
Kompetisi yang telah resmi diadakan dan disahkan langsung oleh ratu Yan Ling, membuat para penonton sangat antusias dengan pertarungan yang sebentar lagi akan terjadi.
Jendral Gonglang melesat dari podium utama menuju ke arena pertarungan, menggantikan Ratu Yan Ling yang telah kembali ke podium utama.
Jendral Gonglang memanggil dua orang yang akan melakukan pertarungan perdana di atas arena, dia adalah perwira tinggi Chu Tian yang juga merupakan kekasih dari putri Yan Chi, dan seorang kultivator muda dari klan Zhao.
Dua orang pemuda berdiri saling berhadapan, dan jenderal Gonglang dengan bijaksana menyampaikan aturan yang berlaku di atas arena pertarungan.
"Pertarungan ini untuk mencari siapa juara dari kompetisi yang diadakan oleh pangeran Thien Yu, kalian boleh bertarung menggunakan senjata apapun yang kalian miliki, apakah itu perupa senjata rahasia dan teknik terlarang yang kalian punyai, tapi ingat jangan sekali-kali membunuh lawan tarung yang sudah tak berdaya, dan jika ada dari salah satu petarung yang keluar dari arena pertarungan, maka pemenang daripada pertarungan itu akan didiskualifikasi dan dinyatakan gagal untuk mengikuti pertarungan pertarungan selanjutnya, apakah kalian paham dengan apa yang ku katakan ini?" tanya jendral Gonglang.
"Kami paham jendral," ucap mereka berdua.
"Bagus, untuk pertarungan kalian berdua ku nyatakan dimulai," ucap jendral Gonglang kemudian keluar dari dalam arena pertarungan.
Setelah jendral Gonglang keluar dari dalam arena pertarungan, maka seluruh arena langsung berselimutkan segel pelindung yang sangat tipis hingga kedua petarung dapat terlihat jelas dari luar area.
Chu Thien segera melakukan serangan ke arah pemuda dari klan Zhao, hingga membuat pertarungan yang ada berubah menjadi jual beli serangan yang sangat menghibur bagi para penonton yang ada.
Tehnik tombak milik Chu Tian dapat imbang menghadapi tehnik pedang angin dari klan Zhao.
Hingga beberapa waktu berlalu, kini terlihat pemuda dari klan Zhao perlahan lahan mulai terdesak, hingga pada satu titik pemuda dari klan Zhao berteriak lantang.
"Badai angin beliung.."
Tak hayal lagi gelombang angin susul menyusul langsung tertuju kearah Chu Tian, hingga membuat Chu Tian berjumpalitan di udara untuk menghindari serangan dahsyat yang dilakukan pemuda dari klan Zhao itu.
Chu Tian tak mau kalah dia pun membalas serangan yang dilakukan oleh lawan tarungnya itu, dengan teknik tombak yang tak kalah kuatnya.
__ADS_1
"Tehnik seribu tombak" teriak Chu Tian kemudian menebaskan tombaknya dari atas kebawah, maka pemuda dari klan Zhao merasakan tubuhnya seperti tertimpa beban yang sangat berat, hingga tubuhnya sangat sulit untuk di gerakkan.
Tiba tiba saja terlihat di langit lingkaran yang sangat besar dan bercahaya, tak lama kemudian dari dalam lingkaran itu keluar ribuan tombak yang bertubi tubi menghujam kearah pemuda dari klan Zhao.
Melihat bahaya yang akan mengancamnya, membuat pemuda dari klan Zhao itu mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk dapat terbebas dari belenggu yang menekannya, Dengan kekuatan alam emperor yang di milikinya, pemuda dari klan Zhao itu dapat terbebas dari belenggu itu, tapi sayang ribuan tombak yang menuju ke arahnya berhasil membuat pemuda dari klan Zhao tak berdaya, dia pun terkapar di atas arena pertarungan.
Tumbangnya pemuda dari klan Zhao membuat Chu Tian memenangkan pertarungan dan berhasil melaju ke babak selanjutnya.
Tepuk tangan dan sorak sorai penonton mewarnai kemenangan Chu Tian, dia berjalan dengan gagah di atas arena dengan wajah yang sedikit didongakan ke atas.
Tiba tiba Chu Tian menunjuk ke arah Tribun peserta yang akan bertarung, dimana Feng Yu yang menjadi target telunjuknya.
Para penonton semakin bersorak melihat peristiwa singkat itu, isyarat yang di lakukan oleh Chu Tian merupakan bahasa tantangan untuk Feng Yu agar bersiap menghadapinya di arena pertarungan.
Sementara itu ratu Yan Ling yang sangat tau kedekatan putranya dengan Feng Yu akhirnya bertanya kepada putranya. "Thien'er apa yang membuatmu membawa Feng Yu untuk mengikuti pertarungan ini?" ucapnya.
