Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Saling memiliki


__ADS_3

Nien Chu membiarkan putri Annchi terbaring di kamarnya, dia merasa iba kepada sang putri, karena dirinyalah sang putri meninggalkan kemewahan istana, demi mencarinya untuk 1 permintaan maaf.


Nien Chu memandang wajah polos Sang Putri saat tertidur, memang harus diakui oleh Nien Chu, jika wanita yang terbaring di atas tempat tidurnya masih memberi warna di hatinya.


Tak lama kemudian ketukan pintu terdengar dari luar kamar.


Nien Chu melangkahkan kakinya membuka pintu, dan tampak olehnya putri violin tengah berdiri di sana dan menatapnya dengan tajam.


"Siapa dia..!! wanita yang berada di pembaringan itu!!" ucap putri Violin dengan penekanan di perkataannya.


"Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu?" ucap Nien Chu.


Putri Violin mengibaskan tangannya kemudian melangkah membelakangi Nien Chu sambil berkata.


"Aku tak perduli dengan siapa kau bersama, yang aku inginkan pernikahan kita tak pernah terjadi, karena aku tau kau maksud dan tujuan mu menikahiku."


"Aku akan berusaha untuk membatalkan perjodohan kita sehingga kau takkan pernah di angkat sebagai putra mahkota setelah menikahiku, aku akan menghilangkan semua mimpimu dan segala ambisimu terhadap kekaisaran ini," ucap putri violin.


"Sudah cukup bicaramu?, lebih baik kau tanyakan sendiri kepada ayahmu, mengapa dia menginginkan aku menjadi calon suamimu, jika kau ingin berupaya menggagalkan pernikahan ini maka itu merupakan berita baik bagi ku, karena aku tak ingin menyia nyiakan hidup dan waktuku bersamamu di masa depan," jawab Nien Chu dengan senyuman yang sulit diartikan.


"Kau..!! aku tak menyangka ada manusia selicik kau di muka bumi ini, kau halalkan segala cara untuk mencapai cita citamu yang kotor itu, ingat Nien Chu!!, tahta kekaisaran takkan pernah jadi milikmu!!" ucap putri violin dengan bibir bergetar.


"Kau terlalu berprasangka buruk kepadaku, sebenarnya aku tak ingin menikahimu apalagi menginginkan untuk menjadi Kaisar di negeri ini, jika aku mau takkan sulit bagiku untuk menjadi Kaisar di negeri ini, tapi karena menghargai apapun yang telah dilakukan oleh pendahulu kaisar sebelumnya kepada negeri ini, maka aku menginginkan kekaisaran ini tetap berada di garis keturunan Kaisar pendahulu, dari darah keturunan kaisar Feng Yu," jawab Nien Chu.


"Ha..ha..ha.., itu hanya terucap di mulutmu saja, tapi aku tahu hati mu berkata lain. Kau sengaja memperdaya ayah ku, hingga perjodohan ini terjadi, dan aku tau tujuan mu cuma satu tahta kekaisaran ini," ucap putri violin.


"Kau telah menyinggung dan meremehkan ku putri, maka akan ku perlihatkan kepadamu bagaimana aku akan memenangkan turnamen itu dengan mudah, agar syarat perjodohan untuk menikahimu berada di tanganku, sehingga di malam pertama kita, aku akan bebas melakukan hal buruk kepadamu tanpa harus dicegah oleh siapapun, karena kau saat itu telah berada di dalam kekuasaan ku," jawab Nien Chu dengan tatapan dingin kearah putri Violin.


Apa yang dikatakan Nien Chu membuat sang putri bergidik ngeri mendengarnya, dia pun lantas mundur beberapa langkah ke belakang untuk menghindari tatapan dingin Nien Chu kearahnya.


Melihat putri Violin terpancing dengan perkataannya, membuat Nien Chu semakin bertambah kuat menyerang putri Violin dengan perkataannya.


"Saat ini kau bisa bangga dengan kecantikan yang kau miliki, dan juga kekuasaan ayahmu sebagai Kaisar, tapi sayang kau tak ada artinya di mataku, setelah pernikahan kita terjadi maka di saat itu derajat, martabat dan kehormatan yang kau agung agungkan akan menjadi sirna, yang ada kau akan menjadi budak yang harus melayaniku sepanjang waktu sesuai keinginanku," tambah Nien Chu yang berusaha menakut-nakuti Sang Putri, agar perjodohan yang terjadi segera digagalkannya.


