
Cukup lama Aliya menggendong Mora, melihat Altha dari jendela yang sangat terpukul. Al duduk di depan pintu sambil menutup wajahnya.
"Apa sekarang waktunya menangis?" wajah Al kesal melihat Altha yang menangisi wanita yang merusak kebahagiaan anak-anaknya sendiri.
"Laki-laki dan perempuan sama saja, apa kurangnya Altha dia tampan, kaya, tubuhnya bagus, keren, tapi masih saja ditinggalkan. Walaupun sikap dinginnya yang tidak ada obatnya, setidaknya mereka harus bertahan demi anak." Pandangan Aliya terarah kepada gadis kecil yang baru bangun tidur, menatap Aliya dengan kebingungan.
Aliya langsung menaiki tangga, menyerahkan bayi kepada Tika yang tidak kuat menggendong adiknya.
"Bawa adik kamu ke kamarnya?"
"Tika tidak kuat Tante."
"Al juga capek menggendong dia." Kening Aliya berkerut, menatap Tika yang bersusah payah coba mengangkat tubuh adiknya yang gembul.
"Tidak kuat, tunggu Tika besar sedikit lagi. Sekarang baru empat, tunggu sampai lima." Jari kecil Tika menghitung menunjukkan kepada Aliya usianya.
"Ah baiklah, kali ini aku bantu membawa adik kecil kamu." Al tersenyum melihat Tika yang mengangkat adiknya, dibantu oleh Al menuju kamar Tika.
"Adiknya Tika lapar?"
"Kamu susui." Aliya langsung duduk santai.
"Tika tidak punya susu, Mama yang punya."
"Kakak Al punya, tapi belum ada airnya."
Tika mengambil botol minumnya, memberikan setetes dua tetes untuk adiknya. Bibir mungil Mora menerima air putih yang kakak perempuan berikan.
Pelan-pelan Tika, membiarkan adiknya meminum air yang biasanya Tika gunakan saat ingin tidur.
Aliya yang melihatnya merasakan kasihan, Tika masih terlalu kecil untuk mengerti menjaga seorang adik, harus ada orang dewasa yang mengawasinya.
"Punya susu kotak tidak?"
"Tika tidak tahu."
Aliya langsung keluar kamar, saat membuka pintu, ada anak laki-laki tampan yang sudah membawa botol susu.
Juna langsung masuk menggendong adiknya, memberikan susu botol agar adiknya tidak kelaparan.
"Kakak Jun, kenapa adik Mora pulang, tapi Mama tidak?"
"Jangan tanyakan lagi Tika, berhentilah mencari Mama, jika dia mencintai kita seharusnya tidak pergi. Kamu harus belajar dewasa, harus bisa menjaga Mora. Jangan menjadi beban pikiran Papa." Juna menepuk pelan adik kecilnya agar segera tidur.
__ADS_1
Aliya tersenyum, anak laki-laki yang memaksa untuk dewasa sebelum waktunya. Sungguh indah memiliki saudara yang berbagi rasa sakit.
"Sakit ya kehilangan keluarga? sama Aliya juga merasakan yang saat ini kalian rasakan. Kalian bisa saling rangkul, sedangkan aku sendirian." Aliya melihat luka di tubuhnya yang selalu mendapatkan pukulan.
"Anda siapa?" Juna menatap tajam.
"Seseorang yang memiliki nasib yang sama, hanya saja aku lahir lebih dulu dari kalian, dan lebih dulu hancur lahir dan batin." Senyuman Aliya terlihat menatap dua anak kecil yang binggung.
"Kak, seseorang yang hancur lahir batin itu apa kak? kenapa dia tersenyum? hancur berarti sakit seharusnya menangis." Tika binggung melihat ekspresi wajah Aliya yang tidak merasakan luka.
"Tidak semua rasa sakit diungkapkan dengan air mata, karena air mata sudah kering." Aliya langsung mendekati Juna, mengambil botol susu.
Mora langsung muntah, karena terlalu banyak air susu yang masuk ke mulutnya. Aliya langsung menggendong menenangkan Mora yang sudah menangis.
Juna langsung membersihkan mulut adiknya, terlihat wajah cemasnya melihat Mora yang batuk.
"Kalian punya baju ganti." Al menatap Juna yang langsung berlari keluar kamar.
"Kakak yang baik, sangat sigap untuk adiknya." Al membuka baju Mora, senyuman Aliya dan Tika terlihat menghibur Mora yang langsung tertawa.
