
Anchen tersenyum melihat Nien Chu tengah melakukan kultivasi di dalam ruangan itu.
"Aku akan menghancurkan kultivasi mu setelah kebohongan yang telah kau lakukan pada desaku," ucap Anchen dengan mengumpulkan seluruh kekuatan yang berpusat di tangan kanannya.
"Hari ini kau akan jadi pemuda kota yang tak mempunyai kemampuan apa-apa, kau akan diasingkan oleh orang-orang di sekitarmu karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang kultivator yang tak mempunyai Dantian," batin Anchen dengan senyuman di wajahnya.
Anchen dengan tanpa rasa bersalah langsung menghantamkan telapak tangannya ke arah perut Nien Chu, dengan kekuatan terkuat yang dimilikinya, dengan tujuan menghancurkan Dantian yang ada di tubuh Nien Chu.
Apa yang terjadi tak seperti dengan apa yang ada di dalam pikiran Anchen, karena tiba tiba saja telapak tangan yang di aliri kekuatan terkuatnya malah balik menyerang kearah dirinya sendiri, hingga membuat Anchen terpental dan menabrak dinding ruangan itu dengan keras hingga hancur berkeping keping.
Anchen memuntahkan darah segar dari mulutnya, yang menandakan jika dirinya saat ini tengah terluka dalam yang sangat parah.
Melihat kakaknya terluka Anchu segera menyuruh pemuda desanya untuk menyerang Nien Chu secara bersama-sama.
"Apa yang kalian lihat, cepat bunuh pemuda itu mumpung dia tengah melakukan kultivasi," perintah Anchu yang membuat seluruh pemuda seketika itu menyerang kearah Nien Chu dengan senjata yang ada di tangan mereka masing-masing.
Tiba tiba saja cahaya berwarna putih keluar dari dalam tubuh Nien Chu, yang membuat para penyerang terpental jauh ke belakang.
Tampak di depan mereka sesosok makhluk menyeramkan berbulu putih, dengan tiga ekor yang berada di belakangnya.
"Binatang roh..., mengapa binatang kuat seperti ini bisa berada di dalam desa, dan dia sepertinya yang telah melindungi Nien Chu dari serangan kakakku tadi," gumam Anchu.
Dengan cepat Anchu melesat untuk menyambar tubuh Sang kakak, kemudian dia berteriak lantang. "Cepat tinggalkan tempat ini...!!" teriaknya.
Seluruh pemuda Desa segera pergi menjauh dari rubah putih ekor 3, akan tetapi rubah putih ekor 3 tak membiarkan mereka melarikan diri setelah apa yang mereka lakukan pada Nien Chu.
__ADS_1
Beberapa kali bola energi di tembakan dari mulutnya, hingga menimbulkan ledakan keras yang membuat beberapa pemuda terhempas hingga jatuh ke tanah dan tak bergerak lagi.
Siansan dan Zhurui yang tadinya bertarung kini menghentikan pertarungannya, karena melihat rubah ekor 3 telah mengamuk kepada seluruh pemuda desa.
Banyak pemuda desa yang menjadi korban dari amukan rubah putih ekor 3, yang sepertinya ingin menghancurkan Desa pesisir pantai tersebut.
Ketua desa dan beberapa tinggi desa yang datang ke tempat itu begitu sangat terkejut melihat adanya binatang roh kuno yang mengamuk di dalam desa, sehingga membuat mereka semua mencoba untuk menghalangi rubah putih ekor 3 agar tak menghancurkan desa, dan tak semakin banyak memakan korban penduduk desa.
Ketua desa segera mengeluarkan teknik andalannya yaitu hukum kehampaan ke arah binatang roh kuno rubah putih ekor 3, yang diikuti pembentukan formasi dari para petinggi desa yang juga ingin membantu ketua Desa dalam menaklukkan binatang roh kuno itu.
Kedua kekuatan menyatu dan menyerang bersama-sama ke arah rubah putih ekor 3, yang membuat rubah putih menggeluarkan cahaya dari ke 3 ekornya, dan tak lama kemudian sebuah bola energi di tembakan kearah dua kekuatan besar yang mengarah padanya.
