
Nien Chu yang mendapatkan serangan cepat dari sang penyihir wanita, dengan segera melompat kesamping untuk menghindarinya.
Akan tetapi tiba tiba Nien Chu merasakan adanya tangan raksasa dari dalam tanah, yang memegang kedua kakinya sehingga Nien Chu tak mampu berkelit dari serangan cepat sang penyihir.
Zaiya yang melihat hal itu langsung menjejakkan kakinya dengan keras ketanah, sehingga kedua tangan raksasa itupun hancur oleh gelombang kejut yang di lepaskan oleh Zaiya.
Terlambat bagi Zaiya untuk dapat menolong Nien Chu dari keterpurukannya, karena tongkat yang berada di tangan sang penyihir telah menembus dada Nien Chu.
Nien Chu terhempas kebelakang dengan keras dan merasakan tubuhnya saat ini telah mati rasa.
Melihat Nien Chu terluka, ke dua sahabat Nien Chu tak tinggal diam, merekapun secara bersama sama menyerang kearah penyihir wanita.
Sang penyihir yang mengetahui jika adanya serangan dari arah lain, seketika itu menusukkan tongkatnya ketanah sehingga seluruh area tempat itu kini di penuhi dengan ular berbisa.
Zhurui dan Anchen tak melanjutkan serangannya karena adanya ular-ular berbisa di sekitar tempat itu, mereka bersalto ke udara untuk menghindari ular ular berbisa yang ada di tanah.
Zaiya yang mengetahui jika penyihir wanita itu merupakan seorang penyihir yang sangat kuat, dengan cepat dia pun menyerang ke arah penyihir tersebut, untuk menghindari sang penyihir melakukan serangan susulan kepada Nien Chu.
Zaiya yang hanya bisa menggunakan setengah dari kekuatan dewanya, semakin lama mulai semakin terdesak karena banyaknya sihir dari sang wanita yang membentuk petarung petarung kuat untuk melawannya, termasuk gabungan seluruh ular berbisa yang ada di tempat itu, menjadi monster raksasa berkepala 7 yang dapat menyemburkan racun dari mulutnya.
Sementara itu Zhurui dan Anchen yang tadinya menghindar dari ular-ular beracun, kini harus menghadapi seekor kera salju dari sang penyihir yang telah memunculkan kera salju di hadapan mereka.
Maka pertarungan di tempat itu pun terjadi dengan sengit, antara kubu penyihir yang menggunakan sihir dalam membentuk para petarungnya, dengan kelompok Zaiya yang terdiri dari Zhurui dan Anchen.
Nien Chu yang terluka, perlahan lahan tersadar kembali dan merasakan jika luka tusukan di tubuhnya telah sembuh seperti sedia kala, karena adanya pasir hidup di dalam tubuhnya yang membuat luka di tubuhnya kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
"Penyihir wanita itu memang kuat, dia mampu menembus perisai di tubuhku dengan tongkatnya, dan kurasa dia belum sepenuhnya mengeluarkan kekuatan yang dimilikinya, dan untuk itu aku harus berhati-hati jika harus bertarung kembali dengannya," batin Nien Chu.
Nien Chu kemudian masuk kedalam alam batinnya untuk menemui sang guru.
"Guru apa yang harus ku lakukan saat ini, penyihir itu ternyata lebih kuat daripada apa yang ku prediksikan selama ini," ucap Nien Chu.
"Nien Chu saat ini penyihir itu telah menganggapmu mati, dan itu merupakan kesempatan bagimu untuk mencari tempat keberadaan teratai nirwana."
"Teratai nirwana merupakan kumpulan kekuatan besar yang dimiliki para dewa kuno terdahulu, yang mempunyai khasiat menyembuhkan dan juga energi penghancur yang sangat dahsyat."
"Jika kau mendekati teratai Nirwana maka akan terjadi hubungan batin di antara kalian, karena teratai Nirwana mengakui darah yang mengalir di tubuhmu merupakan darah pemilik sesungguhnya teratai Nirwana terdahulu, maka akan dengan mudah Teratai Nirwana bisa kau dapatkan," jawab inti api surgawi.
