ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
AWAL PERNIKAHAN


__ADS_3

Sesampainya di rumah Tika langsung berlari ke kamarnya, tapi terkunci. Aliya melarang Tika pulang ke rumah jika belum menyelesaikan masalah dengan suaminya.


"Mami, kunci kamar Tika mana?"


"Mami keluar, kata Mami tidak boleh membuka kamar. Sudah punya rumah sendiri, lebih baik pulang jangan mengacau di sini." Ria menatap sinis, melangkah masuk ke kamarnya.


Tika mengumpat di dalam hatinya, dia tidak berani pulang karena ada mobil Genta di depan rumah. Tika gengsi menyapa lebih dulu, dan masih canggung karena dia berkali-kali meminta berpisah.


Terpaksa Tika pulang karena dia ingin mandi, Shin juga masih di apartemen Juna karena dilarang pulang oleh Juna.


Pelan-pelan Tika membuka pintu kamar langsung melangkah masuk, merasa aman karena kamar kosong.


"Aman,"


Belum sempat Tika melangkah ke kamar mandi, pintu terbuka. Genta keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut basah. Kepala Tika hanya tertunduk, tidak berani bergerak sama sekali.


Genta melewati Tika begitu saja, mengeringkan rambutnya menatap punggung Tika yang berjalan cepat menuju kamar mandi.


Lama Genta menunggu belum juga keluar dari kamar mandi, helaan napas Genta terdengar berkali-kali karena matanya mengantuk menunggu.


"Berapa lama lagi kamu di dalam sana Tika?" gedoran pintu terdengar.


Tidak ada jawaban sama sekali, Genta berkali-kali memanggil masih tidak ditanggapi. Hanya suara air yang terdengar.


"Jika tidak dibuka, aku didobrak pintunya." Suara Genta meninggi barulah pintu terbuka.


Tika berjalan keluar, rambutnya bahkan sudah kering karena duduk di kamar mandi tidak ingin keluar.


"Kita makan malam dulu,"


"Tidak mau, Tika ingin tidur." Suara dingin masih terdengar, Tika menarik selimut menutupi tubuhnya.


Secara cepat Genta menarik kembali selimut, menarik tangan Tika untuk makan malam. Paksaan Genta menarik tangan menbuat Tika menangis merasa tangannya sakit. Ekspresi dan suara tangisan terdengar seperti anak kecil yang dimarah orangtuanya.


Tika memeluk tangannya yang ditarik oleh suaminya, mendengar tangisan Tika bukannya sedih, tapi menahan tawa.


"Kenapa menangis?"


"Tadi tangan Tika ditarik-tarik, sampai sakit." Suara tangisannya masih terdengar.


"Coba lihat tangannya,"

__ADS_1


"Shireo!"


Genta duduk di samping Tika, mengusap air matanya agar berhenti menangis. Suara Tika mirip Isel yang sedang mengamuk.


Permintaan maaf Genta terdengar, dia yang salah karena tidak memahami Tika. Seharusnya Genta mensupport, tapi kebalikannya marah-marah dan mengabaikan istrinya.


Tika berjuang sendirian, mencoba menguatkan Juna dan Shin. Genta sangat menyesali sikap dinginnya.


"Maafkan Kak Gen, jangan pernah katakan ingin berpisah. Kamu tahu aku tidak mungkin mampu?" kedua tangan Genta menggenggam erat tangan Tika, menyatukan jari jemarinya.


Air mata Tika menetes, dia berada di posisi yang serba salah. Jujur sakit, dan menyembunyikan juga sakit.


"Tika juga salah,"


"Aku mencintai kamu, maka tarik kembali ucapan kamu meminta aku pergi. Hati aku sakit sekali mendengarnya. Apa kamu tidak mencintai aku lagi?"


Kepala Tika menggeleng, dia sangat mencintai Genta lebih dari apa yang Genta ketahui. Rasa cintanya tidak bisa dia utarakan dengan kata-kata, meminta Genta pergi juga menyakiti dirinya.


"Tika kangen,"


"Aku juga merindukan kamu, sini peluk." Kedua tangan Genta terentang.


"Shireo,"


"Apa artinya Shiro?"


"Shireo itu tidak mau,"


"Oh, kenapa tidak mau? katanya kangen." Senyuman Genta terlihat menatap wajah istrinya.


