Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Penyerangan ke kediaman putra mahkota


__ADS_3

Matahari telah di atas kepala, dan panasnya semakin menyengat di permukaan kulit. Nien Chu melangkahkan kaki ke sebuah penginapan yang tak begitu banyak dikunjungi oleh para pengunjung, karena penginapan itu terlihat kumuh dan sempit.


Nien Chu sengaja mencari penginapan yang tak begitu banyak dikunjungi para pengunjung, semua itu agar keberadaannya di kota kekaisaran dapat tersamarkan.


Malam hari keadaan kota masih terlihat ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang, Tampak Nien Chu telah mempersiapkan segala hal untuk melakukan penyerangan kepada putra mahkota di kediamannya.


Dengan mengendap endap diatas bangunan istana, Nien Chu mencari seorang prajurit penjaga yang lengah, untuk diinterogasi mengenai keberadaan kediaman putra mahkota.


Melihat ada seorang prajurit yang tengah buang air kecil sehingga dia terpisah dari kelompok prajurit penjaga lainnya, Nien Chu segera memasang topeng perak dan langsung melesat ke arah prajurit tersebut.


Prajurit penjaga yang melihat kehadiran Nien Chu yang sangat tiba-tiba, membuatnya sangat terkejut dan dengan refleks dia pun berteriak, tapi sayang teriakan nya hanya sampai di tenggorokan karena sebuah totokan telah bersarang di tubuhnya.


Tubuh prajurit itu tak dapat digerakkan sehingga mempermudah Nien Chu untuk menginterogasinya.


"Aku hanya ingin mengetahui tempat kediaman putra mahkota, dan jika kau memberitahukannya kepadaku maka pisau belati yang ada di tanganku ini takkan bersarang di tubuhmu," ucap Nien Chu sambil memperlihatkan belati yang ada di tangannya kepada prajurit penjaga.


Prajurit penjaga yang begitu sangat ketakutan langsung menunjuk ke arah timur, tempat keberadaan kediaman putra mahkota.


"Bagus, aku sangat suka dengan kerja samamu dan agar kau merasa aman dari semua pertanyaan yang akan menimpamu esok hari, maka terpaksa aku harus melukaimu," ucap Nien Chu kemudian menghantamkan telapak tangan nya ke arah dada prajurit penjaga, sehingga prajurit itu terhempas dan tak sadarkan diri.


Setelah mengetahui tempat keberadaan kediaman putra mahkota, dengan menggunakan langkah bayangan Nien Chu melesat cepat menuju ke arah timur, sesuai dengan petunjuk dari prajurit penjaga yang diinterogasi nya.


Benar saja, di ujung timur terdapat bangunan megah yang dijaga oleh banyak kultivator kuat, sehingga Nien Chu meyakini jika bangunan itu merupakan tempat kediaman putra mahkota.


"Aku harus menyingkirkan para penjaga yang terdiri dari para kultivator yang memang dilatih dan ditugaskan untuk melindungi putra mahkota," batin Nien Chu.


Nien Chu langsung mengeluarkan pedang penguasa malam dari dalam alam batinnya, yang membuat hawa membunuh seketika itu menyeruak di sekitar tempatnya berada.


3 kultivator ranah tingkat roh yang menjaga kediaman putra mahkota, tiba-tiba saja merasakan udara yang semakin dingin ditempatnya berada, sehingga mereka semua langsung mengeluarkan hawa murni untuk menghangatkan tubuh mereka.


"Saudaraku, entah mengapa aku merasakan kedinginan yang tak pernah kurasakan beberapa hari belakangan ini," ucap salah seorang kultivator penjaga.


"Kau benar, tak ada angin dan tak ada hujan rasa dingin ini begitu menusuk tulang," timpal kultivator yang lainnya.


