
Nien Chu tumbuh seperti anak pada umumnya, sang ayah pun begitu sayang padanya hingga sang ayah memberikan berbagai macam sumber daya untuk membantu Nien Chu dalam melatih tingkat kekuatan yang dimilikinya, agar terus berkembang semakin jauh.
Adapun ranah tingkatan yang ada di dataran kekaisaan langit.
1).Tingkat awal terbagi dalam 3 tingkatan yaitu tingkat awal dasar, tingkat awal menengah dan tingkat awal puncak.
2). Tingkat menengah terbagi dalam 3 tingkatan yaitu tingkat menengah dasar, tingkat menengah inti dan tingkat menengah puncak.
3). Tingkat Nafas terbagi dalam 2 tingkatan yaitu tingkat nafas pembuka dan tingkat nafas inti.
4) Tingkat Kuasa terbagi 2 tingkatan yaitu tingkat kuasa bumi dan tingkat kuasa langit.
5) Tingkat Jiwa.
6) Tingkat Roh
7) Tingkat Alam
8) Tingkat emperor
9) Tingkat suci
10) Tingkat Dewa
Kesepuluh tingkatan itu yang menjadi patokan kultivasi dari seorang kultivator di alam dunia.
Di usia 7 tahun, Nien Chu telah digadang-gadang sebagai murid jenius keluarga Nien, karena saat uji coba pengukuran tingkat kekuatan di sebuah batu yang memang khusus untuk mengetahui tingkat kekuatan dari seseorang, Nien Chu sudah berada pada ranah tingkat menengah puncak, yang jauh berada di atas teman-teman sebayanya.
Hal itu membuat banyak para sesepuh keluarga Nien berharap banyak padanya, agar kelak di usia 17 tahun Nien Chu dapat mengikuti kompetisi yang akan diadakan 10 tahun sekali oleh kerajaan cahaya naga, dan diikuti seluruh jajaran keluarga besar yang berada di kekaisaran cahaya naga, dan jika ada dari keluarga suatu daerah yang memenangkan pertandingan kompetisi itu, maka keluarga itu akan menjadi keluarga nomor satu yang akan memegang kendali dari keluarga-keluarga lain yang ada di kekaisaran cahaya naga, yang tentunya keluarga tersebut akan diutamakan oleh kekaisaran cahaya naga.
Di usia 10 tahun kekuatan ranah tingkatan Nien Chu tiba tiba berubah drastis tanpa sebab, bukannya meningkat malah kekuatannya semakin menurun akibat panas tubuhnya yang tak terkendali.
Ketua Nien bao merasa sedih memikirkan nasib putranya yang entah mengapa memiliki kekurangan di bidang kultivasi, tapi dia tetap berharap jika putranya itu mampu untuk mengatasi masalah di dalam tubuhnya, dan dengan berbagai macam cara ketua Nien bao berusaha semaksimal mungkin untuk mencari penyebab mengapa putranya tak bisa melakukan kultivasi, dengan memanggil para alkemis ternama di kekaisaran cahaya naga, dan tentunya untuk memanggil seorang alkemis ternama akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Banyak kultivator kuat di bidang Alkemis di bawa untuk melihat perkembangan putranya, akan tetapi tetap saja Nien Chu tak mengalami perubahan, malahan membuat perekonomian keluarga Nien semakin terpuruk, karena banyaknya pengeluaran untuk membiayai para alkemis yang meminta bayaran tinggi.
__ADS_1
Karena masalah keuangan yang semakin terpuruk, membuat para sesepuh keluarga Nien tak percaya lagi terhadap ketua Nien bao untuk memimpin keluarga Nien di masa depan.
Didalam rapat pertemuan keluarga Nien...
"Untuk masalah keluarga kita telah banyak pengeluaran yang dikeluarkan oleh ketua Nien bao dalam menyembuhkan putranya, jika yang dilakukannya dapat menjadikan Nien Chu seorang jenius di dalam keluarga Nien Itu tak masalah, akan tetapi yang dilakukannya hanya membuang-buang koin emas yang kita kumpulkan bersama selama ini, dan tetap saja banyaknya pengeluaran yang terjadi tak membuat perubahan dalam diri Nien Chu.
