
Nien Chu yang telah habis kesabarannya, segera menyerang kearah pangeran Erlang Wang, hingga pertarungan pun terjadi di tempat itu.
Erlang San tak tinggal diam melihat kakaknya di serang sedemikian rupa oleh Nien Chu, diapun lalu membantu untuk bersama sama menghadapi Nien Chu.
Jual beli serangan mewarnai pertarungan yang terjadi, walaupun Erlang Wang di bantu sang adik, Nien Chu tak terlihat sedikitpun kewalahan menghadapinya, dan bahkan Nien Chu semakin gencar menyerang dengan tehnik pedang amukan api misterius kearah mereka berdua.
Berkali kali pedang di genggaman tangan Erlang San berbenturan dengan pedang penguasa malam, yang menimbulkan gelombang kejut dan percikan bunga api di sekitar tempat itu.
Erlang San setiap kali berbenturan dengan pedang penguasa malam, merasakan tangan yang memegang pedang seakan mati rasa, sehingga Erlang San berusaha untuk tak melakukan serangan yang dapat berbenturan dengan pedang yang berada di dalam genggaman tangan Nien Chu.
Sementara itu tombak dari Erlang Wang terus memburu ke arah Nien Chu, hingga pada satu ketika kedua senjata saling beradu di udara, hingga Nien Chu maupun Erlang Wang, sama sama terseret kebelakang.
Sementara itu An Yue yang telah berada di tempat itu, langsung menyerang kearah Erlang San, sehingga keduanya saling bertarung.
An Yue begitu sangat marah dengan apa yang telah di lakukan oleh Erlang San padanya, sehingga diapun langsung menggunakan tehnik terkuatnya.
Cermin cermin setinggi manusia seketika itu terbentuk dan melayang di udara, mengurung keberadaan Erlang San dari segala arah.
Sementara itu Erlang San yang sedari tadi menggunakan tehnik pesona menghadapi An Yue begitu sangat heran, karena tehnik pesona yang di gunakannya kepada An Yue tak berefek sama sekali, malahan saat ini dia tengah di kelilingi oleh ratusan cermin yang memancarkan aura yang sangat kuat dari dalamnya.
An Yue mulai gencar melakukan serangan, tiba tiba saja ratusan cermin yang berterbangan di udara mengeluarkan sosok An Yue dari dalam sana, dan melakukan serangan cepat menggunakan pedang yang ada di dalam genggaman tangannya.
Tubuh Erlang San bersimbah darah, saat pedang di genggaman tangan An Yue satu persatu mulai melukainya, hingga membuat Erlang San mulai terpuruk.
Sementara itu Nien Chu yang tengah bertarung melawan Erlang Wang, seketika itu menggabungkan seluruh kekuatan inti api yang di milikinya, dalam membentuk serangan amukan api misterius lewat teratai giok hitam yang kini berada di telapak tangannya.
Aura yang sangat kuat menyebar di udara, saat teratai hitam itu meluncur deras kearah Erlang Wang.
Erlang Wang yang merupakan titisan Dayu haitang di masa lampau, yang merupakan pengikut dewa iblis kuno, segera mengeluarkan dewa api kuno di telapak tangannya, hingga suhu di tempat itu melonjak derastis yang menyebabkan kehampaan terasa di tempat itu.
Nien Chu merasakan kekuatan besar dari api berkobar yang menyambut datangnya teratai giok hitam miliknya, sehingga membuat Nien Chu segera mengaktifkan kedua simbol dewa di tubuhnya, untuk melindunginya dari efek benturan energi besar yang akan terjadi.
"Duar...!"
Ledakan besar terjadi saat kedua energi saling berbenturan di udara, yang membuat Nien Chu terseret beberapa meter ke belakang.
Tampak retakan retakan terlihat di perisai pelindung yang ada di tubuh Nien Chu, yang menandakan betapa kuatnya serangan yang dilakukan oleh Erlang Wang kepadanya.
Erlang Wang sama sekali tak bergeming dari tempatnya berada, hal itu membuat Nien Chu merasa jika kemampuan yang dimiliki Erlang Wang sudah berada di ranah dewa tak terbatas.
Nien Chu mengibaskan debu yang melekat di tubuhnya, dan menatap dingin ke arah Erlang Wang.
