Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Hadiah dari sang ibu


__ADS_3

Walaupun Nien Chu mempunyai banyak koin emas akan tetapi apa yang dilakukan rumah makan, begitu sangat meresahkan dan hampir dibilang menipu masyarakat banyak.


"Sudah lah kak Nien Chu, kita makan saja lalu kita pergi mencari penginapan," ucap An Yue.


Nien Chu menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan dari An Yue kemudian mulai memakan makanan yang tersaji di atas meja.


Mereka makan dengan lahap, namun tiba tiba saja seorang pemuda naik keatas rumah makan tingkat 2, dan Nien Chu dapat merasakan getaran di diagram yang di bawanya.


"Salah satu pemilik simbol," batin Nien Chu.


"Ada apa kak Nien Chu?" tanya An Yue.


"Aku merasakan jika laki laki itu merupakan pemilik simbol Dewa sama seperti kita, selesai makan kita aku ingin mengawasinya," bisik Nien Chu.


Kedua wanita itu menganggukkan kepalanya pelan, mengiyakan perkataan Nien Chu.


Makin lama keadaan rumah makan makin ramai oleh para pengunjung, dan rata rata pengunjung itu berasal dari luar daerah.


Seorang pemuda datang ke ruangan makan tingkat 2, di temani dengan 4 wanita cantik memakai cadar putih yang tembus pandang, berjalan dengan santai sambil memainkan kipas putih yang ada di genggaman tangannya.


Pada saat pemuda itu menoleh kearah An Yue, tiba tiba saja An Yue merasakan kekuatan daya tarik besar pada pemuda itu, hingga An Yue tersenyum manis kepada sang pemuda dan melupakan Nien Chu yang berada di dekatnya.


Nien Chu yang sadar jika pemuda itu telah melakukan tehnik pesona ke pada An Yue, membuatnya langsung memegang tangan An Yue dan mengerahkan energi teratai nirwana kepadanya.


Pemuda berpakaian putih terdorong kesamping dua langkah, dan kipas yang ada di tangannya pun jatuh kelantai ruangan, saat tehnik pesona yang diarahkan ke pada An Yue tertahan oleh kekuatan teratai nirwana.


An Yue begitu sangat geram mengetahui jika dirinya tengah di perdaya oleh pemuda berpakaian putih, diapun ingin mencabut pedangnya tapi buru-buru Nien Chu menahannya.


"Biar aku saja...," ucapnya.


Nien Chu berdiri dari tempatnya berada, dan langsung menghampiri pemuda berpakaian putih itu.


"Aku tak pernah melakukan permusuhan dengan anda dan juga tak pernah menyinggung anda, jika kau ingin mencari masalah denganku jangan di tempat ini, kita bisa menyelesaikan di luar sana," ucap Nien Chu menahan kesalahan di hatinya.


Ke 4 wanita yang memakai cadar putih langsung mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya ke pada Nien Chu, dan tak lama kemudian pemuda itu berkata.


"Kau jangan asal menuduh, apakah kau tak tau tengah berhadapan dengan siapa? Aku adalah pangeran ke dua dari istana Awan, namaku Erlang San!" ucap pemuda itu dengan penekanan di perkataannya, sehingga suaranya menggema dan terdengar oleh para pengunjung yang ada di dalam ruangan itu.


"Menyombongkan diri...., baik jika itu maumu maka aku akan mempermalukan mu hari ini," batin Nien Chu.


"Oh pangeran dari kekaisaran binatang buas ternyata, pantas saja kelakuannya sama persis dengan binatang," jawab Nien Chu juga dengan penekanan di perkataannya, agar suaranya terdengar ke seluruh ruangan itu.


Mendengar perkataan Nien Chu membuat Erlang San murka, dia tak nyangka jika ada orang yang berani menghina nya di depan umum, setelah mengetahui statusnya sebagai seorang pangeran.


Ke 4 wanita bercadar mengetahui apa yang diinginkan pangerannya, sehingga mereka pun melakukan penyerangan secara bersama sama kepada Nien Chu, sehingga pertarungan pun terjadi di tempat itu.


Pemuda yang sebelumnya diketahui memiliki simbol Dewa menggebrak meja, hingga membuat gelombang kejut yang sangat kuat tercipta dan menghantam ke arah pertarungan yang terjadi, sehingga membuat mereka yang tengah bertarung menghentikan pertarungannya untuk menghindari serangan gelombang kejut itu.


"Jika kalian bertarung di sini sama halnya kalian menyinggung kami semua yang berada di sini, ingat bukan kalian saja yang memiliki kemampuan bertarung, kami pun dapat bertarung tapi masih memikirkan orang-orang yang di sekitar.

