Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Pertarungan final


__ADS_3

Malam itu Nien Chu telah sampai di perjamuan makan sang Kaisar, akan tetapi perjamuan itu telah usai yang membuat pangeran Annsher begitu sangat geram kepada Nien Chu, karena sampai perjamuan makan usai dia baru menunjukkan batang hidungnya.


Dengan di temani ketua desa, Nien Chu menghadap sang kaisar dan permaisurinya, untuk meminta maaf atas ketidak datangannya ke acara perjamuan makan malam itu.


"Nien Chu memohon maaf kepada yang mulia Kaisar dan permaisuri, karena tak datang ke acara perjamuan makan," ucap Nien Chu sambil menggenggam tinju memberi hormat.


"Jelaskan padaku mengapa kau tak datang...?" tanya sang kaisar.


"Yang mulia selama ini elf pesisir pantai dikenal sebagai elf barbar yang tak peduli dengan elf dari ras lain, aku ingin menghilangkan Citra buruk itu dengan menjenguk An Yue, yang merupakan elf dari lembah salju sekaligus lawan tarung ku yang kalah di turnamen beladiri.


"Saat ini dia tengah terluka dan hampir kehilangan kultivasinya, kebetulan hamba sedikit tau tentang Alkemis, sehingga dapat membuat An Yue bisa pulih dengan cepat."


"Dengan adanya hubungan baik ini maka di masa depan, An Yue yang merupakan murid jenius sekaligus murid berbakat yang dimiliki lembah salju, akan membuka hati kepada ras elf pesisir pantai dengan menjadikan hubungan antar lembah salju dan pesisir pantai kembali membaik, tanpa adanya perselisihan dan saling menjatuhkan," jawab Nien Chu dengan ketenangannya.


Kaisar Annzhor dapat menerima penjelasan dari Nien Chu, karena selama ini dia mengetahui jika hubungan antara lembaga salju dan pesisir pantai kurang begitu baik, semua itu akibat perselisihan antara ketua Tang yi dan ketua You You di masa lalu.


Dengan adanya hubungan baik antara Nien Chu dan An Yue, maka bisa saja di masa depan hubungan antara lembah salju dan pesisir pantai akan membaik, dan pastinya hal itu akan membuat kekaisaran mendukung apa yang di lakukan oleh Nien Chu.


"Baiklah Nien Chu, sekarang kau boleh pergi karena aku telah menerima permintaan maaf mu," ucap kaisar Annshor dengan bijaksana.


"Terimakasih yang mulia," jawab Nien Chu.


Setelah memberi hormat kepada kaisar dan permaisuri, pada akhirnya Nien Chu dan ketua desa meninggalkan tempat kediaman sang Kaisar.


Sang permaisuri begitu sangat senang mendengar penjelasan dari Nien Chu, baginya penjelasan itu merupakan penjelasan anak muda yang berpikiran luas dan sangat cerdas.


"Nien Chu begitu tenang walaupun tengah berhadapan dengan Kaisar, dan perkataannya begitu masuk akal sehingga aku dapat menyimpulkan jika Nien Chu pemuda yang layak bagi Putri ku daripada Wucian," batin sang permaisuri dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Sementara itu Nien Chu yang keluar dari kediaman sang Kaisar langsung dicegat oleh pangeran Annsher dan Wucian, dan kembali dengan ketenangannya Nien Chu memberi hormat kepada sang pangeran dan berkata.


"Apa yang dapat aku bantu pangeran?" tanya Nien Chu.


"Kau jangan berpura-pura di hadapanku Nien Chu, saat ini kau bisa bernafas dengan lega karena Sang Kaisar tak jadi menghukummu, tapi ingat Nien Chu kau menolak undangan ayahku berarti kau juga menghina keluarga Kaisar, aku takkan tinggal diam melihat hal itu dan besok adalah pertarungan antara kelompok mu dan kelompok ku, maka di hari itu aku memberikan kau pelajaran atas penghinaan yang telah kau berikan ini. Ingat Aku pastikan ras sampah seperti mu tak akan bisa menjadi ras yang berjaya di kaisaran ini," jawab Pangeran Annsher.


