
Kehebohan terjadi di menara bintang, ketua besar menara bintang begitu sangat terkejut dengan racun yang ada di tangan kanan Huokang. Selama ini dia bisa menaklukan berbagai macam racun ganas di dalam alam cahaya rembulan, tapi kali ini dia di hadapkan dengan situasi rumit racun yang berada di tangan kanan tetua Huokang terlalu kuat dan tak bisa di taklukannya.
"Aku tak bisa mengeluarkan racun ini, jalan satu satunya jika kau ingin selamat hanya memotong lenganmu," ucap ketua menara bintang.
"Apa!??" pekik tetua Huokang.
Hanya itu suara yang keluar dari mulut tetua Huokang, mendengar perkataan dari ketua besar menara bintang.
Karena sudah tak tahan dengan rasa sakit akibat racun api hitam yang bersarang di tangan kanannya, membuat tetua Huokang mengeluarkan sebuah belati dari dalam kotak penyimpanannya, dan dengan nekad langsung memotong tangan kanannya sendiri memakai belati tersebut.
Lenguhan tertahan keluar dari mulutnya saat tangan kanannya terpotong sebatas bahu, darah segar mengalir deras dan dengan cepat tetua Huokang menotok jalan darah di sekitar bahu untuk menghentikan pendarahan.
"Thien Yu, kau harus membayar ini semua, tunggulah saat aku pulih kembali aku pasti akan membalasmu!!" bisik tetua Huokang sambil menelan pil pemberian dari ketua menara bintang.
Pertarungan di menara jingga antara Thien Yu dan Jiohio sebentar lagi akan di laksanakan. Thien Yu datang sendiri di pertandingan bergengsi antar menara itu, tanpa di hadiri oleh gurunya yang belakangan ini menghilang tanpa dia tau keberadaannya.
Di atap sebuah bangunan tampak seekor burung elang berwarna putih tengah mengawasi keadaan sekeliling, menjaga keberadaan Thien Yu dari hal hal buruk setelah penyerangan yang telah terjadi di menara hijau tadi malam.
Di arena pertarungan kedua kultivator telah saling berhadapan, Jiohio menatap penuh dendam kearah Thien Yu yang telah membuat putri Meyling kini menjauhinya.
"Thien Yu walaupun kau tak pernah kalah dalam pertarungan di arena ini, tapi kali ini kau pasti akan ku habisi karena aku sang pemegang juara bertahan di setiap kompetisi yang diadakan di alam cahaya rembulan ini!" ucap Jiohio menyombongkan dirinya.
"Ha..ha..ha.., aku tak perduli dengan itu semua, yang aku tau kau hanyalah mainan ku di atas arena ini, kapan pun aku mau aku bisa menghancurkannya," jawab Thien Yu yang sengaja memprovokasi anak dari ketua menara Abadi itu.
Mendengar perkataan Thien Yu yang begitu merendahkannya membuat Jiohio tak bisa menahan amarahnya, dan dengan cepat dia menyerang Thien Yu dengan tombak yang kini berada di genggaman tangan kanannya.
Pertarungan pun tak terhindarkan, tombak yang berada di genggaman tangan Jiohio langsung di hujamkan ke lantai arena sambil berteriak. "Hujan darah!!"
__ADS_1
Dari langit ratusan ribu tombak berwarna merah terus memburu keberadaan Thien Yu, yang membuat lantai arena hancur akibat serangan kuat yang dilakukan Jiohio. Thien Yu berkelebat kesana kemari untuk menghindarinya, namun serangan tombak darah yang di lakukan Jiohio tak juga berhenti dan malah semakin kuat menghujam kearah Thien Yu.
Thien Yu berfikir sejenak "Aku harus mendekatinya, karena dengan mengganggu konsentrasinya tehnik hujan darah yang di ciptakan nya akan dapat kupatah kan," gumam Thien Yu.
Dengan cepat Thien Yu menggunakan teknik ruang dan waktu dalam mendekati Jiohio, dan menusukkan belati merah darah yang merupakan artefak langit ke tubuhnya.
Tak di sangka oleh Thien Yu, Jiohio dapat memprediksi serangannya dan dengan cepat Jiohio berjumpalitan kebelakang sambil melemparkan tombaknya kearah Thien Yu dengan tehnik Pancaran waktu.