"Dengan kemampuanmu yang sekarang ini cukup mengesankan ku pangeran Erlang Wang, tetapi ini bukanlah akhir kekalahanku Karena aku belum mengeluarkan seluruh kemampuan yang kumiliki, sedari itu bersiaplah aku akan menunjukkan kepadamu kekuatanku yang sebenarnya," ucap Nien Chu kemudian mengeluarkan teratai kaca di telapak tangannya.
Udara di sekitar tempat itu seketika berubah tak menentu, awan hitam bergulung-gulung di langit, menandakan adanya fenomena alam yang telah berubah.
Menyikapi semua yang terjadi, Erlang Wang seketika itu mengeluarkan kemampuan terkuatnya, dengan terlihat adanya kobaran api besar yang telah menyelimuti tubuhnya.
Di istana kekaisaran pheonix, jendral Jatayu, jendral gong lang dan Biyao menatap ke langit dan menyaksikan fenomena alam yang terjadi.
"Aku rasa telah terjadi pertempuran yang sangat hebat, yang membuat fenomena alam itu terjadi, ada baiknya kita melihatnya karena hal ini sangat meresahkan kekaisaran pheonix," ucap Biyao.
"Aku rasa kita harus segera melihatnya ke sana, jangan jangan yang telah melakukan pertarungan besar itu merupakan salah satu Jendral iblis, dan jika memang itu terjadi maka Ini merupakan kesempatan besar bagi kita untuk menangkapnya, agar dapat mengetahui lokasi tempat keberadaan raja iblis berada," ucap jendral Jatayu.
Jendral Jatayu segera merubah dirinya menjadi burung Surgawi, melihat hal itu biyao serta jendral Gong lang segera meloncat ke atas punggung burung surgawi itu, dan tak lama kemudian burung surgawi mengepakkan sayapnya kemudian melesat menembus Awan, menuju tempat keberadaan pertarungan besar yang telah terjadi.
__ADS_1
Di tempat pertarungan keadaan semakin memanas, Nien Chu telah melepaskan teratai kaca ke arah Erlang Wang, demikian pun Erlang Wang juga telah melepaskan kekuatan dewa api kuno ke arah Nien Chu, sehingga kekuatan energi besar itu kini saling berbenturan di udara yang menimbulkan ledakan besar yang menghancurkan seluruh tempat itu.
Nien Chu terhempas ke belakang dan menabrak tanah dengan keras, begitupun dengan Erlang Wang yang juga terhempas jauh ke belakang dan membentur tanah dengan keras.
Tampak dari sela-sela bibir Erlang mengeluarkan darah segar, yang menandakan keadaan tubuhnya saat ini tengah terluka dalam.
Dengan adanya energi teratai Nirwana di dalam tubuhnya, membuat kondisi Nien Chu baik-baik saja. Diapun kemudian bangkit berdiri dan kembali menciptakan teratai kaca di telapak tangannya.
Erlang Wang tak tinggal diam, dia pun bangkit kembali, dan mengeluarkan kekuatan dewa api kuno yang sangat besar dari seluruh kemampuan yang dimilikinya.
Nien Chu kemudian mengeluarkan teratai giok di tangan kirinya, kemudian menggabungkan kedua teratai itu menjadi satu, sehingga terbentuklah teratai yang mengeluarkan cahaya pelangi yang saat ini berada di genggaman tangannya.
Nien Chu telah menggabungkan kedua teratai hingga tercipta teratai Langit 7 warna, yang baru pertama kali Nien Chu mengeluarkannya.
Kedua jendral iblis yang melihat hal itu tak tinggal diam, dia pun segera melesat ke arah pangeran Erlang Wang, dan menyalurkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, agar membuat kekuatan Dewa api kuno menjadi lebih kuat lagi.
"Teratai langit 7 warna..., aku serahkan pertarunganku ini kepadamu," ucap Nien Chu kemudian melepaskan teratai Langit 7 warna ke arah pangeran Erlang Wang.
Ledakan keras terjadi yang menghempaskan apapun yang berada di tempat itu, termasuk An Yue dan Erlang San dan semua yang melakukan pertarungan.
