
Para pasukan bayangan datang kedepan kamar Dewi Yun Shi.
"Tok..tok..tok...!!" Pintu kamar di ketuk dari luar.
Dewi Yun Shi langsung mengibaskan tangannya maka keberadaan Thien Yu pun tak terlihat lagi, Thien Yu seketika itu terbungkus oleh gelembung yang merupakan perisai pelindung tak terlihat yang di buat Dewi Yun Shi padanya.
Mengetahui jika tubuhnya telah di tutup oleh pelindung, Thien Yu dengan segera menyembuhkan dirinya menggunakan teratai nirwana.
Di depan pintu kamar Dewi Yun Shi di hadapkan dengan para pasukan bayangan yang menanyakan tentang penyusup yang telah masuk kedalam kediaman murid wanita, yang jejaknya berhenti dan menghilang di depan kamar Dewi Yun Shi.
"Kami ingin memeriksa kamar anda Dewi, karena kami yakin penyusup itu berada di dalam," ucap kepala pasukan bayangan.
"Paman, jika penyusup itu berada di dalam kamarku pasti aku sudah menangkapnya, apakah paman meragukan ku?" tanya sang Dewi.
"Aku hanya menjalankan tugas Dewi, dan kuharap Dewi mau berkerjasama dalam hal ini," jawab kepala pasukan bayangan Akademi.
Dewi Yun Shi tak bisa berbuat apa apa lagi untuk menutupi keberadaan Thien Yu di dalam kamarnya, dia pun mempersilahkan pasukan bayangan untuk memeriksa kamarnya.
"Semoga kepala pasukan bayangan tak menemukan Thien Yu," batin Dewi Yun Shi.
Sementara itu Thien Yu dengan menggunakan kekuatan teratai nirwana dapat pulih dengan cepat, luka menganga di tubuhnya pun telah pulih seperti sedia kala tanpa sedikitpun bekas luka yang tersisa di tempat keberadaan luka menganga di dada kanannya.
Tak ingin keberadaannya diketahui oleh pasukan bayangan, dan mempersulit Dewi Yun Shi yang sudah menolongnya, Thien Yu segera menggunakan tehnik ruang dan waktu untuk pergi dari dalam kamar sang Dewi.
Seluruh pasukan tak ada yang mengetahui kepergian Thien Yu dari tempat itu, kecuali kepala pasukan bayangan.
Dengan kemampuannya yang dapat merasakan adanya angin halus yang keluar dari dalam kamar sang Dewi, membuat kepala pasukan bayangan langsung mengejar keluar kamar seorang diri.
Thien Yu yang mengetahui jika ada yang mengikutinya, diapun segera mencari tempat yang sepi kemudian menunggu sang pengejar.
"Akhirnya aku menemukan penyusup, atas semua kelakuanmu yang berani memasuki daerah kediaman para murid wanita maka aku pantas menghukummu dengan seberat-beratnya," ucap kepala pasukan bayangan.
"Aku tak mempunyai masalah denganmu, dan aku tak ingin pertarungan yang akan mengakibatkan salah satu diantara kita akan terluka, aku salut dengan semua kerja kerasmu untuk menjaga Akademi nirwana ini, dan tak sepantasnya aku melukaimu," ucap Thien Yu.
__ADS_1
"Lancang!!, berani sekali kau meremehkan ku sementara kau hanya murid disini!!" hardik kepala pasukan bayangan.
"Kepala pasukan, aku ada urusan penting di akademi ini dan aku pun hanya sesaat di sini, jika urusanku telah selesai maka aku akan pergi dari sini.
Karena aku suka dengan kinerja mu maka aku akan membuka identitas ku padamu, dan ku harap setelah kau tau identitas ku maka kau harus merahasiakannya kepada semua orang selama aku berada di sini," ucap Thien Yu kemudian diapun menggunakan perisai jendral perang langit milik ayahnya, hingga cahaya keemasan yang menyilaukan mata terpancar dari tubuh Thien Yu.
Kepala pasukan bayangan begitu sangat terkejut melihat baju perisai milik Dewa perang langit, dengan cepat kepala pasukan bayangan berlutut dengan satu kaki dan menggenggam tinju memberi format kepada Thien Yu.
Kepala pasukan bayangan merasa dirinya telah menyinggung seorang Dewa perang langit, yang digadang gadang akan memimpin pasukan langit di masa depan termasuk dirinya sendiri.
"Hormatku kepada Dewa perang langit, maafkan atas ketidaktahuanku atas keberadaan anda di akademi ini, mohon Dewa perang langit menghukumku atas kecerobohan ku ini," ucap kepala pasukan bayangan dengan menundukkan wajahnya.
"Bangkitlah kepala pasukan bayangan, jika di masa depan aku telah menjadi Dewa perang langit maka kau akan kuangkat menjadi perwira tinggi yang akan bertempur bersamaku dalam menghancurkan musuh musuh istana langit," ucap Thien Yu.