Formasi yang dibuat para petinggi desa tak mampu mengatasi serangan dari bola energi rubah putih berekor 3, malahan petinggi Desa banyak yang terluka akibat formasi yang dibuatnya hancur oleh keganasan rubah kuno tersebut.
Begitupun dengan tehnik kehampaan yang dibuat oleh ketua desa, juga tak mampu meredam keganasan rubah putih, yang membuat ketua desa saat ini hanya dapat menyuruh seluruh penduduknya untuk menjauh dari rubah putih ekor 3.
Bola energi yang akan ditembakkannya kali ini lebih kuat dari bola energi sebelumnya, yang mana kekuatan bola energi itu mengeluarkan aura panas yang sangat menindas, sehingga membuat pepohonan yang ada di tempat itu langsung mengering dan terbakar.
Disaat keterpurukan warga desa, Zhurui segera melesat ke hadapan rubah putih ekor 3 dan berteriak lantang.
"Aku adalah Zhurui..., dan aku merupakan sahabat dari Nien Chu seperti halnya dirimu.
Apa yang kau lakukan hari ini akan membuat Nien Chu bersedih, karena Nien Chu menyukai desa ini!.
Yi eng, apa yang terjadi hari ini merupakan kesalahpahaman belaka, dan di sini ada ketua desa yang akan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antar penduduk desa dan Nien Chu.
__ADS_1
Jika kau masih ingin menyerang penduduk desa maka aku akan menghalangimu, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk itu," teriaknya.
Yi eng yang mengetahui jika pemuda yang ada di hadapannya merupakan sahabatnya Nien Chu, seketika itu menghilangkan serangan bola energi dari mulutnya, dan merubah tubuhnya kembali menjadi rubah putih kecil yang imut dan lucu, kemudian rubah putih itu berlari ke arah Nien Chu yang tengah berkultivasi, dan duduk di dekatnya sambil mengawasi seluruh penduduk desa yang ada di tempat itu.
Ketua desa dan petinggi desa Akhirnya bisa bernafas lega, Jika saja rubah kuno itu menembakkan kekuatan bola energi ke arah mereka semua, bisa saja mereka semua kini hanya tinggal nama.
Setelah rubah putih kembali ke wujud aslinya, Zhurui segera melesat ke arah Nien Chu yang tengah berkultivasi, kemudian berdiri membelakangi Nien Chu untuk mengantisipasi serangan sembunyi-sembunyi dari para penduduk desa.
Ketua desa memberanikan diri berjalan ke arah Zhurui, dan berkata.
"Dapat kah kita berdua berbicara, karena ada hal penting yang ingin kutanyakan kepadamu," ucap ketua desa.
"Aku tak akan berbicara kepada anda ketua sebelum anda menyelesaikan apa yang telah terjadi, sehingga penduduk desa datang beramai ramai untuk menyerang Nien Chu.
Jika hal itu belum ketua lakukan maka lebih baik ketua pergi dari sini," ucap Zhurui sambil membalikan badannya membelakangi ketua Desa.
Ketua desa menarik nafasnya dalam-dalam, dan merasakan kejadian hari ini merupakan dampak dari perkataan Anchu yang memprovokasi pemuda desanya, sehingga mereka semua melakukan penyerangan terhadap Nien Chu.
"Aku ingin kalian membawa Anchu ke hadapanku secepatnya," perintah ketua desa sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
Beberapa penduduk desa membawa beberapa penduduk yang telah mati akibat amukan rubah putih, dan segera menyusul ketua desa meninggalkan tempat itu.
Siansan hanya dapat menatap ke arah Zhurui dengan tatapan yang sulit diartikan, kemudian pemuda itupun pergi meninggalkan kawasan rumahnya yang telah hancur, mengikuti para penduduk desa yang membawa beberapa penduduk desa yang telah mati.
Zhurui menatap ke arah Nien Chu, dan berkata dalam hati.
__ADS_1
"Apakah kau masih akan lama melakukan kultivasimu, sementara diluar sini telah terjadi masalah besar yang merugikan warga desa. Nien Chu cepatlah kau menyelesaikan semua yang telah terjadi agar para penduduk desa tak sepenuhnya menyalahkan mu atas semua kejadian ini," ucap Zhurui.
Bersambung