Jatayu dan kedua petinggi istana Pheonix yang berada di punggungnya pun ikut merasakan gelombang kejut yang terjadi, sehingga mereka bertiga langsung menyatukan kekuatan agar dapat menahan gelombang kejut yang mengarah kepadanya.
"Gelombang kejut ini begitu sangat luar biasa, sehingga membuat kita bertiga merasakan kekuatan besar yang terjadi, walaupun sumber kekuatan itu masih berada jauh dengan kita," ucap jendral Jatayu.
"Kau benar saudara Jatayu aku ingin melihat siapa orang kuat yang tengah bertarung ini, sudah lama aku tak merasakan kekuatan sebesar ini selama kita melakukan pertapaan," timpal jendral Gong lang.
Pada akhirnya mereka bertiga kembali menuju ketempat dimana sumber pertarungan terjadi.
Di tempat pertarungan kesunyian mencekam, Erlang Wang tergeletak tak sadarkan diri dengan berapa bagian tubuh yang telah patah, seorang jenderal iblis mati dengan sangat menyedihkan, tubuhnya berserakan menjadi serpihan-serpihan kecil akibat efek ledakan yang terjadi, sementara Jenderal iblis terkuat yang dimiliki kerajaan iblis pun tumbang di tempat itu.
Dengan berjalan terseok seok, jendral iblis Yikzi meraih tubuh Erlang Wang, kemudian membawanya pergi dari tempat itu.
Tency dan Kurama yang juga terluka parah akibat efek ledakan energi yang terjadi, dengan perlahan berjalan mendatangi Nien Chu yang tergeletak di tanah.
Mereka berdua mencoba menyembunyikan luka dalam yang diderita di hadapan tuan mudahnya itu.
"Tuan muda bagaimana keadaan anda?" tanya Kurama.
"Kondisiku kurang baik, aku kehabisan energi tubuh sehingga perlu waktu untuk memulihkan diriku kembali."
"Kurama kembalilah ke dalam reruntuhan hutan binatang iblis, Karena aku merasakan adanya kekuatan besar dari kekaisaran Pheonix yang menuju ke tempat ini," perintah Nien Chu.
"Tapi tuan muda keadaan anda masih terluka," ucap Kurama.
"Ini perintah dan aku ingin kau melakukannya, Kurama terima kasih kau telah membantuku menghadapi mereka semua," jawab Nien Chu.
"Baik tuan muda, aku akan melaksanakan perintahmu."
Setelah berkata seperti itu, walaupun dengan berat hati Kurama yang juga terluka dalam akibat ledakan pertarungan yang terjadi antara Erlang Wang dan Nien Chu, membawa seluruh pasukannya kembali ke alam reruntuhan di hutan binatang iblis.
Kini tinggallah Tency yang berada di dekat Nien Chu.
"Aku tau saat ini kau terluka dalam, dan kau tak bisa menyembunyikan hal ini kepadaku," ucap Nien Chu.
"Kau meremehkan ku tuan muda, jika hanya membawa mu pergi dari tempat ini, aku masih sanggup melakukannya," jawab Tency.
__ADS_1
"Aku tau kau bisa lakukan nya, tapi apakah kau bisa membawa aku dan An Yue secara bersamaan dengan kondisimu yang seperti ini?" tanya Nien Chu.
Tency terdiam, tak mungkin dia bisa membawa mereka berdua secara bersamaan dengan kondisi tubuhnya yang tengah luka, hingga suara Nien Chu merubah raut wajah Tency.
"Ini adalah lencana kepemilikan serikat dagang, aku ingin kau ke sana membawa An Yue agar dapat memulihkan diri disana," ucap Nien Chu.
"Tidak tuan muda...!!, aku ingin terus di sini bersamamu, aku akan menjagamu karena hanya kaulah satu-satunya keluargaku," jawab Tency.
"Jika kau tak melakukan perintahku, maka aku akan memukulmu," ucap Nien Chu dengan keseriusan di perkataannya.
"Aku tak perduli walaupun kau memukulku sampai mati, aku akan tetap menemanimu di sini...," jawab Tency mempertahankan pendiriannya.