"Terimakasih jendral atas kebaikanmu," jawab kepala pasukan bayangan.
Setelah berkata seperti itu, Thien Yu melesat pergi menuju ketempat peristirahatan murid pria di akademi nirwana.
Sementara itu di kediaman Dewi Zhao Quin, tampak Dewi Vioquin begitu sangat gelisah menantikan ibunya yang tengah bermeditasi, dan setelah semalaman akhirnya Dewi Zhao Quin datang menjumpai putrinya.
"Putriku mengapa kau meninggalkan Akademi?" tanya Dewi Zhao Quin.
"Ibu aku ingin menanyakan satu hal kepadamu yang selama ini mengganggu pikiranku, yaitu tentang seorang pemuda yang bernama Thien Yu, dia mengakui dirinya sebagai saudara satu ayah denganku, apakah yang dia katakan benar adanya, mohon penjelasanmu ibu?" ucap Dewi Vioquin balik bertanya.
"Putriku, apa yang dikatakannya benar adanya, dia merupakan saudara laki-laki dan saudara tertua dari kalian berempat. Apakah kau telah mengakui Thien Yu sebagai saudaramu?" tanya Dewi Zhao Quin.
"Aku belum mengakui dia saudaraku ibu, karena dia selalu mengganggu hidupku dengan terpaksa aku menusuknya dengan pedang pemberian dari ibu," jawab Dewi Vioquin.
"Apa!!??, mengapa kau lakukan hal itu putriku apakah kau tak tahu jika pedang itu mengandung racun yang sangat ganas?, Ibu tanya di manakah kakakmu sekarang berada?" tanya Dewi Zhao Quin dengan hati yang penuh kecemasan.
"Waktu itu dia meninggalkan aku ibu, katanya dia akan menemuiku kembali," jawab Dewi Vioquin.
"Kita tak boleh menunda nunda waktu, kita harus segera pergi untuk mencarinya, ibu takut racun itu akan membunuh Thien Yu," ucap Dewi Zhao Quin.
__ADS_1
Setelah pembicaraan yang terjadi, maka berangkatlah ibu dan anak itu menuju ke Akademi nirwana untuk mencari keberadaan Thien Yu.
Sesampainya di Akademi Dewi Zhao Quin langsung menghadap kepala Akademi dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap putranya.
Mengetahui jika Thien Yu tengah terluka sesuai perkataan Dewi Zhao Quin, kepala akademi langsung mengeluarkan kekuatan dewanya untuk melacak keberadaan Thien Yu.
"Sepertinya Thien Yu masih berada di akademi nirwana, tepatnya di kamarnya sendiri. Ada baiknya kita semua pergi untuk menemuinya," ucap kepala akademi.
Setelah mengetahui keberadaan Thien Yu, mereka bertiga langsung menuju ke kamar Thien Yu.
"Tok tok tok..!", suara kamar Thien Yu di ketuk dari luar.
Tak lama kemudian keluarlah pemuda tampan yang sangat terkejut dengan kehadiran Dewi Zhao Quin dan kepala akademi di depan kamarnya.
Diapun segera memberi hormat dan mempersilahkan mereka bertiga masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa gerangan ibu Dewi datang menemuiku?" tanya Thien Yu.
"Putraku, kata adikmu vioquin saat ini kau tengah terluka, dan luka yang kau derita akibat tusukan pedangnya, apakah itu benar adanya?" ucap Dewi Zhao Quin balik bertanya.
"Aku tak terluka ibu Dewi, coba kau lihat putramu sehat dan tak terluka sedikitpun, mungkin adik Vioquin yang mengada ada dengan itu semua," ucap Thien Yu.
"Kak Thien Yu bohong ibu, aku telah menusukkan pedangku di dada kanannya, tepat di daerah ini," jawab Dewi Vioquin sambil menunjuk kearah dada kanan Thien Yu.
Thien Yu merasa senang karena mendengar jika Dewi Vioquin adiknya telah memanggilnya dengan panggilan kakak. Sedari itu Thien Yu ingin menghukum adiknya itu dengan mempermainkannya kali ini.
Thien Yu melepaskan pakaian atasnya dan tak terlihat luka gores sedikitpun di dada kanannya, hal itu membuat Dewi Vioquin seakan tak percaya dengan penglihatannya.
Beberapa kali dia mengucek mata nya untuk memastikan penglihatannya kali ini, akan tetapi apa yang dilihatnya benar-benar nyata Thien Yu tak terluka sama sekali di tubuhnya.
"Ibu aku tak berbohong, aku benar benar melukai kak Thien Yu tapi mengapa tak sedikitpun ada luka gores di tubuhnya!" ucap Dewi Vioquin berusaha meyakinkan ibunya.
Bersambung.
__ADS_1