ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BANTUAN


__ADS_3

Banyak pengawal yang sudah berkumpul di area penahanan Salman, Diana melihat ke belakang.


Mobil yang mengikuti mereka sudah tidak ada, hanya mobil pengawal yang di depan yang terlihat.


Gemal merasakan ada yang tidak beres, menghentikan laju mobil dan melihat ke arah Papanya yang terlihat tenang.


"Kalian berdua boleh pergi." Calvin tersenyum melihat Diana dan Gemal.


"Mereka semua yang ada di sini bawahan Salman, bahkan pengawal di depan kita?" Kening Gemal berkerut, tidak habis pikir dengan Papanya yang masih santai.


Calvin menghela nafas, ini kesempatan terakhir dirinya untuk mengumpulkan orang-orang yang selama ini berkhianat.


Gemal menahan tangan Papanya, menemui Salman hanya mengantarkan nyawa. Gemal tidak ingin jika Papanya terluka.


"Ayo kita keluar, sudah terlanjur ada di sini."


"Diana! aku tidak bisa membiarkan kalian terluka." Suara Gemal membentak.


Calvin memukul pelan mulut Gemal, memarahinya karena membentak wanita. Meksipun marah jangan menaikan nada suara, karena dibentak oleh orang terdekat itu menyakitkan.


"Kalian berdua jaga diri sendiri, jangan pedulikan aku. Gemal kamu boleh menjaga Diana." Tangan Calvin mendorong pintu mobilnya, tersenyum melihat banyak orang.


Diana dan Gemal juga keluar, melangkah beriringan mengikuti Calvin yang berjalan di depan mereka.


Wajah tiga orang terlihat santai saja, Diana sesekali menguap merasakan ngantuk apalagi melihat banyak pria berbadan besar membuat Di semakin ngantuk.


Di dalam ruangan yang tidak terlalu luas, sudah duduk Salman sambil makan dengan lahapnya. Tersenyum melihat Calvin dan Gemal yang datang bersamaan.


"Selamat sore tuan Calvin yang terhormat, juga penerus kelima. Kalian berani juga datang bersamaan." Suara tawa menggelegar terdengar.


"Huuuaaa ... hmm ... huff." Diana menatap sayu Salman yang langsung terlihat kesal.


Kening Calvin berkerut, Diana memang tidak ada tempat takutnya. Keadaan tegang masih bisa menguap dan sangat santai.


"Astaghfirullah Al azim, aku mengantuk sekali." Di menepuk wajahnya agar fokus, tapi tetap tidak bisa.


Diana langsung mencari tempat duduk, bersandar memejamkan matanya. Gemal melepaskan jaketnya langsung menutupi tubuh Diana.


"Beristirahatlah." Suara Gemal berbisik terdengar.


Calvin melihat banyak orang mulai mendekat, dan bisa melihat dengan jelas orang-orang yang akhirnya mengkhianatinya.

__ADS_1


Mata Gemal melihat Papanya yang masih tersenyum, melihat satu-persatu orang kepercayaan ada di pihak Salman.


"Kenapa kamu kaget Calvin? mereka semua ada dalam genggamanku."


"Iya, aku melihatnya. Jujur, aku kasihan dengan kalian semua, hidup kalian miris." Nada bicara Calvin sangat tenang.


Bertahun-tahun, Calvin menahan diri demi melindungi banyak orang dan kenyataannya orang yang pernah dia selamatkan mengkhianatinya.


"Aku tidak marah, karena dua puluh lima tahun aku menahan diri, dan sekarang sudah terbiasa." Tatapan Calvin sangat tenang, tidak ada ketakutan sama sekali.


Calvin menepuk pundak Gemal, menatap Salman yang menatapnya tajam meremehkan. Dari sekian banyak rasa sakit, melihat Gemal tumbuh besar tanpa dirinya yang paling menyakitkan.


"Aku mempercayai kamu untuk menemukan dia, lihatlah Man. Sekarang dia sudah tinggi, besar, kuat dan mandiri. Anakku yang dulunya hilang saat bayi merah sekarang sudah besar." Senyuman terlihat dari wajah Calvin yang dingin.


Gemal yang mendengar rasanya terluka, melihat Papanya yang menunjukkan kepada musuhnya jika dia berhasil menyelamatkan Gemal.


Salman mencengkram kuat botol minuman di hadapannya, Calvin sedang mengejek kegagalannya menyingkirkan Gemal.


Segala usaha yang Shima susun tidak membuat rasa cinta Calvin berubah, apapun kejahatan yang Salman dan bawahannya lakukan berhasil Calvin hentikan.


