
Setelah memutuskan untuk berkultivasi mempelajari tahapan awal kekuatan energi alam bertipe api, Thien Yu pun segera berkultivasi di tempat itu.
Tahapan demi tahapan hukum api telah di laluinya dengan baik, dan pada akhirnya Thien Yu harus menghadapi kekuatan jahat dari iblis api, guna menyempurnakan ke kekuatan illahi bertipe api yang kini hampir 90 persen di kuasainya.
Di dalam berkultivasi, Thien Yu berada di tengah tengah tanah lapang yang luas, yang di hadapannya kini terdapat sosok iblis bertanduk dengan kedua kaki layaknya kaki serigala dan seluruh permukaan tubuhnya berselimutkan kobaran api merah menyala.
Iblis api itu menyerang Thien Yu dengan sangat brutal, yang membuat Thien Yu beberapakali harus terhempas kebelakang akibat berbenturan dengan energi kuat dari sang iblis api.
Thien Yu mengeluarkan 2 inti api yang di milikinya untuk meredam kekuatan panas dari iblis api, akan tetapi apa yang terjadi di luar nalar Thien Yu, iblis api seakan menyerap kedua inti api yang di milikinya hingga mengakibatkan panas yang terpancar dari dalam tubuh sang iblis api semakin besar dan sangat kuat.
Hal itu membuat Thien Yu harus menghadapi kekuatan iblis api, dan kedua inti apinya yang telah diserap oleh sang iblis api.
Thien Yu tak patah semangat diapun mencoba untuk menerapkan hukum api yang di pelajarinya secara bertahap, yang membuat api di tubuh sang iblis api semakin lama semakin meredup.
Kekuatan hukum api yang ada pada Thien Yu mampu melahap balik sang iblis api, dan pada akhirnya Thien Yu berhasil mengalahkannya dan membuat kekuatan illahi hukum api yang tengah di pelajarinya menjadi sempurna.
Thien perlahan membuka matanya dan mendapati ranah tingkatannya telah berubah, dari ranah tingkat perjalan surgawi menjadi ranah tingkat surgawi.
"Ini suatu penerobosan yang sangat luar biasa, aku telah menerobos ketingkat surgawi, dan selangkah lagi aku akan menembus ranah tingkat pembentukan tubuh surgawi.
Ayah, guru, sebentar lagi aku akan menyamai kekuatan kalian berdua, setelah aku melewati penerobosan ranah pembentukan tubuh surgawi, maka aku akan memasuki ranah tingkat penempaan tubuh surgawi yang menyamai tingkat kultivasi kalian, dan tak lama lagi aku pasti akan mencapai tehnik surgawi tertinggi yaitu ranah Ranah Semesta Abadi," ucap Thien Yu.
Lengkingan nyaring menggema di dalam ruangan megah dan besar itu, yang membuat Thien Yu memalingkan wajahnya pada elang yang di seluruh tubuhnya mempunyai bulu berwarna putih cerah.
__ADS_1
Terlihat elang putih itu memalingkan wajahnya saat Thien Yu menatapnya, membuat Thien Yu datang menghampirinya.
"Maafkan aku Yeiyi bukannya aku tak merasakan keberadaanmu, tapi hari ini aku merasa senang karena telah berhasil menguasai kekuatan illahi pertamaku yaitu hukum api, apa aku salah jika aku meluapkan rasa gembiraku?" tanya Thien Yu.
Kembali suara lengkingan keluar dari mulut elang putih, yang membuat Thien Yu tertawa lepas di buatnya.
"Ternyata kau suka humor juga Yeiyi?, kau bilang kau pun ingin bergabung dengan keberhasilanku, dan sebagai rasa suka cita itu kau akan bersulang denganku? apa kau mampu untuk minum anggur seperti katamu?" tanya Thien Yu sambil kembali tertawa lepas.
Tak lama kemudian sang elang putih melesat cepat, dan kembali dengan dua guci anggur yang berada di cengkraman kedua kakinya.