__ADS_1


Jika kalian memang ingin bertarung maka arena pertarungan dalam turnamen besar layak bagi kalian semua," ucap pemuda itu dengan tidak bergeming dari duduknya.


Mendengar perkataan pemuda itu, Nien Chu segera duduk kembali ketempatnya berada, dengan tak menghiraukan lagi pemuda berpakaian putih yang masih menatap kearahnya dengan perasaan kesal.


Setelah selesai makan, Nien chu pergi meninggalkan tempat itu, guna mencari penginapan karena hari sudah mulai sore.


Tency tetap tinggal di rumah makan, untuk menyelidiki pemuda yang memiliki simbol Dewa.


Sementara itu Nien Chu telah berhasil menemukan sebuah penginapan, tapi sangat di sayangkan dia hanya dapat menempati satu kamar karena keadaan rumah penginapan itu yang telah penuh.


Setibanya di dalam kamar, Nien Chu merasakan kantuk yang sangat luar biasa, hingga diapun akhirnya terlelap diatas tempat tidur.


An Yue menatap kekasihnya sesaat, kemudian dia merebahkan tubuhnya di sisi Nien Chu sambil mencoba memejamkan matanya.


Nien Chu yang tengah tertidur lelap kini berada di sebuah tempat yang begitu indah pemandangan alamnya, tampak seorang wanita cantik tengah membelakanginya, walaupun demikian Nien Chu tahu jika wanita yang ada di hadapannya itu merupakan Dewi Yun Shi ibunya.


"Ibu...!!" ucap Nien Chu.


Dewi Yun Shi membalikan tubuhnya, kemudian merentangkan kedua tangannya, melihat hal itu Nien Chu segera menghamburkan dirinya ke pelukan sang ibu.


Mereka berdua saling melepaskan rindu yang mendalam, hingga Sang Dewi pun berkata.


"Putraku Nien Chu..., ibu takkan bisa lama bersamamu di tempat ini, Ibu hanya akan memberikan cincin penyimpanan ayahmu yang dahulu pernah bersamanya."


"Cincin penyimpanan ini merupakan cincin dari generasi ke generasi, dari kakekmu, dari ayahmu, dan sekarang menjadi milikmu," ucap Dewi Yun Shi kemudian memakaikan cincin penyimpanan berwarna biru laut teduh kejari telunjuk kanan Nien Chu.


"Cincin ini merupakan cincin penyimpanan yang tak ada duanya di muka bumi, sehingga kau harus meneteskan darah ke atas cincin itu agar dia mengakuimu."


"Cincin ini terdapat seorang peri yang mendiaminya, setelah kau meneteskan darahmu diatas permukaan cincin, maka dia akan mengakuimu sebagai keturunan yang syah dari pemilik cincin ini sebelumnya," ucap putri Yun Shi kembali.


"Terimakasih ibu atas pemberianmu ini...," ucap Nien Chu.


Terlihat Dewi Yun Shi menganggukan kepalanya dan tak lama kemudian wanita itu pun menghilang dari pandangan Nien Chu, yang membuat Nien Chu tersadar dari tidurnya.


Nien Chu terbangun dan melihat An Yue tengah tertidur lelap di sisinya.


Nien Chu segera menarik selimut kemudian menutupi tubuh An Yue, setelah itu diapun melangkah turun dari tempat tidur.


Mata Nien Chu terus tertuju pada cincin berwarna biru laut teduh yang berada di jari telunjuk tangan kanannya, kemudian diapun duduk bersila dan mulai meneteskan darahnya ke atas permukaan cincin berwarna biru laut teduh itu.


Darah emas Nien Chu membasahi permukaan cincin, sehingga cincin penyimpanan itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata.


Tak lama kemudian seorang wanita cantik dengan sayap di punggungnya keluar dari dalam cincin tersebut, tinggi hanya sekitar 10 cm yang membuat Nien Chu tau jika peri yang dimaksud ibunya merupakan wanita yang saat ini berada di depan mukanya.


"Hormatku tuan muda..., aku penunggu cincin ruang ini dan namaku adalah Lilia," ucap peri yang tengah mengambang di di hadapan Nien Chu.


"Apakah aku bisa melihat isi di dalam cincin ini?" tanya Nien Chu.


"Cincin ini telah mengakui tuan muda, jika tuan muda menginginkan sesuatu maka tuan muda tinggal menyebutkannya, maka barang yang tuan muda inginkan akan kubawa kehadapan tuan muda, atau tuan muda ingin melihat langsung isi di dalam cincin ini, maka aku akan mengantarkan tuan muda masuk ke dalam cincin ruang yang berada di jemari tuan muda," jawab peri Lilia.

