
Nien Chu harus mengakui jika wanita yang ada di hadapannya itu merupakan wanita yang sangat cantik dan menawan, Selain itu wawasan dan kecerdasannya juga tak diragukan lagi, sehingga suatu keberuntungan bagi Nien Chu untuk menikahinya.
"Mengapa kau ingin aku menikahimu sementara kita baru saja saling kenal?" tanya Nien Chu.
"Aku punya hati yang dapat merasakan siapa yang pantas untuk menjadi ayah dari anak-anakku kelak, aku sudah menyukaimu dari saat pertama kita bertemu, dan sebuah keberuntungan bagiku jika kau ingin menikahiku," jawab putri Xiang'er.
Nien Chu tersenyum dengan perkataan wanita cantik yang ada di hadapannya itu, dan tak lama kemudian keakraban pun terjalin diantara mereka berdua.
Hari hari berlalu selama menghimpun kekuatan di alam cahaya mentari, Nien Chu semakin dekat dengan putri Xiang 'er yang membuat leluhur Lu Ying merasa sangat senang.
Leluhur lu Ying bukanlah orang yang tak tau terimakasih dengan permintaannya yang di kabulkan Nien Chu, Leluhur lu Ying kemudian membangkitkan kembali para ketua dan tetua klan ular, dari klan ular danau hitam sampai klan ular danau hijau, semua itu untuk membantu Nien Chu dalam mewujudkan keinginan Nien Chu dalam membangun kekuatan besar di alam cahaya mentari, walau pun Lu Ying harus kehilangan setengah kekuatan yang di milikinya untuk membangkitkan para pejuang di masa lalu itu.
Kebahagiaan lu Ying membuat nya tak kenal lelah dengan trus membangun kekuatan di alam cahaya mentari, hingga terwujudlah satu kekuatan besar dari para pejuang di masa lalu.
Setelah istana matahari di bangun kembali, maka pernikahan Nien Chu akhirnya terlaksana.
Xian'er begitu cantik dan mempesona dengan pakaian pengantinnya, sampai sampai Nien Chu begitu takjub melihatnya.
Semua orang begitu senang menghadiri pernikahan itu, tanpa di sangka sangka oleh seluruh undangan yang memadati acara pernikahan itu, tiba tiba saja 3 buah cahaya terang yang menyilaukan mata seketika itu muncul di hadapan sepasang pengantin.
Lu Ying yang tak ingin jika acara pernikahan itu kacau karena tamu yang tak di undang, membuatnya langsung mengeluarkan pedangnya untuk menyerang ke 3 tamu yang tak di undang itu, namun saat melihat sosok laki laki diantara dua sosok lainnya, pedang di genggaman lu Ying pun terlepas dan tubuhnya bergetar dengan hebat.
Lu Ying langsung berlutut memberi hormat kepada laki laki itu dan berkata.
"Yang mulia..., ini merupakan suatu kehormatan bagi kami karena yang mulia berkenan hadir untuk memberikan restu kepada kedua mempelai," ucap lu Ying.
"Bangkitlah lu Ying..., Nien Chu adalah putraku dan kebahagiaannya hari ini merupakan kebahagiaanku juga, aku pasti akan memberikan restuku pada putraku dan calon istrinya," jawab kaisar langit kemudian mendatangi Nien Chu dan memeluknya.
Dewi Yun Shi menghampiri putri Xiang'er, dan memberikan gelang giok kepalanya.
"Kau sekarang telah menjadi putriku karena telah menikah dengan putraku Nien Chu, Xiang 'er aku ingin kau menjaganya dengan baik".
"Perjalan kehidupan ini penuh dengan lika liku, mungkin kalian tak akan selalu bisa bersama tapi itu hanya sementara saja, di dalam tubuhmu mengalir darah raja naga dari leluhurmu lu Ying, dan kau pun bisa tinggal di nirwana bersama kami jika hari itu telah tiba".
"Xiang'er kau merupakan wanita yang mempunyai kecerdasan dan wawasan yang luas, aku ingin dengan semua pemikiran yang ada padamu, kau bisa ikut dalam peperangan besar yang melibatkan semua ras yang ada di alam dunia," ucap Dewi Yun Shi.
"Aku akan membantu suami ku dalam peperangan itu, dan terimakasih ibu karena ibu Dewi telah hadir dalam pernikahanku," jawab putri Xiang'er.
Dewi Yun Shi kemudian menaruh jari telunjuknya kearah kening putri Xiang'er, dan tiba tiba saja sang putri merasakan sebuah pengetahuan besar dalam taktik berperang.
Mengetahui jika dirinya mendapatkan anugerah besar dari Dewi Yun Shi, putri Xiang'er langsung memberi hormat padanya.
Setelah banyak nasehat yang di berikan kaisar langit kepada Nien Chu, kini giliran Zaiya yang juga hadir di dalam pernikahan itu untuk memberikan selamat.
"Adik.., selamat..., aku ikut senang kini kau telah mempunyai seorang istri yang cantik, dan cerdas".