"Yang mulia pangeran, tak menghilangkan rasa hormat ku kepadamu, maka aku akan menantikan pertarungan kita di atas arena, dan saat itu yang mulia bisa melihat bagaimana ras pesisir pantai akan dapat mengalahkan ras bangsawan bermata biru seperti anda," jawab Nien Chu dengan tatapan menantang.


"Lancang..!!, berani sekali kau berkata seperti itu kepada yang mulia pangeran!!" teriak Wucian sambil menunjuk kearah muka Nien Chu.


Melihat kondisi di tempat itu mulai memanas, ketua desa segera menengahi.


"Maafkan atas kelancangan murid ku pangeran, lebih baik kejadian malam ini di selesaikan diatas Arena pertarungan esok hari," ucap ketua desa.


Ketua desa segera menarik tangan Nien Chu untuk meninggalkan tempat itu, karena jika Nien Chu masih berada di sana di takutkan akan terjadi kontak fisik diantara mereka.


Pagi hari, langit begitu cerah. Kelompok Nien Chu telah berada diatas Arena pertarungan, begitu pun dengan kelompok sang pangeran.


Kali ini arena pertarungan begitu sangat berbeda dengan arena pertarungan sebelumnya, karena arena pertarungan ini lebih besar dan lantainya telah di selimuti oleh segel pelindung sehingga tak mudah untuk di hancurkan jika terkena benturan energi besar.


Nien Chu dan kelompoknya telah berada pada tempat khusus di dalam Arena pertarungan, tempat yang diselubungi segel pelindung sehingga dapat menahan efek benturan energi diatas pertarungan.


Pertarungan pertama telah diundi, Siansan dari elf pesisir pantai akan menghadapi putri Annchi dari kekaisaran kota.


"Kau tak usah takut untuk menghadapinya walaupun dia seorang putri, dan ingat Siansan, kau jangan meremehkannya, gunakan seluruh kemampuan yang kau miliki untuk menghadapinya," ucap Nien Chu.


"Aku akan bertarung dengan sekuat tenagaku untuk mengalahkannya, kau tak usah khawatir saudara Nien Chu, karena aku pasti bisa mengimbanginya," jawab Siansan.


Siansan dan putri Annchi kini saling berhadapan satu dengan yang lainnya, tak lama kemudian penasehat segera memasang segel pelindung di sekitar arena pertarungan, setelah itu diapun keluar dari dalam arena pertarungan yang menandakan jika pertarungan final pertama telah dimulai.


Siansan mengeluarkan pedangnya begitupun halnya dengan Putri Annchi. Pertarungan tehnik pedang kini disajikan oleh mereka berdua diatas arena pertarungan. Percikan bunga api terus terpancar dari benturan pedang yang terjadi, yang menandakan jika mereka sama-sama mengeluarkan tenaga dalam yang disalurkan lewat pedang yang mereka gunakan.


Tiba tiba putri Annchi melompat ke udara dan berputar 180 derajat sehingga menciptakan 5 buah pedang di sekitarnya. Dengan sekai kibasan tangannya, kelima pedang itu melesat cepat menuju ke arah Siansan.

__ADS_1


Siansan tak tinggal diam, diapun memutar pedang di hadapannya, sehingga tercipta perisai pelindung dari air yang membeku yang mampu menahan kelima pedang yang mengarah kepadanya.


Siansan balik menyerang, dia pun menarik kelembaban udara di sekitar tempat itu sehingga tercipta puluhan pisau air di sekitarnya.


Dengan menampakkan tangan kirinya ke depan maka puluhan pisau air itu melesat cepat menuju ke arah putri Annchi, yang membuat putri Annchi memutar dirinya hingga terbentuklah angin tornado kecil yang meluluhkan takkan pisau terbang yang mengarah kepadanya.