__ADS_1


"Jika aku bisa masuk ke dalam cincin ini maka aku ingin masuk ke dalam sana, untuk melihat lihat barang barang yang telah disimpan ayah serta kakek ku di dalam sana," pinta Nien Chu.


"Baiklah tuan muda, bermeditasi lah maka aku akan membawa tuan muda ke dalam sana," jawab Peri Lilia.


Nien Chu segera melakukan meditasi sesuai dengan keinginan peri Lilia, tak lama kemudian roh Nien Chu bersama peri Lilia masuk ke dalam cincin penyimpanan itu.


Di dalam cincin itu terdapat ruangan yang sangat besar, dan barang-barang di dalamnya pun tersusun sangat rapi di sebuah tempat-tempat khusus yang telah terbentuk.


Nien Chu sangat takjub melihat begitu banyak benda benda berharga berupa koin emas, batu permata, senjata berkualitas tinggi, kitab-kitab pusaka, dan yang sangat mengejutkannya lagi saat melihat adanya pil obat level 10 di dalam cincin tersebut.


Mata Nien Chu jatuh kepada sebuah baju transparan dan tembus pandang di hadapannya, kemudian dia mempertanyakan baju itu kepada peri Lilia.


"Apakah kegunaan baju ini?" tanyanya.


"Baju ini merupakan artefak langit yang merupakan baju pelindung para Dewi di Nirwana, yang sangat berguna melindungi para wanita dari nafsu seorang laki-laki, dan juga sebagai perisai diri yang sangat sulit dihancurkan di saat melakukan sebuah pertarungan," jawab peri Lilia.


Seketika itu khayalan Nien Chu tertuju kepada laki laki berpakaian putih yang ditemuinya tadi siang, bagaimana dengan mudahnya pemuda itu melakukan teknik pesona kepada An Yue, sehingga An Yue tak berdaya dibuatnya, dan saat ini Nien Chu berkeinginan memberikan baju pelindung artefak langit itu kepada An Yue.


"Peri Lilia, aku akan membawa baju ini bersamaku, dan jika suatu hari nanti aku memerlukan barang barang di dalam cincin ini, aku akan menghubungimu," ucap Nien Chu.


"Baik tuan muda..., Aku akan melakukan semua perintahmu menyangkut barang-barang yang berada di dalam cincin ruang ini," jawab peri Lilia.


Setelah itu Nien Chu keluar dari dalam cincin penyimpanannya, dan masuk kembali ke dalam raga kasarnya.


Tak berapa saat lamanya Nien Chu membuka matanya, dan tampak di hadapannya seorang wanita cantik telah menunggunya dengan berbagai hidangan di atas meja.


"Perasaan.., baru sesaat aku bersama peri Lilia masuk ke dalam cincin penyimpanan ini, akan tetapi waktu begitu terasa cepat hingga pagi telah tiba," batin Nien Chu.


Nien Chu melangkah ke arah meja yang telah penuh dengan hidangan makanan, dan memandang wajah cantik An Yue yang sangat cantik di pagi itu.


"Mengapa kau memandangiku seperti itu?" tanya An Yue.


"Kau terlihat sangat cantik di pagi ini," puji Nien Chu yang membuat hati An Yue melambung tinggi.


"Oh iya..., Aku mempunyai hadiah untukmu dan aku ingin kau memakainya," ucap Nien Chu sambil menyodorkan pakaian pelindung artefak langit kepada An Yue.


Seketika wajah An Yue bersemu merah melihat pakaian tembus pandang yang kini berada di genggaman tangannya.


"Kak Nien Chu..., apakah kau benar-benar ingin aku memakai pakaian tembus pandang ini di depanmu?" tanya An Yue ragu ragu.


Nien Chu tersenyum, dia tahu bahwa An Yue saat ini salah mengartikan perkataannya, maka Nien Chu mencoba meluruskan dengan berkata.


"Pakaian ini merupakan pakaian pelindung artefak langit, jika kau menggunakan pakaian ini maka pakaian ini akan menyatu dengan kulitmu, sehingga pakaian ini dapat melindungi mu di setiap pertarungan yang kau lakukan," jawab Nien Chu.


An Yue kini paham setelah adanya penjelasan dari Nien Chu tentang pakaian yang diberikan kepadanya.


"Terimakasih kak Nien Chu...," ucap An Yue yang begitu sangat senang karena pemuda yang dicintainya itu begitu sangat memperhatikannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2