Tombak itu melesat cepat kearah Thien Yu, dan di perjalanannya tombak itu tiba tiba saja menghilang dan tak dapat di prediksi keberadaannya oleh Thien Yu.
Melihat hal itu, Thien Yu segera mengaktifkan mata langitnya, dan melihat keberadaan tombak Jiohio yang kali ini memutar arah dan menyerangnya dari belakang.
"Kurang ajar, dia benar benar ingin membunuhku," bisik Thien Yu sambil menebaskan pedang penguasa malam kearah tombak Jiohio, hingga tombak Jiohio terpental ketanah dan terpotong menjadi 2 bagian.
Melihat serangannya luput, Jiohio segera merubah dirinya menjadi kalajengking ungu, yaitu sebuah tehnik perubahan bentuk yang hanya dimiliki para kultivator ranah tingkat emperor yang mampu melakukannya.
Hal itu membuat sang cahaya merasa kagum dengan kemampuan anak muda, yang tingkat kekuatannya hampir setara dengan putranya.
Namun tiba tiba Jioqio menghentikan pandangannya kearah arena pertarungan, setelah salah seorang petingginya datang menghampiri.
"Ada apa Cinsyin, mengapa kau datang menemuiku?" tanya Jioqio.
"Ketua, pemuda itu telah membunuh 3 petinggi penting 6 menara, dan juga telah melukai tetua Huokang, dia merupakan ancaman bagi 6 menara saat ini," ucap tetua Cinsyin memprovokasi sang ketua.
Flash back
Tetua Cinsyin menatap tajam kearah pertarungan yang terjadi di dalam arena antara Thien Yu dan Jiohio. Sesaat dia menoleh kearah meyling yang terlihat begitu sangat mencemaskan keadaan Thien Yu yang tengah bertarung dengan Jiohio.
__ADS_1
"Sudah kepalang basah, aku harus melenyapkan Thien Yu memakai kekuasaan sang cahaya, jika dia tak mati pastinya hal buruk akan menimpa hubunganku dengan putriku, apa lagi jika putriku sampai mengetahui keberadaan Thien Yu yang mempunyai darah emas, maka putriku pasti akan sangat membenciku dan aku tak ingin hal itu terjadi. Lebih baik aku mengorbankan cinta mereka berdua dengan melenyapkan Thien Yu," bisik tetua Cinsyin.
*****
"Apakah semua yang kau katakan dapat dipertanggungjawabkan Cinsyin?" tanya ketua Jioqio.
"Nyawaku yang menjadi taruhannya ketua," ucap tetua Cinsyin.
Apa yang di katakan tetua Cinsyin membuat 5 ketua menara yang lainnya, yang juga berada di podium itu marah dan menggebrak meja hingga hancur berkeping keping.
Ketua Jioqio, anda sebagai ketua umum 6 menara harusnya bertindak tegas dengan memberi hukuman yang setimpal pada anak muda itu," ucap ketua menara jingga.
Sang cahaya bangkit dari duduknya dan berkata "Biarkan putraku yang menyelesaikan masalah ini di atas arena, kita tinggal lihat saja nasib kematian pemuda itu di sana," ucapnya.
Di arena pertarungan, Jiohio yang telah berubah bentuk menjadi kalajengking raksasa, menyerang dengan ganas ke arah Thien Yu, yang membuat Thien Yu mengeluarkan tehnik terbaiknya.
"Jika kau ingin membunuhku, maka aku juga dapat melakukan hal yang sama seperti yang kau ingin lakukan kepadaku," teriak Thien Yu.
Thien Yu segera melesat ke udara, dan mengeluarkan tehnik terbaik dari pedang penguasa malam.
"Tehnik 6 rasi bintang," ucapnya.
Tubuh Thien Yu terpecah menjadi 6 bagian yang mengelilingi kalajengking raksasa di titik titik yang telah di tentukan, hingga membuat kalajengking raksasa terjebak di dalam segel yang membuatnya tak bisa bergerak.
Tak lama kemudian 6 bayangan Thien Yu melakukan pembantaian disana, yang membuat tubuh kalajengking raksasa terpotong potong potong beberapa bagian, tanpa bisa melakukan perlawanan.
"Putraku...!!" pekik sang cahaya dari atas podium para ketua menara yang menggema di udara.
__ADS_1
Bersambung.