Selimut langsung ditarik, Tika memejamkan matanya menahan diri yang tidak ingin memulai lebih dulu. Dia masih merasa malu untuk memeluk erat suaminya, bahkan ingin menciuminya.


Pelukan erat dari belakang terasa, senyuman Tika terlihat merasakan pelukan yang paling menghangatkan.


Perasaan Tika bahagia sekali bisa berada dalam pelukan setelah sekian purnama mereka bertengkar.


"Menikah memang tidak semudah yang dibayangkan, aku berpikir karena kita saling mencintai dan percaya maka akan bahagia. Tidak mungkin ada keributan, kita hanya perlu menikah, bersama, memiliki anak dan hidup bahagia. Aku tertampar oleh kenyataan jika pernikahan memang tidak semuanya sama." Genta mengeratkan pelukannya.


"Tika juga tidak menyangka jika kita bertengkar di awal pernikahan, bahkan Tika berpikir akan segera berpisah." Tubuh Tika berbalik, tidak tahan lagi langsung memeluk suaminya.


Senyuman Genta terlihat, dirinya belajar banyak hal atas apa yang terjadi. Dalam pernikahan tidak bisa berkeyakinan semuanya baik, menikah juga ujian yang menyatukan dua kepala.

__ADS_1


Sebesar apapun cinta pasti akan ada pertengkaran, dan tidak sejalan. Baik ataupun buruk pernikahan pastinya ingin memberikan yang terbaik, meskipun tanggapan pasangan yang menyebabkan salah paham.


Genta terlalu memaksa jika menyembunyikan sesuatu kesalahan fatal sehingga berpikir pasangannya akan selalu jujur, sedangkan Tika berpendapat menyembunyikan lebih baik daripada terluka. Keduanya mencoba untuk saling menjaga, namun dengan cara yang salah.


"Sayang, jadikan aku sahabat kamu agar kita saling terbuka. Aku ingin menjadi sahabat terbaik seumur hidup kamu, apapun masalah aku, kamu yang paling tahu begitupun sebaliknya."


Senyuman Tika terlihat, bersahabat bukan berarti tidak ada rahasia. Shin dan Tika bahkan memiliki rahasia, Shin merahasiakan perasaan demi kebaikan dan hubungan baik.


"Yang, jadikan Tika seorang istri bukan sahabat. Istri yang setia kepada suaminya, istri yang baik untuk suaminya. Istri yang bisa mengendalikan sebuah kapal agar sang kapten tetap berdiri tegak. Tika ingin menjadi tiang yang menopang rumah tangga kita." Bibir Tika monyong menyentuh bibir suaminya.


"Lagi,"


"Apa?"


"Kiss, aku merindukan sentuhan kamu." Tangan Genta mengusap pipi Tika mendekatkan bibir keduanya.


Pintu kamar secara tiba-tiba terbuka, bibir Tika dan Genta terbentur langsung duduk salah tingkah melihat Isel datang sambil menangis memeluk Genta yang langsung mengusap punggung si kecil.


"Kenapa sayang?"


"Uncle, Isel diusir." Suara tangisannya terdengar besar, mata dan wajah Isel sampai merah.


Tangan Tika sudah terangkat ingin memukul kepada Isel yang menganggu saja. Tika mengunyah tangan Isel yang membuatnya semakin menangis.


"Tik, aku antar Isel pulang dulu." Genta berdiri menggendong si kecil. Tika langsung lompat ke punggung meminta digendong juga.


"Jatuh Tika,"


Di depan pintu Gemal langsung menyambut Putrinya yang kabur dari rumah karena dimarah oleh Diana. Berlarinya ke rumah Genta, membuat Gemal tidak enak hati.


"Apa kalian sudah baikan?"


"Kita tidak pernah bertengkar Kak." Tika memeluk lengan suaminya melambaikan tangannya dari Isel yang matanya melotot.


Pintu langsung ditutup, Tika mengunci pintu, menutup gorden agar tidak ada yang datang bertamu lagi.


Dulu Tika berencana mengacau malam pertama Diana, dan sekarang putrinya yang mengacau pernikahan Tika.


"Ayang gendong." Tika meminta tumbuhnya diangkat.


Genta tersenyum mengendong istrinya membawa ke dapur untuk menyiapkan makan malam, Genta sangat lapar melihat istrinya yang mulai jahil kembali.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2