakala.
Ketua desa tak bisa berbuat apa-apa lagi karena balai pengobatan istana sudah menetapkan larangan itu, sehingga dia memilih pergi seorang diri ke tempat kediaman yang diberikan istana kepadanya.
"Seandainya tetua Ancaw tak kembali ke desa mungkin saat ini aku tak sendiri seperti ini, karena kelima murid yang ku bawa mengikuti turnamen tengah berada di balai pengobatan istana untuk memulihkan diri setelah pertarungan," batin ketua desa.
Untuk menepis rasa sepi di dalam ruangan itu, ketua desa lantas melakukan meditasi di tempat itu.
Sementara itu Nien Chu yang masih terbaring di atas pembaringan, dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
"Tok...tok...tok...!" suara pintu kamar di ketuk dari luar.
"Siapa yang telah datang ketempat ini?" batin Nien Chu bertanya tanya.
"Biasanya para alkemis dari balai pengobatan istana yang datang, mereka akan langsung masuk ke dalam kamar ini tanpa mengetuk pintu, tapi mengapa ketukan pintu ini seperti menandakan jika ada orang lain selain alkemis dari balai pengobatan istana yang datang ke kamar ini," batin Nien Chu.
Tak berselang lama suara ketukan pintu berhenti, dan tak lama kemudian gagang pintu pun dibuka dari luar.
"Ceklek...!"
Suara pintu kamar terbuka dari luar, dan tampaklah seraut wajah cantik seorang wanita yang memakai cadar, menampakkan dirinya dari balik pintu.
"Putri Annchi!, mengapa dia datang ke kamar ini?" batin Nien Chu bertanya tanya.
__ADS_1
Putri Annchi berjalan dengan anggun masuk ke dalam kamar Nien Chu, seketika itu aroma wangi harum menyeruak dari tubuh Sang putri, wangi yang begitu memabukkan bagai laki-laki yang mencium aromanya.
"Ternyata kau bernama Nien Chu nama yang tak asing bagiku, karena nama itu mengingatkanku kepada seorang kawan lama," ucap putri Annchi.
"Ternyata kau masih mengingat namaku Putri, tapi mengapa kau mengingkari janjimu 3 tahun yang lalu," batin Nien Chu.
Nien Chu hanya diam mendengar perkataan dari putri Annchi, karena dia tak ingin terpancing dengan perkataan Sang Putri, yang tentunya akan membuatnya berdebat.
Diamnya Nien Chu membuat sang putri berkeyakinan jika yang ditemuinya sewaktu di dalam hutan, merupakan pemuda yang tengah terbaring dihadapannya saat ini.
"Aku sangat yakin jika pemuda ini merupakan pemuda yang kutemui sewaktu di dalam hutan, yang membedakannya hanya bola mata berwarna kuning yang ada padanya. Aku akan memaksa pemuda ini untuk mengakui jika dialah pemuda yang telah secara paksa mengambil cadar yang kukenakan dan mengatakan aku gendut," batin putri Annchi.
"Aku tahu kau merupakan pemuda yang telah lancang kepadaku sewaktu di dalam hutan, dan hari ini kau berada di wilayah kekuasaan ayahku dan untuk itu aku ingin kau mengakui jika kau adalah pemuda itu," ucap putri Annchi dengan keseriusan di wajahnya.
Nien Chu sama sekali tak menggubris perkataan Sang Putri, malah Nien Chu saat ini membalikkan tubuhnya membelakangi Sang Putri, sengaja hal itu di lakukannya agar sang putri semakin marah kepadanya, dan secara tak langsung Nien Chu memberitahu jika memang dirinyalah yang bertemu dengannya sewaktu di dalam hutan.
Apa yang di lakukan Nien Chu benar benar menyulut kemarahan sang putri hingga dia pun berkata. "Ternyata benar pemuda yang ku temui waktu itu adalah kau!!, berani sekali kau berkata jika aku merupakan wanita gendut dan dengan sengaja mencuri cadar dariku!!" bentak putri Annchi.
