
Mobil kembali berhenti ke tempat yang menurut Tika sangat unik dan spesial, Genta juga hanya beberapa kali datang berkunjung untuk sekedar makan.
"Kita mau makan lagi Om, ternyata Om tua rakus juga." Tawa Tika terdengar, bersiap-siap untuk keluar mobil.
"Mau ke mana?" tangan Genta menarik pergelangan Tika.
"Makan, ini rumah makan." Senyuman Tika terlihat menatap sekelilingnya.
"Kamu yang rakus, makan terus. Rindi melarikan diri bersama Shin." Tatapan Genta langsung serius.
Mulut Tika menganga baru tahu jika Rindi pergi dari mansion bersama Shin yang tidak tahu arahnya.
Pintu mobil terbuka, Genta melangkah masuk diikuti oleh Tika. Dari kejauhan, Genta melihat adiknya Shin sedang menikmati makan malam bersama Rindi yang mulutnya penuh.
"Hei ... dua wanita gila, makan tidak mengajak Tika lagi. Bagi dong." Atika langsung duduk mengambil minuman Shin.
"Tika juga pergi bersama Ayang Genta tidak memberitahu kita, Rindi sudah katakan jika Tika pacaran." Suara Rindi bicara sangat besar.
Tangan Atika menampar mulut Rindi agar tidak bicara sembarang apalagi di depan Shin. Tika tidak ingin persahabatan berantakan gara-gara mulut kotor Rindi.
"Dari mana kamu Tik? aku coba hubungi tapi tidak bisa. Aneh sekali." Shin mengunyah makanannya sambil menatap serius.
"Kenapa? apa kamu ingin tidur dalam pelukan aku sampai terlihat kesal." Lidah Tika terulur mengejek Shin yang sudah tersenyum.
Rindi makan dengan lahap, seakan-akan tidak pernah makan enak. Tika juga langsung ikut makan karena rasanya tergoda melihat Rindi.
"Ini restoran kamu Shin?" Tika menatap kagum.
"Dari mana kamu tahu?"
Pelukan Tika sangat erat, di manapun Tika pergi dan makan dia sangat mengetahui rasa setiap restoran. Shin memiliki ciri khas tersendiri disetiap restorannya yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.
"Makanan ini enak," ucap Rindi meminta nambah lagi.
"Pastinya enak, jika sudah ada campur tangan Shin. Makanan apapun pasti enak." Tika mencium pipi Shin gemes.
Kedua tangan Shin terangkat ingin memukul Rindi yang juga ingin memeluknya, tawa Rindi terdengar menggoda Shin yang sudah tertawa merasa geli.
"Jangan kasar gitu sama kakak ipar," Tika mengejek Shin yang sudah melotot.
__ADS_1
"Iya, Rindi menjadi Kakak ipar." Tawa Rindi terdengar menyudahi makannya.
"Rin, kamu sadar tidak jika gila?" Tika duduk di samping Rindi yang mengerutkan keningnya.
Kepala Rindi geleng-geleng, dirinya tidak merasa gila karena memang tidak pernah dirawat layaknya orang yang memiliki gangguan jiwa.
"Orang gila tidak semuanya dirawat, aku juga tidak dirawat." Shin geleng-geleng kepala menjelaskan kepada Rindi.
"Kita berbeda, kamu gila karena disakiti. Aku tidak gila, tapi ada hal yang berlebihan dari orang normal sehingga terlihat gila." Tawa Rindi terdengar sangat besar.
"Dia pintar juga dalam bicara Shin, kita bisa kalah debat dengan Rindi." Senyuman Tika terlihat, melihat sekeliling mencari keberadaan Genta yang ternyata sedang bicara dengan bawahannya.
Kepala Shin gatal melihat Tika dan Rindi berdebat soal cinta, keduanya seperti dua pakar yang berpengalaman. Shin bisa mencium bau parfum Kakaknya di tubuh Tika.
"Dasar Tika bodoh, percuma saja kamu suka dia, tapi dia tidak suka kamu!"
"Siapa yang bodoh? kamu yang bodoh ditambah gila." Tangan Tika sudah mendorong Rindi.
"Aku perempuan pertama yang mencium Ayang Genta." Rindi langsung berdiri melipat tangannya di dada.
"Jaga ucapan kamu, aku yang pertama!" teriakkan Tika menggema.
Kepala Shin mengangguk, menahan tawa melihat Tika dan Rindi adu mulut soal pertama ciuman, tanpa menyadari sudah membuka aib masing-masing.