Dengan ini kuharap para sesepuh keluarga Nien yang berada di dalam ruangan ini, dapat kembali memikirkan siapakah yang layak menjadi pemimpin keluarga, jangan sampai pemimpin yang sekarang hanya menghabiskan keuangan keluarga dan tak memikirkan dampak yang akan kita lalui di masa depan jika terus-terusan pengeluaran itu dihabiskan untuk hal yang sia-sia, mending koin emas untuk membayar Alkemis dipakai oleh putra-putri kita agar mendapatkan sumber daya yang lebih layak, yang dapat membantu mereka dalam meningkatkan kekuatan, dari pada hanya ditujukan pada satu orang yang hanya bisa menghabiskan biaya dan tak bisa diandalkan," ucap tetua Nien Ma.
Ketua Nien bao meremas tinjunya menahan amarah, dia tak menyangka jika kebaikannya selama ini kepada keluarga Nien Ma dibalas dengan mempermalukannya di dalam rapat keluarga.
"Aku rasa apa yang dikatakan ketua Nien Ma benar adanya, dan aku sebagai sesepuh keluarga Nien akan mengganti ketua lama dengan Ketua yang baru, agar keuangan keluarga dapat membaik seperti sediakala.
Untuk itu aku mempercayakan pimpinan keluarga Nien kepada ketua baru yaitu ketua Nien Ma, dan mencopot jabatan ketua Nien bao secara tak hormat di dalam keluarga kita.
Dan untuk mengenang jasa dari ketua Nien bao sebelumnya, maka dia akan mendapatkan jabatan sebagai kepala pengurus kuda keluarga," ucap sesepuh Nien Wa yang begitu gram atas apa yang dilakukan Nien bao selama ini, yang bisa saja akan menghancurkan perekonomian keluarga Nien di masa depan, hingga seluruh pemuda pemudi keluarga Nien akan dianggap remeh oleh keluarga lain di kekaisaran cahaya naga, karena tak punya kas keuangan di dalam keluarga Nien.
Setelah hasil keputusan itu, ketua Nien bao hanya tertunduk lesu dan diapun pergi ke tempat kediamannya untuk menemui Nien Chu.
Setelah bertemu dengan sang putra, ketua Nien bao pada akhirnya menceritakan semua keputusan di rapat keluarga yang terjadi hari itu.
"Mulai besok kita akan pergi dari rumah ini, karena kediaman ini merupakan kediaman pemimpin keluarga. Ayah sekarang bukanlah seorang pemimpin keluarga Nien, maka ayah wajib meninggalkan bangunan yang diperuntukkan bagi pemimpin keluarga Nien.
"Iya ayah, maafkan aku karena telah membuatmu menjadi seperti ini," ucap Nien Chu.
"Kau tak usah meminta maaf kepadaku putraku, karena apa yang dimiliki ayah semua itu demi kebaikanmu, beristirahat lah" ucap Nien bao.
"Baik ayah," jawab Nien chu singkat.
Malam itu Nien Chu tak bisa tidur, dia memikirkan tentang ayahnya yang kehilangan jabatannya sebagai pemimpin keluarga, dan juga memikirkan tentang kekuatan yang dimilikinya sekarang yang tak bisa melakukan kultivasi layaknya anak-anak sebayanya, yang semakin hari semakin meningkat ranah tingkatannya.
Diatas pembaringan dengan duduk bersila Nien Chu mencoba memusatkan energi di dalam dantiannya, akan tetapi dia tak mampu melakukan kultivasi menembus tingkat selanjutnya, hal itu membuat Nien Chu semakin heran dengan situasi yang menimpanya saat ini.
Nien Chu keluar rumah dan berlari menuju ke atas perbukitan, setibanya di atas Thien Yu berteriak sekeras-kerasnya untuk menghilangkan rasa kekesalan dengan apa yang dialaminya.
"Mengapa ini bisa terjadi padaku, mengapa aku tak bisa meningkatkan kekuatanku seperti layaknya anak-anak seusiaku?" batin Nien Chu.
__ADS_1
Karena kelelahan Nien chu lantas tertidur di hamparan rumput di perbukitan itu.
Di bawah alam sadarnya, Nien Chu bertemu dengan inti api bercahaya putih yang sangat menyilaukan mata, yang sedang berputar-putar di dalam Dantian nya.
Melihat hal itu, Nien Chu pun menanyakan mengapa inti api itu berada di dalam dantiannya.
"Mengapa kau berada di sini, ini adalah dantian ku pusat seluruh energi di tubuhku!! bentak Thien Yu.
"Aku adalah inti api surgawi yang memilihmu, kau boleh menggunakan kekuatan inti api Surgawi di masa depan dalam semua pertarungan mu," ucap inti api surgawi yang kini berubah menjadi sosok laki-laki tua berjubah putih.
"Aku ingin menanyakan satu hal kepadamu, apakah karena keberadaanmu di dalam tubuhku sehingga aku tak bisa melakukan peningkatan ranah tingkatan?" tanya Nien Chu.
"Aku memang telah menghisap energi tubuhmu hingga kau tak mampu untuk melakukan peningkatan kekuatan, semua itu kulakukan agar aku menjadi kuat di dalam tubuhmu dan dapat menyelaraskan dengan kemampuan yang kau miliki setahap demi setahap," ucap lelaki tua itu.
"Jadi kau penyebab sehingga aku tak dapat melakukan peningkatan kekuatan dengan menyerap energi Qi dalam tubuhku, maka aku minta padamu untuk mengembalikan semua yang telah kau ambil dariku dan setelah itu pergilah jauh-jauh dari hidupku," ucap Nien Chu dengan kemarahannya.
"Kau tak bisa mengusirku karena keberadaanku di tubuhmu merupakan berkah para dewa, dan kau harus mensyukuri akan hal itu karena kau telah terpilih untuk menguasai kekuatan inti api Surgawi," jawab laki laki tua itu.
"Aku tak membutuhkanmu dalam hidup ku sekarang maupun di masa depan, Jika kau tak ingin mengembalikan energi Qi yang telah kau ambil dariku, maka aku minta padamu untuk pergi jauh-jauh dari hidupku," ucap Nien Chu dengan amarahnya yang semakin berkobar.
"Nien Chu, kau jangan mengambil keputusan pada saat amarah menguasaimu, begini saja aku ingin bertanya kepadamu, jika energi Qi yang sekarang ini ku pakai untuk menyelaraskan inti api surgawi dengan tubuhmu, jika saat ini energi itu ada di tubuhmu sekarang, maka tingkat kekuatan apa yang kau peroleh?" tanya laki laki tua itu.
"Jika kau tak mengambil energi Qi di tubuhku maka sudah dipastikan aku telah berada di ranah tingkat nafas pembuka," jawab Nien Chu
"Ha..ha..ha .., hanya tingkat nafas pembuka?" tanya laki laki itu dengan tawa yang terdengar merendahkan Nien Chu.
"Nien Chu setelah aku mengambil energi Qi di tubuhmu, kau telah turun beberapa tingkatan dari ranah tingkatan yang kau miliki sebelumnya, untuk itu aku berjanji padamu jika kau mengikuti metode yang akan kuberikan, maka dalam sebulan kau akan menembus ranah tingkat nafas pembuka," ucap laki laki tua itu kembali.
Nien Chu terdiam, saat ini dia tak ada pilihan lain selain mengikuti apa yang dikatakan inti api Surgawi, karena tak ada pilihan baginya untuk meningkatkan kekuatan di tingkat selanjutnya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Nien Chu.
"Aku akan mengajarimu tehnik membuat pil, kau hanya harus menyediakan bahan bahan yang kubutuhkan untuk membuat pil itu, dan setelah kau mendapatkannya maka kau harus mengkonsentrasikan alam pikiranmu ke dalam dantian tempat keberadaanku berada, maka kau akan menemuiku kembali" ucap laki laki tua itu dengan menuliskan di sebuah kertas sumber daya yang dibutuhkannya.
Tak lama kemudian Nien Chu tersadar dengan menggenggam secarik kertas di dalam tangan.
__ADS_1
"Bukankah ini merupakan catatan sumber daya yang dibutuhkan laki-laki tua yang berada di dalam dantianku, dan ternyata aku tidaklah sedang bermimpi," batin Nien Chu sambil menghirup udara segar di pagi itu.
Bersambung.