Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Thien Yu terluka


__ADS_3

Putri Meyling terus mengedarkan pandangannya sekeliling untuk mencari keberadaan ibunya. "Sepertinya ibu telah pergi dari tempat ini, dan kurasa dia telah berada di menara abadi.


Putri Meyling melesat pergi menuju ke menara abadi ketempat kediaman tetua Cinsyin. Di sebuah taman di kediaman tetua Cinsyin putri Meyling melihat ibunya tengah merenung disana.


Kehadiran putri Meyling sontak mengagetkan sang tetua, dia tau jika putrinya akan membicarakan tentang Thien Yu yang memiliki darah emas di tubuhnya.


"Ibu..!! aku ingin mengetahui mengapa ibu sengaja menghalang halangi hubunganku dengan Thien Yu, dan sengaja memprovokasi agar aku meninggalkannya?" tanya putri meyling dengan penekanan di nada suaranya.


"Putriku, posisiku sebagai tetua dewan tertinggi menara abadi saat ini telah hancur, orang orang telah mengetahui jika kau adalah putriku dari hubunganku dengan ayahmu yang merupakan seorang petinggi di menara hijau.


Aku tak ingin kau pun mengalami nasib yang sama seperti ibumu, di musuhi oleh seluruh alam cahaya rembulan karena menikahi seorang manusia, maka aku melarangmu untuk dekat dengan Thien Yu" jawab tetua Cinsyin sambil melangkah kearah putrinya.


"Tapi Thien Yu bukanlah manusia murni ibu!!, jika saat itu ibu tak menghasut ku untuk meninggalkannya mungkin aku dan Thien Yu masih tetap bersama, tapi mengapa setelah ibu mengetahui jika thien Yu bukanlah manusia murni ibu tak segera mengatakannya padaku dan memilih diam, hingga saat ini aku malu untuk bertemu dengan Thien Yu ibu" ucap putri Meyling.


"Maaf kan ibu nak," jawab tetua Cinsyin sambil mencoba meraih tubuh putri Meyling.


Putri Meyling menepis tangan tetua Cinsyin sambil berteriak histeris. "Selama ini aku mencoba bersabar saat ibu meninggalkanku sewaktu aku masih kecil dan mengakui ku hanya sebagai murid, bukan sebagai anak kandung ibu, hingga semua orang yang berada di alam cahaya rembulan mengenalku sebagai muridmu. Tapi kali ini ibu sudah sangat keterlaluan, ibu telah menghancurkan kebahagiaanku saat aku ingin bersama dengan orang yang kucintai, aku benci ibu...!!" pekik putri Meyling dengan berlinangan air mata dan segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.


Tetua Cinsyin hanya dapat pasrah dengan keadaan, matanya terus memandangi kepergian putrinya tanpa bisa berbuat apa apa.


Tetua Cinsyin begitu sangat menyesali semua yang telah terjadi, dengan cepat tetua Cinsyin menyusul putrinya karena takut jika putri Meyling bertindak di luar batas akibat keterpurukannya (bunuh diri).


Di tempat lain, Sang cahaya yang telah mendapatkan kekuatan dari 6 menara, dengan cepat menyerang Yeiyi dengan sambaran petir yang seperti cambuk keluar dari kedua tangannya, hingga membuat Yeiyi bekali kali melakukan salto di udara guna menghindari serangan dari sang cahaya.

__ADS_1


Serangan dari sang cahaya begitu kuat, yang mampu untuk menghancurkan apapun di sekitarnya termasuk perisai pelindung yang di berikan Yeiyi pada Thien Yu.


Perisai itu retak besar di berbagai tempat karena tersambar petir dengan kekuatan maha dasyat. Thien Yu pun keluar dari dalam perisai dan melakukan serangan tinju Naga Giok kearah sang cahaya.


Naga hitam meluncur deras kearah sang cahaya hingga membuat sang cahaya menapakkan tangan kirinya kedepan. Serangan dari sang cahaya membentuk telapak tangan raksasa yang langsung menyambut serangan kuat dari Thien Yu.


"Boom..!!"


Kedua energi beradu di udara yang membuat ledakan besar, gelombang kejut dari ledakan tersebut membuat Thien Yu terpental jauh kebelakang.


Sesat thien Yu memuntahkan darah segar dari mulutnya akibat serangan dari sang cahaya yang telah berada di tingkat kultivasi ranah alam emperor puncak tertinggi.