"Ini merupakan kado dariku untuk kau dan istrimu, bunga ini tak akan pernah mati dan layu, jika kau menaruhnya di dalam kamar maka keharuman yang tercipta akan memberikan kehangatan dalam bercinta," ucap Zaiya.
Xiang'er yang diam diam mendengar percakapan kakak dan adik itu, membuatnya merasa malu karena percakapan keduanya telah menjurus kearah hubungan badan suami istri.
Malam semakin larut, kaisar langit dan rombongannya akhirnya kembali ke nirwana.
__ADS_1
Xiang'er telah duluan masuk ke dalam kamar pengantin, sementara Nien Chu masih berbincang bincang dengan leluhur lu Ying.
"Tuan muda, ada baiknya kau segera masuk ke dalam kamar pengantin, tentunya istrimu saat ini tengah menunggumu," ucap leluhur lu Ying.
"Baik.., jika begitu aku mohon diri," jawab Nien Chu.
Di dalam kamar pengantin, putri Xiang'er telah menunggu Nien Chu dengan segala pemikiran tentang melayani suaminya dengan baik dan tak mengecewakan.
Nien Chu membuka pintu kamar dan menutupnya kembali, tampak terlihat putri Xiang'er tengah duduk di pinggir tempat tidur.
Dia pun lalu berjalan menghampiri sang putri dan duduk di sisinya.
Nien Chu kemudian menyikap tirai yang menutupi wajah wanita yang telah menjadi istrinya itu, dan tampak wajah malu malu terlihat di sana.
Nien Chu kemudian mengangkat dagu sang putri agar sang putri menengadah kearahnya.
"Mengapa kau tertunduk seperti itu, dan tak ingin menoleh kearah ku?" tanya Nien Chu.
"Kak Nien Chu, aku adalah seorang wanita, hari ini merupakan hari pertamaku bersama seorang pemuda berdua di dalam kamar dan sedekat ini, aku malu kak," jawab putri Xiang'er.
"Untuk apa kau malu, aku sekarang adalah suamimu yang akan menjadi teman hidupmu selamanya, kau pun harus selalu menemaniku di kala suka dan duka dan selalu ada untuk menghibur dan menenangkan ku di saat keterpurukan melanda padaku, karena kau sekarang adalah pelengkap dan bagian dari hidupku," ucap Nien Chu.
Putri Xiang'er terdiam, dia tau apa yang harus di lakukannya saat ini, yaitu melayani suaminya dengan penyerahan diri sebaik baiknya. Diapun mengesampingkan rasa malu karena yang ada di hadapannya saat ini merupakan suami yang telah sah baginya.
Putri Xiang'er kemudian berdiri di hadapan Nien Chu, sesaat sang putri tersenyum manis kemudian mulai melepaskan pakaiannya satu persatu di hadapan Nien Chu.
Walaupun Nien Chu telah berulang kali telah melihat pemandangan indah seperti yang terlihat di hadapannya, akan tetapi Nien Chu tetap merasa berdebar seperti baru pertama kali melihat hal indah yang menakjubkan di hadapannya itu.
Putri Xiang'er sengaja melakukan gerakan gerakan yang mengundang gairah, semua itu di lakukannya untuk menyenangkan hati suami yang sangat di cintainya itu.
Apa yang di lakukan putri Xiang'er membuat Nien Chu tak dapat menahan dirinya, diapun membawa sang putri dalam dekapannya.
Nien Chu mulai menikmati inci demi inci gunung Mahameru yang sedari tadi menantangnya, dengan gerakan gerakan lembut dari bibirnya.
Dengan posisi duduk di tepi pembaringan, Nien Chu begitu leluasa melakukan apapun pada kedua gunung Mahameru yang ada di hadapannya itu.
Satu persatu tanda merah mulai tercipta, dan terus berlanjut seakan Nien Chu tak ada puasnya memberikan tanda merah itu, yang baginya tanda merah itu merupakan tanda kepemilikan.
Nien Chu semakin liar yang membuat sang putri tak kuasa menahan sensasi luar biasa yang tercipta, diapun hanya bisa merintih dan menggigit bibirnya sendiri, sambil tangannya tak henti hentinya meremas rambut Nien Chu.
Tangan Nien Chu mulai sedikit bermain main di sekita sumur tua dengan ilalang yang tumbuh dengan subur disana, yang membuat sang putri seperti terdorong untuk melakukan gerakan gerakan seiring dengan permainan nakal Nien Chu di sana.
Dan saat Nien Chu semakin dalam memainkan jari jemarinya yang semakin lama semakin berirama, tiba tiba saja pekikan keras pun terdengar yang membuat tubuh sang putri mengejang menahan kepuasan hati yang sedari tadi bergejolak di dalam hatinya.
"Kak Nien Chu, aku dapat," ucap putri Xiang'er tertunduk dan kembali merasa malu dengan apa yang telah terjadi.