"Ibu ratu, kurasa ibu ratu telah mengetahui penyebabnya mengapa aku membuat kompetisi besar ini dengan hadiah yang begitu luar biasa, semua itu kulakukan karena aku ingin semua orang tau jika kakakku Feng Yu bukanlah seorang sampah yang bisa di remehkan, melukai hatinya berarti mereka juga menyukai hati hatiku, dan ajang kompetisi ini akan membuktikan kembali kekuatan hebat yang dimiliki Feng Yu," jawab Thien Yu.
"Ibu, aku tau batasan ku, dan aku tak akan turun tangan langsung terhadap putri Yan Chi. Ibu juga harus ketahui, aku dan Feng Yu telah melewati suka dan duka kehidupan semasa kecil hingga remaja, dan aku tak ingin kita berdebat lagi tentang masalah ini karena akan membuat suasana menjadi tak hangat lagi," jawab Thien Yu dengan pandangan yang menuju ke arah arena pertarungan.
Ratu Yan Ling tau jika putranya saat ini tengah menahan amarahnya, setelah putri Yan Chi memutuskan ikatan pertunangan dengan Feng Yu.
Sang ratu pun terdiam, dia tak membahas lagi permasalahan yang ada karena hal itu akan memicu amarah putranya semakin meluap.
Di arena pertarungan terlihat putri Yan Chi berhasil memenangkan pertarungannya dengan sempurna, dan kini giliran Feng Yu naik keatas arena pertarungan untuk melakukan pertarungan melawan panglima perang kekaisaran pheonix, yang akan menjadi lawan tarungnya kali ini.
Feng Yu naik keatas arena pertarungan, tanpa sedikit pun di sambut satupun tepuk tangan maupun sorak-sorai para penonton, karena para penonton selama ini mengetahui jika pemuda yang akan melakukan pertarungan di atas arena, merupakan pemuda sampah yang tak mempunyai kekuatan sama sekali karena kultivasinya telah lenyap.
__ADS_1
Panglima perang yang merupakan kultivator kuat dan juga orang yang di unggulkan juara dalam kompetisi yang diadakan, mendapatkan tepuk tangan dan sorak Sorai dari penonton, hingga tiba waktunya mereka berdua untuk bertarung.
Dalam pertarungan kali ini Feng Yu terlihat sangat tenang, tak ada sedikitpun rasa takut di wajahnya.
Putri Yan Chi begitu sangat mencemaskan Feng Yu, biar bagaimanapun pemuda itu pernah ada di hatinya, dan selama bersama Feng Yu tak pernah sekali pun Feng Yu berlaku kasar maupun menyakiti hatinya.
Mengigat hal itu putri Yan Chi semakin gelisah, apalagi saat melihat panglima perang istana Phoenix mulai melakukan serangan terhadap Feng Yu.
Panglima perang istana langit langsung mengeluarkan kekuatan tangan kosong yang di aliri Qi tingkat tinggi untuk menyerang Feng Yu, dan sama sekali Feng Yu tak melakukan serangan balik dia hanya menghindar dan berkelit ke sana dan kesini.
Apa yang dilakukan Feng Yu membuat sang panglima geram, karena merasa jika Feng Yu telah mempermainkannya di dalam pertarungannya kali ini.
Amarah sang panglima semakin meluap mengingat dirinya saat ini tengah di tonton oleh semua petinggi istana pheonix.
Dengan amarahnya, sang panglima melakukan gerakan cepat yang sukar dilihat oleh mata biasa dan menghantamkan tinjunya ke arah Feng Yu.
Dan tanpa di duga duga oleh sang panglima Feng Yu dapat mengetahui gerakannya, hingga membuat Feng Yu memutar tubuhnya sedikit ke samping, dan melakukan gerakan dorong dengan kedua telapak tangannya ke belakang tubuh Sang panglima yang di aliri kekuatan kejut tingkat tinggi.
Alhasil sang panglima kehilangan keseimbangannya dan terdorong ke depan hingga keluar dari dalam arena pertarungan.
Semua orang yang menyaksikan hal itu tak bisa berkata-kata, mereka semua bungkam melihat kemenangan singkat yang di dapatkan oleh Feng Yu karena berhasil membuat sang panglima keluar dari dalam arena pertarungan.
Sang panglima tak puas dalam pertarungannya, rasa malu yang teramat sangat menyelimuti hatinya karena kalah bertarung melawan pemuda yang tak memiliki kultivasi sama sekali.
Dia pun naik ke atas arena pertarungan dan melakukan serangan mematikan ke arah Feng Yu.
Jendral Gonglang yang ingin mencegah sang panglima menyerang Feng Yu, tiba tiba menghentikan gerakannya karena mendengar suara pangeran pheonix menggema di telinganya.
__ADS_1
"Paman Gonglang biarkan pertarungan terus berlanjut, Aku ingin melihat kemampuan kakak ku Setelah dia mendapatkan dantian barunya," ucap suara sang pangeran, yang membuat jenderal Gonglang terdiam di tempatnya berada.
Bersambung