
Malam semakin larut, dan udara dingin mulai merembes masuk dari lobang lobang atap bangunan yang telah rusak.
Senior Juliang yang di kuasai hawa nafsu, terus melakukan aksinya dengan melepaskan pakaian yang di kenakan oleh putri Zeng Yi.
Namun tiba tiba suara kesakitan keluar dari mulut senior Juliang.....
"Ackh ...!!"
Pekikan keras seketika itu keluar dari dalam mulut senior Juliang, saat merasakan tangan nya seperti tertusuk duri akibat meremas daerah terlarang yang sangat sensitif di tubuh putri Zeng Yi, hingga membuat senior Juliang melompat kebelakang sambil memegangi telapak tangan kananya yang mulai membiru.
"Ha..ha..ha.., kau telah terkena racun penghancur saraf dari baju artefak langit pemberian dari ayahku!!, senior Juliang yang terhormat umurmu tak akan kurang dari setengah jam lagi, karena racun yang bersarang di tubuh mu saat ini akan menggerogoti setiap saraf penting yang ada di tubuhmu.
Juliang ....!!, aku merupakan putri tunggal dari penguasa kekaisaran cahaya naga, ayahku telah membekali ku dengan baju pelindung artefak langit saat aku menuju ke wilayah ke kaisaran mutiara hidup, karena ayahku tak ingin kejadian seperti ini menimpaku, dan sangat naas bagimu karena kau akan mati," ucap putri Zeng Yi.
"Kurang ajar!!, kau sengaja mempermainkanku dengan berpura pura lemah, sehingga aku menjadi lengah dan tak memperhatikan adanya artefak langit di tubuhmu.
Zeng Yi aku tak ingin mati sendiri aku akan membawamu ikut serta bersamaku ke alam baka," pekik senior Juliang.
"Mati bersamamu itu tak akan mungkin karena sudah terlambat bagi mu untuk membunuhku, karena untuk bergerak saja kau sudah tak mampu lagi," jawab putri Zeng Yi dengan senyum kemenangan.
Apa yang di katakan putri Zeng Yi benar adanya, saat ini senior Juliang hanya bisa terduduk di tempatnya berada, tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya.
Senior Juliang hanya bisa tertunduk lesu menyesali keadaan, jika dia tak begitu nekad untuk menodai putri Zeng Yi, mungkin hal ini tak akan pernah menimpanya dan dirinya pasti masih bisa dapat hidup lebih lama lagi. Saat ini senior Juliang hanya bisa pasrah menunggu ajal, karena racun penghancur syaraf telah menjalar di seluruh tubuhnya.
*****
Nien Chu telah berada di paviliun langit, dan dia mendapati banyak sekali bekas bekas pertarungan di depan Paviliun langit.
"Di mana kah keberadaanmu putri," batin Nien Chu yang begitu mengkhwatirkan putri Zeng Yi.
Nien Chu terus berjalan masuk kedalam paviliun langit, dan tiba tiba saja dia merasakan adanya pergerakan di dekatnya, sehingga membuat Nien Chu langsung mengeluarkan pedang penguasa malam, untuk melakukan penyerangan kearah yang di curigainya.
__ADS_1
"Tunggu Nien Chu, ini kami!!" teriak Nang nan.
"Kalian bertiga ada di sini, terus dimana putri Zeng Yi?" tanya Nien Chu.
Putri Zeng Yi tengah bersama senior Juliang, karena adanya penyerangan dari naga bertanduk petir sehingga kelompok yang ada terpecah menjadi dua bagian," jawab Guqin.
"Nien Chu, setelah kau masuk ke dalam jurang hal itu membuat putri Zeng Yi ingin pergi mencarimu kedasar jurang, akan tetapi senior Juliang telah menotok tubuhnya hingga sang putri tak bisa bergerak.
Kami semua ingin menolong Putri, tapi apa daya tingkat kekuatan kami yang masih terlalu rendah dari senior Juliang, membuat kami tak bisa berbuat banyak sehingga membuat kami akhirnya mengikuti senior Juliang sampai ke tempat ini.
Nang na terus menceritakan apa yang terjadi setelah berada di dalam paviliun langit kepada Nien Chu, dan hal itu membuat Nien Chu semakin khawatir terhadap Sang Putri, karena didalam pikiran Nien Chu senior Juliang bisa saja melakukan hal buruk adanya.
"Ayo kita cari putri Zeng Yi," ucap Nien Chu.
"Baik Nien Chu," jawab mereka bertiga.