Kali ini giliran Thien Yu yang terdiam, dia tak menyangka jika elang putih itu benar benar ingin minum anggur berdua bersamanya, dan yang menjadi kekhwatiran Thien Yu saat ini adalah bagaimana dia bisa sanggup untuk minum anggur, sementara dia sendiri baru meminum anggur pertamanya saat bersama dengan tetua Xiohuan, kakek dari Xiozi.
"Tak mungkin elang ini mampu untuk mengalahkanku, sementara tubuhnya lebih kecil dari tubuhku," batin Thien Yu.
Suara kembali keluar dari mulut elang putih, yang menandakan jika dirinya telah siap untuk beradu minum dengan Thien Yu.
Mereka berdua saling bertatapan sesaat, persaingan untuk tak mabuk semakin jelas terlihat. Elang putih segera menggigit pinggiran guci kemudian mengangkatnya perlahan, tak lama kemudian anggur yang berada di dalam guci telah memenuhi rongga mulutnya.
Tegukan demi tegukan terus mewarnai suasana di meja itu, tampak elang putih telah menghabiskan kedua guci anggurnya, sementara itu Thien Yu baru menghabiskan satu guci anggur akan tetapi keadaan Thien Yu sudah sangat mabuk berat.
Thien Yu tertidur dengan kepala yang berada di atas meja, sementara elang putih hanya menatapnya dengan pandangan meremehkan.
Tiba tiba elang putih itu berubah menjadi sosok manusia cantik seusia Thien Yu, dan berkata, "Dasar lemah, hanya seguci anggur kau telah mabuk berat," ucap elang putih sambil memberikan selimut pada Thien Yu.
__ADS_1
Kali ini giliran Yeiyi yang terkejut, saat kedua tangannya telah di tangkap oleh Thien Yu.
"Aku sudah menduga jika kau merupakan binatang surgawi yang telah berevolusi, dan aku tak akan mabuk dengan anggur anggur ini karena aku berhasil memuai kan kadar alkohol yang terkandung di dalam anggur tersebut dengan kekuatan hukum api yang kumiliki," ucap Thien Yu.
"Lepaskan tangan ku!!" teriak Yeiyi sambil menghempaskan kedua tangannya hingga tangan Thien Yu yang memegangnya terlepas.
"Aku tak mau kau memegang tanganku lagi, dan ingat aku tak pernah memintamu untuk bersamaku, dan aku ingin kau mengurus dirimu sendiri," ucap Yieyi sambil melangkah pergi.
"Dasar wanita aneh, siapa juga yang ingin bersamamu, kalau bukan leluhur menara hijau yang menitipkan kau padaku tak mungkin aku mau untuk menjagamu," batin Thien Yu.
Thien Yu mengalirkan energi murni kedalam cincin penyimpanannya hingga membuatnya lenyap, dan tiba tiba dia sudah berada di dalam reruntuhan menara hijau yang membuat tetua Yi Ning sangat terkejut.
Thien Yu di cecar berbagai macam pertanyaan hingga dia tak mampu menjawab satupun pertanyaan dari gurunya.
"Guru, aku baru tiba setidaknya guru menyiapkan makanan mau pun minuman buatku, karena aku sudah sangat lapar," ucap Thien Yu.
"Baiklah muridku, aku begitu sangat senang karena telah melihatmu lagi," jawab tetua Yi Ning.
Setelah berkata seperti itu, tetua Yi Ning segera menyiapkan makanan bagi muridnya. Dan di meja makan itu Thien Yu menceritakan semua yang telah dialaminya mengenai kekuatan illahi yang di takdirkan baginya.
Tetua Yi Ning sangat senang dengan pencapaian Thien Yu, dan dia menginginkan jika muridnya itu mengikuti kompetisi di menara jingga, agar dapat mengembalikan nama baik menara hijau di alam cahaya rembulan.
Bersambung.
__ADS_1
Belum bisa nulis banyak sahabat semua, tangan kanan belum bisa di gunakan untuk mengetik. Menulis sambil merasakan sakit bukan lah hal yang mudah, dan semoga secepatnya saya bisa menulis lebih banyak lagi🙏, trimakasih karena telah membaca novel ini.