"Nien Chu..!!, Aku telah mendengar semua yang kau katakan, kau telah berani terang terangan menghina putriku dan juga menghina keluarga kaisar, kau selayaknya dihukum mati dengan perkataan itu!!" ucap permaisuri yang tiba-tiba saja muncul di tempat itu.


Sementara itu Putri Annchi yang telah sadar dari pingsannya, mendengar adanya suara pertengkaran di depan kamar, dia pun lantas menuju ke sana dan melihat Nien Chu tengah bertengkar dengan dua orang wanita.


Nien Chu yang melihat adanya putri Annchi di tempat itu, segera datang dan merangkul pinggang sang putri lantas dia pun berkata.


"Kalian pergilah dari sini.., kehadiran kalian berdua hanya merusak kesenanganku saja!!" ucap Nien Chu kemudian membawa Putri Annchi masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.


"Nien Chu...!! aku belum selesai bicara padamu!!" teriak permaisuri menahan amarah dengan sikap Nien Chu kepada putrinya.


Tak ada jawaban dari dalam kamar, sehingga membuat permaisuri menarik tangan putrinya untuk meninggalkan tempat itu.


"Kita pergi dari sini!!" ucap sang permaisuri.


"Tapi ibu...!!, Nien Chu sudah sangat keterlaluan padaku, apakah aku harus mempertahankan perjodohan ini!!."


"Ibu.., Aku tak ingin setelah aku menikah dengannya aku hanya akan menjadi budak baginya, lebih baik aku mati saja!!" jawab putri Violin dengan amarah yang tertahan.


"Sudah lah putri..., Percuma kita membahasnya di sini, Lebih baik kita bertemu dengan ayahmu, kita akan mengadukan apa yang telah dilakukan calon suamimu itu, selain meremehkan kelurga kaisar, dia juga telah membawa wanita lain masuk ke kamarnya," ucap permaisuri kemudian membawa Putri Violin untuk meninggalkan tempat itu.


*****


Di dalam kamar terjadi perbincangan antara Nien Chu dan putri Annchi.


"Maafkan aku karena melibatkan mu dalam masalah ini," ucap Nien Chu.


"Dapatkah aku mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya putri Annchi.

__ADS_1


Nien Chu kemudian menceritakan semua yang terjadi, mengenai perjodohannya dengan putri Violin yang merupakan Putri satu satunya Kaisar pheonix.


Nien Chu juga menceritakan tentang An Yue dan Hyun Zi, yang merupakan wanita yang disayanginya sama seperti putri Annchi.


Nien Chu juga menceritakan tentang putri Zeng Yi dan juga Dewi giok yang kini berada di kekaisaran mutiara hidup, sebagai wanita yang dikasihinya tanpa ditutup tutupinya sama sekali.


"Aku telah menceritakan semua kepadamu, dan tak ada satupun yang ku tutup tutupi, semua ini agar aku dapat memberikanmu dua pilihan yaitu bersamaku atau kembali ke dataran langit karena kakakmu begitu sangat mengkhwatirkan keadaan mu," ucap Nien Chu.


Terlihat sang putri menghela napas panjang, dia tak menyangka jika pemuda sangat dicintainya itu memiliki banyak wanita selain dirinya.


Putri Annchi tak bisa menepis perasaan hatinya yang masih merasakan cinta kepada Nien Chu.


"Aku memilih bersamamu kak Nien Chu, karena saat ini kau merupakan tujuan hidup ku. Aku minta padamu untuk selalu menyayangiku, dan membagi kasih sayangmu seadil adilnya," pinta putri Annchi.


"Aku pasti akan berlaku adil kepada kalian semua, dan tak akan membeda bedakan satu dengan yang lainnya," Jawab Nien Chu.


Entah siapa yang memulai, bibir keduanya kini saling berpaut satu dengan yang lainnya,


yang membuat Ciuman itu semakin dalam dan penuh gairah.


Nien Chu yang tak ingin kehilangan sang Putri untuk kedua kalinya, segera mendekapnya dengan hangat.


Perlahan tapi pasti bibir Nien Chu mulai menelusuri leher jenjang sang putri, sehingga menyebabkan rintihan kecil dari mulut sang putri terdengar di telinga Nien Chu.