Sementara ke 3 kultivator yang tengah bercakap-cakap mengenai keadaan alam di sekitar kediaman putra mahkota, begitu sangat terkejut setelah melihat satu persatu penjaga di ranah tingkat jiwa yang penjaga bangunan putra mahkota, tumbang ke tanah dengan tubuh yang terpisah dari kepalanya.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi sehingga seluruh penjaga mati dan yang tersisa hanya kita bertiga," ucap salah seorang kultivator sambil melihat ke area sekelilingnya.


"Aku juga tak mengetahuinya secara pasti, tapi firasat ku mengatakan jika ada seorang kultivator kuat yang sengaja datang ke sini untuk membunuh putra mahkota," timpal yang lainnya sambil memasang kewaspadaan tinggi.


"Kau benar saudaraku, lebih baik kita berhati-hati karena kultivator yang membunuh para penjaga bukanlah kultivator biasa, dan kemungkinan tingkat kekuatannya lebih tinggi dari kita bertiga," ucap yang lainnya.


Ketiga kultivator di tingkat ranah roh, segera mencabut pedang masing-masing untuk menjaga kemungkinan serangan gelap yang dilakukan penyusup yang telah membunuh rekan-rekannya.


Tak lama kemudian Nien Chu tiba di hadapan ketiga kultivator penjaga, dan melepaskan topeng perak yang di kenakannya.


"Aku ingin kalian bertiga melihat wajahku, sebelum aku memberikan kematian kepada kalian bertiga," ucap Nien Chu.

__ADS_1


"Apa maksudmu dengan mengatakan hal itu kepada kami bertiga?, apa kau sangka kami bertiga akan diam saja saat kau ingin membunuh kami!!" bentak salah seorang kultivator penjaga.


"Ha ..ha...ha..., Aku senang dengan keberanian mu tapi sayang kalian semua akan mati di tanganku," ucap Nien Chu sambil berjalan dengan santai ke depan.


"Apakah kalian masih ingat peristiwa 3 tahun yang lalu di Guild serikat dagang, saat itu Kalian bertiga telah membunuh seorang manajer di sana, dan hari ini putranya telah berada di hadapan Kalian bertiga untuk menuntut balas atas kematian manajer itu," ucap Nien Chu kembali.


Sontak saja ke tiga kultivator penjaga sangat terkejut, karena peristiwa itu telah lama berlalu dan kali ini mereka harus menghadapi putra dari manajer yang telah mereka bunuh.


Nien Chu seketika itu menyerang mereka bertiga hingga pertarungan tak dapat terhindarkan.


Nien Chu tak ingin berlarut-larut dalam pertarungan itu, Karena tujuannya datang ke kediaman putra mahkota hanya untuk membunuhnya.


Nien Chu segera menggunakan teknik 6 rasi bintang dari pedang penguasa malam, dan dalam sekali kedipan mata Nien Chu telah membagi tubuhnya menjadi 6 replika tubuh yang sama, dengan masing-masing membawa pedang penguasa malam di dalam genggaman tangannya.


Replika tubuh Nien Chu seketika mengurung ke 3 kultivator penjaga dengan pola bintang 🔯, dan ke tiga kultivator yang berada di tengah tengah kepungan replika tubuh Nien Chu, seketika itu tak dapat menggerakkan tubuh mereka walaupun mereka bertiga telah mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk membebaskan diri dari dalam pola bintang yang di buat Nien Chu.


"Sudah kukatakan jika aku akan membunuh kalian bertiga, dan semua yang ku katakan itu pasti akan ku buktikan," ucap Nien Chu.


Setelah berkata seperti itu, ke 6 bayangan Nien Chu bergerak dan melakukan pembantaian di sana.


Ketiga kultivator penjaga mati dengan cara mengenaskan, tubuh mereka terpotong-potong oleh tebasan pedang yang sangat tajam, sehingga darah segar membanjiri area tempat itu.


Di dalam kediaman putra mahkota, terlihat pangeran ke 3 dan putra mahkota seketika itu menghentikan perbincangan mereka, karena mendengar adanya keributan di luar bangunan.