"Tidak Shin, manusia gila satu ini suka memancing." Tika memonyongkan bibirnya mengumpat Rindi yang sudah tertawa.
"Sudah cukup, kalian menganggu pengunjung lain." Kedua tangan Shin menarik tangan dua wanita agar duduk kembali.
"Rin, kenapa kamu mudah sekali jatuh cinta?" minuman Shin langsung habis sekali teguk oleh Tika yang kehausan setelah debat.
Mendengar pertanyaan Tika membuat Rindi diam, siapapun pasti akan jatuh cinta melihat ketampanan Genta apalagi Rindi wanita dewasa, tapi melihat Genta yang ketakutan Rindi sadar diri.
Melihat Arjuna juga seperti sang pangeran yang tidak ada cacatnya, tapi saat Juna marah terlalu menakutkan bagi Rindi yang membutuhkan belaian dan kasih sayang.
Satu-satunya lelaki yang sampai detik sekarang masih bicara lembut, dan bisa menerima hanya Hendrik walaupun tidak setampan Genta dan Arjuna.
"Kamu haus belaian, apa selama ini?" Shin menutup mulutnya jika mengingat hubungan Irish dan pria di hotel.
"Shin kamu ingin mengatakan soal hubungan intim, tentu Rindi tahu, setiap hari aku melihat Irish melakukannya dengan beberapa pria." Tawa Rindi terdengar, menatap wajah Tika dan Shin yang sudah tegang.
__ADS_1
"Kamu juga melakukannya? apa rasanya?" Tika bicara sangat tegas pelan.
Kening Rindi berkerut, menceritakan apa yang dirinya lihat secara langsung. Rindi juga ingin melakukannya namun takut melihat punya pacarnya Irish terlalu besar.
Shin langsung mual, meminta Rindi dan Tika menghentikan pembicaraan yang sangat dewasa dan tidak nyaman didengar telinganya.
"Bukannya yang ukuran besar enak?" Tika menahan tawa.
"Sakit tahu, Irish sampai teriakan Aw aw aw, berhenti ... sakit. Dia selalu teriak-teriak jika ukurannya besar." Rindi bercerita sangat besar membuat beberapa orang melihat ke arahnya yang sedang praktek kesakitan.
Wajah Shin sudah memerah menahan malu, Atika hanya cekikikan tertawa. Rindi yang tidak punya salah masih lanjut bercerita.
Mulut Rindi langsung ditutup oleh Hendrik, suaranya yang meringis kesakitan sambil teriak-teriak meminta berhenti menganggu pengunjung lain. Bisa-bisa bicara hal dewasa di tempat umum.
"Rindi hanya cerita kebenarannya,"
"Kebenaran yang hanya boleh kamu bicarakan dengan suami kamu, hal seperti itu namanya aib." Suara Hendrik pelan, tapi sangat tegas.
"Salahkan Tika dan Shin yang ingin tahu, Rindi hanya cerita." Bibir Rindi monyong, menatap sinis Tika dan Shin yang sudah diam.
"Kalian berdua juga, tunggu menikah dulu baru bicarakan."
"Kak Hendrik sama Rindi sudah ingin menikah, silahkan bicara ...." Tika melirik Shin yang hanya diam saja.
"Iya, kita harus bicara nanti salah lobang, teriak seperti Irish. Rindi tidak mau kesakitan, punya Kak Hendrik besar tidak?" Rindi menutup mulutnya melihat Hendrik melangkah pergi tanpa mengatakan apapun.
"Rindi bodoh," ucap Tika sambil menahan tawa.
Senyuman Rindi terlihat, Mam Jes melarang Rindi memeluk dan mencium Hendrik sebelum menikah apalagi melihat miliknya. Rindi sudah mengikuti saran Mam Jes.
"Mam Jes bicara apa?"
"Tika sudah cukup." Shin menepuk pundak Tika.
"Melakukan hubungan harus ada doanya, juga dengan penuh cinta, sehingga menghasilkan anak yang memiliki akhlak baik." Rindi bicara pelan mempraktekkan cara bicara Mam Jes.
Shin memijit pelipisnya, Tika terlalu suka memancing Rindi yang kurang normal dan terlalu jujur.
"Kamu ingin punya anak, tapi Ibunya model kamu. Hancur dunia Rin," Tika tertawa meminta Rindi minum daripada banyak bicara.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira