Pendekar Naga Giok

Pendekar Naga Giok
Tanah larangan


__ADS_3

Tetua Cinsyin dan putri Meyling terus menyusuri jejak Thien Yu sebelumnya, dan mendapati sebuah tempat dimana terdapat bekas bekas pertarungan di sana.


Putri Meyling meneliti keadaan tempat itu dan mendapati bekas bekas racun api hitam yang masih tertinggal di sekitar tempat itu, sehingga putri Meyling yakin jika Thien Yu telah melakukan pertarungan di tempat itu sebelumnya.


"Ibu aku yakin Thien Yu belum jauh dari sini," ucap putri Meyling.


"Aku rasa juga begitu, ayo kita cari lagi," ajak tetua Cinsyin.


Mereka berdua terus mencari keberadaan Thien Yu, akan tetapi setelah lama mencari mereka berdua tak juga menjumpainya hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali ke Menara keabadian.


Sementara itu di dalam sebuah kamar Thien Yu perlahan membuka matanya, dan merasakan jika dirinya tengah berada di dalam sebuah ruangan yang sangat asing baginya.


Thien Yu mencoba mengingat-ingat kembali kejadian sebelum dia sampai ke dalam ruangan itu.


"Bukannya aku tengah bertarung dengan seorang nenek tua, dan saat itu aku terluka hingga jatuh pingsan, jangan-jangan nenek itu yang telah membawa aku ke tempat ini," batin Thien Yu.


Thien Yu segera memasang kewaspadaan tingkat tinggi saat melihat pintu kamarnya terbuka perlahan. Tampak olehnya seorang nenek tua yang pernah bertarung dengannya tengah membawa keranjang di dalam genggaman tangannya.


"Kau sudah sadar anak muda?, kemarilah, aku bawakan makanan untukmu," ucapnya.


Thien Yu merasa ragu untuk menerima keranjang makanan yang di berikan padanya, biar bagaimanapun nenek tua itu merupakan kultivator kuat yang pernah mengalahkannya.


Karena tak terlihat adanya sikap permusuhan di wajah sang nenek, akhirnya Thien Yu menerima keranjang makanan itu, sambil tetap memasang sikap siaga.


"Namaku Yi Ning, kau makanlah makanan itu agar energi di tubuhmu cepat pulih, dan kau tak usah kuatir jika makanan itu beracun," ucap Yi Ning.


Mendengar perkataan nenek tua yang ada dihadapannya, tanpa pikir panjang Thien Yu segera melahap habis makanan yang ada di dalam keranjang, karena perutnya saat itu memang sudah sangatlah lapar.


"Trimakasih nek atas makanannya, namaku Thien Yu," ucapnya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat saling bercerita, keakraban pun mulai tercipta, ternyata sosok Yi Ning yang berpenampilan aneh seperti itu memang di sengaja olehnya, agar para petinggi menara ke abadian tak memburunya untuk di musnahkan seperti halnya menara hijau yang telah dihancurkannya.


Yi Ning juga menjelaskan jika dirinya akan mencari seorang murid yang dapat mewarisi kekuatan Ilahi, yang mampu membangkitkan kembali menara hijau yang telah hancur.


Kekuatan ilahi sendiri merupakan kekuatan yang maha dasyat yang pernah ada di semua alam, kekuatan itu begitu sangat sulit di kalahkan jika seorang kultivator telah menguasainya.


Akan tetapi kekuatan illahi yang tersegel di sebuah tanah larangan hanya dapat di kuasai oleh orang yang terpilih saja, yang mempunyai hati bersih dan juga mempunyai ikatan dengan menara hijau.


"Maksud tetua?, aku belum mengerti dengan penjelasan tetua?," tanya Thien Yu.


"Thien Yu, dahulu kala di alam cahaya rembulan terdapat kultivator dengan kekuatan ilahi yang meliputi 4 unsur hukum yang ada, 4 unsur itu adalah hukum angin atau udara, hukum api, hukum tanah, dan hukum air atau es.


Dia merupakan pendiri menara hijau yang dahulunya merupakan menara nomor satu di alam cahaya rembulan.


Namun sayang, akibat peperangan para Dewa dengan alam bawah yang berkepanjangan, mengakibatkan kerusakan parah di nirwana dan akhirnya membuat keseimbangan alam cahaya rembulan pun ikut terkena imbasnya.


Karena tak ingin alam cahaya rembulan hancur dan seluruh penghuni alam cahaya nirwana ikut musnah, kultivator yang memiliki kekuatan illahi itupun akhirnya mengorbankan dirinya, dan menyegel kekuatan illahi nya itu di suatu tempat hingga suatu hari ada seseorang yang dapat mewarisinya.