Putri Annchi tak kuasa lagi menahan gejolak di hatinya, saat Nien Chu mulai memberikan tanda merah di lehernya sebagai tanda kepemilikan.


Satu persatu pakaian keduanya mulai berserakan di lantai kamar itu, sehingga membuat mereka berdua kini polos tanpa adanya sehelai benang pun yang menutupi tubuh keduanya.


Nien Chu melanjutkan aksinya dengan mulai memberanikan diri menelusuri bagian-bagian vital di tubuh Annchi, buah mengkal yang nyaris matang di hadapannya, tak luput dari serangan Nien Chu hingga terlihat banyaknya tanda merah di sekitarnya.


Tangan Nien Chu mulai merambah ilalang lembab yang dipenuhi dengan kehangatan dari sebuah sumur tua.


Permainan jari tangan Nien Chu membuat Sang Putri harus menggigit bibirnya sendiri, merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya selama ini.


Berkali kali tonghak itu melakukan tugasnya, akan tetapi selalu saja mengalami kegagalan, hingga rintihan kesakitan mulai terdengar dari mulut Putri Annchi.


Karena usaha yang gigih, pada akhirnya tonggak keramat itu mulai memasuki sumur yang lembab, dengan dipenuhi ilalang subur di sekitarnya.


Tonggak keramat Nien Chu bukanlah tonggak sembarangan, pertengahan jalan telah membuat putri Annchi merasakan kesakitan yang teramat sangat, namun jeritan kecil sang putri tak di pedulikan oleh Nien Chu, hingga tonggak itu menancap dengan sangat dalam sampai batasannya.


Putri Annchi mulai meneteskan air matanya saat Nien Chu mulai memacu kudanya secara berirama.


Lama kelamaan putri Annchi mulai terbiasa dan mulai menikmati berkuda bersama Nien Chu mendaki puncak tertinggi gunung surgawi.


Sakit dan perih yang dirasakannya kini telah sirna berganti dengan kehangatan sinar mentari.


Hingga beberapa waktu berlalu, Nien Chu semakin memacu kudanya dengan sangat cepat, saat melihat puncak gunung surgawi yang telah berada di depan mata.


Dan pada akhirnya teriakan keduanya mengakhiri pendakian panjang, dan sangat melelahkan yang mereka inginkan bersama.


Nien Chu tergeletak di sisi Putri Annchi, dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Keduanya terlihat sangat kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang itu.


"Maafkan Aku sayang..." ucap Nien Chu.


"Apa yang harus aku maafkan, sementara aku pun menginginkannya," jawab putri Annchi.


Tak beberapa saat lamanya, canda dan tawa menghiasi ruangan kamar itu, hingga mereka pun kembali mengulang kisah cinta di malam itu untuk kedua kalinya.


Kali ini durasi pendakian yang mereka lakukan begitu sangat lama, sehingga membuat putri Annchi begitu sangat kewalahan dalam pendakiannya kali ini.


Kembali erangan Nien Chu mengakhiri perjalanan panjang yang mereka lakukan bersama. Kali ini Nien Chu benar-benar tak berdaya, tergeletak dengan senyum kepuasan yang melekat di bibirnya.

__ADS_1


*****


Putri Annchi telah selesai membersihkan dirinya, dia pun memakai pakaian terbaik yang dimilikinya yang berada di dalam cincin penyimpanannya.


Tatapan putri Annchi tertuju ke arah lengan kiri yang biasanya terdapat tanda merah sebesar kacang hijau yang melekat di sana, tapi kali ini tanda itu benar-benar menghilang dari permukaan kulitnya, yang menandakan jika sesuatu yang paling dijaga dan paling berharga yang dimilikinya, telah hilang bersama kebahagiaan semalam.


Setelah sedikit merias wajahnya, terlihat putri Annchi begitu sangat cantik jelita, yang kecantikannya laksana Dewi yang turun dari Nirwana.


Wajar saja jika putri Annchi secantik itu, karena darah yang mengalir di tubuhnya merupakan darah bangsawan seorang elf.


Putri Annchi menatap kekasihnya dari dekat, sehingga hembusan nafasnya dapat dirasakan oleh Nien Chu, yang membuat pemuda itu langsung terbangun dari tidurnya.