"Bagaimana aku bisa mengetahui keberadaannya, pastinya tempat keberadaan teratai Nirwana saat ini begitu sangat tersembunyi, agar tak ada satupun orang yang mampu untuk menemukan keberadaannya dari persebunyian penyihir wanita itu," ucap Nien Chu.
"Nien Chu, pemilik teratai Nirwana terdahulu merupakan seorang ksatria hebat yang pernah ada di muka bumi, dan kau pun memiliki darah yang sama yang dimiliki oleh ksatria itu."
"Sekarang bermeditasi lah untuk mengetahui keberadaan teratai nirwana, jika memang teratai itu berada di pulau ini maka kau pasti akan mengetahui keberadaannya. Aku akan membantumu untuk menemukan teratai nirwana itu," ucap inti api surgawi.
Mendengar perkataan sang guru, Nien Chu segera melakukan meditasi di tempat itu sementara sang guru pun ikut melakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan oleh Nien Chu.
Nien Chu dapat merasakan aura besar yang menyelimuti tubuhnya dari aura yang dikeluarkan oleh sang guru, tak lama kemudian Nien Chu dapat merasakan adanya kontrak darah di suatu tempat yang jauh dari tempat keberadaannya.
Dengan bantuan inti api surgawi, Nien Chu menembus dimensi dan melihat sebuah air terjun yang di dalam air terjun itu terdapat sebuah ruangan, dan di sana Nien Chu melihat sebuah bunga teratai emas yang memancarkan aura kuat.
Nien Chu membuka matanya begitupun dengan lelaki paruh baya berjubah putih, yang merupakan Sang guru.
__ADS_1
"Aku telah mengetahui keberadaan teratai Nirwana, dia berada di dalam sebuah air terjun besar yang berada di tengah-tengah hutan ini," ucap Nien Chu.
"Bagus..., ternyata teratai Nirwana dan darah yang mengalir di tubuh masih mempunyai ikatan erat, sehingga kau mampu untuk mengetahui keberadaannya."
"Sekarang kau harus secepatnya pergi untuk mendapatkan teratai Nirwana, karena penyihir wanita itu belum mengetahui jika kau masih hidup, dan tak akan mencurigaimu jika kau telah pergi untuk mendapatkan teratai Nirwana ke tempat kediamannya," ucap inti api surgawi.
"Baik guru, aku akan segera mendapatkan bunga teratai nirwana itu," jawab Nien Chu.
*****
Dengan menggunakan kekuatan langkah bayangan, Nien Chu melesat cepat menembus lebatnya hutang menuju tempat yang dilihatnya sewaktu melakukan meditasi, yaitu Air terjun yang berada di tengah-tengah pulau yang ditempatinya saat ini.
Dan dalam waktu singkat, air terjun yang telah dilihatnya sebelum ini kini berada di hadapannya.
"Itu dia air terjunnya dan aku yakin jika teratai nirwana berada di dalam sana," gumam Nien Chu.
Dengan cepat Nien Chu menerobos masuk ke dalam air terjun yang mengalir deras itu, dan di dalam air terjun Nien Chu menemukan sebuah tempat yang sangat megah, yang dihiasi berbagai macam kristal, batu permata dan emas yang membuat tempat itu menjadi begitu elegan dan megah.
Sementara penerang ruangan di tempat itu, terpancar dari batu energi yang banyak melekat di dinding-dinding ruangan.
Tatapan mata Nien Chu tertuju pada subuh bunga teratai yang memancarkan cahaya emas dengan aura yang sangat luar biasa besar, yang keluar dari dalam kelopaknya.
Mata Nien Chu pun melihat sosok pemuda tampan yang tengah terbaring di sisi bunga teratai, sosok itu terlihat tak berdaya akan tetapi denyut jantungnya masih terasa oleh Nien Chu.
Tiba tiba suara inti api surgawi menggema dari dalam alam batin Nien Chu. "Segeralah kau melakukan kontrak darah dengan teratai Nirwana, karena keberadaan mu di tempat ini telah diketahui oleh penyihir wanita itu," ucapnya.
__ADS_1
"Baik guru, Aku akan segera melakukan kontrak darah dengan bunga teratai nirwana," jawab Nien Chu.
Bersambung.