Ketika kedua Pangeran berada di luar, seketika itu mereka sangat terkejut melihat pembantaian yang telah terjadi kepada seluruh penjaga di kediaman putra mahkota.


Tampak terlihat seorang pemuda dengan topeng perak di wajahnya, dan tengah memegang pedang berwarna hitam kelam di genggaman tangannya.


"Putra mahkota, telah lama aku menunggu kesempatan ini untuk bertemu langsung dengan mu orang yang telah membunuh ayahku, dan sudah saatnya aku membuat perhitungan dengan kematianmu," ucap Nien Chu.


"Pangeran ke 3 yang mendengar perkataan pemuda bertopeng perak yang ada di hadapannya, meyakini jika di balik topeng itu adalah wajah Nien Chu sahabatnya, karena seluruh gerak-geriknya sama persis dengan apa yang ada pada Nien Chu.


Tak lama kemudian Nien Chu melesat cepat ke arah sang pangeran, dengan menebaskan pedang penguasa malam yang ada dalam genggaman tangannya.


Melihat serangan Nien Chu, buru-buru putra mahkota menangkis serangan pedang yang diarahkan kepadanya, dengan tombak besi yang dikeluarkan dari dalam cincin penyimpanannya.


Trang ....


Dua senjata saling beradu hingga menimbulkan percikan bunga api. Dari serangan yang dilakukan oleh Nien chu membuat putra mahkota terhempas ke belakang dan menghantam dinding bangunan kediamannya, hingga hancur.


Kini terlihat jelas perbedaan ranah tingkatan yang dimiliki oleh keduanya, hingga kembali Nien Chu melakukan serangan susulan dengan menghantamkan telapak tangannya dari jarak jauh ke arah putra mahkota, maka tampak bayangan telapak tangan berwarna putih seketika itu menuju ke arah putra mahkota yang masih terpuruk dengan keadaannya.


Pangeran ke 3 yang melihat hal itu tak tinggal diam dia pun menebaskan pedang nya, hingga selarik sinar berbentuk bulan sabit menghadang serangan jarak jauh dari Nien Chu sehingga menimbulkan ledakan yang memekakkan telinga.


Pangeran ke 3 merasakan dadanya begitu sesak akibat efek benturan yang terjadi, namun untuk menjaga keselamatan putra mahkota dia pun lalu bersiap kembali menerima serangan susulan yang dilakukan oleh pemuda bertopeng perak yang ada di hadapannya.


Para prajurit yang mendengar ledakan keras terjadi, seketika itu berbondong-bondong menuju ke kediaman putra mahkota, untuk melihat keadaan yang terjadi di sana.

__ADS_1


Nien Chu tak perduli dengan banyaknya prajurit yang kini mengepung nya, dia pun kembali menyerang ke arah putra mahkota, akan tetapi Pangeran ke 3 tak membiarkan hal itu terjadi, dia pun lalu menghadang serangan yang dilakukan oleh Nien Chu, hingga pertarungan pun terjadi dengan sengit.


Para prajurit pemanah yang siap melesatkan anak panahnya tak bisa berbuat apa-apa, karena pangeran ke tiga begitu dekat dengan sasaran anak panah mereka.


"Lepaskan anak panah...!" tiba tiba putra mahkota memberikan perintah.


"Yang mulia, pangeran ke 3 terlalu dekat dengan penyusup itu, dan jika kita melepaskan anak panah ke arahnya maka Pangeran ketika bisa saja terkena anak panah yang kita lepaskan," ucap kepala prajurit.


"Aku yang memberi perintah, cepat lepaskan anak panah itu atau aku sendiri yang akan membunuhmu jika kau tak mendengarkan perintahku!!" bentak putra mahkota.


Melihat amarah putra mahkota, membuat kepala prajurit tak berani untuk membantahnya, dia pun mengangkat tangan kanannya keatas, dan mengarahkannya ke depan sehingga seluruh prajurit pemanah langsung melepaskan anak panahnya.