Semua penonton yang menyaksikan hal itu begitu takjub, karena melihat kedua petarung begitu berimbang dalam menggunakan teknik-teknik yang di milikinya.


Siansan kembali menyerang Putri Annchi dengan teknik gulungan ombak, dia memutar tubuhnya kedepan seperti gasing, dengan ujung pedang yang mengarah kepada putri Annchi yang menjadi lawan tarungnya.


Tiba tiba tubuh Siansan membentuk pusaran air yang mengarah ke kepada sang putri.


Melihat adanya bahaya yang mengancam nyawanya Sang Putri segera mengeluarkan teknik pedang pilar surgawi, sehingga 3 buah pedang raksasa kini menancap ke atas Arena pertarungan, yang dapat membendung serangan kuat yang dilakukan Siansan.


Terlihat senyuman di bibir putri Annchi, saat melihat serangan Siansan yang tak mampu menembus pertahanannya.


Sang putri kembali meloncat ke udara, dan tak lama kemudian dia pun berteriak lantang.


"Tehnik pesona.."


Tehnik pesona merupakan teknik terkuat yang dimiliki putri Annchi, yang merupakan pemberian dari sang ibu kepadanya.


Entah darimana tiba-tiba banyak bunga-bunga bertebaran di atas udara, yang menimbulkan wangi semerbak di dalam arena pertarungan.


Siansan kini tak dapat menguasai dirinya, dia begitu terpesona saat melihat wanita yang sangat luar biasa cantik yang ada di hadapannya.


Siansan yang terkena ilusi kuat terlihat kebingungan dan tak tahu apa yang harus dilakukannya, sehingga diapun harus rela jika dirinya terkena sebuah tendangan keras dari putri Annchi yang membuatnya harus keluar dari dalam arena pertarungan.


Melihat Siansan keluar arena pertarungan, Nien Chu segera melesat cepat menuju ke arahnya.


Tampak Siansan tergeletak di tanah dengan darah segar yang mengalir di sudut bibirnya.


Walaupun masih tersadar akan tetapi Siansan terlihat seperti orang kebingungan yang tak tau apa apa, sehingga Siansan tak mengenalinya lagi.


"Aku tak perduli dengan dirinya, ini akibat kelakuanmu yang telah membuatku kesal," jawab putri Annchi yang begitu cuek melihat penderitaan Siansan.


Nien chu menggelengkan kepalanya, kemudian mengangkat tubuh Siansan dan membawanya ke arah para Alkemis dari istana yang telah berdatangan.


Setelah Siansan di bawa pergi, Nien Chu mendekati Putri Annchi lantas berkata.


"Aku tak menyangka jika kau merupakan wanita yang tak mempunyai perasaan, Aku menyesal telah mengenalmu dan menaruh rasa kagum kepadamu, mulai saat ini aku tak ingin adanya hubungan apa-apa diantara kita walaupun itu hubungan sebagai teman," ucap Nien Chu kemudian melangkah pergi menuju ke kelompoknya.


"Deg...!!"


Seketika itu putri Annchi merasakan ada yang hilang dari perkataan Nien Chu, dia merasa kehilangan seorang pemuda yang selama ini selalu mengganggu pikirannya.


Tiba tiba suara penasehat istana menggema di telinga sang putri, hing putri Annchi tersadar dari lamunannya.


"Putri kembalilah ke dalam kelompokmu, karena pengumuman pemenang dari pertarungan ini akan segera ku umumkan," ucap penasehat istana yang telah berada di sisi Sang Putri.


Putri Annchi mendengar perintah dari penasehat istana, tapi tak melakukan perintahnya untuk kembali ke dalam kelompok.


Sang putri lebih memilih melesat keluar Arena mengejar para Alkemis yang membawa Siansan pergi, dan setelah berada di dekat Siansan, sang putri segera melepaskan teknik ilusi yang ada padanya hingga Siansan pun tersadar.