Aliya tersenyum melihat kelucuan Mora, tapi sayangnya nasib baik tidak berpihak kepadanya. Kehilangan sosok ibu yang memilih pergi hanya karena alasan tidak sanggup lagi.
Tangan Aliya menggelitik perut Mora membuatnya terus tertawa, Tika juga terlihat senang menatap adiknya.
"Kenapa ada bau busuk?" Tika menutup hidungnya.
"Kamu belum mandi ya Tika?"
"Sudah, Tika wangi. Kak Juna mungkin atau Dede Mora?" Tika, Juna dan Al mencium tubuh Mora.
"Mora buang air besar." Juna langsung melangkah mundur.
"Busuk." Tika langsung lompat dari atas ranjang.
"Kenapa kamu busuk sekali?" Aliya juga langsung pergi menjauh.
Tika menyalahkan Aliya yang menggelitik perut Mora sampai akhirnya dia buang air besar, Aliya tidak terima disalahkan langsung menuduh Juna yang memberikan susu.
"Apa yang kalian ributkan?" Altha membuka pintu melihat putrinya Mora tidak menggunakan baju.
"Anak kamu eek." Al menutup hidungnya.
"Dede Mora busuk Papa." Tika juga menutup hidungnya.
__ADS_1
Altha langsung menggendong putrinya, membawa ke kamar mandi untuk membersihkannya. Sampai selesai tiga orang masih berdiri di tempat masing-masing.
Mora tertawa, baru selesai mandi. Altha tersenyum menyentuh hidung Mora, memakainya baju yang sudah Juna siapkan.
"Kenapa Mora tidak menggunakan baju Juna?"
"Salah dia memberikan susu terlalu banyak sampai Mora muntah." Aliya menyalahkan Juna.
"Maafkan Juna Pa, tidak bermaksud menyakiti adik Mora."
"Tidak apa sayang, kamu sudah berusaha untuk menjaga Mora, lain kali mata kamu harus memperhatikan botol susunya, jangan fokus ke arah lain." Altha tersenyum mencium putri kecilnya yang tertawa tidak memiliki beban.
Altha meminta Juna menjaga Mora sebentar, meminta Aliya mengikutinya untuk berbicara berdua.
Aliya melambaikan tangannya langsung mengikuti Altha ke arah ruangan yang sudah bisa Al tebak pasti tempat kerja Al.
Suasana di dalam ruangan sangat dingin, Aliya sampai menggigil melihat banyaknya AC yang hidup semua.
"Duduk."
"Bisa dimatikan saja AC nya?"
Altha langsung mematikan seluruh AC, menatap Aliya yang kedinginan.
"Aku langsung saja ke inti masalahnya, kamu sudah melihat rumah tanggaku juga nasib anak-anak. Apa yang terjadi diantara kita malam itu hanya candaan bagi kamu dengan tujuan yang tidak aku ketahui, intinya berhubungan tidaknya kita aku tidak perduli." Altha menghentikan ucapannya, menarik nafas dalam-dalam.
"Apa yang ingin kamu sepakati?" Al menatap serius.
"Aku akan menikahi kamu, tidak ada cinta antara kita hanya sebatas aku meminta bantuan kamu menjaga anak-anak ku yang masih kecil dengan jaminan hidup kamu terpenuhi. Sebelum ada baby sister, kamu urus mereka, jangan pedulikan aku."
Aliya tertawa, Altha hanya menikahi dirinya sebatas menjadi penjaga anak-anak. Sejujurnya Aliya juga tidak memiliki alasan menikahi Altha jika hanya soal kemewahan Dimas juga bisa memberikannya, tapi hati Al menginginkan Altha.
"Baiklah, kita hanya menikah biasa tidak ada undangan luar, tapi kamu harus menikahi aku secara hukum dan agama. Satu hal lagi, tidak ada orang ketiga diantara kita."
"Oke, setelah resmi bercerai, aku akan mendaftarkan pernikahan kita." Altha menatap tajam foto pernikahannya, dirinya mempermainkan penikahan hanya karena patah hati mendengar Citra ingin menikah.
Altha yakin suatu hari dirinya akan menyesal dengan keputusan hari ini yang berniat menikahi anak muda yang terpaut usia hampir sepuluh tahun, bahkan Aliya masih seorang siswa.
"Papa, ini keterlaluan!" Juna menatap tajam.
***
JANGAN LUPA VOTE DAN HADIAHNYA
__ADS_1