Pada akhirnya mereka bertiga menelusuri bangunan Paviliun langit, tempat di mana terakhir kali mereka melihat senior Juliang bersama putri Zeng Yi.
Saat melihat Nien Chu dan teman-temannya, membuat harapan putri Zeng Yi yang tadinya pasrah dengan keadaan, kini kembali hidup.
"Kak Nien Chu, cepat lepaskan totokan yang ada di tubuhku," ucap putri Zeng Yi.
Nien Chu segera melepaskan totokan yang ada di tubuh Sang Putri, yang membuat sang putri langsung memeluk tubuh Nien Chu untuk menghilangkan rasa takut dan tegang yang selama ini dirasakannya.
"Kau jangan menangis lagi karena aku sudah berada di sini, maafkan aku karena telah membuatmu cemas," ucap Nien Chu kepala Sang Putri agar membuatnya tenang kembali.
"Nien Chu, senior Juliang telah mati, apa yang harus kita lakukan pada mayat?" tanya Guqin.
"Biarkan saja dia berada di situ, lebih baik kalian mengeluarkan isi di dalam cincin ruangnya, siapa tahu di sana banyak tersimpan sumber daya berupa pil obat, untuk kita pakai disaat kita membutuhkannya," jawab Nien Chu.
"Naik Nien Chu," ucap Nang nan singkat.
__ADS_1
Nang nan segera mengikuti perintah Nien Chu, dengan mengeluarkan semua isi di dalam cincin ruang yang dimiliki oleh senior Juliang.
Benar saja, di dalam cincin ruang senior Julian terdapat berbagai macam pil obat, tumbuhan roh dan berbagai macam bahan-bahan untuk melakukan pemurnian pil obat.
Nang nan memberikan semua bahan-bahan itu kepada Nien Chu, dan Nien Chu segera menyimpan barang-barang tersebut ke dalam cincin ruang yang dimilikinya.
"Ayo kita melanjutkan perjalanan untuk mencari harta karun di dalam paviliun ini," ucap Nien Chu.
"Baik Nien Chu, dan mulai sekarang kau adalah pimpinan dari kelompok ini," jawab Nang nan.
Kelima kultivator muda itu langsung menelusuri bagian terdalam dari paviliun langit, dan pada akhirnya mereka mendapatkan ruang penyimpanan senjata milik Kaisar mutiara hidup terdahulu.
"Nien Chu, senjata-senjata itu masih tersegel di dalam pola yang tersusun secara acak, aku sendiri tak mengerti bagaimana cara untuk membukanya. Nien Chu bagaimana kita untuk dapat mengambil barang-barang tersebut, jika ada pala yang tak dapat kita aktifkan untuk membuka segel tabung itu," ucap Jing ci.
Nien Chu terdiam, dan berusaha untuk mengartikan huruf-huruf aksara kuno yang melindungi senjata-senjata itu, di dalam sebuah tabung segel yang menutupi nya.
Karena Nien Chu tak mengerti tentang aksara kuno yang terbentuk di dalam pola acak di hadapannya, pada akhirnya Nien Chu pun bertanya pada Sang guru mengenai pola aksara kuno yang ada di hadapannya.
"Guru, apakah engkau mengetahui bagaimana cara untuk membuka segel tersebut, sementara huruf-huruf aksara kuno dalam membuka segel tersebut baru kali ini kulihat," ucap Nien Chu.
"Nien Chu dari ke semua huruf aksara yang ada, semua berhubungan dengan apa yang di perjuangkan oleh kaisar terdahulu, Kau boleh memindahkan huruf aksara tersebut hingga membentuk satu kata, dan jika kata itu benar adanya maka dengan sendirinya tabung segel yang melindungi senjata-senjata tersebut akan terbuka, aku akan memberikan arti setiap huruf aksara kuno itu," jawab api inti surgawi dengan menjentikkan jarinya ke arah jidat Nien Chu, sehingga membuat Nien Chu dapat mengetahui setiap arti di dalam huruf aksara kuno tersebut.
"Terimakasih guru atas apa yang telah kau berikan padaku hari ini," ucap Nien Chu.
"Mengapa aku tak terpikirkan jika dahulunya sang Kaisar begitu mencintai permaisurinya, hingga sang permaisuri mati dan sang Kaisar memilih untuk mengasingkan diri di paviliun langit, demi mengenang kisah cintanya dengan sang permaisuri.
Nien Chu kemudian menyusun huruf aksara yang ada di hadapannya, hingga terbentuklah satu kata yang bertuliskan kata "Cinta"
Tak lama kemudian segel yang melindungi senjata senjata itupun terbuka.
Bersambung
__ADS_1