"Maafkan aku karena telah melukaimu," ucap putri Annchi.


Siansan hanya mengganggukkan kepala saat melihat sang putri meminta maaf padanya.


*****


Pengumuman pertarungan yang akan terjadi di babak kedua, yang seharusnya Annfeng akan berhadapan dengan Nien Chu, kini tak terealisasi karena pangeran Annsher tiba tiba datang menemui penasehat istana untuk mengumumkan jika dirinya yang akan bertarung dengan Nien Chu.

__ADS_1


Dengan pengaruh pangeran Annsher sebagai putra mahkota kekaisaran, pada akhirnya penasehat istana tak bisa berbuat apa apa, sehingga diapun mengumumkan jika pangeran Annsher akan bertarung dengan Nien Chu di babak final yang ke dua.


Setelah mengumumkan hal itu maka kedua petarung kini saling berhadapan satu dengan yang lainnya.


"Akhirnya kita bertemu di atas arena pertarungan ini Nien Chu, dan aku akan meremukkan seluruh tubuhmu hari ini," ucap sang pangeran dengan senyum mengejek.


"Pangeran kita belum bertarung dan belum tahu siapa yang akan berakhir di atas arena pertarungan ini, dan rasanya kau akan mengalami kekecewaan karena sudah ku pastikan kaulah yang akan tersingkir dari pertarungan ini," jawab Nien Chu yang kini membalas perkataan sang pangeran dengan senyuman mengejek kepadanya.


Senyum pangeran Annsher sirna setelah mendengar perkataan Nien Chu, kali ini sang pangeran menginginkan untuk secepatnya melakukan pertarungan dengan Nien Chu, sehingga diapun membentak penasehat istana.


"Apa lagi yang kau tunggu penasehat? cepat mulai pertarungan ini!!" bentak sang pangeran.


Penasehat istana yang merasa takut, secepatnya memasang segel pelindung dan segera keluar dari dalam arena pertarungan, yang menandakan jika pertarungan itu telah dimulai.


Pangeran Annsher langsung menerjang ke arah Nien Chu dengan serangan tangan kosong yang sangat mematikan, hingga membuat Nien Chu langsung mengerahkan teknik langkah bayangan untuk mengimbangi kecepatan serang sang pangeran, hingga membuat sang pangeran kesal karena serangannya selalu mengenai ruang yang kosong.


Sang pangeran yang ingin segera menghancurkan Nien Chu, langsung menggunakan kekuatan peri kuno warisan dari sang ayah, yang membuat sayap emas seketika itu keluar dari belakang tubuhnya.


Keluarnya sayap emas di tubuh pangeran Annsher, membuat tekanan udara seketika itu begitu menindas ke arah Nien Chu.


Diatas podium utama, tampak Kaisar Annzhor tersenyum bangga, karena putranya mampu mengeluarkan kekuatan peri kuno dengan sangat sempurna.


"Kau memang jenius putraku, di umurmu yang semuda ini kau telah mampu menguasai kekuatan peri kuno, dan aku yakin pertarunganmu ini akan kau menangkan," batin sang kaisar.


Di tempat lain, putri Annchi begitu sangat gelisah saat sang kakak telah menggunakan kekuatan terkuatnya, untuk menghadapi Nien Chu di dalam pertarungan itu


Wucian yang berada di dekat sang Putri merasa heran dengan tingkah tunangannya itu, sehingga Wucian pun bertanya.


"Mengapa kau segelisah ini Putri, sepertinya kau mengkhawatirkan seseorang yang tengah bertarung di dalam Arena pertarungan. Kau tak usah mengkhawatirkan pangeran Annsher karena dia takkan kalah menghadapi Nien Chu, malahan Nien Chu yang akan dibuatnya binasa karena itu tujuan pangeran meminta kepada penasehat istana untuk merubah nama undian yang akan bertarung dengan Nien Chu," ucap Wucian dengan tawa kecil di bibirnya.