Nien Chu memejamkan matanya, kemudian berkata. "Tak ada pilihan lagi bagi ku jika kau tak mau mengikuti perkataanku, maka dengan berat hati aku akan menghancurkan kontrak darah yang ada di tubuhmu, sehingga ikatan antara kita berdua berakhir," ucap Nien Chu lirih.
Tency tak kuasa membendung air matanya yang mengalir di pipi, dia sangat tak kuasa melihat tuan mudanya tergeletak dengan luka di tubuhnya, sementara dirinya harus pergi untuk menyelamatkan diri."
"Tency tau jika tuan mudanya melakukan hal ini, semua itu demi keselamatan dirinya dan An Yue yang tengah terluka dalam. Dengan berteriak sekuat tenaga, Tency mengambil lencana emas di tangan Nien Chu dan berjalan sempoyongan ke arah An Yue yang tak sadarkan diri, kemudian membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
Nien Chu menatap kepergian Tency, kemudian berkata. "Maafkan aku telah membuat hatimu terluka, aku tau kau melakukan ini demi melindungiku," ucapnya.
Nien Chu mengeluarkan sebuah jarum emas kemudian menjentikkannya ke udara, sehingga jarum emas itu melesat ke udara dan tak lama kemudian menghujam ke tubuh Erlang San yang masih tergeletak di tanah tak sadarkan diri, akibat terkena gelombang kejut dari efek ledakan yang baru saja terjadi.
Masuknya jarum emas ketubuh Erlang San, membuat napas pemuda itu pun akhirnya berhenti berhembus, yang membuatnya mati seketika.
Nien Chu berkata, "Aku tak akan pernah mengampuni orang yang telah menyinggungku, apalagi menyakiti hati orang-orang yang aku cintai," ucapnya.
Nien Chu memejamkan matanya untuk merasakan kekuatan pasir hidup di dalam tubuhnya, akan tetapi Nien Chu sudah tak merasakan lagi kekuatan pasir hidup yang berada di dalam tubuhnya, sehingga dia pun mengambil kesimpulan jika pasir hidup itu telah lenyap terbakar oleh kekuatan dewa api kuno.
"Aku tak menyangka kekuatan dewa api kuno mampu untuk menghancurkan pasir hidup yang berada di dalam tubuhku, sehingga luka dalam yang ku derita tak dapat ku pulihkan seperti biasanya," batin Nien Chu.
Nien Chu ingin sekali memulihkan dirinya menggunakan kekuatan teratai Nirwana, akan tetapi dia ragu untuk menggunakannya karena dia merasa telah ada beberapa orang kuat dari kekaisaran pheonix, yang telah mendekat ke tempatnya berada, sehingga membuatnya berinisiatif untuk memulihkan diri memakai pil obat yang banyak terdapat di dalam cincin uangnya.
Nien Chu kemudian memanggil peri lilia yang berada di dalam cincin ruangnya, kemudian berkata kepada peri cantik itu.
"Bawakan kepadaku pil obat yang mampu memulihkan tubuhku," ucap Nien Chu.
"Baik tuan muda," ucap sang peri.
Peri Lilia kemudian menghilang, dan muncul lagi dengan sebuah pil obat yang berada di kedua tangannya.
"Minumlah pil obat ini tuan muda, pil ini akan membuat mu pulih seperti sediakala," ucap peri Lilia.
"Terimakasih..."
Hanya itu kata yang keluar dari mulut Nien Chu.
Setelah peri Lilia masuk kembali ke dalam cincin penyimpanannya, Nien Chu langsung menelan pil yang berada di dalam genggaman tangannya.
Tak lama berselang ketiga petinggi istana Pheonix datang di hadapan Nien Chu.
Sepertinya hanya pemuda ini yang selamat dari pertempuran yang terjadi, ada baiknya kita segera membawanya ke istana untuk diinterogasi, mengapa sampai terjadi pertempuran hebat di tempat ini," ucap Biyao.
Mereka bertiga pada akhirnya membawa Nien menuju ke istana pheonix.
Sementara itu, Tency berhasil membawa An Yue ke serikat dagang, dan setibanya di gerbang serikat dagang Tency seketika itu berubah menjadi rubah putih kecil ekor 3, dan tergeletak tak berdaya di sana, dengan An Yue yang juga tergeletak di sisinya.
__ADS_1
Bersambung.