Ratusan anak panah seketika itu menuju kearah kedua kultivator yang tengah bertarung, yang membuat mereka berdua sangat terkejut dengan banyaknya anak panah yang datang secara tiba tiba.


Nien Chu segera menebaskan pedang penguasa malam ke arah anak panah yang mengarah kepadanya, hingga anak panah itu tersapu bersih terkena gelombang angin yang keluar dari tebasan pedang penguasa malam.


Tidak seperti halnya dengan pangeran ke 3 yang begitu sangat kesulitan menghadapi ratusan anak panah yang mengarah kepadanya, hingga dua buah anak panah telak menghantam tubuhnya.


Pangeran ke 3 terjatuh, dan tak berdaya menghadapi ratusan anak panah yang kembali melesat cepat ke arahnya.


Nien Chu yang tak ingin sahabatnya mati terkena anak panah dari para prajurit pemanah, segera membantunya untuk lepas dari anak panah yang siap untuk membunuhnya kapan saja.


Dalam menghadapi ratusan anak panah yang melesat ke arahnya dan pangeran ke 3, Nien Chu tak leluasa untuk bergerak karena adanya Pangeran ketiga yang dilindunginya hingga 3 buah anak panah kini bersarang di tubuh Nien Chu.


Nien Chu segera menebaskan pedang penguasa malam kembali, yang di aliri Kekuatan tebasan semesta yang juga merupakan tehnik pedang penguasa malam terkuat yang di milikinya, hingga bayangan pedang besar menghantam seluruh pemanah yang ada di tempat itu.


Pekik kematian menggema di mana mana, saat seluruh pemanah yang ada di tempat itu ambruk ke tanah dengan tubuh yang terpotong menjadi dua bagian.


Nien Chu yang tengah terluka akibat anak panah yang bersarang di tubuhnya, menatap tajam kearah putra mahkota yang sangat ketakutan melihat Nien Chu.


"Hari ini tak akan ada lagi yang bisa menyelamatkanmu dari kematian, karena kau sudah di takdirkan untuk mati di tanganku!!" teriak Nien Chu kemudian mengeluarkan teknik 6 rasi bintang kepada Sang putra mahkota.


Pangeran ke 3 yang melihat Nien Chu akan menyerang putra mahkota dengan salah satu teknik terkuatnya, segera sigap dan memeluk kedua kaki Nien Chu.


"Aku mohon padamu untuk tak membunuh putra mahkota, Nien Chu kau adalah sahabatku dan ku harap di masa depan kau akan tetap menjadi sahabatku, sedari itu kumohon kepadamu untuk tak membunuh putra mahkota," pinta pangeran ke 3.


Nien Chu terdiam melihat pangeran ke 3, dan tak lama diapun berkata.


"Hari ini Kau memohon kepadaku untuk hidup saudaramu, dan bagaimana denganku dengan janjiku kepada ayahku untuk membalaskan kematiannya, apakah pantas bagiku untuk mengabaikan janjiku itu?" tanya Nien Chu.


Tak ada jawaban dari pangeran ketiga, dia bungkam seribu bahasa dengan perkataan dari Nien Chu. Dengan perlahan pangeran ke 3 melepaskan pelukannya dari kaki Nien Chu karena dia menyadari jika semua perkataan Nien Chu benar adanya.


Pangeran ke 3 hanya menundukkan kepalanya saat melihat Nien Chu melesat pergi menuju kearah putra mahkota.


Teriakan menyayat hati dari putra mahkota terdengar di telinga pangeran ke 3, hingga membuat Pangeran ketiga merasa bersalah karena telah gagal memenuhi janjinya kepada sang ayah, untuk melindungi putra mahkota kerajaan cahaya naga.


Saat pangeran ke 3 melihat kearah putra mahkota, diapun langsung tersenyum karena melihat putra mahkota masih hidup dan tersandar di bangunan kediamannya.

__ADS_1


"Terimakasih Nien Chu, kau memang sahabat sejati ku," ucap pangeran ke 3.


Bersambung


__ADS_2