Nien Chu tersenyum kearah sang putri, kemudian dia pun berkata. "Kebahagiaan di dalam hidup saat terbangun di pagi hari, saat melihat wajah cantik berada di hadapanku seperti ini," ucap Nien Chu.


"Kau tak usah menggodaku, Lebih baik kau segera mandi dan membersihkan dirimu, karena saat ini aku sudah sangat lapar dan aku tak tau ke mana aku harus mencarinya," ucap putri Annchi.


"Tunggulah, aku akan membersihkan diriku terlebih dahulu," jawab Nien Chu kemudian pergi untuk membersihkan diri.


Setelah sarapan, Nien Chu mengajak putri Annchi keluar dari istana, untuk pergi ke serikat dagang menemui An Yue dan Hyun Zi.


Putri Annchi tak menolaknya, biar bagaimanapun kedua wanita itu pasti akan menjadi orang terdekatnya dalam mendampingi Nien Chu di masa depan.


Setelah keluar dari istana, Nien Chu bersama putri Annchi yang tengah menaiki kuda, di cegat oleh 5 kultivator bertopeng.


"Ranah dewa tak terbatas .." batin Nien Chu.


Kelima kultivator bertopeng itu langsung menyerang ke arah Nien Chu dan putri Annchi, secara bersamaan.


Nien Chu yang mengkhawatirkan keselamatan Sang Putri, segera mendekatinya agar dapat melindungi Putri Annchi dari kelima kultivator penyerang.


Pertarungan pun tak terhindarkan. Nien Chu yang tak ingin berlama lama bertarung dengan kelima pembunuh bayaran, segera mengeluarkan pedang penguasa malam dari dalam tubuhnya, hingga aura pedang yang keluar membuat ke 5 kultivator itu merasa jika pemuda yang menjadi target pembunuhan, bukanlah pemuda biasa melainkan kultivator kuat yang memiliki kekuatan di ranah Dewa tak terbatas.


Walaupun mengetahui lawan tarungnya merupakan kultivator kuat, tak mengurungkan niat mereka berlima untuk membunuh Nien Chu.


Pedang penguasa malam yang saat ini memiliki ketajaman yang sangat luar biasa setelah Nien Chu memiliki kekuatan tak terbatas, mampu memotong pedang ke 5 pembunuh bayaran dalam pertarungan yang terjadi, sehingga kepanikan pun melanda mereka berlima.


Belum sempat mereka berlima mencari cara untuk membunuh Nien Chu, tiba-tiba saja pemuda yang menjadi target pembunuhan menghilang dari tempatnya berada.


Zlep..Zlep..!!


4 dari 5 pembunuh bayaran yang menyerang, telah terkapar di tanah dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


Rasa ketakutan menyelimuti pembunuh bayaran yang tersisa, yang mengetahui jika target pembunuhan merupakan monster pembunuh yang sangat kejam, sehingga kekuatan ranah Dewa tak terbatas yang dimiliki nya sama sekali tak berarti apa-apa di hadapannya.


Flash Back


Nien Chu yang ingin mencoba kekuatan dari teknik menembus dimensi, segera menggunakan teknik itu dalam pertarungannya melawan pembunuh bayaran yang ada di hadapan nya.


Tehnik dimensi yang digunakannya benar-benar sangat luar biasa, sehingga kehadirannya di dekat para pembunuh bayaran sama sekali tak terdeteksi, sehingga Nien Chu dapat dengan mudah memenggal kepala mereka.


"Katakan padaku siapa yang menyuruh mu?, Jika kau tak mengatakannya maka jangan salahkan aku jika kau pun bernasib sama seperti mereka," ucap Nien Chu.


"Aku akan mengatakannya kepadamu tuan muda, asalkan kau tak membunuhku," ucap pembunuh bayaran itu.


"Katakanlah..." ucap Nien Chu sambil mengacungkan pedangnya ke arah pembunuh bayaran yang sangat ketakutan di hadapannya.


"Permaisuri...!" ucap pembunuh bayaran itu.


Nien Chu tersenyum sesaat, tak lama kemudian pedang penguasa malam melesat cepat dan menebas putus leher pembunuh bayaran itu.


"Aku tak pernah berjanji untuk tak membunuhmu," ucap Nien Chu kemudian menyimpan kembali pedang penguasa malam ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2