"Kamu gagal menghacurkan aku, kalian gagal." Senyuman sinis terlihat.


Calvin menganggukkan kepalanya, dia tahu dan sudah melihat semuanya. Tidak ada yang Calvin takuti, karena Salman tidak akan bisa menyakiti keluarganya.


Pukulan di atas meja terdengar, Salman meminta bawahan menyingkirkan Calvin dan Gemal. Siapapun yang bisa membawakan jantungnya, maka dia akan menjadi tangan kanan Salma.


Mendengar tawaran Salman, semua orang langsung mengeluarkan senjata. Gemal menggelengkan kepalanya merasa kasian dengan bawahan Salman.


"Kalian memiliki keluarga, atau mengambil jalan pintas demi keluarga. Jangan mati konyol hanya untuk mendapatkan keuntungan dari sampah." Suara Gemal mengejek terdengar.


Mempercayai Salma sama saja mati sebelum waktunya, karena saat ini tidak ada yang bisa menyelamatkan siapapun, bahkan Salman sendiri tidak bisa menyelamatkan dirinya.


"Siapapun yang ingin mati konyol, maju." Tatapan Gemal gelap, meminta Papanya menyingkir.


Calvin tersenyum, mengusap wajah putranya. Bahagia sekali hati Calvin akhirnya bisa melihat putranya dengan jarak dekat.


"Gem, kamu ingat saat kamu remaja mengamuk ingin mobil mainan, tapi tidak ada yang meminjamkan. Lalu seorang pengemis memberikan mobil, sebenarnya itu Papa." Calvin mengacak rambut Gemal.


Setiap tahun Calvin selalu datang, dan menyamar menjadi bermacam-macam orang agar bisa melihat putranya tumbuh dengan baik.


"Terima kasih Pa, mobil itu masih Gemal simpan. Jangankan rusak, terkena pasir saja tidak rela." Gemal memeluk erat Papanya, mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Senyuman terlihat dari bibir Diana, rasa mengantuk hilang melihat ketulusan cinta seorang ayah.


"Mati saja kalian berdua." Salman mengarahkan senjata kepada Gemal.


Tembakan Gemal lebih dulu lepas, Salman menjatuhkan senjata. Langsung berteriak sangat kuat memberikan perintah untuk membunuh.


"Gem, di dalam senjata kamu tidak ada peluru. Siapa yang menembak?" Diana langsung berdiri.


"Ada Diana, aku selalu menyimpan satu peluru." Gemal menatap binggung.


"Aku menggunakannya untuk menebak ayam." Di melipat tangannya meminta maaf.


Calvin menundukkan kepalanya, seluruh area baik luar maupun dalam sudah dikelilingi oleh polisi. Dimas muncul bersama Altha, meniup senjatanya yang mengeluarkan asap.


Senyuman Gemal terlihat, tidak menyangka jika Dimas dan Altha juga membantu Papanya untuk menangkap Salman dan bawahannya.


"Minggir!" Al langsung berdiri di samping Gemal melihat Salman yang meringis memegang tangannya.


"Kalian licik juga?" Senyuman sinis terlihat, menatap Calvin penuh kebencian.


"Kamu tidak menyesal, ingin memiliki sesuatu yang sulit kamu miliki, dan karena kegagalan kamu menyebabkan orang lain kehilangan kebahagiaan. Cinta tidak selamanya bisa bersatu, seperti Diana yang mencintai Hendrik, tapi sayangnya Hendrik di penjara." Aliya tertawa melihat wajah Diana manyun.


Aliya menghela nafasnya, menggelengkan kepalanya melihat Salman yang menelan sesuatu.


"Ais, dia bunuh diri." Al menatap suaminya yang langsung mendekat.


Tidak semua orang bisa menerima kegagalan, begitupun dengan Salman yang tidak bisa merelakan kekasihnya.


Aliya memberikan sesuatu kepada Salman, sebuah tulisan dari kayu yang ditinggalkan oleh Shima.


Shima menitipkan sesuatu kepada Diana, memintanya menyerahkan kepada Salman. Meksipun cinta keduanya hanya sebentar, Shima meminta maaf karena dia yang gagal menjaga kesetiaan.


Senyuman Salman terlihat, memeluk pesan terakhir wanita yang dia cintai hidup dan mati.


"Sad ending, Salman dan Shima mati dan bertemu di neraka." Diana melempar Aliya menggunakan kayu.


Al berhasil menghindar, langsung berlari mendengar teriakan Diana yang mengutuknya karena lancang masuk ke dalam kamarnya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2