Nien Chu sangat mengerti apa arti perkataan dari istri cantiknya itu, dengan segera diapun meraih tubuh putri Xiang'er dan merebahkannya di atas pembaringan.
Nien Chu segera menempatkan posisinya, dan secara perlahan tonggak hidup miliknya di tancapkan secara perlahan pada sumur tua yang penuh dengan ilalang lebat.
Teriakan tertahan terdengar dari mulut Sang Putri saat sebuah benda tumpul menembus tubuhnya, rasa sakit tiba-tiba dirasakan olehnya yang semakin lama semakin perih, namun sang putri tetap bertahan untuk tak menghiraukan rasa sakit itu, karena melihat wajah suaminya yang di penuhi dengan kebahagiaan.
__ADS_1
Nien Chu mulai melakukan perjalanan dengan menunggangi kuda menuju ke puncak gunung tertinggi.
Gerakan berirama mewarnai pendakian itu, yang membuat sang putri berkali-kali mendapatkan kepuasan hatinya.
Putri Xiang'er benar-benar tak berdaya saat Nien Chu mulai memacu kudanya dengan sangat cepat, dia hanya berharap jika pemuda yang tengah memacu kudanya dapat segera sampai pada tujuannya, karena dirinya saat ini telah merasa lelah dan letih.
Tiba tiba saja erangan panjang keluar dari mulut Nien Chu, yang menandakan jika Nien Chu telah mencapai puncak gunung tertinggi yang di ditujunya, sehingga laju kudanya mulai melambat dan berhenti sesaat.
Nien Chu mengatur napasnya kembali untuk menenangkan dirinya, dan tak lama kemudian Nien Chu kembali memacu kudanya secara perlahan, untuk mengulang kembali pendakian yang telah di lakukan sebelumnya.
Putri Xiang'er tak menyangka jika pemuda yang telah menjadi suami itu sedemikian perkasanya, sehingga dia mampu melakukan pendakian ke puncak gunung tertinggi untuk kedua kalinya.
Walaupun lelah dan letih, putri Xiang'er terus mengimbangi pergerakan yang semakin lama semakin cepat menerpa tubuhnya.
Setelah beberapa waktu lama, akhirnya pemuda itu terkulai lelah di sisinya.
Sesaat Nien Chu memberikan kecupan hangat di kening sang istri, dan tak lama kemudian mereka berdua pun tertidur dengan lelapnya.
Dini hari putri Xiang'er terbangun dari tidur nya, dia pun tersenyum-senyum sendiri sambil menatap wajah pemuda tampan yang kini masih terlelap di pembaringan.
Sang putri merasa sangat bahagia karena telah memberikan sesuatu yang paling berharga pada pemuda yang sangat dicintainya itu.
Dengan perlahan sang putri turun dari pembaringan dengan maksud membuatkan sarapan pagi bagi suaminya.
"Hari ini Nien Chu telah sah menjadi suamiku, dan aku harus mulai membiasakan diri sebagai istri dengan memberikan pelayanan baginya termasuk membuatkan sarapan pagi," batin putri Xiang'er.
Sang putri mulai memasak hingga pagi pun tiba dan Sang Putri telah menyelesaikan membuat masakan bagi Nien Chu.
Putri Xiang'er buru-buru segera pergi membersihkan diri, karena dia tak ingin Jika suaminya terbangun dan melihatnya dengan tampilan yang kurang mengenakan mata.
Sang putri berdandan secantik mungkin, agar sang suami saat terbangun akan merasa senang bila melihatnya.
Putri Xiang'er tersenyum saat melihat suaminya masih tertidur lelap, diapun lalu mengeluarkan semua makanan yang berada di dalam keranjang yang dibawanya ke atas meja, setelah itu diapun duduk di sisi pembaringan untuk menunggu Nien Chu terbangun.
Nien Chu perlahan membuka matanya saat mencium aroma wangi harum yang sangat segar di sekitarnya, di hadapan Nien Chu tampak sesosok wanita cantik tengah berada di sisi tempat tidurnya, dan Nien Chu tau jika sumber wangi harum itu berasal dari tubuh wanita itu.
Nien Chu kemudian memeluk sang wanita dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Kak Nien Chu bersihkanlah dirimu, aku telah mempersiapkan sarapan pagi buat mu," ucap putri Xiang'er.
"Pagi ini yang aku inginkan adalah memakan mu, karena s pagi ini kau begitu menggoda bagiku," ucap Nien Chu kemudian kembali mengulang peristiwa semalam.
*****
Nien Chu berpamitan dengan leluhur lu Ying, karena hari itu dia ingin pergi ke alam cahaya rembulan.
Putri Xiang'er akan ikut dengan Nien Chu, karena rasa sayang Nien Chu padanya sehingga membuat Nien Chu tak ingin sedikitpun jauh dari wanita cantik yang telah menjadi istrinya itu.
Portal menuju alam cahaya rembulan pun terbuka, Nien Chu dan putri Xiang'er akhirnya masuk kedalam portal menuju ke alam cahaya rembulan.
Bersambung
__ADS_1