Putri Annchi begitu marah Mendengar hal itu, karena pertarungan yang terjadi tak sesuai dengan undian yang ada, hingga diapun berkata kepada Wucian.


"Aku tak menyangka jika kau dan kakakku securang itu, dengan merubah nama undian sehingga kakakkulah yang bertarung dengan Nien Chu," jawab Sang Putri dengan penekanan di perkataannya.


Wucian terdiam dan mencerna keadaan yang ada kemudian menatap Sang Putri dalam-dalam. "Jangan jangan putri Annchi tengah mengkhwatirkan Nien Chu sehingga dia segelisah ini. Kurang ajar ..!!, ternyata selama ini putri Annchi telah bermain di belakangku, pantas saja di saat perjamuan makan dia sangat ngotot ingin membawa Nien Chu ke hadapan sang Kaisar, agar dia bisa bertemu dengannya!!" batin Wucian dengan rasa cemburu yang tampak jelas di wajahnya.


Wucian meremas tinjunya sendiri, dan berjanji akan menghabis Nien Chu setelah pertarungan yang terjadi hari ini, karena Nien Chu telah mengganggu tunangan nya.


Pertarungan antara Nien Chu dan pangeran Annsher terus berlanjut, kali ini Nien Chu mengaktifkan kedua simbol yang ada di tubuhnya, untuk membentuk perisai pelindung bagi nya.


Menghadapi pangeran Annsher Nien Chu begitu sangat kewalahan, Selain teknik yang digunakannya begitu kuat, ranah tingkatan sang pangeran yang telah menembus ranah Dewa, juga membuatnya semakin terpuruk dengan pertarungan yang terjadi.


"Aku tak bisa terus begini, jika sampai aku kalah dalam pertarungan ini maka musnah sudah impian ku untuk menemukan letak di mana teratai Nirwana berada," batin Nien Chu.


Nien Chu kemudian menggabungkan dua inti api yang dimilikinya untuk membentuk teratai api, diapun lantas menyerang kearah pangeran Annsher dengan kekuatan 2 gabungan inti apinya itu.


Melihat adanya serangan teratai api menuju ke arahnya, pangeran Annsher segera mengatupkan kedua sayap emasnya kedepan, untuk menjadi perisai baginya dalam menghadapi serangan kuat dari Nien Chu, sehingga serangan kuat yang di lancarkan Nien Chu, tak berefek sama sekali kepada tubuh sang pangeran.


"Perisai sayap emasnya begitu kuat sehingga kedua inti api ku sama sekali tak berpengaruh apa-apa padanya, jika begitu aku akan mencoba menggunakan kekuatan amukan api misterius untuk menghancurkan perisai sayap emas yang dimilikinya," batin Nien Chu.


Nien Chu segera menggunakan kekuatan amukan api misterius dengan menggabungkan dua inti api dan satu hukum api ilahi untuk membentuk teratai api surgawi, setelah terbentuknya teratai api surgawi maka aura yang menindas dari sayap emas sang pangeran dengan perlahan mulai memudar.


Tanpa pikir panjang, Nien Chu segera menghantamkan teratai api surgawi ke arah pangeran Annsher, sehingga ledakan yang terjadi akibat benturan antara sayap emas dan teratai api surgawi, dapat menggetarkan seluruh Arena pertarungan.


Pangeran Annsher terseret puluhan meter ke belakang akibat serangan yang dilakukan oleh Nien Chu, sehingga membuat napas sang pangeran memburu menahan tekanan kekuatan besar yang tadi menimpanya.


"Kurang ajar, ternyata kekuatan Nien Chu tak bisa dianggap remeh!!" maki sang pangeran.


Pangeran segera meloncat keudara, dan dengan mengepakkan sayapnya maka ratusan bulu emas seketika itu menghujani Nien Chu.


Bersambung

__ADS_1


2 episode ku jadikan satu, trimakasih.


__ADS_2