Dengan pengorbanannya itu akhirnya alam cahaya rembulan pun pulih kembali dari keterpurukannya, dan mulailah satu persatu menara bermunculan untuk unjuk gigi agar menjadi menara yang terkuat di alam cahaya rembulan ini, termasuk menghancurkan menara hijau yang terlemah setelah di tinggal pergi kultivator dengan kekuatan illahi itu," ucap tetua Yi Ning mengakhiri ceritanya.


"Tetua, jadikanlah aku muridmu, karena aku ingin menjadi kuat agar dapat melindungi orang orang yang ku kasihi," ucap Thien Yu sambil bersujud di hadapan tetua Yi Ning.


"Bangkitlah Thien Yu, mulai sekarang kau adalah muridku dan merupakan anggota pertama menara hijau setelah kehancurannya," jawab tetua Yi Ning.


"Thien Yu sebelum kau, aku telah mengangkat beberapa murid agar dapat menguasai kekuatan ilahi yang tersegel, tapi sayang setelah memasuki tanah larangan mereka tak ada satupun yang kembali dan aku nyatakan mereka semua telah mati disana. Thien Yu, jika kau ingin menguasai kekuatan ilahi itu maka kau akan menempuh resiko tinggi dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri," ucap tetua Yi Ning.


"Guru, aku akan menempuh resiko itu dan aku ingin guru merestui keinginanku untuk masuk ke tanah larangan, agar aku bisa mendapatkan kekuatan Ilahi yang tersegel di sana," jawab Thien Yu.


"Baiklah, aku akan membawamu kesana," ucap tetua Yi Ning yang merupakan satu satunya petinggi menara hijau yang tersisa dari kehancuran akibat keberingasan menara keabadian, dan juga satu satunya orang yang menjadi juru kunci ke tanah larangan.

__ADS_1


Hari itu juga tetua Yi Ning mengajak Thien Yu menuju ke tanah larangan. Di suatu tempat yang terdapat hamparan tanah lapang, tetua Yi Ning membuka tabir dan mendapati sebuah lobang menganga yang menuju kedalam tanah.


Lobang itu terdapat anak tangga yang menuju kebawah. Dan dengan perlahan mereka berdua menyusuri lobang hingga pada akhirnya mereka berdua menemukan lautan lahar api yang terhampar tak berujung.


"Thien Yu, aku hanya bisa membawamu ketempat ini, dan terimalah takdirmu disana," ucap tetua Yi Ning.


"Maksud guru?" tanya Thien Yu.


Perahu itu akan membawamu menyebrangi lahar panas itu (perahu itu merupakan perahu khusus yang mempunyai pelapis berupa aura energi yang tahan akan lahar api), jika kau berjodoh dengan kekuatan maha dasyat itu maka kau akan di permudah oleh takdir, akan tetapi jika kau bukanlah takdir kekuatan maha dasyat itu maka kau akan mati di sana.


Sekarang tujuan hidupmu berada di tanganmu sendiri kau boleh menolak ataupun terus, semua itu tergantung kata hatimu," jawab tetua Yi Ning sambil menoleh ke arah Thien Yu yang berada di sampingnya.


Tetua Yi Ning begitu sangat terkejut melihat Thien Yu yang sudah tak ada di dekatnya. "Dasar pengecut, sia sia aku mengangkatnya sebagai murid, baru melihat lautan lahar api sudah membuatnya kabur," batin tetua Yi Ning.


Tetua Yi Ning kembali terkejut saat menoleh kearah perahu, terlihat Thien Yu telah berada disana tengah mempersiapkan diri untuk menyebrangi lautan lahar.


"Guru, aku akan memilih untuk menyebrangi lahar ini untuk itu aku ingin meminta restu mu," ucap Thien Yu.


"Aku merestui mu Thien Yu," jawab tetua Yi Ning dengan senyum merekah di bibirnya.


Tak lama kemudian, perahu pun meluncur deras di permukaan lautan lahar dengan membawa Thien Yu di atasnya.


Tetua Yi Ning menatap kepergian muridnya dengan satu harapan, jika muridnya itu akan mendapatkan keberhasilan dan menghidupkan lagi menara hijau yang telah hilang dari alam cahaya rembulan.


Bersambung


Mohon maaf sahabat semua, saya habis operasi tangan, karena ada serpihan tulang pecah yang harus dikeluarkan dan tak bisa di sembuhkan dengan cara alternatif. Setelah sadar dari bius obat, saya sempatkan untuk menulis bagi sahabat semua walaupun hanya satu episode, agar sahabat semua tak salah paham karena novel tak terbit🙏.


Bantu reting 5 bintangnya agar reting novel ini bisa naik, trimakasih 🙏.

__ADS_1


__ADS_2