Tindakan nekat Thien Yu begitu mengejutkan Yeiyi. Dengan cepat Yeiyi melesat kearah Thien Yu untuk memberi pertolongan padanya.


"Bodoh..!!, dengan ranah kekuatan yang kau miliki sekarang kau hanya akan mengantarkan nyawamu, dia merupakan seorang kultivator setingkat Dewa karena telah mencapai ranah tingkat alam emperor abadi, apa lagi saat ini dia telah mendapatkan energi tambahan dari para ketua 5 menara, yang pastinya kekuatannya akan semakin bertambah kuat," ucap Yeiyi.


Tiba tiba saja sebuah serangan petir mengarah kearah mereka berdua yang membuat Yeiyi menapakkan tangannya ketanah. Apa yang di lakukan Yeiyi membuat tanah dan bebatuan menyembul keatas guna menahan serangan yang di lesakkan sang cahaya.


Akibatnya ledakan kembali terjadi, yang membuat tanah dan bebatuan hancur sehingga bertebaran di udara.


"Thien Yu kau pergilah dari sini, jika kau tetap disini aku mungkin tak akan sanggup untuk melindungimu," ucap Yeiyi.


Sesaat Thien Yu menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya, dan diapun menganggukkan kepalanya kemudian melesat pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga Thien Yu terus berlari meninggalkan Yeiyi yang tengah bertarung, hingga konsentrasi nya buyar akibat rasa pusing yang teramat sangat di kepalanya.


Sesampainya di pinggir anak sungai, Thien Yu tersungkur dan tak sadarkan diri akibat luka dalam yang di deritanya.


Putri Meyling yang juga berada di pinggir anak sungai merasa terkejut dengan sosok pemuda yang sangat di kenalnya, pemuda yang tengah terbaring di pinggir sungai itu merupakan sosok pemuda yang kini selalu dalam pikirannya.


"Thien Yu..!!" pekiknya.


Dengan cepat putri Meyling melesat kearah Thien Yu dan memeriksa keadaannya.


Thien Yu terluka dalam, denyut nadinya sangat lemah, aku harus membawanya pergi dari sini," bisik putri Meyling.


Putri meyling melesat pergi sambil membawa Thien Yu bersamanya, menuju kesebuah goa yang aman dari bahaya serangan binatang buas.


Terlihat tetua Cinsyin memperhatikan putrinya yang tengah membawa Thien Yu dari kejauhan, tak ada sedikitpun niat untuk menemui mereka berdua. "Syukurlah kau baik baik saja putriku, aku begitu sangat mengkhwatirkan mu," batin tetua Cinsyin.


Di dalam goa Putri Meyling mengeluarkan beberapa pil dari dalam kotak penyimpanannya, kemudian memasukkan pil pil itu kedalam mulut Thien Yu, lalu mengalirkan energi murninya agar pil pil tersebut dapat tercerna dengan cepat oleh tubuh Thien Yu.


Setelah merasa cukup, putri Meyling pergi mencari kayu bakar yang akan dibuat api unggun, guna menghangatkan tubuh Thien Yu.


Saat membersihkan wajah Thien Yu, betapa putri Meyling tak kuasa menahan air matanya, bagaimana tidak pemuda yang dulunya dekat dengannya kini seakan begitu jauh dan tak bisa digapai nya, walaupun saat ini Thien Yu begitu sangat dekat dengan dirinya.


Putri Meyling memandangi wajah Thien Yu lekat lekat dan berkata "Walaupun aku tak bisa memilikimu tapi namamu masih akan selalu tersimpan di hatiku, mungkin hari ini adalah hari terakhir aku bersamamu Thien Yu, setelah hari ini aku akan pergi jauh mengikuti langkah kaki ku untuk menjauh darimu. Rasa bersalah dan rasa malu sudah begitu besar dan tak mungkin mendapatkan maaf darimu, Thien Yu aku pergi...," bisik putri Meyling dan dengan cepat pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kepergian putri Meyling, Thien Yu pun tersadar dan melihat sekelilingnya. "Siapa yang membawaku ke tempat ini?" batin Thien Yu.


Sesaat Thien Yu merasakan aroma wangi harum semerbak di udara, dia begitu sangat mengenal wangi harum itu, "Meyling, apakah dia yang membawaku ketempat ini?" bisik Thien Thien Yu.


__ADS_2