Muka sang putri memerah menahan amarah dan rasa malu, karena apa yang dikatakan oleh Nien Chu benar adanya. Dengan wajah garang, putri Annchi mencoba menyangkal apa yang dikatakan oleh pemuda yang ada di hadapannya itu.
"Aku tak pernah melakukan seperti apa yang telah kau katakan!!, Aku mau makan, aku mau tidur, Aku mau apalah..., itu urusanku!!, cepat kembalikan cadar yang kau curi dariku itu!!" bentak putri Annchi.
"Baik..., aku akan mengembalikan cadar yang ku ambil darimu, asalkan dengan satu syarat yaitu aku ingin melihat satu senyuman manis darimu untuk ku," jawab Nien Chu dengan kembali tersenyum kepada sang putri.
"Kau....!!, berani sekali kau berkata seperti itu padaku, jika kau tak memberikan cadar yang kau ambil dariku maka jangan salahkan aku jika di pedang ini yang akan berbicara!!" ucap putri Annchi melampiaskan kekesalannya.
Pedang sang putri telah terhunus dan kini berada di leher Nien Chu.
Nien Chu mengangkat kedua tangannya yang menandakan Jika dia menyerah dan tak ingin melakukan perlawanan. "Putri jika kau membunuhku maka ku pastikan arwahku selalu akan menghantuimu, karena aku mati penasaran oleh seorang wanita yang sangat ku kagumi," jawab Nien Chu dengan ketenangannya.
__ADS_1
Putri Annchi semakin gerah dan kesal dengan semua tingkah pemuda yang ada di hadapannya.
Kini pedang yang berada di leher Nien Chu perlahan lahan menembus kulitnya, maka darah segar seketika itu menetes dari luka sayat yang diderita oleh Nien Chu.
"Cepat berikan atau pedang ini akan semakin dalam merobek lehermu!!" teriak sang putri.
Bukannya takut, Nien Chu malah memejamkan matanya seperti dia telah rela mati di tangan putri Annchi.
"Aku tak pernah melihat pemuda yang sangat berani kepadaku seperti Nien Chu, apakah dia benar-benar sudah gila sehingga dia menjadi seperti ini?" batin sang putri.
Tiba tiba seorang alkemis muncul dari balik pintu dan berteriak lantang. "Apa yang kau lakukan putri, mengapa kau ingin membunuh pemuda yang merupakan peserta turnamen bela diri. Jika yang mulia tau dan seluruh penduduk yang ada di kekaisaran dataran langit mendengar jika kau telah melakukan hal buruk padanya, maka kedudukanmu sebagai seorang putri akan dicap jelek oleh mereka semua," ucap Alkemis itu.
Putri Annchi menarik pedang yang menempel di leher Nien Chu, dan memasukkan pedang itu kembali ke dalam cincin ruang yang dimilikinya.
Tanpa bicara sepatah kata pun sang putri membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
"Tunggu..!!, teriak Nien Chu.
Teriakan Nien Chu sontak membuat putri Annchi menghentikan langkahnya, dan berbalik kan badan kearah Nien Chu.
Nien Chu mendekati sang putri, kemudian memberikan cadar yang pernah diambilnya dari putri Annchi.
"Cadar ini sangat berkesan bagiku, karena ini kepunyaanmu maka cadar ini akan ku kembalikan kepadamu," ucap Nien Chu sambil memberikan cadar sang putri yang ada padanya.
Putri Annchi lantas meraih cadar yang diberikan Nien Chu kepadanya, kemudian kembali membalikkan badan dan melangkah pergi dari tempat itu.
"Luka yang kau berikan padaku hari akan ku ingat selalu, sampai jumpa kembali putri...," teriak Nien Chu.
Putri Annchi tak menggubris perkataan Nien Chu dia terus berlalu pergi, sementara itu Alkemis muda yang menyaksikan hal itu, berkeyakinan jika telah terjadi percintaan yang sangat rumit antara Nien Chu dan putri Annchi.
__ADS_1
Bersambung